Showing posts with label Memajukan Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Memajukan Sekolah. Show all posts

Kepala Sekolah Dan Pengawas Memilih Hitam Putihnya Pendidikan

7:56:00 PM
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan kepala sekolah dan pengawas sekolah merupakan dua unsur penting dalam pengelolaan layanan pendidikan di satuan pendidikan. Mereka mempunyai tugas strategis yang tidak saja memilih hitam putihnya pendidikan di sekolah tapi juga cetak biru generasi bangsa.

Menteri Muhadjir juga menyampaikan tata kelola pengawas dan kepala sekolah sebaiknya terus menerus mengalami pembaharuan selaras tuntutan perubahan dan tantangan zaman. Pemerintah harus berani melaksanakan otokritik yang tajam dalam keseluruhan proses pembinaan tenaga pendidik, khususnya pengawas sekolah mulai dari proses rekrutmen, pengembangan, dan pemberdayaannya.
Kepala Sekolah dan Pengawas Menentukan Hitam Putihnya Pendidikan Kepala Sekolah dan Pengawas Menentukan Hitam Putihnya Pendidikan
Tata kelola pengawas dan kepala sekolah sebaiknya terus menerus mengalami pembaharuan selaras tuntutan perubahan dan tantangan zaman.

“Saat ini perlu ide-ide baru, bahkan paradigma gres dikala kita berbicara dalam konteks pembinaan tenaga kependidikan. Oleh alasannya yaitu itu, kedua unsur ini harus diadaptasi dengan tuntutan perubahan dan tantangan kekinian,” ujar Mendikbud yang kutip dari JPNN (17/10/18).

Terkait pembinaan dan penguatan kompetensi yang selama ini dilakukan, berdasarkan Muhadjir diharapkan review yang menyeluruh. Baik yang berkaitan dengan kesiapan dan kelayakan forum penyelenggara, metode maupun substansi pelatihan. Analisis lebih lanjut yaitu esensi dan eksistensi pembinaan di era digital, era millenia dengan generasi industri 4.0 serta era disrupsi.

Dari analisis tersebut melahirkan konklusi bahwa setiap individu mempunyai kesempatan yang sama dalam meningkatkan kapasitas nilainya dan kapasitas profesionalnya. Sehingga bisa memberi tantangan transformasi aksara bagi akseptor serta kesempatan bertumbuh secara kognisi, emosi dan estetika

Dia berharap pembinaan yang akan dikembangkan tidak lagi sekadar sebagai pembinaan konvensional yang selama ini dilaksanakan. Pelatihan yang benar-benar menyentuh sisi intristik dan inner motivation para peserta. Pelatihan yang futuristik dan berbasis pada problematika dunia baru, kurun milenial.

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (Mpls)

6:09:00 PM
Acara besrih lingkungan sekolah pada MPLS, diharapkandapat menumbuhkan semangat berguru terhadap siswa baru.
Pada hari pertama masuk sekolah semester ganjil untuk siswa gres tentu akan mendapat pengalaman yang gres juga. Diantaranya kelas baru, sekolah baru, guru serta teman – teman gres dan sudah niscaya lingkungan sekolah yang baru.

Seperti memasuki hutan untuk pertama kalinya anak akan merasa cemas dengan situasi ibarat ini. Namun seiring berjalanya waktu perasaan cemas itu akan segera hilang.

Pada kebanyakan sekolah biasanya setiap tahun pedoman gres selalu diadalakan Masa Pengenalan Lingkunga Sekolah (MPLS) guna menyambut kedatangan penerima didik baru.

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) jaman dulu disebut juga Masa Orientasi Sekolah (MOS) atau Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) hal ini merupakan sebuah kegiatan umum yang dilaksanakan di sekolah sekolah.

Dari tahun ke tahun kegiatan ini selalu menuai pro dan kontra ditengah masyarakat, mereka menganggap MOS tidaklah perlu diadakan lantaran hanya menjadi ajang senioritas dan perpeloncoan yang menjurus pada kekasaran dan sanggup menjadikan menurunya mental pada siswa baru.

