Showing posts with label Orang Tua dan Guru. Show all posts
Showing posts with label Orang Tua dan Guru. Show all posts

Aturan Penerimaan Peserta Asuh Gres (Ppdb) Untuk Sd

9:14:00 AM
Prioritas pertama anak usia 7 tahun, lalu 6 tahun, dan terakhir 5,5 tahun. Calon siswa yang diterima harus erat sekolah.
Secara umum Penerimaan penerima ajar gres (PPDB) 2018 untuk jenjang sekolah dasar (SD) ialah anak berusia 7 tahun atau paling rendah 6 tahun per 1 Juli dalam tahun berjalan.

Mengenai sekolah yang menolak anak di bawah 7 tahun, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meminta harus diberikan alasan yang jelas. Prioritas pertama memang anak usia 7 tahun, lalu 6 tahun, dan terakhir 5,5 tahun.

PPDB 2018 memperlihatkan kesempatan kepada anak usia 5 tahun 6 bulan untuk masuk SD baik negeri maupun swasta. Dengan catatan, calon siswa usianya 5,5 tahun per 1 Juli dalam tahun berjalan.

"Anak usia 5,5 tahun bisa masuk SD kalau ia mempunyai talenta atau kecerdasan istimewa serta kemampuan psikis yang direkomendasikan oleh psikolog profesional," kata Mendikbud yang kutip dari JPNN (26/06/18).

Baca: Syarat Seleksi Penerimaan Siswa Baru Kelas 1 SD

Calon siswa yang diterima harus erat sekolah. Paling tidak jarak 3 kilometer antara sekolah dan rumah. Namun, bagi yang letak geografisnya kepulauan atau perbukitan bisa lebih dari itu. Ini jadi kewenangan kepala kawasan yang lebih tahu kondisi wilayahnya.

"Sebenarnya kawasan sudah tahu berapa Taman Kanak-kanak dan SD yang ada dalam zonasi. Misalnya dalam satu zonasi ada SD negeri dan swasta, otomatis semua lulusan TK-nya bisa tertampung. Kaprikornus enggak ada yang ditolak," terang Mendikbud.

10 Taktik Jitu Menyiapkan Anak Menghadapi Ujian

8:06:00 PM
 Strategi Jitu Menyiapkan Anak Menghadapi Ujian 10 Strategi Jitu Menyiapkan Anak Menghadapi Ujian
Sebagai orangtua, Anda bisa membantu anak mempersiapkan ujian anak.
Ujian sekolah untuk tingkat SD dan sederajat akan dilaksanakan pada bulan Mei mendatang. Biasanya segala ketegangan dihadapi bawah umur yang menjalani ujian. Mereka mengalami stres pra-ujian, hal itu bisa terbaca dari sikap mereka. Misalnya, gampang marah, gampang sedih, gelisah, dan enggan menjalankan acara yang biasanya mereka sukai.

Ada beberapa srategi yang sanggup dilakukan orang orangtua dalam mendampingi anak melewati masa-masa ujiannya. Ayah Ibu bisa mempraktikkan taktik ini dikala anak menjalani masa ujian, baik ketika ulangan, ujian tengah semester, dan selesai semester. Sebagai orangtua, Anda bisa membantu anak mempersiapkan ujian anak dengan cara-cara berikut ini:

1. Bangun kepercayaan diri mereka.
Ajari anak untuk lebih berani dengan membuktikan Anda percaya mereka bisa melampaui ujian, bahkan dikala mereka merasa gugup. Menyebarkan perasaan positif, akan sangat mendukung mereka meraih sukses.

2. Mendampingi secara emosional.
Saat menjalani masa sulit menyerupai ujian, bawah umur membutuhkan kehadiran dan perhatian lebih dari orang tuanya. Mereka perlu dimengerti, maka jangan sepelekan saat-saat bisa bersama mereka. Hal itu akan menciptakan mereka merasa kondusif dan percaya diri. Bersikaplah terbuka akan apapun yang ingin disampaikan anak-anak.

3. Ajari dan beri teladan bagaimana berpikir positif.
Mengajarkan kata-kata penegasan penting buat anak-anak. Misalnya mengganti kata-kata “Saya tidak bisa” dengan membiasakan anak mengatakan, “Saya akan mencobanya.”

4. Bantu anak untuk punya persiapan yang rinci.
Berkordinasi dengan sekolah wacana dimana bawah umur akan menjalankan ujiannya. Apa saja yang akan diujikan, bagaimana ujian akan berlangsung. Lebih baik lagi kalau Anda dan anak sudah mengunjungi daerah ujian akan dilaksakan.

5. Belajar bersama-sama.
Dipastikan bahwa orangtua sanggup bersama anak membuka buku membahas mata pelajaran yang akan dihadapi dikala ujian. Tanyakan pokok bahasan apa saja yang akan diujikan. Setelah bahan pokok ujian dibaca dan dipelajari bersama orangtua sekira satu jam, berikanlah kesempatan anak untuk berguru sendiri.

6. Hargai perjuangan anak dan tidak membebaninya.
Hindari memberi sasaran terlalu tinggi di luar kemampuan anak. Pasalnya, setiap anak mempunyai tingkat kemampuan yang beragam. Ajari anak Anda semoga ujian bukan atas dasar berkompetisi dengan orang lain, melainkan dengan diri sendiri untuk mencapai hasil yang terbaik.

7. Berdiskusi wacana pemecahan masalah.
Ajak anak untuk mendiskusikan tak hanya wacana bahan yang akan diujikan tapi juga bagaiman taktik menghadapi ujian. Seperti contohnya mengerjakan hal-hal yang gampang dulu.

8. Mendiskusikan perasaaan.
Dorong anak untuk bicara wacana apa yang mereka rasakan. Dengarkan dengan empati, sehingga mereka mengerti bahwa mereka dipahami dan bahwa perasaan tegang mereka yakni sesuatu yang normal.

9. Memberi santunan dengan setulus hati.
Sampaikan bahwa Anda sebagai orangtua mendukung dan siap untuk berada di samping anak dikala keadaan mudah, ataupun sulit dikala mengadapi ujian sekolah. Besarkan hatinya semoga anak sanggup menjalani ujian dengan hening dan nyaman.

10. Beri kesempatan anak beristirahat
Cara berguru yang baik yakni dengan berguru secara rutin, sehingga anak tak perlu memforsir diri dikala malam sebelum tes tiba. Beri kesempatan anak untuk beristirahat dikala mereka mulai kesulitan berkonsentrasi, entah dengan mendengarkan musik, menonton video pendek lucu, atau hal-hal lain yang bisa menyegarkan kepalanya.

