Showing posts with label Tulisan Anda. Show all posts
Showing posts with label Tulisan Anda. Show all posts

Kkm, Un Dan Disorientasi Tujuan Pendidikan

7:31:00 PM
 dalam menggali potensi penerima didik menjadi salah satu penyebab rendahnya mutu pendidika KKM, UN dan Disorientasi Tujuan Pendidikan

Kelemahan guru dalam menggali potensi penerima didik menjadi salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di tanah air. Sebagian besar guru masih memaksakan kehendaknya tanpa memperhatikan kebutuhan, minat serta talenta yang dimiliki anak didiknya. Alih – alih berperan sebagai rumah kedua yang nyaman untuk dihuni, sekolah justru telah merampas kesempatan anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Itulah salah satu poin yang penulis tangkap ketika membaca Tajuk Rencana berjudul “Menyoal (Lagi) Pendidikan Kita” yang dimuat di harian umum Pikiran Rakyat edisi 09 Juli 2018. Tulisan tersebut seakan memposisikan guru sebagai “terdakwa” atas aneka macam kegagalan yang menyelimuti dunia pendidikan kita ketika ini. Namun, benarkah demikian ?

Dalam pandangan penulis, ada dua hal yang menimbulkan anak tidak bisa berbagi potensinya selama berada di sekolah. Pertama, pemberlakuan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Adanya kewajiban bagi setiap anak untuk meraih nilai minimal pada beberapa mata pelajaran yang belum tentu sesuai dengan minat dan talenta mereka menjadikan proses pembelajaran yang berlangsung selama bertahun – tahun tersebut dirasakan sebagai siksaan. Sekolah yang pada awalnya diperlukan berperan sebagai tempat untuk menggali potensi serta berbagi kemampuan anak justru terkesan menyerupai jeruji besi yang mengubur potensi dan membelenggu kreativitas anak. Kondisi semacam ini pada karenanya berdampak pada kurangnya motivasi anak untuk mengikuti proses pembelajaran.

Kedua, dipertahankannya Ujian Nasional (UN) sebagai salah satu instrument untuk mengukur keberhasilan proses berguru maupun demi kepentingan pemetaan mutu pendidikan di setiap tempat menjadikan pembelajaran yang diselenggarakan lagi – lagi berorientasi pada nilai akademik. Adapun upaya pembentukan abjad serta pengembangan potensi anak sebagaimana yang diperlukan dalam setiap proses pembelajaran tidak mendapat porsi yang seharusnya. Akibatnya, upaya untuk membentuk generasi unggul berkarakter pun berjalan secara parsial. Anak acap kali dituntut untuk bisa menuntaskan soal – soal di atas kertas. Namun, kemampuan mereka untuk mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi jarang sekali diasah.

Baca: Sekolah Masa Depan dan Guru yang Dibutuhkan

Diberlakukannya KKM dan UN pada setiap jenjang pendidikan pada karenanya menempatkan guru pada posisi yang cukup sulit. Para guru sesungguhnya menyadari akan pentingnya pembentukan abjad anak serta memahami betul kewajibannya untuk membantu anak semoga bisa berkembang sesuai dengan potensinya. Namun, pemberlakuan KKM dan UN secara tidak pribadi telah mengubur potensi anak sekaligus membelenggu kreativitas guru dalam melahirkan generasi unggul berkarakter. Upaya penanaman nilai – nilai akal pekerti serta kecintaan anak terhadap dunia berguru pun harus terhenti akhir paradigma keliru dalam memandang keberhasilan proses pembelajaran.

Berdasarkan klarifikasi di atas, sanggup disimpulkan bahwa disorientasi tujuan pendidikan menyerupai yang terjadi ketika ini bukan semata – mata disebabkan oleh ketidakmampuan guru dalam menggali potensi anak, melainkan lebih disebabkan oleh hukum yang dibentuk oleh pemerintah sendiri. Pemberlakuan KKM serta penyelenggaraan UN yang semakin dipertanyakan kebermanfaatannya sejatinya telah membelenggu kreativitas guru sekaligus memaksa mereka untuk berlaku tidak jujur dengan memperlihatkan nilai yang tidak sesuai dengan kemampuan anak.

*) Ditulis oleh Ramdan Hamdani. Praktisi Pendidikan, Pemerhati Masalah Sosial

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (Mpls)

6:09:00 PM
Acara besrih lingkungan sekolah pada MPLS, diharapkandapat menumbuhkan semangat berguru terhadap siswa baru.
Pada hari pertama masuk sekolah semester ganjil untuk siswa gres tentu akan mendapat pengalaman yang gres juga. Diantaranya kelas baru, sekolah baru, guru serta teman – teman gres dan sudah niscaya lingkungan sekolah yang baru.

Seperti memasuki hutan untuk pertama kalinya anak akan merasa cemas dengan situasi ibarat ini. Namun seiring berjalanya waktu perasaan cemas itu akan segera hilang.

Pada kebanyakan sekolah biasanya setiap tahun pedoman gres selalu diadalakan Masa Pengenalan Lingkunga Sekolah (MPLS) guna menyambut kedatangan penerima didik baru.

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) jaman dulu disebut juga Masa Orientasi Sekolah (MOS) atau Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) hal ini merupakan sebuah kegiatan umum yang dilaksanakan di sekolah sekolah.

Dari tahun ke tahun kegiatan ini selalu menuai pro dan kontra ditengah masyarakat, mereka menganggap MOS tidaklah perlu diadakan lantaran hanya menjadi ajang senioritas dan perpeloncoan yang menjurus pada kekasaran dan sanggup menjadikan menurunya mental pada siswa baru.

Namun pemerintah mencoba untuk meluruskan perihal tujuan MPLS yang tercantum dalam Prmendikbud No. 18 Tahun 2016.
1. Mengenali potensi siswa baru
2. Membantu siswa gres menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan sekitarnya, antara lain terhadap aspek keamanan, kemudahan umum, dan sarana prasarana sekolah.
3. Menumbuhkan motifasi, semangat dan cara berguru efektif sebagai siswa baru.
4. Mengembangkan interaksi konkret antar siswa dan warga sekolah lainya.
5. Menumbuhkan sikap konkret antara lain kejujuran, kemandirian, sikap saling menghargai, menghormati keaneka ragaman dan persatuan, kedisiplinan, hidup higienis dan sehat untuk mewujudkan siswa yang mempunyai nilai integritas, etos kerja dan semangat gotong royong.

Dari tujuan MPLS diatas, terang sekali pada pelaksanaan didalamnya jauh sekali dengan yang namanya perpeloncoan dan kekerasan. Tetapi malah sebaliknya kegiatan MPLS justru sangat menyenangkan dan penuh kekeluargaan.

Selama pelaksanaan MPLS di tiap sekolah selalu terdapat kegiatan yang menyangkut kebersihan lingkungan ( Adiwiyata ), yakni salah satu kegiatan Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.

Dimana siswa gres diperkenalkan dan diajarkan mengenai kebersihan lingkungan di sekolahnya dan eksklusif dipimpin guru pembimbingnya untuk terjunke lapangan bersama sama.

Adapun kegiatan yang dilaksanakan diantaranya :
1. Membersihkan sampah yang berserakan.
2. Membersihkan selokan air.
3. Menyediakan kolam sampah menurut jenis sampahnya.
4. Melakukan penghijauan dengan cara menanam pohon.
5. Membersihkan ruangan kelas dan laboratorium dan kemudahan sekolah lainya
6. Mengumpulkan flora obat
7. Menanam flora obat dll

Kebersihan sanggup mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman tentram dan sedap dipandang mata termasuk dilingkungan sekolah.

Bagaimana mungkin siswa gres sanggup terkesan apabila lingkungan daerah ia menuntut ilmu keadaanya kotor dan kumuh, alasannya dengan keadaan lingkungan sekolah yang kotor akan menurunkan hasrat dan minat untuk belajar. Selain itu keadaan lingkungan yang kotor sanggup menjadi daerah bersarangnya basil dan bibit penyakit.

Keadaan lingkungan yang kotor tersebut dikarenakan kurangnya kesadaran warga sekolahnya dalam menggalakan kebersihan lingkungan.

Apalagi menyangkut dengan siswa gres yang sejatinya harus diperkenalkan dengan sesuatu yang baik dan elok untuk merangsang semangat belajarnya ditempat beliau akan menuntut ilmu.

Dengan adanya kegitan higienis lingkungan yang di ajarkan kepada siswa gres pada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah ( MPLS ), dibutuhkan sanggup menumbuhkan semangat berguru bagi siswa gres serta akan timbul rasa besar hati terhadap sekolahnya dikarenakan kesan pertama yang diajarkan oleh sekolah itu sendiri.

*) Ditulis oleh Asep Sulistina Sekolah Menengah kejuruan N 9 Kota Tangerang

Zohri - Sang Juara Dunia, Prestasi Yang Dapat Memotivasi Keinginan Siswa

12:06:00 AM
 Di tengah sepinya prestasi olah raga dibidang atletik terselip pujian bangsa Indonesi Zohri - Sang Juara Dunia, Prestasi yang Bisa Memotivasi Cita-Cita Siswa
Dengan adanya citra Muhammad Zohri, biar dijadikan motivasi mencar ilmu bawah umur indonesia.
Di tengah sepinya prestasi olah raga dibidang atletik terselip pujian bangsa Indonesia sesudah Lalu Muhammad Zohri menyabet medali emas pada kejuaraan dunia atletik U-20 pada nomor lari 100 m di Finlandia. Zohri, perjaka 18 tahun menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 10,18 detik di simpulan lari 100 m putra dan menjadi juara dunia.

Namun tidak banyak yang tahu ternyata Muhammad Zohri berasal dari keluarga yang kurang mampu, dari dusun Pangsor, Desa Pamenang, Kabupaten Lombok Utara. Bangunan rumah yang berada didesanya ialah berupa gubuk bambu yang disalah satu bab sisinya ada yang dilapisi lembaran dengan koran.

Kita sanggup melihat banyak orang yang sukses, baik dibidang pendidikan, karir, bisnis, olah raga dan dibidang lainya. Berkaca dari sepenggal cerita ini, kita sebagai bangsa indonesia harus memiliki mimpi. Dan bukan mustahil suatu ketika mimpi ini menjadi kenyataan. Dengan adanya citra Muhammad Zohri, biar dijadikan motivasi mencar ilmu bawah umur indonesia.

“Dalam motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan, target dan insentif. Keadaan jiwa tersebutlah yang mengaktifkan, mengarahkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan sikap individu belajar” ( Koeswara, 1989 )

Baca: Dengan Metode dan Motivasi yang Hebat, Tak Ada Anak Bodoh

Cita cita siswa banyak macamnya, ada siswa yang ingin jadi dokter, insinyur, pilot, polisi, diplomat, bahkan ada yang ingin jadi presiden. Namun dalam mencapai harapan tersebut tentu banyak faktor-faktor pendukungnya antara lain :
1. Adanya kemauan yang kuat
2. Pengetahuan dan wawasan yang mumpuni
3. Dukungan dari kedua orang tua
4. Biaya yang tercukupi
5. Dan Doa ( dari banyak sekali sumber )

Akan tetapi di luar ketentuan itu semua, adanya kemauan yang berpengaruh menjadi motivasi yang terbesar untuk berprestasi. Karena adanya prestasi seseorang , siswa akan berfikir bahwa jikalau orang lain bisa maka saya harus bisa. Dengan cara memperbaiki kualitas dirinya, pergaulan hidupnya dan akan berusaha untuk mengetahui apa kemauanya dan apa yang menjadi keahlianya ialah dengan cara berusaha, berdoa dan mencar ilmu yang rajin.