Namun pemerintah mencoba untuk meluruskan perihal tujuan MPLS yang tercantum dalam Prmendikbud No. 18 Tahun 2016.
1. Mengenali potensi siswa baru
2. Membantu siswa gres menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan sekitarnya, antara lain terhadap aspek keamanan, kemudahan umum, dan sarana prasarana sekolah.
3. Menumbuhkan motifasi, semangat dan cara berguru efektif sebagai siswa baru.
4. Mengembangkan interaksi konkret antar siswa dan warga sekolah lainya.
5. Menumbuhkan sikap konkret antara lain kejujuran, kemandirian, sikap saling menghargai, menghormati keaneka ragaman dan persatuan, kedisiplinan, hidup higienis dan sehat untuk mewujudkan siswa yang mempunyai nilai integritas, etos kerja dan semangat gotong royong.

Dari tujuan MPLS diatas, terang sekali pada pelaksanaan didalamnya jauh sekali dengan yang namanya perpeloncoan dan kekerasan. Tetapi malah sebaliknya kegiatan MPLS justru sangat menyenangkan dan penuh kekeluargaan.

Selama pelaksanaan MPLS di tiap sekolah selalu terdapat kegiatan yang menyangkut kebersihan lingkungan ( Adiwiyata ), yakni salah satu kegiatan Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.

Dimana siswa gres diperkenalkan dan diajarkan mengenai kebersihan lingkungan di sekolahnya dan eksklusif dipimpin guru pembimbingnya untuk terjunke lapangan bersama sama.

Adapun kegiatan yang dilaksanakan diantaranya :
1. Membersihkan sampah yang berserakan.
2. Membersihkan selokan air.
3. Menyediakan kolam sampah menurut jenis sampahnya.
4. Melakukan penghijauan dengan cara menanam pohon.
5. Membersihkan ruangan kelas dan laboratorium dan kemudahan sekolah lainya
6. Mengumpulkan flora obat
7. Menanam flora obat dll

Kebersihan sanggup mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman tentram dan sedap dipandang mata termasuk dilingkungan sekolah.

Bagaimana mungkin siswa gres sanggup terkesan apabila lingkungan daerah ia menuntut ilmu keadaanya kotor dan kumuh, alasannya dengan keadaan lingkungan sekolah yang kotor akan menurunkan hasrat dan minat untuk belajar. Selain itu keadaan lingkungan yang kotor sanggup menjadi daerah bersarangnya basil dan bibit penyakit.

Keadaan lingkungan yang kotor tersebut dikarenakan kurangnya kesadaran warga sekolahnya dalam menggalakan kebersihan lingkungan.

Apalagi menyangkut dengan siswa gres yang sejatinya harus diperkenalkan dengan sesuatu yang baik dan elok untuk merangsang semangat belajarnya ditempat beliau akan menuntut ilmu.

Dengan adanya kegitan higienis lingkungan yang di ajarkan kepada siswa gres pada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah ( MPLS ), dibutuhkan sanggup menumbuhkan semangat berguru bagi siswa gres serta akan timbul rasa besar hati terhadap sekolahnya dikarenakan kesan pertama yang diajarkan oleh sekolah itu sendiri.

*) Ditulis oleh Asep Sulistina Sekolah Menengah kejuruan N 9 Kota Tangerang

Sekolah Periode Depan Dan Guru Yang Dibutuhkan

4:20:00 PM
Sekolah Masa Depan dan Guru yang Dibutuhkan Sekolah Masa Depan dan Guru yang Dibutuhkan
Yang paling diharapkan justru guru yang lebih berfungsi sebagai motivator, menjadi role model, yang menginspirasi, serta bisa membangun karakter.
Sistem pendidikan di Indonesia dinilai tidak banyak mengatakan ruang untuk pengembangan diri dan cenderung membelenggu kreativitas anak. Saat ini, bawah umur lebih banyak terbebeban materi pelajaran yang menciptakan daya kritis mereka justru tidak muncul. Hal ini dikarenakan orientasi sekolah hanya untuk memenuhi kebutuhan industrialisasi.

Fungsi pengajar juga belum bisa mengatakan perubahan besar bagi akseptor didik. Guru belum siap mengantarkan anak didiknya untuk menjawab tantangan pendidikan di masa mendatang. Padahal, di kurun disrupsi menyerupai ketika ini yang paling diharapkan justru guru yang lebih berfungsi sebagai motivator, menjadi role model, yang menginspirasi, serta bisa membangun abjad anak didiknya.

Sehingga, perlu ada transformasi fundamental pada sistem pendidikan di negeri ini. Sistem yang maksud berupa pendidikan yang benar-benar mengatakan ruang kreativitas bagi anak dengan para guru yang bisa menjadi motivator dalam meningkatkan kompetensi anak.