Pendidikan Abjad Harus Melibatkan Keluarga

7:06:00 AM
Pendidikan Karakter Harus Melibatkan Keluarga Pendidikan Karakter Harus Melibatkan Keluarga
Penguatan pendidikan abjad harus dilaksanakan serentak oleh keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Masyarakat diminta jangan membebankan pendidikan abjad hanya ke sekolah, namun juga keluarga, dan masyarakat. Hal ini dikatakan Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Daryanto. Menurutnya, penguatan pendidikan abjad harus dilaksanakan serentak oleh keluarga, sekolah, dan masyarakat.

"Penguatan pendidikan abjad jangan hanya dibebankan pada sekolah saja, harus bergerak serentak, gotong royong dan berimbang dari tri pusat pendidikan, ialah keluarga, sekolah, dan masyarakat," kata Daryanto yang kutip dari Republika (20/02/18).

Dengan demikian, tanggung jawab pendidikan bukan dibebankan kepada sekolah semata, tetapi juga pergerakan awal yang dimulai dari lingkungan keluarga. Dia menyampaikan interaksi kasih sayang murid dengan orang tua, sanak saudara, dan kakek nenek itu juga menentukan. Setelah itu, gres kondisi lingkungan masyarakat pun harus menunjang.

Daryanto menyebut perihal prinsip saling asah, asih, dan ajar dalam dunia pendidikan yang harus sanggup terealisasi dengan baik. Karena mendidik itu harus penuh kasih sayang, menyebarkan pikiran kritis hingga mendorong siswanya untuk berprestasi. Baca: Peran Guru dalam Penguatan Pendidikan Karakter

Tak Ada Pr Di Finlandia Mitos Yang Telanjur Populer

3:20:00 PM
Di Finlandia para guru memperlihatkan PR yang tidak berat.
Selama ini masyarakat Indonesia cukup banyak membaca dan melihat gosip mengenai nyamannya bersekolah di Finlandia. Begitu banyak ulasan di Facebook atau Youtube mengenai Finlandia. Beberapa dari kita mungkin juga penasaran, apakah benar di sana murid-murid tidak diberi PR?

Tak heran, banyak yang ingin tau perihal pendidikan di negara kecil dengan jumlah total penduduk tak lebih dari 6 juta orang tersebut. Siswa-siswa Finlandia selalu memperoleh peringkat atas pada tes PISA atau Programme for International Student Assessment.

Timothy D. Walker, dalam buku terbarunya Teach Like Finland atau Mengajar ibarat Finlandia menyampaikan itu yaitu mitos yang telanjur populer. Menurut Tim, itu tidak benar, para siswa tetap mendapat PR, namun diberikan dengan sangat memperhitungkan tingkat kesulitannya.

Seperti yang lansir dari Kompas (26/01/18), para guru memperlihatkan PR yang tidak berat, bahkan rata-rata sanggup dikerjakan dalam waktu 30 menit saja. Intinya, mereka ingin para siswa benar-benar mendapat istirahat yang cukup sepulang sekolah, dan sanggup melanjutkan kegiatan yang lain.

Sekolah dan masyarakat Finlandia bekerja sama untuk mengupayakan siswa-siswa yang mandiri. Percayalah, Anda akan terkaget-kaget melihat siswa SD yang pergi-pulang sekolah sendirian, naik bus atau kereta. Dari semangat sanggup bangun diatas kaki sendiri itulah para siswa terbiasa untuk berpikir dengan cermat, bahkan menembus batasannya.

Tim menggarisbawahi bahwa esensi pendidikan yang sewajarnya berjalan seiring dengan prinsip universal hidup bagi masing-masing orang. Kebahagiaan diberi daerah yang utama dalam kurikulum di Finlandia. Sistem pendidikan yang membahagiakan menjadi fokusnya. Anak yang besar hati mempelajari banyak hal dengan enteng.

Orang Indonesia tentu sering mendengar banyak orang renta atau guru yang "memaksa" anak untuk bisa menguasai banyak hal di luar kemampuannya. Anak-anak pun bekerja dengan tanpa henti, berguru dengan tergesa-gesa. Akibatnya pendidikan berjalan dengan terpaksa alasannya yaitu lebih ibarat sebuah siksaan. Pendidikan menjadi tidak menyenangkan.

12 Cara Menciptakan Siswa Menjadi Aktif Dan Kreatif

6:27:00 AM
 Cara Membuat Siswa Menjadi Aktif dan Kreatif 12 Cara Membuat Siswa Menjadi Aktif dan Kreatif
Guru mempunyai tugas penting dalam mengenalkan dan membuatkan pemikiran kreatif pada siswa.
Kreativitas bisa dilakukan di mana saja dan oleh siapa saja. Dengan kreativitas semua bidang kehidupan akan semakin maju alasannya penemuan lahir dari kreativitas. Dengan membuat siswa di kelas menjadi siswa yang kreatif akan membuat siswa mengenali sendiri potensi dan kemampuannya, sehingga guru sanggup mengasah potensi tersebut.

Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran merupakan faktor penting, aktivitas aktif ini tidaklah hanya berupa keterlibatan secara fisik belaka, tetapi hal yang lebih utama yaitu keterlibatan intelektual-emosional. Guru mempunyai tugas penting dalam mengenalkan dan membuatkan pemikiran kreatif pada siswa.

Untuk membuatkan kreativitas siswa sanggup dilakukan dengan cara-cara yang sederhana. Berikut yang bisa dilakukan guru untuk membuat siswa di kelas menjadi lebih aktif dan kreatif menyerupai yang ditulis Agus Sampurno, seorang fasilitator pendidikan yang lansir dari gurukreatif.wordpress.com (22/01/18).

1. Minta siswa mengajarkan siswa lainnya sebagai bab dari taktik belajar.

2. Latih siswa untuk beropini dengan terperinci dan lancar, sebagai cara membuat siswa percaya diri di depan teman.

3. Biasakan siswa untuk bisa berpartisipasi dalam kelompok.

4. Buat aktivitas di kelas semoga siswa bisa berpikir berdikari sekaligus menjadi pemecah masalah.

5. Siapkan penugasan bagi siswa yang di ujung penugasannya siswa diminta mengekspresikan diri secara kreatif bisa dengan drama, komik atau hal lain yang menuntut siswa kreatif.

6. Sering-seringlah meminta siswa bekerja sama dalam kelompok semoga mereka terbiasa bekerja sama dengan orang lain.

7. Sering-sering memberi penugasan yang kreatif contohnya daripada sekedar meminta siswa merangkum isi buku, lebih baik meminta siswa mendesain ulang covernya.

8. Mengikut sertakan ‘suara’ siswa dalam perencanaan pengajaran. Dengan demikian siswa biasa mengungkapkan pikiran dan berani mengungkapkan pendapat.