Cita-cita semata-mata bukan hanya menjadi satu tujuan hidup bagi setiap orang, namun harapan bisa juga menjadi penyemangat, pemberi pandangan gres dan motivasi untuk maju bagi siswa itu sendiri. Dengan demikian tujuan hidupnya sanggup terarahkan.

*) Ditulis oleh Asep Sulistina guru Sekolah Menengah kejuruan N 9 Kota Tangerang

Memahami Karakteristik Penerima Asuh Melalui Pendekatan Teman Sebaya

3:34:00 PM
Memahami karakteristik penerima didik melalui pendekatan sahabat sebaya
Pendidikan pada hakekatnya ialah memanusiakan manusia. Untuk mencapai impian ini, kehadiran Guru menjadi referensi impian para orang renta anak tersebut. Berbagai upaya memanusiakan insan telah dilakukan oleh guru di sekolah. Jika seorang Peserta didik sukses dalam studinya maka semua keluarga bahkan lingkungan akan membanggakan nama anak tersebut dan seluruh keluarga berbesar hati. Ini merupakan karakteristik insan pada umumnya. Akan tetapi kalau Peserta Didik tersebut gagal dalam sebuah forum Pendidikan maka orang pertama yang dicoreng namanya ialah Guru yang membimbing dan mengajar Peserta Didik tersebut. Hal semacam ini yang masih terbawa sepanjang ini di banyak sekali tempat di potongan Indonesia tercinta ini.

Memperhatikan budaya kekeliruan yang sulit diperbaiki ini maka sebagai Guru harusnya membangun banyak sekali konsep strategis guna memperkecil banyak sekali prasangka jelek yang ungkapkan oleh banyak sekali kalangan masyarakat selama ini. Salah satu konsep yaitu pendekatan sahabat sebaya. Teknik pendekatan ini diawali dengan langkah-langkah berikut:

a. Guru meminta Peserta Didik dengan mengajukan satu pertanyaan sederhana sebagai berikut:-
- Siapa saja sahabat berbain Anda setiap hari ? Kelas Rendah [Belum lancar membaca dan menulis]
- Tulislah teman-teman bersahabat Anda minimal nama 3[tiga] sahabat ! Kelas atas [yang lancar membaca dan menulis]

b. Menanyakan kesukaan Peserta Didik dari sahabat sebaya Peserta Didik tersebut dari daftar nama yang diterima

c. Mencatat semua gosip dari semua sahabat yang disebutkan/dituliskan dalam daftar secara lengkap.

d. Membaca dan menganalisa serta mengkaji pendapat yang dikumpulkan

e. Guru menciptakan final sementara abjad Peserta Didik bersangkutan

f. Mulai menyusun taktik gres guna menghipnotis serta memasukan konsep gres yang sanggup mengubah konsep dasar Peserta Didik sesuai impian Guru.

g. Menemukan karakteristik gres Peserta Didik menurut hasil karja guru.

Baca: Strategi untuk Mengenal Karakter Peserta Didik

Inilah beberapa langkah yang sanggup membantu Guru dalam menghadapi Karakter Peserta Didik yang sulit diatur. Selamat mencoba supaya bermanfaat demi memperkecil prasangka jelek dari banyak sekali pihak.

Maju Terus Pantang Mundur, Guru mengmang Pahlawan Tanpa Jasa namun Karya Guru merupakan gesekan Kecil yang tetap membekas di hati Peserta Didik hingga diujung penghabisan Riwayat Pendidikan ikut dibacakan di depan Khalayak.

*) Ditulis oleh Paulus Pobas,S.Pd
Guru Non PNS di SMAS Katolik 1 SoE-Kab.Timor Tengah Selatan-Nusa Tenggara Timur.

Membaca Merupakan Kebutuhan Primer Bagi Guru Dan Penerima Didik

1:15:00 AM
Membaca Merupakan Kebutuhan Primer Bagi Guru dan Perserta Didik Membaca Merupakan Kebutuhan Primer Bagi Guru dan Peserta Didik
Pentingnya membaca bagi guru dan akseptor didik.
Membaca merupakan kegiatan yang sangat memilih masa depan semua kalangan masyarakat alasannya yakni dengan membaca kita sanggup memperoleh sejumlah informasi yang sanggup memacu kita dalam beraktivitas setiap hari. Terutama bagi guru dan akseptor didik gotong royong membaca merupakan suatu kebutuhan utama sepanjang hidup.

Setiap hari bagi seorang guru niscaya dihadapkan dengan acara Kegiatan Belajar Mengajar yang mau tidak mau harus melaksanakan kegiatan membaca sebagai sarana memperoleh pengalaman dan pengetahuan untuk melaksanakan kiprah sebagai guru. Sedangkan bagi akseptor didik setiap hari dihadapkan dengan rasa ingin tahu serta menguasai pengetahuan dan pengalaman yang disuguhkan oleh gurunya.Ini berarti bagi guru dan akseptor didik kegiatan membaca merupakan acara rutin setiap hari.

Bagi Peserta didik usia Sekolah Dasar tentu membaca dibagi menjadi dua kategori antara lain:

1. Bagi kelas bawah akan berlatih mengeja setiap fonem,kemudian menghafal satu demi satu kemudian langkah selanjutnya menggabungkan bunyi, mengenal kata dan menemukan makna bacaan yang dibacanya. Proses untuk mencapai tingkat menemukan makna bagi akseptor didik SD kelas rendah merupakan suatu usaha yang melibatkan banyak pihak di setiap waktu dan kesempatan. Mulai dari guru di depan kelas,teman di samping kiri dan kanan hingga di lingkungan rumah ada santunan tuntunan orang bau tanah dan keluarga yang peduli dengan akseptor didik tersebut.

2. Bagi Peserta Didik kelas atas mendapatkan dan memahami aneka macam informasi melalui kegiatan membaca baik di dalam kelas di bawah tuntunan guru maupun di luar kelas dengan aneka macam upaya dari akseptor didik tersebut untuk mendapatkan informasi melalui aneka macam sumber. Termasuk saran dan bimbingan orangtua di rumah.

Baca: Guru Diminta Makara Teladan Gemar Membaca Buku

Memperhatikan betapa pentingnya membaca bagi guru dan akseptor didik maka dipandang tidak kalah penting juga kalau setiap hari adanya agenda tetap sebagaimana agenda kebutuhan makan dan minum pada umumnya. Jika ini sanggup dilakukan maka guru dan akseptor didik akan merasa lapar dan haus informasi dan pengetahuan ketika setiap hari terlambat membaca di rumah atau di sekolah.

Demikianlah seharusnya membaca menjadi kebutuhan primer bagi guru dan akseptor didik maka suatu ketika akan muncul generasi Indonesia yang luar biasa. Sebab guru SD merupakan Fondasi pembangunan insan Indonesia yang sangat memilih begitu pula Peserta didik SD yakni Bibit unggul yang mesti menerima perhatian serius dari aneka macam kalangan demi menuju Indonesia Emas Tahun 2045 mendatang. Selamat Membaca hari ini. Sambil mengingat moto usang :"Tiada Hari Tanpa Membaca."

*) Ditulis oleh Paulus Pobas,S.Pd. Guru non PNS di SMAS Nasrani 1 SoE.

Guru Kawasan Yang Berjihad

6:46:00 PM
 Guru ialah sosok yang di gugu dan ditiru Guru Daerah yang Berjihad
Guru yang berjihad, ditulis oleh Puryanto. Seorang Widyaiswara di BDK jakarta
Guru ialah sosok yang di gugu dan ditiru,dan guru merupakan aset Negara yang sangat berarti dan sangat penting dalam dunia pendidikan. Tanpa Guru suatu Negara tidak akan maju dan tidak akan berkembang, oleh akhirnya guru perlu diperhatikan dari mulai pendidikannya serta kebutuhan lainnya yang ada keterkaitan dengan diri maupun kemudahan yang diharapkan oleh guru tersebut.

Dari hasil kunjungan penulis ke tempat Maluku utara dalam kunjungan memperlihatkan pendidikan di wilayah kerja, kebetulan daerahnya ialah sebuah pulau yang ditempuh satu jam perjalanan maritim dengan memakai bahtera kayu yang dapat menciptakan sekitar 20 orang. Kunjungan ini terjadi pada beberapa tahun yang lalu, yaitu kami ditempatkan di pulau Moti , salah satu pulau yang bila dari pulau Ternate pulau ini Nampak jelas, yang mana lebih banyak didominasi penumpangnya ialah para guru yang nantinya akan berikan pembinaan yang rata-rata ialah para ibu guru. Kami berlayar mulai pagi hari sehabis melakukan shalat shubuh.

Di urutan paling depan Nampak seorang pengemudi maritim duduk dengan perkasanya, yang akan membawa kami menuju tujuan pulau Moti. Pas sekitar pukul setengah enam,mulailah mesin motor maritim itu dinyalakan dan dipanaskan, sehabis itu mesin bahtera itu mulai melaju dengan cepat membawa para penumpangnya. Saat itu ombak dapat dikatakan cukup bergelombang dan kami dalam berahu hanya dapat mencicipi terpaan ombak demi ombak menerjang bahtera kayu yang penuh penumpangnya. Perahu itu yang saya ingat tidak begitu besar, lebar bahtera itu dapat diisi cukup oleh 4 orang saja, duduk berjejer sehingga bila ada sekitar 7 baris di kali dua maka jumlah penumpang itu diperkirakan sekitar 28 orang saja.

Di samping kami ada seorang guru perempuan yang sempat kami intograsi pengalaman ia selama menjadi guru di wilayah Maluku utara. Selama perjalanan kami ngobrol menceritakan usaha para guru yang didominasi para perempuan itu,mengatakan kepada penulis perjalanan maritim ini merupakan perjalan keseharian melintas memakai bahtera kecil yang tidak dilengkapi dengan pelampung. Dan para ibu guru itu Nampak tegang di ketika bahtera mulai meleok-leok dan terombang ambing oleh terpaan ombak di luar.

Satu jam berikut sampailah kami di tepian pesisir pulau moti ,pulau kecil yang begitu indah dengan warna air maritim yang begitu jernih dan bersih, bebas dari sampah sampah dengan pasir dan bebatuan pantai yang begitu indah menghiasi dermaga pulau moti yang terbuat dari kayu yang membentuk jempatan kayu yang menghubungkan bahtera dengan pelabuhan kecil itu. Boleh dikatakan pelabuhan kecil dan darurat.

Dari hasil introgasi dari salah satu guru yang menyampaikan bahwa perjalan maritim itu merupakan perjalanan utama bagi para guru yang ada di seputaran kepulauan Maluku utara,dimana satu kali berlayar sebesar lima puluh ribuan, jadi jika pulang pergi guru tersebut harus merogoh kocek sebesar seratus ribu setiap harinya.

Penulis menanyakan kepada guru tersebut, ” Mengapa ibu tetap ingin jadi guru walau setiap hari harus keluar uang seratus ribu untuk membayar perjalanan dengan bahtera ini bu” kata beliau, “ saya merasa terpanggil untuk menjalankan semuanya ini pak demi anak bimbing walau honor saya habis oleh ongkos naik bahtera ini pak”, “Kesian juga yah bu! ,” apa ada perhatian dari pemerintah setempat untuk membantu para guru yang mengabdi khususnya para guru yang lokasi kerjanya melintas maritim dan antar pulau?. Tidak ada pak! “Yah supaya saja bapak dapat memberikan pesan ini kepada petinggi di Jakarta untuk memperjuangkan kami di daerah”.

Baca: Jangan Menjadi Guru Kalau Hanya Ingin Uangnya

“Ya insyaalloh, bila saya nanti di Jakarta bunyi hati ibu, saya akan sampaikan kepada para petinggi di kementerian agama untuk memperlihatkan tunjangan khususnya para guru yang lokasi kerjanya jauh dan harus melintas lautan, supaya yah bu!.