Baca: 2 Cara Sederhana untuk Menjadi Guru yang Baik

“Di sinilah, gerakan sekolah menyenangkan hadir dengan mengatakan konsep transformasi melalui penciptaan sebuah ekosistem sekolah yang lebih siap mengantarkan bawah umur didik yang siap menjawab tantangan jaman,” kata Pengamat Pendidikan, Muhammad Nur Rizal yang kutip dari Republika (17/04/18).

Rizal menjelaskan, ada empat prinsip utama ketika sekolah itu menjadi sebuah ekosistem sekolah yang menyenangkan, yakni learning environment, pedagogical practice, character development, dan school connectedness. Keempat prinsip itu yang patut menjadi perhatian bersama demi tumbuh- kembang segala potensi anak.

Sedangkan ekosistem sekolah menyenangkan antara lain mempunyai ruang kegiatan fisik dan emosi, interaksi yang hangat, dan saling menghargai dalam kegiatan belajar, sehigga siswa merasa kondusif dan percaya diri serta pembelajarannya terhubung pada duduk perkara nyata.

Sekolah masa depan memakai metode belajar yang tidak hanya abstraksi membaca buku kemudian ujian. Namun lebih memandang kepada duduk perkara konkret atau tematik dan itu membutuhkan paradigma yang berkembang di masa mendatang. Sekolah yang mengatakan proses pengajaran yang bukan ordering, tapi coaching, melalui pendampingan, guru yang menginspirasi dan memotivasi.

“Oleh alasannya yaitu itu, ekosistem sekolah yang positif ini menjadi penting, demikian halnya teladan pengajaran yang berpusat kepada siswa,” kata Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) tersebut dalam workshop GSM di hadapan 32 perwakilan sekolah dasar (SD) se-Kota Semarang, di aula Gedung Labschool Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Bisa Ditiru, Ini Trik Menumbuhkan Minat Baca Siswa

5:37:00 PM
Rachmawati menyebarkan trik menarik untuk menumbuhkan minat baca siswa Bisa Ditiru, Ini Trik Menumbuhkan Minat Baca Siswa
Rachmawati menyebarkan trik menarik untuk menumbuhkan minat baca siswa.
Minat baca harus ditumbuhkan semenjak dini supaya kelak menjadi orang yang gemar membaca. Untuk menciptakan siswa mau ke perpustakaan, ada trik yang dapat menarik perhatian. Sebagai kepala perpustakaan di SD Islam Bunga Bangsa, Rachmawati menyebarkan trik menarik untuk menumbuhkan minat baca siswa. Ruang perpustakaan dikelola menjadi lebih indah, menarik, dan dihiasi dengan hasil kerajinan. Dia juga memperlihatkan reward bagi anak yang sering membaca dan meminjam buku.

“Ada dua sistem yang saya berlakukan untuk donasi reward. Pertama, reward akan diberikan kepada siswa-siswi yang meminjam buku terbanyak, dihitung selama sebulan sekali. Kedua, akan ada juga reward bagi siswa yang meringkas isian buku sebanyak 30 judul. Penghitungannya tidak manual, tapi memakai aplikasi", kata Rachmawati yang kutip dari kaltim.prokal.co (20/02/18).

Awalnya, banyak siswa yang tiba hanya alasannya ingin mendapat reward. Namun, alasannya suasana perpustakaan diolah menjadi lebih nyaman dan indah, bawah umur malah ketagihan datang. Tak hanya itu, Rachmawati menciptakan sebuah aktivitas yang membantu mengembangkan imajinasi anak melalui bacaan. Di perpustakaan, disediakan selembar kertas bagi pembaca. Untuk siswa-siswi kelas I dan II SD, sesudah membaca buku, mereka disuruh menulis judul buku yang dibaca, tokoh yang digemari, nama penulis, dan penerbit.

"Sedangkan untuk siswa-siswi kelas III, IV, V, dan VI, selain menulis judul, tokoh, penulis, dan penerbit, mereka dianjurkan menulis ringkasan buku yang telah dibaca. Tujuannya, biar mereka semakin memahami isi dari buku yang dibaca. Mereka juga dapat berkreasi dan berimajinasi menuliskan apa yang ada di pikiran mereka,” terperinci Rachmawati.