9. Saat membahas sesuatu di kelas, sering-seringlah bertanya, “apa yang terlintas di pikiranmu dikala mendengar kata……”

10. Berikan pekerjaan rumah yang berkualitas pada siswa, bukan yang sekedar membuat siswa pusing. Misalnya daripada meminta siswa mengerjakan soal pilihan ganda, lebih baik meminta siswa melaksanakan wawancara, memotret gambar lewat HP lalu menawarkan komentar dan banyak aktivitas lainnya yang membuat siswa tertantang.

11. Memperbanyak diskusi dan interaksi antar siswa di kelas, mengurangi ceramah dan komunikasi satu arah di kelas, hanya dari guru pada siswa.

12. Menciptakan budaya menjelaskan di kelas, bukan sekedar menjawab yang betul. Artinya jikalau ada siswa yang menjawab betul minta ia menjelaskan alasannya dengan demikian siswa yang lain bisa terbantu dalam berusaha untuk mengerti.

Baca: Guru Harus Beri Kesempatan Siswa Kaprikornus Problem Solver

Intinya, untuk membuatkan kreativitas siswa bisa dilakukan dengan mengondisikan atau membangun suasana yang memicu kemampuan berpikir dan berkarya. Dasarnya yaitu menguasai pengetahuan, juga menerapkan ilmu dalam bentuk keterampilan. Dengan membuat sesuatu yang gres akan terus memancing imajinasi siswa. Selamat mencoba

Waspada, Bandar Narkoba Incar Anak Tk Dan Sd

7:43:00 PM
 terutama orangtua dan kalangan pendidik diminta meragukan peredaran narkoba Waspada, Bandar Narkoba Incar Anak Taman Kanak-kanak dan SD
Bandar narkoba hari ini menyasar bawah umur Taman Kanak-kanak dan SD.
Semua pihak, terutama orangtua dan kalangan pendidik diminta meragukan peredaran narkoba. Terlebih, ketika ini bawah umur usia sekolah menjadi sasaran para pengedar. Hal ini dikatakan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa melalui keterangan tertulisnya.

"Bandar narkoba hari ini menyasar bawah umur Taman Kanak-kanak dan SD. Dari umur 5 tahun mereka ditawari permen rasa susu. Ternyata itu narkoba. Dan bawah umur ini karenanya kecanduan," kata Khofifah yang kutip dari Liputan6.com (03/01/17).

Seperti yang banyak diberitakan, baru-baru ini publik dikejutkan dengan informasi perihal bawah umur yang mabuk, berhalusinasi, bahkan tewas sebab tidak sengaja mengonsumsi pil Paracetamol, Caffeine, dan Corisoprodol atau PCC.

"Ini sungguh memprihatinkan. Karena mereka ialah anak bangsa, masa depan negara ada di tangan mereka. Maka ini menjadi PR kita bersama bagaimana mencegah bawah umur dari paparan narkoba," kata Khofifah.

Upaya preventif untuk memerangi narkoba dimulai dari keluarga sebagai lingkungan terkecil dan terdekat. Upaya yang dilakukan diantaranya memberi pemahaman ancaman narkoba, peka terhadap lingkungan dan perubahan sikap anak atau lingkungan sekitar.

"Kekuatan bangsa ini salah satunya bersumber dari ketahanan keluarga. Kedekatan dan ikatan emosional yang besar lengan berkuasa dalam keluarga bisa membentengi bawah umur dari narkoba," jelasnya.

Selain keluarga, sekolah sebagai lingkungan kedua anak-anak, juga harus waspada. Kepala sekolah dan guru juga harus waspada, mengontrol anak didiknya, dan membangun kedekatan dengan bawah umur tidak hanya sebatas kekerabatan guru dan murid.

"Memerangi narkoba bukan hanya kiprah pemerintah. Tapi perlu kerja bersama orangtua, guru, RT, RW, tetangga. Semuanya saling terkait. Semua harus waspada dan saling mengingatkan," tambah Khofifah.

Peran Orangtua Dalam Proses Pendidikan Anak

1:13:00 AM
Peran Orangtua Dalam Proses Pendidikan Anak Peran Orangtua Dalam Proses Pendidikan Anak
Orangtua harus ikut berperan dalam proses pendidikan anak.
Orangtua murid diminta ikut aktif dalam jadwal sekolah demi mewujudkan pendidikan yang ramah bagi anak. Jelang tahun pedoman gres yang dimulai 17 Juli 2017, orangtua harus ikut berperan dalam proses pendidikan anak.

"Tentu, harus ikut berperan dalam proses pendidikan anak melalui Komite Sekolah. Bangun komunikasi yang dekat antara lingkungan keluarga sekolah dan masyarakat," kata Asrorun Ni'am yang kutip dari Okezone (15/07/17).

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ini mencontohkan, orangtua sanggup saling bertukar nomor telefon dengan guru di sekolah dan sesama wali murid. Dengan demikian orangtua akan sanggup saling menyebarkan informasi.

Dia menyampaikan orangtua yang mempunyai anak usia sekolah harus menjamin dan memastikan anak-anaknya memperoleh hak pendidikan. Selain itu, orangtua juga harus memperlihatkan bimbingan kepada anak untuk memilih sekolah yang baik dan sesuai bagi anak.

"Pastikan akomodasi penunjang bagi pemenuhan hak anak terpenuhi, ialah hak untuk beribadah sesuai agama anak, hak bermain dan berolahraga, hak untuk kesehatan, jajanan sehat dan pola interaksi antar komponen masyarakat," terperinci Ni'am.

Nilai Buruk Di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh

7:36:00 PM
Nilai Jelek di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh Nilai Jelek di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh
Tidak ada anak yang disebut ndeso hanya alasannya ialah nilai akademisnya di sekolah jelek.
Nilai di sekolah tidak sanggup mengatakan cerdas tidaknya seorang anak. Setiap anak mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda. Maka tidak ada anak yang disebut ndeso hanya alasannya ialah nilai akademisnya di sekolah jelek. Seorang jago kecerdasan multipel (Multiple Intelligences) dari Universitas Harvard Amerika Serikat, Thomas Amstrong mengungkapkan anak mempunyai kepintaran yang berbeda-beda.

"Ada anak yang nilai di sekolahnya bagus, bakir menjawab pertanyaan di sekolah dengan benar, punya IQ 150, tapi kepintaran bukan hanya soal itu," kata Thomas yang lansir dari laman Kompas (06/06/17).

Dalam teori multiple intelligences terdapat 8 jenis kecerdasan anak. Delapan jenis itu ialah kecerdasan linguistik (word smart), kecerdasan logika-matematika (number smart), kecerdasan visual-spasial (picture smart), kecerdasan gerak badan (body smart), kecerdasan bermusik (music smart), kecerdasan interpersonal (people smart), kecerdasan intrapersonal (self smart), dan kecerasan naturalis (nature smart).

"Semua anak sanggup mempunyai kepintaran yang berbeda-beda. Ada yang menonjol di suatu bidang tertentu, ada yang tidak. Orangtua harus mengetahui delapan jenis kepintaran ini," kata Thomas.