Demikianlah hasil usaha dari pembicaraan kami selaku pegawai tempat di tempat terpencil yang begitu penuh dengan pengorbanan dan butuh mental yang besar lengan berkuasa dalam menghadapi semuanya ini demi anak bangsa dan masa depan Negara Indonesia tercinta.

*) Tulisan ini dikirim ke oleh Puryanto SS

Ini Alasan Kenapa Guru Tetap Jadi Profesi Keren

1:28:00 AM
Ini Alasan Kenapa Guru Tetap Makara Profesi Keren Ini Alasan Kenapa Guru Tetap Makara Profesi Keren
Bergelut dalam dunia pendidikan dengan menjadi guru juga tetap sanggup jadi pilihan yang oke.
Dengan semakin majunya zaman memang membuka peluang munculnya banyak profesi baru. Di ranah digital misalnya, kau yang hobi main media umum saja sanggup berpeluang menambah pundi pendapatan dengan menjadi social media specialist.

Sebuah survei yang dilakukan perusahaan berjulukan First Choice menyebutkan harapan menjadi dokter, perawat, ataupun guru tidak lagi populer. Kebanyakan belum dewasa usia kini atau zaman now justru bercita-cita menjadi YouTuber.

Tapi, bergelut dalam dunia pendidikan dengan menjadi guru juga tetap sanggup jadi pilihan yang oke. Ini alasannya yaitu kenapa guru tetap menjadi profesi yang keren bagi kaum millennial, yang lansir dari Kapanlagi (22/03/18).

Mencerdaskan Bangsa Adalah Tujuan Mulia

Sampai sekarang, guru itu tetap menjadi profesi mulia. Guru yaitu profesi yang mengabdikan diri buat mencerdaskan bangsa. Cuma orang-orang yang peduli dengan pendidikan dan terpanggil jiwanya saja yang mau mengabdikan diri sebagai seorang guru. Apalagi tanggung jawabnya juga tidak main-main. Inilah yang jadi alasan jikalau cuma millennial yang keren yang mau jadi guru.

Melepaskan Label Sekolah Zaman Dulu

Siapa bilang guru itu sosok yang membosankan? Millennial yang berprofesi sebagai guru sanggup melepaskan sistem dan metode jadul yang menempel di sekolah zaman dulu. Apalagi metode pembelajaran zaman kini sudah banyak yang berubah. Kamu sanggup memanfaatkan kreativitas yang dimiliki millennial untuk membuat trik berguru yang dengan gampang diserap para murid. Asyik, kan?

Kehidupan Guru yang Terjamin

Guru yang berstatus Pegawai Negeri Sipil alias PNS kini ini punya honor yang bagus, tergantung dari status mereka. Tidak hanyak mendapat honor pokok setiap bulan, ada juga donasi lain yang sanggup menambah pemasukan, mulai dari donasi profesi sampai kinerja. Sekarang terbukti kan jikalau dengan mengabdi menjadi guru pun kau sanggup mempunyai masa depan yang cerah.

Guru Adalah Calon Pasangan Idaman

Sampai sekarang, guru tetap menjadi calon pasangan idaman banyak orang. Sosok guru dikenal punya tanggung jawab, perhatian, disiplin, dan punya visi ke depan. Inilah yang membuat profesi guru selalu jadi calon pasangan idaman banyak orang. Kalau anak orang lain saja dididik dengan penuh kasih sayang oleh guru, apalagi anak kalian nanti!

Upgreding Meningkatkan Kualitas Ibu Sebagai Guru

6:44:00 AM
Upgreding Meningkatkan Kualitas Ibu Sebagai Guru Upgreding Meningkatkan Kualitas Ibu Sebagai Guru
Ibu juga harus terus berguru sepanjang hidupnya sebagai upaya menjaga kualitas seorang ibu.
Tanggal 22 Desember sempurna Indonesia memperingati hari ibu. Hari istimewa untuk orang yang istimewa yaitu IBU. Ibu yaitu master segala ilmu, ibu dengan segala keistimewaan dan fitroh kelebihannya bisa menunaikan kiprah dalam satu waktu dengan baik yaitu sebagai manajer keluarga, sebagai guru anak, psikolog handal yang tahu kapan anak sedih dan gembira, akuntan hebat, sobat baik, chef merangkap jago gizi, desain interior, pertamanan sekaligus pegawai kebersihan dan masih banyak lagi (Dosenpsikologi, 2017). Ibu juga harus terus berguru sepanjang hidupnya sebagai upaya menjaga kualitas seorang ibu.

Dalam menyambut hari ibu yang sempurna diperingati dikala liburan sekolah, para ibu yang bertugas sebagai guru SD Muhammadiyah 9 Malang tetap mengisi liburannya dengan upgreding yaitu upaya peningkatan mutu guru. Kegiatan upgreding dilaknakan selama lima hari dengan aneka macam rangkaian kegiatan mulai dari kegiatan mengaji bersama (KMB), kultum, pembagian kiprah akreditasi, penyelesaian perangkat untuk semester dua dan diskusi kegiatan kerja untuk pembelajaran tahun fatwa 2018-2019. Semua rangkaian kegiatan upgreding tersebut upaya meningkatkan mutu guru sekaligus mutu para ibu lantaran sebagian besar guru di SD Muhammadiyah 9 Malang yaitu wanita yang merangkap kiprah sebagai ibu dan calon ibu.

Hasil pengamatan dari kegiatan upgreding SD Muhammadiyah 9 Malang, Ibu yaitu orang hebat, sangat terlihat sekali beberapa guru yang berperan sebagai ibu harus rela membawa anaknya kesekolah untuk bersama mengikuti kegiatan upgreding. Karena anak di massa liburan menuntut para ibu bisa menghabiskan waktu bersama dengan mereka, disisi lain ibu juga tetap harus mengemban kiprah sebagai guru untuk mengikuti serangkaian kegiatan sekolah sebagai bab dari sekolah. Mereka para ibu harus membagi konsentrasi antara pelaksanaan upgreding dengan derma perhatian untuk anak dan hal itu butuh energi besar, hal itu perlu menejerial yang ampuh sehingga semua bisa dilaksanakan secara bersama dengan hasil yang baik. Tapi jangan khawatir wahai para ibu komitmen ilahi itu niscaya semua kebaikan niscaya palasannya kebaikan.

Seorang ibu yang merangkap kiprah sebagai seorang guru merupakan kiprah yang sangat mulia dan wadah berguru yang sangat baik lantaran kiprah itu saling berkaitan. ibu sebagai guru utama dan yang pertama pagi anak, oleh alasannya itu apabila ibu merangkap kiprah menjadi guru paling tidak mereka akan bisa mengajarkan yang terbaik untuk anaknya sendiri, sebaliknya ketika ibu mendapat ilmu selama mendidik anak dirumah maka itu juga bermanfaat untuk mengajarkan pada akseptor didik di sekolah dengan baik. Karena kita sebagai ibu dan guru akan sangat banyak mendapat pengalaman mengajar dan materi berguru terutama dari perkembangan anak dan akseptor didik. Guru akan bisa menciptakan media berguru untuk anak dengan motorik tinggi ketika guru menangani akseptor didik dengan motorik tinggi. Ibu akan tahu cara membangun fokus anaknya di rumah lantaran ibu pernah menagani dan mendampingi anak ketika makan akan lebih usang dikala dilakukan dengan nonton tv. Pengalaman-pengamalan konkret yang pernah ibu dan guru alami yaitu guru dasyat untuk menjadi ibu guru yang hebat dunia akherat.

Tetaplah menjadi IBU dan GURU yang hebat, teruslah berkarya di rumah dan di sekolah, teruslah berguru untuk yang terbaik, Jaga kesehatan biar kehidupan keluarga dan pendidikan berjalan baik, teruslah bersyukur lantaran kedudukanmu yang terbaik. Semangat wahai para IBU GURU.

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Menumbuhkan 5 Budaya Aksara Di Jaman Now

6:28:00 AM
Upaya konkret menumbuhkan budaya abjad Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong dan integritas pada akseptor didik.
Peringatan hari besar nasional dan hari besar agama yakni waktu yang sempurna untuk sekolah mengadakan acara dalam rangka menunjukkan wadah bantuan untuk akseptor ajar mengetahui sejarah sebuah program dan berpatisipasi eksklusif dalam keseluruhan rangkaian acara mulai dari persiapan keragaman pakaian, goresan pena inspiratif, tampilan kreatifitas, acara menyebarkan dan pekan raya akseptor didik. Keseluruhan acara merupakan upaya konkret menumbuhkan budaya karakter mulai dari Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong dan integritas pada akseptor ajar dalam satu wadah.

SD Muhammadiyah 9 melalui peringatan Hari Pahlawan dan Milad Muhammadiyah ke 108 mengadakan program pawai di lingkungan sekitar sekolah. Pawai diikuti oleh seluruh warga sekolah dengan pakaian yang bermacam-macam pada masing-masing tingkat kelas mulai dari pakaian adat, pahlawan, seragam sekolah, batik nasional, kebaya malangan, tapak suci dan hisbul wathon sesuai hukum panitia sekolah. Hal tersebut secara konkret merupakan wujud dari sikap taat hukum dan disiplin sekaligus menunjukkan kepada akseptor ajar perihal wujud Bhineka tunggal lka di sekolah meskipun banyak sekali ragam pakaian dan ciri masing-masing tingkat kelas tetap bersatu bersama mensukseskan program pawai, semua yakni rangkaian operasional dari abjad nasionalis.

Tingkatan Kelas yang berpartisipasi dalam pawai menyiapkan satu tampilan kreasi bebas yang akan ditampilkan pada panggung bersama dapat berupa tari, drama, musik, dan paduan suara. Selain itu setiap kelas menyediakan bermacam-macam goresan pena ide untuk dibawa selama pelaksanaan pawai dengan tujuan untuk mengajak kebaikan pada diri diri sendiri dan masyarakat sekitar. Tampilan kreasi dan goresan pena ide merupakan wadah mewujudkan kreatifitas dan keberanian akseptor ajar yang merupakan operasional dari abjad mandiri.

Proses persiapan tampilan kreasi dan pembuatan ragam goresan pena ide dilakukan bersama –sama antara akseptor didik, wali kelas pendamping beserta wali murid yang tergabung dalam paguyuban kelas. Kegiatan bersama menyerupai ini wadah konkret untuk akseptor ajar terlibat dalam sebuah komunitas kebersamaan yang terdiri atas bermacam-macam usia dan karakter, selain itu selama proses jalannya pawai akseptor ajar menunjukkan oleh-oleh kepada masyarakat yang sudah tertempel stiker permintaan kebaikan pada perayaan Hari Pahlawan dan Milad Muhammadiyah. Buah tangan pun bermacam-macam mulai dari bunga mawar, permen yang dikreasi bunga, hingga mie yang berbentuk keranjang. Keseluruhan rangkaian di atas mulai kebersamaan dan solidaritas akan menumbuhkan budaya gotong-royong pada diri akseptor didik.

Akhir acara jalan pawai di sekitar lingkungan sekolah seluruh warga sekolah menikmati bazar, tampilan kreasi dan pembagian hadiah undian. Selama proses ini seluruh akseptor ajar selalu diingatkan untuk menjaga ke etika dalam melihat tampilan bersama biar semua dapat menikmati dengan baik. Proses pekan raya dan pengambilan hadiah akseptor ajar dilatih eksklusif untuk selalu jujur sekaligus upaya penguatan abjad religius dan Integritas.

Ayo selalu bersemangat untuk membuat sarana dan wadah konkret penguatan abjad pada akseptor didik untuk bekal masa depan yang sukses dan berkarakter.

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Bazar Tempat Meningkatkan Rasa Persatuan Siswa

1:14:00 AM
Bazar Daerah Meningkatkan Rasa Persatuan Siswa Bazar Daerah Meningkatkan Rasa Persatuan Siswa
Pelaksanaan pameran selain sebagai sarana mencar ilmu juga meningkatkan rasa kesatuan dan persatuan warga sekolah.
Bazar kawasan merupakan salah satu pameran yang diadakan MIN 1 Kota Malang khususnya kelas 5 sebagai puncak dari pelaksanaan pembelajaran tematik Tema 3 “Makanan Sehat” yang masing masing kelas mencerminkan kawasan tertentu dengan menampilkan banyak sekali macam ciri khas dari banyak sekali kawasan di Indonesia mulai dari makanan, kesenian, alat musik dan anjungan kawasan lengkap dengan ciri khas daerah. Tujuan diadakan pameran yaitu:

  • Sebagai sarana mencar ilmu untuk semua muatan pembelajaran pada tema 3
  • Wadah membangun kolaborasi yang baik antar siswa, sekolah dan orang renta yang terbentuk dalam paguyuban kelas.
  • Meningkatkan rasa kesatuan dan persatuan warga sekolah.

Pelaksanaan pameran kawasan melibatkan seluruh warga sekolah mulai siswa, orang renta dan wali kelas, mereka harus saling berhubungan semoga pameran berjalan dengan lancar dan sukses. Banyak persiapan –persiapan yang diharapkan untuk menyambut pelaksanaan pameran daerah, mulia dari penentuan dengan undian kawasan mana yang harus diangkat oleh masing-masing kelas, Misalnya kelas kami 5H sanggup undian DI Yogjakarta, persiapan undian jenis kuliner sehat khas kawasan masing-masing yang akan di sajikan dalam kelas dengan cara siswa mendata diri kuliner khas apa yang akan dijual, persiapan tampilan seni kawasan hasil undian, penentuan hasil karya seni, alat musik yang menjadi ciri khas kawasan hingga penataan kelas lengkap dengan hiasan khas daerah. Pelaksanaan berada pada kelas masing-masing tetapi bisa dikunjungi oleh semua warga sekolah, tetapi pembukaan program dan tampilan siswa dilakukan bersama sama seluruh kelas dari kelas A – I alasannya sekaligus memperingati hari sumpah cowok yang bertepatan pada hari Sabtu tanggal 28 Oktober 2017.

Pelaksanaan pameran kawasan sebagai puncak pelaksanaan pembelajaran tematik Tema 3 “ Makanan Sehat” bisa sebagai sarana lengkap membahas semua muatan dalam satu kegiatan. Misalnya muatan IPA wacana kuliner sehat diwaliki seluruh jenis kuliner sehat yang terpilih pada masing-masing daerah, Muatan SBdP membedakan tangga nada mayor dan minor dari pilihan lagu yang mengiringi tari kawasan masing-masing, muatan IPS siswa bisa membangun secara pribadi interaksi sosial dan interaksi lingkungan dalam setiap proses pelaksanaan pameran kawasan mulai interaksi individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. Muatan PKN ialah penerapan saling menghormati dan menghargai keberagaman budaya. Muatan Bahasa Indonesia kami siswa bisa menciptakan iklan dan menerapkan iklan dalam proses jual beli.

Pelaksanaan pameran kawasan yang sempurna dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2017, menciptakan kami siswa sangat bahagia alasannya acara ini kami bisa berperan langsung, dan bisa melihat ciri khas kawasan di Indonesia secara konkret tanpa kita harus jauh jauh pergi ke kawasan tersebut, kita bisa melaksanakan seluruh rangkaian bantu-membantu teman dan kami menjadi semakin cinta budaya Indonesia yang beragam. Akhirnya jam 12.00 siang acara pameran kawasan tamat dan sebelum kami seluruh siswa pulang, kami harus tetap bertanggung jawab pada kebersihan kelas masing masing. Semoga goresan pena ini bermanfaat.

*) Ditulis oleh Recha Nisfiyafi'. Siswi kelas 5 MIN I Malang.

Big Book “Di Dalam Hutan” Media Penyesuaian Literasi

6:24:00 PM
 Pembiasaan pada kegiatan literasi yaitu bab tahapan  Big Book “Di Dalam Hutan” Media Pembiasaan Literasi
Big book “ di dalam hutan” yaitu media adaptasi membaca.
Pembiasaan pada kegiatan literasi yaitu bab tahapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang bertujuan untuk menumbuhkan minat baca akseptor didik terhadap buku (bacaan) dan kegiatan membaca sesuai dengan Permendikbud No 23 tahun 2015. Kegiatan adaptasi bisa dikelompokkan menjadi 2 bab yaitu kegiatan adaptasi jenjang SD kelas bawah dan jenjang SD kelas atas.

Big book atau buku besar yaitu media pembelajaran membaca dengan pendekatan membaca bersama (shared reading) yang mempunyai ukuran, goresan pena dan gambar yang besar dengan tujuan bisa dilihat oleh akseptor didik dengan jelas, dibentuk dengan menyesuaikan kebutuhan siswa baik kebutuhan SD jenjang kelas atas ataupun kelas bawah dan terdapat prinsip pengulangan bacaan dengan tujuan untuk mengenalkan rangkain huruf, kata, serta menghubungkan dengan suara alasannya yaitu disajikan dalam bentuk verbal (Wardhani, 2015).

Fakta di lapangan akseptor didik kelas 1 SD Muhammadiyah 9 mempunyai kecenderungan kemampuan motorik yang sangat tinggi dengan dibarengi tingginya kemampuan linguistik akseptor didik sehingga kecenderungan suasa kelas sangat ramai. Karakteristik akseptor didik tersebut kuat pada kemampuan fokus dalam membaca apalagi membaca yang butuh waktu usang dan teks bacaan yang panjang.

Fakta dilapangan berikutnya, kemampuan membaca pada akseptor didik kelas 1 SD Muhammadiyah 9 sangat bermacam-macam mulai dari yang sudah lancar membaca, perlu pendampingan dalam membaca hingga akseptor didik yang belum bisa merangkai abjad atau kata secara mandiri. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh aktivitas Full Day School (FDS) yang masih di selenggarakan di SD Muhammadiyah 9, alasannya yaitu menurut gosip guru kelas 1 dengan aktivitas Full Day School (FDS) waktu training membaca personal bagi akseptor didik yang belum bisa membaca kurang, alasannya yaitu pendampingan hanya bisa dilakukan di sela-sela pembelajaran, waktu suplemen pulang sekolah sudah tidak memungkingkan baik fisik maupun kemampuan mendapatkan suplemen pendampingan baik dari sisi akseptor didik maupun tenaga guru.

Berdasarkan fakta di lapangan masih perlunya media untuk melatih adaptasi membaca pada akseptor didik kelas 1 atau pemula sehingga akseptor didik kelas 1 bisa menyimak cerita, meprediksi gambar, membaca nyaring dan senyap dengan memakai teks sederhana dengan baik. Big book “ di dalam hutan “ salah satu media adaptasi membaca sempurna alasannya yaitu Big book atau buku besar dengan judul di dalam hutan berisi gambar dengan teks sederhana, memuat prinsip pengulangan bacaan dengan pemdekatan membaca bersama (shared reading).

Analisis Masalah

Pembiasaan membaca selama 15 menit setiap hari sebelum proses pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran dan mendorong akseptor didik gemar membaca merupakan kegiatan wajib pengembangan potensi diri yang merupakan bentuk kegiatan gerakan Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) di Sekolah sebagai upaya penghargaan terhadap keunikan potensi akseptor didik untuk dikembangkan (Permendikbud No 23 tahun 2015).

Tahapan pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) terdiri dari 3 tahapan yaitu adaptasi untuk penumbuhan minat baca, tahapan pengembangan melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan, dan tahapan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran. Kegiatan adaptasi jenjang SD kelas bawah terdiri dari menyimak cerita, meprediksi gambar, membaca nyaring dan senyap dengan memakai buku dongeng bergambar tanpa teks ataupun buku dongeng bergambar dengan teks sederhana. Konten bacaan yang sesuai dengan jenjang SD kelas bawah adalah: buku bacaan berukuran besar (big book), buku mengadung pesan moral, buku bergenre fantasi dengan tokoh binatang (fabel), gosip sederhana, dongeng mengandung nilai optimis, inspiratif, dan mengembangakan imajinatif (Faizah, 2016).

Big book “ di dalam hutan” yaitu media adaptasi membaca yang dibentuk untuk media pembelajaran jenjang SD kelas bawah yang bertujuan untuk:

1.Membuat akseptor didik bahagia terhadap buku yaitu buku bacaan jenis big book “di dalam hutan” dan bahagia membaca, tertihat dari ketertarikan akseptor didik terhadap buku.

2.Merangsang imajinasi akseptor didik ihwal hutan dari gambar latar hutan yang terdiri dari tumbuhan yang besarnya beragam, terdapat aliran sungai, padang rumput dengan impian yang bisa mendiskripsikan kondisi hutan bahu-membahu pada akseptor didik.

3.Mengenalkan keragaman jenis binatang yang terdapat dihutan sekaligus sumber kosakata nama-nama binatang mulai dari binatang yang bertubuh kecil hingga besar, dan dari binatang jenis pemakan rumput hingga pemakan binatang lain,

4.Menganalkan ihwal kalimat perintah secara tidak pribadi yaitu melalui penyajian dalam bentuk verbal dan suara dari intonasi guru dalam memberi pola membaca. Sekaligus mengenalkan ciri kata perintah yang diakhiri tanda seru, dikenalkan secara tidak pribadi alasannya yaitu melalui prinsip pengulangan dan penulisan yang bisa dilihat oleh akseptor didik secara langsung.

5.Melatih analisis sekaligus ketelitian akseptor didik melalui sajian gambar yang letaknya berpindah-pindah sehingga akseptor didik bisa membedakan posisi hewan. Selain itu di simpulan rangkaian teks sederhana pada gambar muncul raja hutan yaitu singa yang merupakan binatang pemakan daging, dan bertepatan hilangnya kelinci dari hutan. Gambar dan teks sederhana akan merangsang munculnya analisa siswa ihwal bencana tersebut Kemampuan analisa ini yaitu salah satu indikator high-order thinking skill (HOTS) (Anderson, 2015).

Hasil observasi lapangan ihwal big book “Di dalam hutan” sebagai media adaptasi literasi. Penggunaan big book “Di dalam hutan” pada kelas 1 Ibnu Kaldun terlihat berjalan dengan baik, awal guru memperlihatkan big book dan memberi gosip kalau akan berguru membaca bersama, semua akseptor didik pribadi menempati dingklik masing-masing. Guru membaca judul “Di dalam hutan,” yang ditirukan oleh semua akseptor didik dengan baik. “Apa benar di dalam hutan?” secara responsif beberapa akseptor didik menjawab, ”Benar, kan ada banyak pohonnya.”

Guru melanjutkan membaca dengan sangat baik intonasi tanda baca koma, intonasi kata perintah sangat di perhatikan serta guru membaca dengan artikulasi kata sangat terang sehingga akseptor didik menirukan dengan tepat. Pada kelas Ibnu Kaldun umpan balik bisa di respon oleh beberapa akseptor didik yaitu berupa menyebutkan jenis binatang yang terdapat di hutan.

Pada simpulan observasi akseptor didik ada yang bertanya, “Kenapa kelinci suruh pergi dari hutan?” Teman yang lain merespon, “Karena ada elang atau hutan bukan tempatnya kelinci.” Hasil analisis akseptor didik sangat baik. (Obs 1 Ibnu Kaldun).