Baca: Setiap Anak Terlahir Unik, Ini Ciri Anak Berbakat

Untuk mengetahui delapan jenis kepintaran anak, orang renta sanggup mengamati tingkah laris mereka. Misalnya, anak suka memukul-mukul benda ibarat bermain drum, maka dia mungkin mempunyai minat di musik. Anak yang suka menciptakan sesuatu dengan tangan mereka, menyentuh, mengamati benda, cenderung mempunyai kepintaran body smart.

Jika kecerdasan anak sudah diketahui, berikanlah stimulus untuk membuatkan kepintaran anak tersebut. Misalnya, untuk anak yang mempunyai body smart, ajak si kecil bermain menyusun balok, melaksanakan aktivitas fisik ibarat olahraga.

"Orangtua harus meluangkan banyak waktu untuk memperhatikan belum dewasa mereka," katanya.

Teori multiple intelligences ini diperkenalkan oleh seorang profesor dari Havard University berjulukan Dr. Howard Gardner untuk mengukur potensi kecerdasan seseorang secara lebih luas.

Belum Sanggup Kip, Daftar Sekarang. Ini Caranya

7:58:00 AM
Peserta didik yang tidak mempunyai KIP segera mendaftar untuk mencicipi manfaatnya.
Masyarakat miskin yang anak-anaknya belum mempunyai Kartu Indonesia Pintar (KIP) dihimbau oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mendaftarkan diri. Sebab, pengusulan peserta KIP akan segera ditutup.

"Peserta didik yang tidak mempunyai KIP segera mendaftar untuk mencicipi manfaatnya," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Hamid Muhammad yang lansir dari laman JPNN (27/05/17).

Pengusulan mendapat dana PIP (Program Indonesia Pintar) oleh sekolah/Sanggar Kegiatan Belajar (SKB)/PKBM/Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) atau forum pendidikan nonformal lainnya di bawah binaan Kemendikbud, selambat-lambatnya tamat September tahun 2017.

Cara atau prosedur registrasi KIP sebagai berikut:‎‎

(A) Sekolah SKB/PKBM/LKP atau satuan pendidikan nonformal lainnya menyeleksi dan menyusun daftar peserta didik yang masih aktif dan tidak mempunyai KIP sebagai calon peserta dana/manfaat PIP dengan prioritas yakni:

  • Peserta didik dari keluarga peserta Program Keluarga Harapan (PKH)
  • Peserta didik dari keluarga pemegang Kartu Keluarga Sejahtera (KKS)
  • Peserta didik dari keluarga miskin/rentan miskin dan/atau dengan pertimbangan khusus seperti:
  • Peserta didik yang berstatus yatim piatu/yatim/piatu dari sekolah/panti sosial/panti asuhan;
  • Peserta didik yang terkena efek tragedi alam;
  • Kelainan fisik (Peserta didik Inklusi), korban musibah, dari orang renta PHK, di tempat konflik, dari keluarga terpidana, berada di LAPAS, mempunyai lebih dari 3 saudara yang tinggal serumah;
  • Peserta pada forum kursus atau satuan pendidikan nonformal lainnya;
  • Peserta didik kelas 6, kelas 9, kelas 12, dan kelas 13;
  • Peserta didik Sekolah Menengah kejuruan yang menempuh studi keahlian kelompok bidang Pertanian, Perikanan, Peternakan, Kehutanan dan Pelayaran/Kemaritiman.


(B). Sekolah menandai status kelayakan Peserta Didik sebagai calon peserta dana/manfaat PIP di aplikasi Dapodik mengacu pada hasil seleksi/verifikasi sekolah.

(C). Untuk jenjang SD dan SMP, dinas kabupaten/kota mengusulkan melalui aplikasi pengusulan PIP menurut status kelayakan Peserta Didik yang tercatat di Dapodik. Aplikasi pengusulan PIP yang sanggup di saluran di laman data.dikdasmen.kemdikbud.go.id/pipdikdasmen.

(D). Untuk jenjang Sekolah Menengan Atas dan SMK, sekolah berkewajiban melaporkan data peserta PIP yang diusulkan mendapat dana.manfaat PIP ke dinas pendidikan provinsi setempat.

Warisan Ilmu Lebih Berharga Daripada Harta

2:49:00 AM
Salah satu cara membekali ilmu kepada anak lewat pendidikan Warisan Ilmu Lebih Berharga daripada Harta

Warisan ilmu lebih berharga dan bermanfaat ketimbang harta. Sebab, manfaat ilmu tidak hanya pada diri sendiri, tetapi sanggup dirasakan masyarakat secara luas.

Dikisahkan dari Majalah Intisari, seorang cowok menerima warisan dari kedua orangtuanya. Sebelum sang ayah meninggal, ayahnya berpesan semoga dia menjaga buku-buku miliknya. Sebab, buku itulah harta yang tak terhingga.

Namun sepertinya, pikiran cowok itu berbeda. Baginya harta berlimpah itu ialah uang yang banyak. Dan benar saja, tidak usang uang warisan tersebut habis dalam seketika.

Karena tidak punya uang, cowok itu menjual beberapa benda yang ada di rumah orangtuanya, termasuk buku-buku renta miliki ayahnya. Kebetulan, ada temannya yang ingin membeli dengan murah.

Ketika buku dan beberapa barang terjual, hidup si cowok juga tak kunjung berubah. Ia masih miskin dan tidak mempunyai uang.

Suatu hari, dia tidak sengaja bertemu dengan temannya yang dulu membeli buku renta ayahnya. Bedanya kini kehidupan temannya itu sungguh makmur. Penasaran, si cowok pun bertanya.

“Sepertinya hidupmu sangat makmur,” kata si pemuda.

Teman si cowok tersenyum. “Ini semua berkat buku-buku renta yang saya beli padamu. Buku siapakah itu?” Tanya si teman.

“Buku ayahku. Memang kenapa?”.

“Buku-buku tersebut isinya wacana pelajaran kehidupan. Bahkan ada tips-tips wacana kehidupan yang sangat membantu. Semua yang saya dapatkan kini ini, alasannya ialah buku-buku tersebut,” jawab si teman.

Mendengar itu semua, si cowok pun menyesal. Menyesal alasannya ialah tidak mendengar pesan ayahnya. Menyesal alasannya ialah menganggap uang ialah segalanya.

Salah satu cara membekali ilmu kepada anak lewat pendidikan, yaitu dengan menyekolahkan anak setinggi-tingginya hingga apa yang dicita-citakan sanggup terwujud.

Dengan ilmu, masa depan anak akan terarah dan apapun akan menjadi mudah. Dengan ilmu, anak akan terhindar dari masa depan susah. Mari bekali ilmu kepada anak semoga masa depannya cerah.