Hasil observasi berikutnya di kelas 1 Ibnu Sina. Guru menginformasikan bahwa kegiatan berguru akan diawali dengan membaca nyaring bersama-sama. Guru menginformasikan akad membaca dan mulai memperlihatkan media big book “Di dalam hutan,” semua akseptor didik merespon dengan kompak meminta buku dikelilingkan. Hal tersebut merupakan bukti ketertarikan akseptor didik dengan buku. Pada kelas Ibnu Sina ketertarikan lebih tinggi dengan buku, ketika guru membacakan setiap lembaran teks bacaan akseptor didik banyak yang mendekat pada media dan banyak yang merespon dengan memperlihatkan pertanyaan. “ Ustazah sehabis ini binatang apalagi yang ada di hutan?” ungkapan rasa ingin tahu akseptor didik terhadap media. Dengan kondisi menyerupai itu guru secara cepat melaksanakan pengembangan materi,” Ayo siapa yang tahu binatang apalagi ya yang ada di hutan?”. Peserta didik pun merespon dengan cepat, meskipun binatang yang disebutkan akseptor didik tidak sesuai teks dan gambar, hal tersebut merupakan bukti kemampuan pengembangan bahan dari sisi akseptor didik.

Pertanyaan serupa di kelas 1 Ibnu Sina, “Kenapa kelinci suruh pergi dari hutan?” Jawaban dari temannya, “ Karena ada singa jadi semua takut terus lari”. Teman lain menjawab, “ Singa yaitu binatang buas, jadi bisa makan binatang lain.”( Obs 2 Ibnu Sina).

Data observasi di atas sanggup diihtisarkan bahwa big book “Di dalam hutan,” merupakan media adaptasi literasi yang sempurna alasannya yaitu bisa menumbuhkan minat akseptor didik terhadap bacaan dan kegiatan membaca. Selaian itu big book “Di dalam hutan,” bisa memfasilitasi kegiatan membaca pada tahap adaptasi alasannya yaitu terdapat proses menyimak baik pada gambar, teks bacaan ataupun menyimak pertanyaan dan menyimak respon sahabat sejawat. Peserta didik mengalami perkembangan dalam kemampuan memprediksi baik melalui gambar ataupun umpan balik guru. Proses pengembangan imajinasi akseptor didik juga terfasilitasi dalam big book “Di dalam hutan,” buktinya akseptor didik bisa mengimajinasikan kelinci ada di mana ketika keberadaannya tidak ada di hutan.
Pembiasaan literasi melalui big book “Di dalam hutan,” terbukti bisa menerapkan pendekatan membaca bersama (shared reading) terbukti satu media bisa memfasilitasi klasikal secara bersama dengan memperkaya jumlah kosakata akseptor didik ihwal jenis binatang yang hidup di hutan. Big book “Di dalam hutan,” juga menerapkan prinsip pengulangan bacaan dengan tujuan untuk mengenalkan rangkain abjad dan kata, sehingga kadang juga menjadikan kebosanan bagi siswa yang sudah cerdik membaca dengan respon refleknya, “Kenapa kok gituu terus? Kelinci, pergilah dari hutan, gitu lagi.” Big book “Di dalam hutan,” bisa menghubungkan dengan suara alasannya yaitu disajikan dalam bentuk verbal faktor ini dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam menyajikan proses membaca nyaring pada akseptor didik, alasannya yaitu membaca nyaring memerlukan intonasi, artikulasi, pengutamaan kata yang baik sehingga mendukung bacaan lebih terang dan gampang dimengerti (Wardhani, 2015).

Kesimpulan

Kesimpulan dari kegiatan penggunaan media big book “Di dalam hutan,”terbukti bisa sebagai media adaptasi literasi di kelas 1 SD Muahammadiyah 9 Malang dengan bukti data sebagai berikut:

1.Big book “Di dalam hutan,”mampu menumbuhkan minat akseptor didik terhadap bacaan dan kegiatan membaca akseptor didik.
2.Big book “Di dalam hutan,” bisa sebagai media yang menerapkan semua prinsip tahap adaptasi kegiatan literasi.
3.Big book “Di dalam hutan,” memenuhi syarat menjadi konten bacaan yang sesuai dengan akseptor didik jenjang SD kelas rendah.

Daftar Pustaka

Anderson, L.,David, K. 2015. Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Faizah, U,D. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan MenengahKementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 23 Tahun2015 ihwal Penumbuhan Budi Pekerti.
Wardhani, L. 2015. Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Melalui Media Big Book. Online. Tersedia di https://filippaarjag.blogspot.com//search?q=meningkatkan-keterampilan-membaca. (11-10-2017)

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Guru Sd Ialah Pekerjaan Rumit Yang Terlihat Sepele

7:06:00 PM
Guru SD Adalah Pekerjaan Rumit yang Terlihat Sepele Guru SD Adalah Pekerjaan Rumit yang Terlihat Sepele
Guru SD ialah suatu pekerjaan rumit yang terlihat sepele.
Bagi guru sekolah dasar (SD) harus menguasai semua materi bimbing mulai dari IPA, IPS, Matematika, Bahasa hingga Muatan lokal. Di banyak daerah, sekolah dasar rata-rata masih menggunakan guru kelas, lantaran guru terbatas jumlah dan latar belakang keilmuannya. Selain mengajar, guru juga harus mempunyai kemampuan mendidik yaitu membekali murid dengan membiasakan untuk hidup bertatakrama, bersopan santun dan bersikap terbuka serta mensyukuri nikmat.

Hal tersebut cukup membuat guru SD sibuk menguasai kelas saat pembelajaran berlangsung. Beraneka ragam tingkat kecerdasan dan latar belakang murid merupakan persoalan bagi setiap guru. Untuk itu seorang guru SD harus mempunyai cara mengajar yang mudah, efektif serta bisa membuat suasana berguru mengajar yang menyenangkan.

Dengan teknik mengajar yang interaktif antara guru dan murid akan terjalin komunikasi dari guru dengan murid, murid dengan murid. Selama proses pembelajaran berlangsung guru bisa membuat murid betah untuk berguru dan hasilnya proses mengajar pun bisa berlangsung dengan sangat menyenangkan. Tujuan guru mengakibatkan anak didik ber-IQ (kecerdasan intelektual), ber-EQ (kecerdasan emosional), dan ber-SC (kecerdasan spiritual).

Seorang guru SD mempunyai tantangan tersendiri, terutama pada tahap awal kelas sekolah dasar yang untuk pertama kali berguru menulis, membaca, berhitung (calistung). Keberhasilan tingkat pendidikan selanjutnya berawal dari sini. Oleh lantaran itu seorang guru harus mempunyai trik-trik mudah yang bisa dipakai di lapangan untuk memudahkan pekerjaan dalam menghadapi anak yang punya akal, kemauan, perasaan, pemikiran dan latar belakang orang renta yang berbeda.

Pekerjaan sebagai guru SD ialah suatu pekerjaan rumit yang terlihat sepele. Guru mengajar satu kelas minimal diisi oleh 30 orang murid dengan huruf anak yang berbeda, lingkungan anak yang berbeda. Guru berusaha dan bekerja keras mengatasi setiap persoalan pantang menyerah, ulet, tetapi bersikap ceria dan humoris dalam mengajar dan mendidik.

Guru ialah sebuah profesi pekerja yang menuntut kemampuan khusus. Untuk itu, ibarat yang ditulis oleh Muhamad Bari Baihaqi di laman neraca.co.id (10/10/17) guru SD harus terbiasa mengevaluasi diri lantaran guru selalu dituntut untuk merefleksi segala yang telah dikerjakan. Sehingga apa yang terasa masih kurang sanggup dikaji ulang dengan memberi pengayaan.

Pembelajaran Sub Tema Proyek Bersama Orangtua Ahli

6:58:00 AM
Pembelajaran Sub Tema Proyek Bersama Orangtua Ahli Pembelajaran Sub Tema Proyek Bersama Orangtua Ahli
Siswa dilatih dan diasah secara pribadi menuntaskan beberapa proyek pembelajaran.
Kurikulum 2013 edisi revisi 2017 tidak banyak berbeda dengan kurukulum 2013 sebelumnya. Kurikulum 2013 edisi revisi 2017, muatan matematika dan muatan PJOK terlepas dari muatan tematik holistik. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada kurikulum 3013 edisi revisi 2017 harus terdapat empat macam hal yaitu; PPK, Literasi, 4C, dan HOTS.

Khusus pembelajaran di kelas 5 setiap tema pada buku siswa kurikulum 2013 edisi revisi 2017 terdapat 4 sub tema yang sebelumnya hanya terdiri dari 3 sub tema. Khusus sub tema 4 pembelajaran hanya berbasis proyek, perubahan ini yakni perubahan yang luar biasa. Dalam sub tema 4 siswa dalam seminggu dilatih dan diasah secara pribadi menuntaskan beberapa proyek pembelajaran yang bisa memfasilitasi penerapan pembelajaran PPK, 4C dan sarana pengembangan keterampilan berfikir tingkat tinggi siswa (HOTS).

Pelaksanaan pembelajaran proyek sangat sempurna sebagai sarana penerapan pembelajaran berbasis masyarakat bekerja sama dengan orang renta ahli. Orang renta siswa sangat bermacam-macam dengan keahlian masing- masing, hal tersebut bisa dipakai untuk memfasilitasi pembelajaran siswa dengan sempurna sekaligus untuk melengkapi, mengembangkan kemamuan, keahlian dan keterampilan guru.

Pembuatan proyek boneka jari tangan yakni proyek dimana siswa membuat boneka jari tangan berbentuk binatang dari materi kain flanel yang dijahit dan dimodifikasi dengan baik. Proyek boneka jari tangan ini dalam rangka pembuatan media untuk mengasah keterampilan siswa dalam mengembangkan motorik halus, motorik garang siswa sekaligus sarana penerapan 4C serta PPK pada siswa.

Contoh konkret penerapan 4C, pembuatan boneka jari tangan membutuhkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif dalam rangka menyusun bentuk yang sempurna antara tubuh binatang dan bentuk indera pendengaran yang sempurna semoga hasil boneka jari baik. Pembuatan boneka jari tangan juga memerlukan kemampuan kerja sama yang sangat tinggi yaitu kemampuan kerja sama menentukan warna kombinasi boneka jari dengan sempurna ataupun kerja sama dengan sobat sejawat dalam rangka melengkapi materi dan kemampuan siswa dengan tetap menjaga kebersihan lingkungan kelas dari sisa pembuatan boneka jari tangan.

Proyek boneka jari tangan juga merupakan sarana siswa bisa membuat sebuah karya media pembelajaran untuk mengkonkritkan wujud hewan, alat gerak binatang sehingga bisa sebagai media bercerita untuk memperjelas materi alat gerak binatang untuk dirinya sendiri, sobat sejawat, atau untuk adiknya.

Proses pembuatan proyek boneka jari tangan terdiri atas beberapa tahapan yaitu:

1. Tahapan training guru dan pendamping kelas oleh orang renta ahli. Tim kelas 5 mendatangkan salah satu orang renta yang jago dan terampil membuat boneka dan souvenir untuk memperlihatkan training khusus terhadap guru dan pendamping di jam mengaji dan istirahat sekolah. Kegiatan ini memeberikan bekal kepada guru dan pendamping kelas semoga bisa memberi teladan dan mendampingi siswa dikala proses pembuatan proyek jari tangan di kelas nantinya.

2. Tahapan pelaksanaan proyek, pada tahapan ini tim kelas 5 tetap bekerja sama dengan orang renta jago yaitu beberapa wali murid yang memiliki keahlian menjahit dan membuat sauvenir. Tujuan kerja sama semoga pelaknaan proyek pembuatan boneka jari tangan akan lebih efektif dan evisien, alasannya yakni setiap kelompok akan terdampingi dengan baik oleh guru,pendamping dibantu beberapa wali murid ahli.

3. Tahapan pemajangan hasil dan pemanfaatan hasil siswa. Media pembelajaran berupa boneka jari tangan bisa pribadi dipakai siswa untuk presentasi dongeng atau dongeng menurut bentuk boneka jari tangan yang dihasilkan.

Semoga goresan pena ini bermanfaat dalam pengintegrasian proses pembelajaran antara warga sekolah dengan masyarakat ahli, sekaligus sarana silaturohim dan sarana menyebarkan keahlian dalam proses peningkatan mutu pendidikan.

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Anak-Anak Menyerupai Ini, Tolong Dicetak Sebanyak-Banyaknya

7:36:00 PM
Karakter, etika-moral jauh lebih penting dari prestasi akademik.
Namanya Ika. Trismeyka Anandya Suwardi. Sekarang beliau kelas 5 SD. Hari itu pembagian raport kenaikan kelas sekaligus pembagian tabungan. Ika sendiri naik ke kelas 4.

Aksi Ika ketika itu menciptakan saya dan wali kelasnya melongo. Bagaimana sanggup anak sekecil Ika sanggup berfikir dan berbuat ibarat itu?

Tanpa diketahui oleh guru, belakang layar Ika mengkordinir teman-temannya yang mendapatkan tabungan. Meminta mereka menyisihkan tabungan yang diterima untuk diserahkan kepada salah seorang sahabat kelasnya yang kurang beruntung. Tidak mempunyai tabungan. Seorang anak yang kurang terurus, yatim, selalu berpakaian lusuh, jarang membawa belanja ke sekolah. Saat itu saya dan wali kelasnya sangat terharu.

Masih di tahun yang sama. Tapi pada masa libur sesudah kenaikan kelas.

Hari itu saya melintas di jalan menuju ke sekolah. Ada urusan di kota kabupaten. Rumah saya sendiri jauh dari sekolah, 60 Km. Sampai di sebuah jembatan, dua orang tampak sedang sibuk membersihkan jalan dari sampah dan tumpukan pasir. Bekas luapan air parit. Yang ibarat ini memang biasa di Lombok Utara. Jalan-jalan tertimbun tanah/pasir terutama ketika ekspresi dominan hujan. Orang-orang membersihkan jalan memakai sekop atau pacul. Kemudian meminta imbalan kepada pengendara yang lewat. Kadang hanya akal-akalan bekerja ketika pengendara lewat saja. Tumpukan tanahnya hingga beberapa hari ke depanpun tetap begitu-begitu saja.

Tapi ada yang tidak biasa dilakukan dua orang yang saya lihat. Mereka tidak berusaha mencegat pengendara yang lewat. Tidak meminta imbalan apa-apa. Sekedar melirikpun tidak. Mereka fokus bekerja.

Saya lebih surprise lagi ketika mengetahui salah seorang pembersih jalan itu ialah siswa saya sendiri. Ratno. Setelah masuk sekolah, saya cari Ratno di kelasnya. Saya tanya seputar aksinya membersihkan jalan. Ternyata beliau membersihkan jalan berdua dengan kakaknya. Alasannya? Tidak ingin ada pengendara yang jatuh. Berhubung jembatan itu tidak mengecewakan dalam, jalannya pun turunan, tanjakan berliku. Aksi Ratno saya bahas ketika semua siswa berkumpul di program Imtaq. Menjadi contoh.

Selanjutnya seorang siswa berbadan tegap, kekar dan paling besar di kelasnya. Sering berkelahi. Namanya Amat. Suatu hari seorang wali murid menghadap ke kepala sekolah. Menjelaskan bahwa anaknya sudah tiga hari tidak masuk sekolah. Matanya sakit. Bengkak dan menghitam. Dihantam oleh sahabat kelasnya sendiri. Ternyata si Amat pelakunya.

Kami sangat terkejut dan malu. Bagaimana sanggup kami pihak sekolah tidak mengetahui bencana ibarat itu? Wali kelasnya pun tidak. Siswa cidera serius bahkan sudah 3 hari tidak masuk. Kepala sekolahpun meminta maaf dengan lapang dada. Berterima kasih kepada wali murid yang sangat sabar itu. Biarpun anaknya mengalami hal seburuk itu. Dia masih sanggup menahan diri, menghadap ke sekolah dengan baik dan sopan. Amat menerima penanganan khusus.

Beberapa bulan kemudian. Si Amat menciptakan saya benar-benar terharu. Dia yang dulu jawara berubah drastis. Saat kelasnya ribut, dialah yang meminta teman-temannya tenang. Baik ketika ada guru atau pelajaran kosong. Saat teman-temannya berkelahi, dialah yang mendamaikan. Diapun tampak lebih tenang dan kalem.

Ika, Ratno, dan Amat ialah beberapa siswa luar biasa ketika saya masih mengajar di sekolah lama, SDN 1 Bayan. Sekarang saya sudah pindah ke sekolah lain. SDN 3 Sambik Elen. Ternyata di sana juga saya bertemu belum dewasa luar biasa.

Saat pawai karnaval tujuh belasan beberapa ahad yang lalu. Seorang anak melonjak bangga menemukan sebuah kolam sampah di pinggir jalan. Namanya Wahyu. Tegopoh-gopoh menuju kolam sampah dan membuang sebuah botol air mineral bekas minum. Rupanya sudah usang lama beliau ingin membuang botol itu. Tapi tidak menemukan kolam sampah sepanjang rute karnaval. Membuang di pinggir jalan beliau tidak mau. Padahal pada kontingen yang lain, jangankan siswa, guru pun tampak hirau membuang begitu saja gelas plastik air mineral bekas mereka minum. Sedangkan Wahyu masih anak kelas 2 SD.

Dan hari Jumat kemarin. Yulia Yasmin, siswi kelas tiga. Tiba-tiba berteriak lantang. Bertanya ke teman-temannya yang sedang bergerombol belanja. Bertanya siapa yang merasa kehilangan uang. Yulia telah menemukan selembar uang 5 ribuan. Uang itupun diserahkan Yulia ke pemiliknya.

Sebuah Paradoks

Jika kini kita menemukan masyarakat yang egois, hanya mementingkan dirinya sendiri. Maka kita butuh generasi ibarat Ika dan Ratno untuk berubah. Jika kini kita melihat negeri kita bertabur sampah, di darat, pinggir jalan, sungai, maritim bahkan puncak gunung yang sangat tinggi ibarat Rinjani, maka kita butuh sebanyak-banyaknya generasi ibarat Wahyu. Jika hari ini kita miris melihat agresi bullying, maka kita butuh generasi ibarat Amat. Jika hari ini kita hingga tidak sanggup berkata apa-apa melihat maraknya sikap korup, maka kita butuh generasi jujur ibarat Yulia.

Tapi sayang. Kenyataan berkata lain. Kita sudah mengetahui ibarat apa keadaan bangsa kita. Kita pun sudah mengetahui generasi ibarat apa yang kita butuhkan untuk berubah. Generasi yang mempunyai abjad ibarat siswa-siswa di atas. Tapi kita tidak pernah serius mencetak generasi yang diharapkan itu. Kita terlalu fokus pada prestasi akademik. Orang bau tanah berlomba-lomba secepat mungkin menciptakan anaknya menguasai Calistung, bahkan ketika usia PAUD. Bila perlu ketika masih Balita, ketika sudah mulai sanggup bicara.

Guru-guru menganak emaskan siswa-siswa yang prestasi akademiknya mentereng. Siswa yang kurang mempunyai prestasi akademik seolah sebagai embel-embel saja.

Kita semua mendewa-dewakan prestasi akademik. Seolah itulah segalanya. Padahal di negara maju yang terjadi sebaliknya.

Saya teringat dongeng seorang praktisi pendidikan, pemilik Sekolah Mahakarya Gangga. Ayah Edy.

Saat berdiskusi dengan seorang guru dari Australia. Guru itu berkata. Kami tidak khawatir jikalau belum dewasa SD kami tidak pintar Matematika, kami jauh lebih khawatir jikalau mereka tidak pintar mengantri.

Ketika ditanya mengapa sanggup begitu? Guru Australia itu menjawab: Jauh lebih mudah melatih belum dewasa untuk sanggup Matematika, butuh beberapa bulan saja. Sementara melatih mereka sanggup mengantri jauh lebih sulit. Bertahun-tahun belum tentu berhasil. Dan tidak semua anak kelak akan berprofesi memakai ilmu Matematika yang rumit, kecuali tambah, kurang, kali, bagi. Sebagian mereka akan menjadi penari, atlet, penyanyi, musisi, pelukis, dan sebagainya. Hanya sebagian kecil dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan menentukan profesi di bidang yang bekerjasama dengan Matematika. Sementara semua murid dalam satu kelas ini niscaya akan membutuhkan adat moral dan pelajaran berharga dari mengantri sepanjang hidup mereka kelak.

Demikianlah kenyataannya. Bagaimana karakter, etika-moral jauh lebih penting dari prestasi akademik. Kitapun mengetahuinya. Menyadarinya. Tapi entah mengapa budaya kita yang terlalu mendewa-dewakan prestasi akademik sulit berubah.

Pemerintah sendiri tidak habis-habisnya berusaha mengubah budaya ini. Kurikulum diganti. Ujian Nasional bukan penentu kelulusan. Pengintegrasian pendidikan karakter, melarang menunjukkan PR Matematika tapi diganti dengan PR yang menumbuhkan kecerdikan pekerti ibarat menolong sesama. Sampai beberapa hari yang kemudian Presiden Jokowi mengeluarkan Perpres No. 87 Th. 2017 wacana penguatan pendidikan karakter.

Tapi dunia pendidikan dengan tuhan prestasi akademiknya tampaknya tak akan bergeming. Tetap ibarat biasa. Kokoh-padu tak tergoyahkan. Seperti sebelum-sebelumnya.

Maka. Lupakanlah mimpi bahwa kita akan melihat Indonesia bertaburan orang-orang ibarat Ika, Ratno, Amat, Wahyu, atau Yulia. Maka Indonesia akan tetap terlihat ibarat ini. 10, 50, 100 tahun yang akan datangpun mungkin akan tetap ibarat ini. Bertabur sampah, kemiskinan, orang-orang egois, penjahat, dan koruptor. *LBS*

*) Ditulis oleh Lukman bin Saleh. Guru SDN 3 Sambik Elen-Lombok Utara.

Pak Jokowi, Jangan Salah Berikan Bawah Umur Itu Obat

7:05:00 PM
Saya harap Perpres itu nanti berupa resep obat yang sempurna biar anak Pak Jokowi, Jangan Salah Berikan Anak-Anak itu Obat
Saya harap Perpres itu nanti berupa resep obat yang sempurna biar bawah umur tidak diperlakukan lagi menyerupai robot.
Pembunuh itu Bernama Sekolah

Seorang pria nampak bangkit di tengah ruang sidang. Memeluk sebuah toples berisi air dan ikan kecil.

Dia membuka kalimatnya:

Albert Einstein pernah berkata, setiap orang yaitu jenius. Tetapi kalau anda menilai kemampuan ikan dalam memanjat pohon, seumur hidup ikan itu akan berfikir dirinya bodoh.

Laki-laki itu melanjutkan, tidak hanya menyuruh ikan memanjat pohon, tetapi juga menciptakan mereka turun dari pohon dan berlari 10 mil.

Jawab saya, sekolah! (Karena yang hadir di ruang sidang merupakan perwakilan dari sekolah-sekolah yang dituntut pria tersebut). Apakah anda gembira dengan yang anda lakukan? Mengubah jutaan orang menjadi robot! Apakah bagi anda itu menyenangkan?