Peserta Asuh Bertengkar Guru Terancam

6:52:00 PM
Ini solusi dari kejadian tersebut sekaligus sebagai upaya proteksi terhadap profesi g Peserta Didik Bertengkar Guru Terancam

Undang-Undang (UU) No 14 tahun 2005 wacana guru dan dosen pada Bab 1 Pasal 1 menjelaskan wacana arti Guru yaitu pendidik profesional dengan kiprah utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi penerima didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Menurut uraian tersebut kiprah guru merupakan kiprah yang berat alasannya yaitu guru harus menunaikan kiprah yang banyak, membutuhkan proses panjang dan harus mengaplikasikan pada obyek hidup, bergerak yaitu penerima didik dengan jumlah lebih dari satu yang masing-masing mempunyai keberagaman karakter. Pada Jenjang sekolah dasar, kompleksitas kiprah guru tersebut akan bertambah dengan ikut berperannya orang renta sebagai masyarakat pendidikan dalam sebagaian proses berlangsungnya pendidikan.

Orang renta sebagai masyarakat pendidikan merupakan biro penting dalam pendidikan. Pendidikan akan berjalan sukses dengan dukungan masyarakat orang tua. Hubungan tersebut berjalan baik ketika kekerabatan antara sekolah dan masyarakat orang renta wali terjalin dengan baik, alasannya yaitu masyarakat orang renta bisa sebagai brosur berjalan pada tahapan promosi sekolah sekaligus bisa sebagai sumber berguru siswa dimana masyakat orang renta bisa menjadi pengajar sesuai bidang masing-masing sebagai penerapan pembelajaran kasatmata penerima didik dan sebagai inspirator bagi penerima didik.

Peristiwa kasatmata di lapangan yang terjadi ketika kolaborasi sekolah, guru dan orang renta tidak terbangun dengan baik. Peserta didik memang tanggung jawab sekolah sekaligus guru pada ketika proses pembelajaran, tetapi jam-jam tertentu contohnya jam istirahat dan peralihan jam bebas contohnya mengaji. Pegawasan guru terhadap penerima didik sangat tinggi tetapi kaustik bisa saja terjadi contohnya penerima didik yang tertengkar alasannya yaitu dimulai dari hanya saling mengejek, hal tersebut terjadi bukan alasannya yaitu guru tidak mengawasi tetapi kondisi berteman, saling mengejek kadang bab perkembangan kreatifitas siswa dan dengan tunjangan guru mediasi pertengkaran antara penerima didik bisa tersesesaikan di sekolah.

Setelah kejadian di sekolah dibawa pulang ke rumah dan penerima didik saling lapor ke orang renta masing-masing ada orang renta yang kurang bijaksana dalam memahami tumbuh kembang anak dalam bersosialisasi dan menyelesaian masalah, alhasil orang renta ke sekolah pribadi menemui guru di kelas mengintimidasi guru dengan keras, mengancam guru, berdiri dengan menunjuk-nunjuk sampai melemparkan benda di sekitarnya di depan guru dengan keras. Hal tersebut mengakibatkan guru serba salah dalam menunaikan tugas, guru akan semakin menjaga jarak dengan masyarakat orang renta bahkan dimungkinkan para guru akan enggan menegur siswa dan alhasil akan terjadi pembiaran.

Peristiwa di atas bisa terjadi alasannya yaitu faktor internal eksternal masyarakat. Sikap masyarakat orang renta pada keadaan kasatmata dilapangan kini mulai mengalami pergeseran dalam memandang profesi guru, alasannya yaitu masyarakat orang renta banyak di sibukkan dengan aktifitas pekerjaan masing-masing sehingga mengalami pengurangan pada tanggung jawab mendampingi, menunaikan amanah sebagai orang renta yang mempunyai tanggung jawap pertama menjadi sekolah utama pada tumbuh kembang serta pendidikan anak. Mereka terlalu banyak menuntut sekolah dan guru semoga sanggup menghantarkan penerima didik sebagai masyarakat terdidik, namun tidak seiring dengan kerja sama, penghargaan dan proteksi yang diberikan.

Baca juga: Permendikbud No 10 Tahun 2017 Perlindungan Bagi Guru

Solusi yang coba penulis uraikan dari kejadian di atas sekaligus sebagai upaya proteksi terhadap profesi guru sekaligus penerapan UU No 14 tahun 2005 wacana guru dan dosen pada Bab III Pasal 7 (h) guru mempunyai jaminan proteksi aturan dalam melakukan kiprah keprofesionalan antara lain:

1.Sekolah mempunyai alur aturan yang terang wacana cara menuntaskan permasalahan.

2.Sekolah menunjukkan batas area orang tua. Hal ini dipakai untuk mengatur batas campur tangan orang renta terhadap aturan sekolah.

3.Melengkapi sarana prasarana sekolah. Misalnya pemasangan CCTV di ruang kelas sebagai obyek refleksi, media bukti dan perbaikan yang terkoordinir.

Daftar Pustaka
Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 wacana Guru dan Dosen

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Peserta Asuh Bertengkar Guru Terancam

6:52:00 PM
Ini solusi dari kejadian tersebut sekaligus sebagai upaya proteksi terhadap profesi g Peserta Didik Bertengkar Guru Terancam

Undang-Undang (UU) No 14 tahun 2005 wacana guru dan dosen pada Bab 1 Pasal 1 menjelaskan wacana arti Guru yaitu pendidik profesional dengan kiprah utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi penerima didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Menurut uraian tersebut kiprah guru merupakan kiprah yang berat alasannya yaitu guru harus menunaikan kiprah yang banyak, membutuhkan proses panjang dan harus mengaplikasikan pada obyek hidup, bergerak yaitu penerima didik dengan jumlah lebih dari satu yang masing-masing mempunyai keberagaman karakter. Pada Jenjang sekolah dasar, kompleksitas kiprah guru tersebut akan bertambah dengan ikut berperannya orang renta sebagai masyarakat pendidikan dalam sebagaian proses berlangsungnya pendidikan.

Orang renta sebagai masyarakat pendidikan merupakan biro penting dalam pendidikan. Pendidikan akan berjalan sukses dengan dukungan masyarakat orang tua. Hubungan tersebut berjalan baik ketika kekerabatan antara sekolah dan masyarakat orang renta wali terjalin dengan baik, alasannya yaitu masyarakat orang renta bisa sebagai brosur berjalan pada tahapan promosi sekolah sekaligus bisa sebagai sumber berguru siswa dimana masyakat orang renta bisa menjadi pengajar sesuai bidang masing-masing sebagai penerapan pembelajaran kasatmata penerima didik dan sebagai inspirator bagi penerima didik.