Sadarkah anda berapa banyak anak yang digambarkan dongeng ikan tersebut? Berenang mengalir di kelas tanpa menemukan talenta mereka, mereka fikir dirinya bodoh, mempercayai bahwa mereka tidak berguna.

Saya mengundang sekolah untuk bangkit di sini dan menuntutnya sebagai pembunuh kreatifitas, pembunuh kepribadian, dan sebagai pelaku kejahatan intlektual. (Seorang pengacara yang mewakili sekolah bangkit emosi mendengar kata-kata pria itu).

Ia (sekolah) yaitu sebuah institusi kuno yang digunakan lebih usang dari masa pakainya.

Selanjutnya pria itu meminta izin kepada hakim untuk memperlihatkan bukti, bahwa apa yang dituduhkannya kepada sekoalah benar. Hakim mengizinkan.

Mulai dari gambar sebuah smartphone masa kini, dan dibaliknya ada gambar telpon 150 tahun yang lalu. Yang tentu penampakannya sangat jauh berbeda.

Selanjutnya yaitu gambar kendaraan beroda empat masa kini, dan dibaliknya ada gambar kendaraan beroda empat 150 tahun yang lalu. Lagi-lagi memperlihatkan perbedaan yang sangat jauh.

Gambar berikutnya berupa kelas masa kini, seorang guru yang bangkit di depan sekitar 20 siswa. Dilanjutkan dengan gambar kelas 150 tahun yang lalu. Persis sama, tidak ada perbedaan. Pengunjung sidang terperangah, dan sebagian menganga hingga menutup mulut.

Artinya, selama lebih dari satu abad, tidak ada yang berubah. Kata pria itu melanjutkan. Dan anda mengklaim mempersiapkan murid untuk masa depan?

Dan masih banyak lagi kata-kata pria itu yang menohok dunia pendidikan. Bagaimana sekolah mendudukkan siswa dengan rapi, mengangkat tangan kalau ingin bicara, dan 8 jam sehari mendikte cara mereka berfikir. Memaksa mereka berkompetisi menerima nilai A. Sebuah karakter yang sama untuk menggambarkan kualitas sebuah produk, menyerupai kualitas daging di supermarket. Membuat jutaan anak menyerupai robot, menyerupai zombie.

Kalau seorang dokter memperlihatkan resep yang sama untuk semua pasiennya karenanya akan tragis, banyak orang yang tambah parah. Hal yang sama akan terjadi pada sekolah, itu yaitu malpraktek pendidikan.

Seorang guru bangkit di depan 20 siswa yang mempunyai sifat berbeda, kebutuhan berbeda, talenta yang berbeda, impian yang berbeda. Tapi guru mengajarkan hal yang sama dengan cara yang sama.

Sekolah hanya terobsesi dengan ujian terstandar. Menjawab pertanyaan multiple choice (pilihan ganda). Yang penemunya saja, Fredrick J. Kelly meminta kita untuk meninggalkan sistem ujian terstandar. Terlalu sederhana untuk menggambarkan keragaman siswa.

Kita harus mengoptimalkan semangat setiap murid, menyentuh hati yang ada di setiap kelas. Matematika itu penting, tapi tidak lebih penting dari seni atau menari. Memberikan kesempatan yang sama bagi setiap bakat.

Demikianlah kata pria itu menggugat dunia pendidikan. Jika anda ingin melihat vidionya, ketik saja “Menggugat Sistem Sekolah” di Youtube.

Sampai Kesempatan yang ke-100

Sebenarnya anutan pria itu tidak absurd di dunia pendidikan. Dari pemerintah satu ke pemerintah lainnya. Berbagai menteri pendidikan. Hampir semuanya pernah menyuarakan anutan tersebut. Berbagai kebijakan telah dibuat.

Lalu apa yang salah? Mengapa pendidikan dan karenanya masih menyerupai ini? Siswa sekedar menjadi objek. Siswa dengan kompetensi dan kepribadian yang jauh dari harapan.

Jawabannya tidak lain yaitu duduk kasus guru. Anies Baswedan dikala menjadi menteri juga menyampaikan duduk kasus kita yaitu guru. Dan mengeluarkan kebijakan Guru Pembelajar. Tapi saya rasa kurang revolusioner. Termasuk menteri pendidikan yang sekarang, Muhadjir Effendy. Sepakat, pokok duduk kasus pendidikan di tanah air yaitu guru.

Sayangnya, meski pemerintah telah mendiagnosa dengan sempurna duduk kasus pendidikan kita. Tapi pemerintah justru memperlihatkan resep obat yang keliru. Kurikulum digonta-ganti, jam sekolah ingin diubah menjadi full day school (FDS).

Saya tidak menyampaikan mengganti kurikulkum itu tidak bermanfaat, saya tidak menyampaikan kalau FDS itu buruk. Tapi selama mindset dan sikap guru yang menjadi ujung tombak dalam menjalankannya tidak berubah, percuma.

Triliunan dana untuk mengubah kurikulum, mulai dari sosialisasi, Bimtek, pelatihan, workshop, pengadaan buku dan sebagainya. Puluhan triliun dana untuk mewujudkan FDS, mulai dari uang makan guru hingga uang makan siswa. Mengapa dana yang besar itu tidak difokuskan untuk membenahi kualitas guru? Bukankah masalahnya ada pada guru?

Rendahnya kualitas guru memang alasannya yaitu kesalahan semenjak awal. Profesi guru yang sangat vital direkrut asal-asalan.

Seandainya semenjak awal perekrutan guru dilakukan dengan serius. Saya rasa potret pendidikan tanah air tidak seburam kini ini.

Taruhlah sekolah guru itu dibentuk menjadi sekolah ikatan dinas. Seperti IPDN, STAN atau lainnya. Tentu itu akan menarik generasi-generasi terbaik bangsa ini untuk menjadi guru. Kemudian di sekolah itu calon guru benar-benar ditempa untuk menjadi pendidik yang baik dan berkualitas. Bukan menyerupai sekolah guru yang sekarang, calon guru kuliah seadanya, hanya untuk menerima nilai lulus.

Finlandia, negara yang selama 1 dasawarsa menempati puncak pendidikan terbaik dunia. Di sana hanya 10% lulusan terbaik dari sebuah universitas yang berhak mendaftar untuk dilatih menjadi guru. Menjadikan guru profesi yang sangat dibanggakan. Di negara kita, hampir tidak ada yang bercita-cita menjadi guru. Jika bawah umur ditanya impian mereka, mereka menjawab, dokter, pilot, polisi atau tentara.

Pemerintah tidak ada biaya? Dunia pendidikan sudah gawat darurat. Tidak boleh alasannya biaya. Atau kalau memang tidak ada biaya mengapa bukan sekolah ikatan dinas yang sudah ada diganti menjadi sekolah guru? Seperti IPDN, STAN dan lainnya. Kalau hanya ingin mencetak calon birokrat, atau andal akuntansi, pemerintah tinggal rekrut. Mau sarjana menyerupai apa, lulusan mana, Amerika? Jepang? Eropa? Sekarang semua sudah ada.

Bagaimana dengan yang sudah terlanjur menjadi guru dengan pendidikan seadanya?

Ini tidak cukup hanya diberikan pelatihan-pelatihan. Seminar-seminar. Atau aneka macam macam ujian. Harus ada tindakan kasatmata untuk merubah mindset dan prilaku guru.

Taruhlah misalnya, guru-guru dikirim magang ke negara-negara yang pendidikannya maju dan berhasil. Guru ditugaskan magang setahun di Jepang, Singapura, Finlandia, Korsel, Hongkong, dan sebagainya. Di sana guru bisa melihat pribadi bagaimana pendidikan itu seharusnya. Bagaimana guru itu seharusnya. Saya rasa ini akan jauh membawa perubahan untuk guru. Diberikan kesempatan melihat teladan nyata, bukan hanya teori.

Atau guru-guru dikirim ke daerah-daerah terpencil dan terluar. Untuk menempa mentalnya. Agar muncul jiwa dedikasi sebagai seorang pendidik menyerupai yang kita lihat pada Gerakan Indonesia Mengajar, Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa dan sebagainya.

Saya rasa ini salah satu resep yang bisa diberikan kepada dunia pendidikan yang sedang gawat darurat. Tentu banyak resep yang lebih manis lagi. Tapi pada dasarnya yaitu untuk merubah mindset dan sikap guru. Bukan repot-repot menganti kurikulum, ribut-ribut merubah jam sekolah yang membutuhkan biaya teramat mahal.

Pak Jokowi kini telah membekukan Permendikbud No. 23 sebagai dasar FDS. Selanjutnya akan menerbitkan Perpres. Saya harap Perpres itu nanti berupa resep obat yang sempurna biar bawah umur tidak diperlakukan lagi menyerupai robot. Tidak diperlakukan menyerupai ikan yang disuruh memanjat pohon. Membuat sekolah tidak lagi menyerupai camp penyiksaan anak-anak. Sekolah tidak lagi sebagai mesin pembunuh kreatifitas dan kepribadian anak.

Lalu bagaimana dengan kualitas saya pribadi? Bukankah saya juga seorang guru? Untuk menggambarkannya saya ajak anda berandai-andai.

Seandainya semenjak awal guru direkrut melalui sekolah ikatan dinas. Meskipun diberikan kesempatan 99 kali ikut tes, saya rasa saya tidak akan lulus. Bagaimana kalau diberikan kesempatan yang ke-100? Sama. Kemungkinan besar saya juga tidak akan lulus.

*) Ditulis oleh Lukman Bin Saleh. Guru SDN 3 Sambik Elen, Kecamatan Bayan, KLU

Reorientasi Pendidikan Dasar

4:32:00 PM
benar berorientasi pada pembentukan huruf akseptor didik Reorientasi Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar yang benar-benar berorientasi pada pembentukan huruf akseptor didik.
Pemerintah kawasan harus konsisten dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) tahun 2014 – 2019, terutama dengan merevitalisasi pendidikan dasar dan pendidikan vokasi. Kedua jenjang pendidikan tersebut menjadi modal utama bagi pemerintah dalam upaya melahirkan generasi unggul berkarakter. Adapun untuk menyukseskan aktivitas besar itu, ekspansi kanal pendidikan dasar dan menengah menjadi sebuah keniscayaan. Selain itu pembenahan distribusi serta perbaikan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan pun perlu dilakukan sesegera mungkin. Hal itu diungkapkan oleh Mendikbud Muhajjir Effendy di kantor Kemendikbud beberapa waktu kemudian (“Pikiran Rakyat”, 24/05/2017).

Pernyataan Mendikbud di atas seakan mengingatkan kita akan pesan yang pernah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dikala bertemu dengan para mahasiswa Indonesia di Belanda sekitar setahun yang lalu. Saat itu Presiden mengusulkan supaya 60 hingga dengan 70 persen bahan pelajaran di SD (SD) diarahkan pada pembangunan huruf akseptor didik. Pembentukan huruf yang dilakukan semenjak dini diyakini akan bisa merubah mental bangsa ini menjadi lebih baik.

Apa yang disampaikan oleh Presiden maupun Mendikbud tersebut bekerjsama bukan hal yang baru. Sejak Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SD dihapuskan, orientasi pembelajaran pun (seharusnya) mengalami pergeseran. Dalam hal ini membiasakan siswa untuk senantiasa melaksanakan perbuatan baik serta menanamkan kecintaan mereka terhadap dunia berguru seharusnya lebih dikedepankan daripada memaksa mereka untuk menguasai seluruh bahan yang tercantum dalam kurikulum.