Peristiwa kasatmata di lapangan yang terjadi ketika kolaborasi sekolah, guru dan orang renta tidak terbangun dengan baik. Peserta didik memang tanggung jawab sekolah sekaligus guru pada ketika proses pembelajaran, tetapi jam-jam tertentu contohnya jam istirahat dan peralihan jam bebas contohnya mengaji. Pegawasan guru terhadap penerima didik sangat tinggi tetapi kaustik bisa saja terjadi contohnya penerima didik yang tertengkar alasannya yaitu dimulai dari hanya saling mengejek, hal tersebut terjadi bukan alasannya yaitu guru tidak mengawasi tetapi kondisi berteman, saling mengejek kadang bab perkembangan kreatifitas siswa dan dengan tunjangan guru mediasi pertengkaran antara penerima didik bisa tersesesaikan di sekolah.

Setelah kejadian di sekolah dibawa pulang ke rumah dan penerima didik saling lapor ke orang renta masing-masing ada orang renta yang kurang bijaksana dalam memahami tumbuh kembang anak dalam bersosialisasi dan menyelesaian masalah, alhasil orang renta ke sekolah pribadi menemui guru di kelas mengintimidasi guru dengan keras, mengancam guru, berdiri dengan menunjuk-nunjuk sampai melemparkan benda di sekitarnya di depan guru dengan keras. Hal tersebut mengakibatkan guru serba salah dalam menunaikan tugas, guru akan semakin menjaga jarak dengan masyarakat orang renta bahkan dimungkinkan para guru akan enggan menegur siswa dan alhasil akan terjadi pembiaran.

Peristiwa di atas bisa terjadi alasannya yaitu faktor internal eksternal masyarakat. Sikap masyarakat orang renta pada keadaan kasatmata dilapangan kini mulai mengalami pergeseran dalam memandang profesi guru, alasannya yaitu masyarakat orang renta banyak di sibukkan dengan aktifitas pekerjaan masing-masing sehingga mengalami pengurangan pada tanggung jawab mendampingi, menunaikan amanah sebagai orang renta yang mempunyai tanggung jawap pertama menjadi sekolah utama pada tumbuh kembang serta pendidikan anak. Mereka terlalu banyak menuntut sekolah dan guru semoga sanggup menghantarkan penerima didik sebagai masyarakat terdidik, namun tidak seiring dengan kerja sama, penghargaan dan proteksi yang diberikan.

Baca juga: Permendikbud No 10 Tahun 2017 Perlindungan Bagi Guru

Solusi yang coba penulis uraikan dari kejadian di atas sekaligus sebagai upaya proteksi terhadap profesi guru sekaligus penerapan UU No 14 tahun 2005 wacana guru dan dosen pada Bab III Pasal 7 (h) guru mempunyai jaminan proteksi aturan dalam melakukan kiprah keprofesionalan antara lain:

1.Sekolah mempunyai alur aturan yang terang wacana cara menuntaskan permasalahan.

2.Sekolah menunjukkan batas area orang tua. Hal ini dipakai untuk mengatur batas campur tangan orang renta terhadap aturan sekolah.

3.Melengkapi sarana prasarana sekolah. Misalnya pemasangan CCTV di ruang kelas sebagai obyek refleksi, media bukti dan perbaikan yang terkoordinir.

Daftar Pustaka
Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 wacana Guru dan Dosen

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Anak Perlu Sarapan Sebelum Berguru Di Sekolah

6:31:00 PM
Kemdikbud akan menggalakkan kembali sarapan di sekolah Anak Perlu Sarapan Sebelum Belajar di Sekolah
Tujuh dari sepuluh anak Indonesia tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
Orang bau tanah perlu menyiapkan sarapan sebelum anak berangkat sekolah. Hal ini dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy terkait dengan rencana akan dikeluarkannya Inpres Pembangunan Berwawasan Kesehatan yang akan melibatkan 13 kementerian dan lembaga.

"Sebelum berangkat ke sekolah, orang bau tanah perlu menyediakan sarapan terlebih dahulu, semoga anak memiliki konsentrasi mendapatkan pelajaran di sekolah," kata Mendikbud yang kutip dari Antara (16/03/17).

Kemdikbud akan menggalakkan kembali sarapan sebelum mendapatkan pelajaran di sekolah. Mendikbud menyampaikan jikalau Inpres tersebut telah terbit, maka pihaknya akan meminta komite sekolah untuk bahu-membahu membahas mengenai sarapan di sekolah.

Menurutnya, sarapan bersama di sekolah memungkinkan saja jikalau para orang bau tanah setuju untuk menyediakan sarapan di sekolah. Dia menyampaikan bisa saja nantinya, anak yang tidak bisa ditanggung oleh siswa yang mampu.

Baca juga: Pentingnya Melibatkan Orang Tua dalam Mendidik Anak

Berdasarkan data, tujuh dari sepuluh anak Indonesia tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Sarapan bukan hanya mencegah rasa lapar, tetapi juga memperlihatkan energi dan gizi yang diperlukan anak untuk belajar, bermain serta berolahraga.

"Dengan sarapan pagi bisa membantu anak lebih fokus dalam mencar ilmu sehingga meningkatkan prestasi dan menghipnotis daya tangkap mereka dikala sekolah serta beraktivitas fisik," kata Ketua Umum Pergizi Pangan, Hardinsyah.

Anak Perlu Sarapan Sebelum Berguru Di Sekolah

6:31:00 PM
Kemdikbud akan menggalakkan kembali sarapan di sekolah Anak Perlu Sarapan Sebelum Belajar di Sekolah
Tujuh dari sepuluh anak Indonesia tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
Orang bau tanah perlu menyiapkan sarapan sebelum anak berangkat sekolah. Hal ini dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy terkait dengan rencana akan dikeluarkannya Inpres Pembangunan Berwawasan Kesehatan yang akan melibatkan 13 kementerian dan lembaga.

"Sebelum berangkat ke sekolah, orang bau tanah perlu menyediakan sarapan terlebih dahulu, semoga anak memiliki konsentrasi mendapatkan pelajaran di sekolah," kata Mendikbud yang kutip dari Antara (16/03/17).

Kemdikbud akan menggalakkan kembali sarapan sebelum mendapatkan pelajaran di sekolah. Mendikbud menyampaikan jikalau Inpres tersebut telah terbit, maka pihaknya akan meminta komite sekolah untuk bahu-membahu membahas mengenai sarapan di sekolah.

Menurutnya, sarapan bersama di sekolah memungkinkan saja jikalau para orang bau tanah setuju untuk menyediakan sarapan di sekolah. Dia menyampaikan bisa saja nantinya, anak yang tidak bisa ditanggung oleh siswa yang mampu.

Baca juga: Pentingnya Melibatkan Orang Tua dalam Mendidik Anak

Berdasarkan data, tujuh dari sepuluh anak Indonesia tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Sarapan bukan hanya mencegah rasa lapar, tetapi juga memperlihatkan energi dan gizi yang diperlukan anak untuk belajar, bermain serta berolahraga.

"Dengan sarapan pagi bisa membantu anak lebih fokus dalam mencar ilmu sehingga meningkatkan prestasi dan menghipnotis daya tangkap mereka dikala sekolah serta beraktivitas fisik," kata Ketua Umum Pergizi Pangan, Hardinsyah.

Cara Efektif Mendisiplinkan Siswa Tanpa Kekerasan

4:02:00 AM
Ini yang sanggup dilakukan guru untuk menghindari eksekusi dengan kekerasan Cara Efektif Mendisiplinkan Siswa Tanpa Kekerasan
Tips yang sanggup dilakukan guru untuk mendisiplikan siswa tanpa eksekusi dengan kekerasan
Hukuman fisik ke siswa dianggap oleh beberapa guru sebagai cara efektif dalam mengatur kelas. Namun, itu bukanlah cara yang sempurna untuk mendisiplinkan siswa, dan tak jarang hal tersebut menciptakan guru harus berurusan dengan penegak hukum. Praktis saja menciptakan siswa merasa tertarik dalam kelas tanpa perlu menghukum. Kuncinya hanyalah isi kegiatan kelas dengan hal yang menyenangkan.

Berikut beberapa hal yang sanggup dilakukan guru untuk menghindari eksekusi dengan kekerasan.

Tunjukkan cinta

Diberikan imbalan bukan berarti sangat disayang, diberikan eksekusi juga bukan berarti dibenci. Tunjukkan bahwa Anda sebagai guru menyayangi mereka tak ada beda, namun setiap apa yang dilakukan ada konsekuensinya.

Dekati secara personal

Meski jumlah siswa tak sedikit, mengenal kepribadian mereka satu persatu merupakan kewajiban. Sehingga, Anda akan mengenali huruf masing-masing dan tahu apa yang harus dilakukan jikalau ada yang bermasalah.

Tunjukkan akhir dari perilakunya

Guru sanggup meminta siswa untuk menulis sebuah pernyataan yang menggambarkan imbas negatif dari sikap mereka, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Tanamkan pula kebiasaan meminta maaf atas kesalahannya.

Buat aturan bersama

Sebaiknya dikala menciptakan aturan di dalam kelas, ajaklah siswa untuk bersama memilih eksekusi apa yang sempurna dan tidak terlalu memberatkannya. Selain itu, berilah reward bagi yang disiplin meskipun hanya berupa pujian.

Baca juga: Jangan Mendisiplinkan Siswa dengan Kekerasan

Saat ini dalam mendidik, guru lebih baik menyebarkan konsep disiplin positif ialah dengan pendekatan yang menumbuhkan tanggung jawab, kesadaran dan komitmen. Disiplin positif menekankan pada penciptaan lingkungan positif melalui contoh komunikasi yang bersifat membangun dan menguatkan. Pada dasarnya setiap anak mempunyai potensi untuk menjadi baik dan sanggup dikembangkan dengan banyak sekali pendekatan.

Ini Ancaman Gendong Tas Ransel Terlalu Berat

5:14:00 PM
Inilah Bahaya Gendong Tas Ransel Terlalu Berat Ini Bahaya Gendong Tas Ransel Terlalu Berat
Asalkan berada dalam beban rekomendasi yakni 10-15 persen dari berat tubuh anak.
Hasil penelitian menyatakan menggendong tas ransel yang bermuatan terlalu berat tak anggun bagi kesehatan anak. Para ilmuwan dari Spanyol itu menemukan hal ini sanggup menunjukkan tekanan besar pada tulang belakang dan punggung sehingga menjadikan sakit punggung.

Seperti yang lansir dari Antara (09/03/17), peneliti mengusut 78 belum dewasa sekolah, 43 orang di antaranya yaitu anak wanita di daerah Granada, Spanyol. Mereka kemudian menguji persentase lemak para partisipan dan massa otot mereka.

Peneliti juga mengusut berat tas sekolah partisipan untuk mengetahui hubungannya dengan berat tubuh mereka. Hasilnya ditemukan, satu dari empat anak wanita membawa beban lebih dari 20 persen dari berat badannya dalam tas sekolah mereka.

"Dua puluh tiga persen belum dewasa wanita membawa ransel di atas 20 persen dari berat tubuh mereka, jauh sekali dari berat yang dianjurkan," kata Eva Orantes, penulis utama studi dari University of Granada.

Anak-anak lebih baik mengunakan jenis tas yang beroda (troli) atau wheelie ketimbang tas ransel. Menurut peneliti, hal ini untuk meminimalisir sakit punggung jawaban membawa beban yang lebih berat, sebab sanggup melindungi punggung.

Baca juga: Seperti Inilah SD (SD) di Jepang

Hampir setengah dari belum dewasa membawa tas dengan bobot yang melebihi yang direkomendasikan. Sebagian besar belum dewasa yang menjadi partisipan studi mengakui merasa lelah saat mengenakan tas ransel dan lebih mungkin untuk menderita sakit punggung.

"Mengingat hasil studi ini, kami sanggup menyampaikan bahwa menarik troli, asalkan berada dalam beban rekomendasi yakni 10-15 persen dari berat tubuh anak, lebih bermanfaat ketimbang memakai ransel dengan berat yang sama," terang Orantes.

Jangan Mendisiplinkan Siswa Dengan Kekerasan

1:56:00 AM
Jangan Mendisiplinkan Siswa dengan Kekerasan Jangan Mendisiplinkan Siswa dengan Kekerasan
Pendekatan disiplin dengan contoh kekerasan sudah tidak relevan ketika ini.
Para guru dingatkan suapaya tidak memakai kekerasan dalam mendisiplinkan siswa di sekolah. Menurut Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto, ketika tampil sebagai pembicara pada bimbingan teknis Perlindungan Keprofesian guru dengan tema "Perlindungan Guru Perspektif Perlindungan Anak" yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diikuti para guru dari seluruh Indonesia.

Baca juga: Guru Tak Bisa Dipidana Karena Mendisiplinkan Siswa

Susanto menyarankan dalam mendidik, guru membuatkan konsep disiplin positif. Konsep disiplin positif yaitu upaya menumbuhkan kedisiplinan pada siswa dengan pendekatan yang menumbuhkan tanggung jawab, kesadaran dan komitmen. Makara sudah tidak zamannya lagi dalam mendidik menjadikan ketakutan, kegelisahan bahkan ancaman. Ia meyakini setiap anak punya potensi untuk menjadi baik dan sanggup dikembangkan dengan banyak sekali pendekatan.

"Karena itu pendekatan disiplin dengan contoh kekerasan sudah tidak relevan ketika ini," kata Susanto yang kutip dari Antaranews (08/03/17).