Namun, pergeseran orientasi pembelajaran tersebut nampaknya akan sulit diimplementasikan. Setidaknya ada tiga tantangan yang harus dihadapi oleh sekolah dalam upaya merealisasikan pendidikan huruf sesuai amanat presiden tersebut. Pertama, keberpihakan kurikulum. Pemberlakuan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) untuk tiap mata pelajaran secara tidak pribadi telah menyempitkan makna maupun tujuan pendidikan yang sebenarnya, khususnya pada jenjang pendidikan dasar. Anak dianggap berhasil mencapai ketuntasan berguru apabila mereka bisa mengerjakan soal-soal di atas kertas. Sedangkan hal-hal lain yang berkaitan dengan kepribadian menyerupai ketaatan mereka dalam beribadah maupun pengamalan norma-norma sosial justru tidak mendapatkan porsi yang semestinya. Kedua, kesiapan sekolah lanjutan. Kenyataan menunjukkan, nilai akademik masih dijadikan pertimbangan utama oleh sekolah-sekolah lanjutan (SMP) untuk mendapatkan calon siswa gres dari Sekolah Dasar. Adapun huruf maupun sikap siswa kurang begitu mendapatkan perhatian. Akibatnya, tujuan pembelajaran di SD pun lagi-lagi sebatas untuk mendapatkan nilai akademik setinggi-tingginya demi mendapatkan dingklik di sekolah lanjutan (unggulan).

Ketiga, partisipasi orangtua. Rendahnya tingkat partisipasi orangtua menjadi dilema tersendiri dalam upaya melahirkan generasi unggul berkarakter. Gaya hidup masyarakat “modern” dimana tidak hanya ayah yang bekerja di luar rumah, mengakibatkan proses pendidikan pun berjalan secara parsial.

Untuk sanggup mengimplementasikan pendidikan huruf di Sekolah Dasar, dibutuhkan sinergi yang baik antara pemerintah, sekolah dan orangtua. Sebagai pemegang regulasi pemerintah diharapkan bisa memainkan kiprahnya dalam merancang sebuah kurikulum pendidikan dasar yang benar-benar berorientasi pada pembentukan huruf akseptor didik. Selain itu hukum yang diberlakukan dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Sekolah Menengah Pertama pun hendaknya memperhatikan huruf ataupun sikap akseptor didik pada jenjang sebelumnya.

Adapun orangtua hendaknya menyadari betapa pentingnya tugas mereka dalam melanjutkan pendidikan huruf yang dilakukan oleh guru di sekolah. Menciptakan lingkungan aman yang mendukung tumbuhnya huruf anak merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Dengan demikian, pendidikan huruf di SD pun benar-benar sanggup terealisasi dan tidak hanya sebatas wacana.

*) Ditulis oleh Ramdan Hamdani, S.Pd

Reorientasi Pendidikan Dasar

4:32:00 PM
benar berorientasi pada pembentukan huruf akseptor didik Reorientasi Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar yang benar-benar berorientasi pada pembentukan huruf akseptor didik.
Pemerintah kawasan harus konsisten dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) tahun 2014 – 2019, terutama dengan merevitalisasi pendidikan dasar dan pendidikan vokasi. Kedua jenjang pendidikan tersebut menjadi modal utama bagi pemerintah dalam upaya melahirkan generasi unggul berkarakter. Adapun untuk menyukseskan aktivitas besar itu, ekspansi kanal pendidikan dasar dan menengah menjadi sebuah keniscayaan. Selain itu pembenahan distribusi serta perbaikan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan pun perlu dilakukan sesegera mungkin. Hal itu diungkapkan oleh Mendikbud Muhajjir Effendy di kantor Kemendikbud beberapa waktu kemudian (“Pikiran Rakyat”, 24/05/2017).

Pernyataan Mendikbud di atas seakan mengingatkan kita akan pesan yang pernah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dikala bertemu dengan para mahasiswa Indonesia di Belanda sekitar setahun yang lalu. Saat itu Presiden mengusulkan supaya 60 hingga dengan 70 persen bahan pelajaran di SD (SD) diarahkan pada pembangunan huruf akseptor didik. Pembentukan huruf yang dilakukan semenjak dini diyakini akan bisa merubah mental bangsa ini menjadi lebih baik.

Apa yang disampaikan oleh Presiden maupun Mendikbud tersebut bekerjsama bukan hal yang baru. Sejak Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SD dihapuskan, orientasi pembelajaran pun (seharusnya) mengalami pergeseran. Dalam hal ini membiasakan siswa untuk senantiasa melaksanakan perbuatan baik serta menanamkan kecintaan mereka terhadap dunia berguru seharusnya lebih dikedepankan daripada memaksa mereka untuk menguasai seluruh bahan yang tercantum dalam kurikulum.

Namun, pergeseran orientasi pembelajaran tersebut nampaknya akan sulit diimplementasikan. Setidaknya ada tiga tantangan yang harus dihadapi oleh sekolah dalam upaya merealisasikan pendidikan huruf sesuai amanat presiden tersebut. Pertama, keberpihakan kurikulum. Pemberlakuan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) untuk tiap mata pelajaran secara tidak pribadi telah menyempitkan makna maupun tujuan pendidikan yang sebenarnya, khususnya pada jenjang pendidikan dasar. Anak dianggap berhasil mencapai ketuntasan berguru apabila mereka bisa mengerjakan soal-soal di atas kertas. Sedangkan hal-hal lain yang berkaitan dengan kepribadian menyerupai ketaatan mereka dalam beribadah maupun pengamalan norma-norma sosial justru tidak mendapatkan porsi yang semestinya. Kedua, kesiapan sekolah lanjutan. Kenyataan menunjukkan, nilai akademik masih dijadikan pertimbangan utama oleh sekolah-sekolah lanjutan (SMP) untuk mendapatkan calon siswa gres dari Sekolah Dasar. Adapun huruf maupun sikap siswa kurang begitu mendapatkan perhatian. Akibatnya, tujuan pembelajaran di SD pun lagi-lagi sebatas untuk mendapatkan nilai akademik setinggi-tingginya demi mendapatkan dingklik di sekolah lanjutan (unggulan).

Ketiga, partisipasi orangtua. Rendahnya tingkat partisipasi orangtua menjadi dilema tersendiri dalam upaya melahirkan generasi unggul berkarakter. Gaya hidup masyarakat “modern” dimana tidak hanya ayah yang bekerja di luar rumah, mengakibatkan proses pendidikan pun berjalan secara parsial.

Untuk sanggup mengimplementasikan pendidikan huruf di Sekolah Dasar, dibutuhkan sinergi yang baik antara pemerintah, sekolah dan orangtua. Sebagai pemegang regulasi pemerintah diharapkan bisa memainkan kiprahnya dalam merancang sebuah kurikulum pendidikan dasar yang benar-benar berorientasi pada pembentukan huruf akseptor didik. Selain itu hukum yang diberlakukan dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Sekolah Menengah Pertama pun hendaknya memperhatikan huruf ataupun sikap akseptor didik pada jenjang sebelumnya.

Adapun orangtua hendaknya menyadari betapa pentingnya tugas mereka dalam melanjutkan pendidikan huruf yang dilakukan oleh guru di sekolah. Menciptakan lingkungan aman yang mendukung tumbuhnya huruf anak merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Dengan demikian, pendidikan huruf di SD pun benar-benar sanggup terealisasi dan tidak hanya sebatas wacana.

*) Ditulis oleh Ramdan Hamdani, S.Pd

Membela Negara Berbekal Budaya

7:18:00 AM
 Membela negara tak selalu identik dengan berseragam loreng Membela Negara Berbekal Budaya

Membela negara tak selalu identik dengan berseragam loreng, mengangkat senjata dan bertempur. Berbahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan salah satu bentuk dari bela negara. Selain itu berperilaku santun dan berbudaya juga sanggup dikategorikan sebagai sikap yang menjunjung tinggi nilai-nilai patriotisme. Hal itu diungkapkan oleh anggota dewan perwakilan rakyat Dedi Gumilar alias Miing dikala memperlihatkan pembekalan pada Kongres Himpunan Sekolah Asrama Indonesia di SMAT Krida Nusantara beberapa waktu kemudian (PR, “08/05/2017”). Menurutnya, budaya tidak selalu berarti kesenian, namun juga cara berpikir seseorang dalam memandang sebuah persoalan.

Apa yang disampaikan oleh mantan pelawak tersebut memang bukan tanpa alasan. Degradasi moral di kalangan dewasa merupakan problem utama yang dikala ini dihadapi oleh bangsa yang telah lebih dai 71 tahun merayakan kemerdekaannya tersebut. Berdasarkan laporan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), aneka macam problem menyerupai seks bebas, alkohol dan Narkoba kerap kali mengintai para dewasa yang sedang dalam proses tumbuh kembang itu. Selain itu ujaran kebencian (di media sosial) pun nampaknya semakin sulit dijauhkan dari dewasa yang juga dikenal sebagai generasi digital (digital native) ini. Berbagai permasalahan tersebut muncul seiring dengan masa transisi yang dialaminya.

Beragam upaya tolong-menolong telah dilakukan oleh pemerintah melalui pihak sekolah untuk mendorong dewasa biar berperilaku positif. Sejak tahun 2015 kemudian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan sebuah jadwal yang diberi nama Program Penumbuhan Budi Pekerti (PPBP). Program yang berorientasi pada pembentukan huruf siswa tersebut diperlukan bisa mengatasi permasalahan degradasi moral serta lunturnya rasa cinta tanah air (nasionalisme) yang dikala ini tengah menjangkiti generasi muda kita. Dalam hal ini sekolah berperan sebagai ujung tombak dalam upaya menghidupkan kembali semangat kebhinekaan serta menanamkan pendidikan huruf kepada penerima didiknya.

Baca: Menanamkan Budaya Daerah Pada Anak Sekolah Dasar

Adapun bentuk kegiatan wajib untuk menunjang jadwal tersebut antara lain pelaksanaan upacara bendera pada hari senin, menyanyikan lagu Indonesia Raya dikala hendak memulai pelajaran, serta membiasakan membaca buku selama 15 menit setiap hari. Selain itu menanamkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pun menjadi bab tak terpisahkan dari upaya pembentukan karakater siswa. Melalui aneka macam kegiatan tersebut, diperlukan akan lahir siswa-siswa yang mempunyai kecerdikan pekerti luhur sehingga mereka bisa menjadi bab dari solusi atas aneka macam problem yang ada di masyarakat.

Sayangnya, jadwal yang digadang-gadang bisa melahirkan generasi unggul berkarakter tersebut nyaris tak terdengar lagi. Pergantian pucuk pimpinan di tingkat Kementerian nyatanya kuat terhadap program-program yang tengah dijalankan. Alih-alih melanjutkan jadwal yang ada, pimpinan yang gres justru memberlakukan kebijakan gres yang juga tidak dijamin keberlangsungannya di masa yang akan datang.

Di tengah ketidakmampuan pemerintah dalam membuat lingkungan bagi tumbuh kembangnya insan-insan yang berbudaya, peran guru sebagai garda terdepan dalam upaya pembentukan huruf anak menjadi sebuah keniscayaan. Guru diperlukan bisa memposisikan dirinya sebagai “penunjuk jalan” atau kompas moral bagi anak didiknya dalam berperilaku. Datang ke sekolah sempurna waktu, senantiasa berbicara dengan bahasa yang baik dan benar serta tidak merokok di lingkungan sekolah merupakan sikap yang harus ditunjukkan oleh guru di hadapan murid-muridnya. Selain itu berupaya meningkatkan kompetensinya melalui bacaan-bacaan yang sesuai dengan bidangnya juga perlu dilakukan oleh guru dalam rangka menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan serta memahami perbedaan huruf penerima didik. Dengan demikian, keinginan akan lahirnya generasi yang pintar dan berakhlak mulia pun sanggup benar-benar terwujud.

*) Ditulis oleh Ramdan Hamdani. Guru SDIT Alamy Subang, Jawa Barat.