Terkait dengan pernyataan kalau zaman dulu guru mendidik dengan keras sehingga banyak murid yang berhasil, beliau menyampaikan kalau semenjak dulu diterapkan disiplin positif maka murid jauh akan lebih sukses. Ia mengakui ketika ini guru berada dalam problem lantaran gamang dan takut menjalankan profesi alasannya yaitu ada sejumlah guru yang tersangkut kasus aturan akhir mendisiplinkan siswa.

"Guru harus sanggup memilah mana wilayah kekerasan dan mana wilayah pendidikan," ujarnya.

Saat ini kasus guru yang berhadapan dengan aturan lantaran perlakuan terhadap siswa sudah jauh menurun dibandingkan sebelumnya. KPAI mengapresiasi turunnya kasus pelaporan guru oleh orang renta siswa kepada penegak hukum. Ia menyampaikan ini yaitu langkah terbaik anak harus dilindungi dan guru sanggup menjalankan kiprah dengan baik.

Guru Diminta Jadi Contoh Gemar Membaca Buku

5:07:00 PM
Guru Diminta Makara Teladan Gemar Membaca Buku Guru Diminta Makara Teladan Gemar Membaca Buku
Beri rujukan kepada anak bahwa membaca itu mengasikkan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meminta guru biar jadi teladan gemar membaca buku bagi anak-anak. Mendikbud mengimbau pada orang bau tanah dan guru jangan hanya menyuruh membaca, tetapi tidak diberikan rujukan atau teladan.

"Beri rujukan kepada anak bahwa membaca itu mengasikkan," kata Mendikbud yang kutip dari Republika (06/03/17).

Selain menjadi teladan, guru harus membimbing belum dewasa memahami buku yang dibaca. Menurutnya, banyak cara yang sanggup dilakukan untuk membantu belum dewasa memahami buku bacaan. Salah satunya, ialah menugaskan untuk meringkas buku yang telah dibaca.

Baca juga: Video Panduan Program 15 Menit Membaca Buku (GLS)

Pada pembukaan aktivitas Discovery 4, Gerakan Banyuwangi Membaca, di Taman Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur, Mendikbud menyampaikan menanamkan budaya membaca semenjak dini merupakan wujud dari penguatan pendidikan karakter.

Mendikbud juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan kantor isu Radar Banyuwangi yang telah menginisiasi aktivitas Banyuwangi Discovery 4 sebagai upaya menyosialisasikan gerakan gemar membaca.

Dampak Kalau Orangtua Berangasan Pada Pendidikan Anak

5:25:00 PM
Dampak Jika Orangtua Kasar Pada Pendidikan Anak Dampak Jika Orangtua Kasar Pada Pendidikan Anak
Pola pendidikan bergairah orangtua akan berdampak negatif terhadap akademik anak.
Jika Anda suka berteriak, memukul atau memakai fisik untuk mendidik anak, segeralah mengubah teladan pendidikan tersebut. Seperti yang lansir dari Republika (28/02/17), sebuah studi mengungkapkan, teladan pendidikan bergairah orangtua akan berdampak negatif terhadap akademik anak.

Baca juga: Anak yang Sering Bermain dengan Orangtua Akan Tumbuh Cerdas

Berdasarkan penelitian pada 1.482 siswa dari Washington yang diikuti selama lebih sembilan tahun pada bawah umur dari kelas tujuh hingga berakhir tiga tahun sehabis lulus Sekolah Menengan Atas mengatakan siswa yang dibesarkan bergairah mereka malah akan tidak mengikuti hukum orangtua.

"Dalam penelitian kami, orangtua yang keras akan menurunkan tingkat pendidikan anak,” ujar Ketua Peneliti dari University of Pittsburgh di Pennsylvania, AS, Rochelle F. Hentges, dikutip dari Indian Express.

Anak-anak ini sulit untuk bertanggung jawab serta akan lebih mementingkan mencari kelompok sebaya mereka. Selanjutnya, anak-anak dengan didikan yang keras akan lebih mengandalkan rekan-rekannya.

Bukannya melaksanakan pekerjaan rumah, mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan teman-teman. Mereka merasa bahwa tidak ada yang salah dalam melanggar hukum untuk menjaga relasi dengan teman-teman.

Kondisi tersebut terang akan menciptakan mereka semakin terlibat dalam sikap yang lebih berisiko di usia remaja. Perempuan akan lebih terlibat dalam sikap seksual sedangkan pria dalam perbuatan yang salah ibarat memukul dan mencuri.

Tk Dihentikan Ajarkan Baca Tulis Hitung, Ini Alasannya

1:05:00 AM
TK dihentikan diajarkan baca tulis dan berhitung  Taman Kanak-kanak Dilarang Ajarkan Baca Tulis Hitung, Ini Alasannya
TK dihentikan diajarkan baca tulis dan berhitung (calistung) alasannya yakni dinilai tidak sempurna bagi tumbuh kembang anak.
Anak-anak yang masih duduk di taman kanak-kanak (TK) dihentikan diajarkan baca tulis dan berhitung (calistung). Sebab, hal tersebut dinilai tidak sempurna bagi tumbuh kembang anak. Hal ini disampaikan Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Ella Yulaelawati.

Baca juga: Belajar Calistung Sebelum Waktunya Bisa Rusak Tatanan Otak Anak

Dia meminta seluruh Taman Kanak-kanak di Indonesia kembali pada jalurnya, yaitu sebagai forum pendidikan yang menyiapkan anak untuk mandiri. Menurutnya, pendidikan TK yang mengajarkan baca, tulis, dan hitung, dinilai tidak tepat. Pendidikan Taman Kanak-kanak lebih sempurna untuk bermain sambil belajar. Sementara itu, baca, tulis, dan hitung, sebatas pengenalan saja.

Namun, beberapa menerapkan baca tulis. Alasannya, itu alasannya yakni usul orang bau tanah siswa. Para orang bau tanah lebih menentukan sekolah Taman Kanak-kanak yang sanggup mengajarkan anaknya baca tulis. Jika forum Taman Kanak-kanak tidak memenuhi usul tersebut, dampaknya tidak mempunyai murid. Jadi, hampir serbasalah bila menyerupai ini.

"Orang bau tanah murid maunya instan. Mereka ingin anaknya sanggup baca tulis dan hitung di sekolah biar keterima masuk SD," kata Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kabupaten Malang Handarijati yang kutip dari JPNN (26/01/17).

Kepada orang bau tanah untuk dihimbau untuk selektif dalam memilih TK. Sebab,TK menentukan perkembangan psikologi anak. Bukan berarti baca, tulis, hitung, waktu kecil tidak penting, tetapi di Taman Kanak-kanak sifatnya hanya pengenalan. Sebenarnya, untuk masuk SD tidak mensyaratkan anak sanggup baca, tulis, dan hitung dengan mahir.