Baca: Presiden Mengajak Anak Indonesia Gemar Membaca

Untuk meningkatkan minat baca bawah umur didiknya, Rachma bekerja sama dengan guru dan wali kelas untuk menciptakan aktivitas yang mewajibkan siswa-siswi membaca setiap hari di perpustakaan. Di bagi setiap kelasnya secara bergiliran. Menurut pustakawan yang sudah dialkoninya semenjak 2019 ini, kesuksesan ini, juga tidak terlepas dari kerjasama seluruh civitas sekolah untuk meningkatkan budaya literasi di sekolah.

Selain itu, kepada setiap angkatan kelulusan SD, beliau mewajibkan seluruh siswa untuk menciptakan sebuah karya. Dia menyediakan waktu selama dua jam kepada siswa untuk menulis sebuah cerpen, puisi, pantun, gambar, dan lainnya, kemudian dikumpulkan untuk dijadikan sebuah buku, yang didesain sendiri oleh Rachma, sebagai buku tahunan.

"Pertama kali menciptakan buku tahunan menyerupai itu, sebagian besar siswa-siswi menciptakan gambar, tapi sekarang sudah semua menulis sebuah cerita. Dengan begitu, terbukti bahwa minat membaca dan menulis anak sudah tertanamkan semenjak dini,” pungkasnya.

Program Gizi Anak Sekolah Dasar Tidak Efektif

6:38:00 AM
Program Gizi Anak SD Tidak Efektif Program Gizi Anak SD Tidak Efektif

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan serta memperbaiki gizi bawah umur Indonesia. Salah satu misalnya Kemdikbud telah mencanangkan Program Gizi Anak SD (Progas) pada 3 kabupaten di Nusa Tenggara Timur.

Perhatian Pemerintah Pusat kepada wilayah Nusa Tenggara Timur sangat besar melalui aneka macam terobosan. Salah satunya pencanangan acara Gizi Anak SD (Progas) untuk anak SD di Kabupaten Manggarai barat, Belu dan Timur Tengah Selatan.

Progas ini menjadi satu suplemen acara anak dan merupakan satu motivasi untuk perkenalkan kepada kita yang tidak terbiasa dengan sarapan pagi alasannya yaitu itu sangat penting khususnya untuk generasi muda bangsa yang berada Nusa Tenggara Timur. Kepedulian ibarat ini mau membangunkan rasa sadar kita bahwa makan pagi itu tidak harus menjadi sesuatu kebutuhan untuk bawah umur biar mempunyai semangat dan kemampuan.

Baca: Anak Perlu Sarapan Sebelum Belajar di Sekolah

Progas ini untuk meningkatkan gizi bawah umur yang selama ini kurang sarapan pagi. Dengan demikian, bawah umur lebih berpengaruh dan mencar ilmu lebih giat. Kita harapkan pencanangan ini sanggup terealisasi dengan baik dan pertanggungjawaban lebih baik, sehingga di tahun mendatang bisa menyeluruh di wilayah Indonesia.

Jika dipahami, tujuan progas sangatlah bermanfaat bagi bawah umur di Nusa Tenggara Timur. Namun disisi Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Pengelolaannya masih belum efektif. Apalagi rencana pencairan di awal januari 2017 kemarin ternnyata Dana yang masuk pada pertengahan tahun 2017.

Dan ini sangat mengganggu kesibukan KBM guru dalam penyusunan Rencana Kegiatan dan belanja sekolah (RKAS) Progas. Apalagi Pemerintah menekankan biar Dana Progas semaksimal mungkin di habisi dalam tahun 2017 ini.

Dan pada tahap pelaksanaan kegiatan Progas tentu mengganggu kegiatan guru dan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar, ini terbukti dengan acara sarapan anak anak yaitu 15 menit sebelum istirahat pertama. Timbul pertanyaan “ Apakah sarapan itu matang sempurna waktu yang acara masaknua Pkl 08.00 pagi sedangkan Istirahat pertama Pkl 09.00. Ketika sarapan itu dimakan pada pkl 11.00 apakah itu disebut sarapan?

Bukan hanya itu, Para guru sibuk dengan banyak SPJ yang nota bene bukan Jurusan Akuntansi melainkan Guru Kelas yang mengetahui sepintas wacana akuntansi pengelolaan keuangan.

Dan Kegiatan Progas 4 kali dalam seminggu, para guru dan beberapa pihak orang bau tanah yang nota bene akuntasinya kurang memadai sibuk dengan memasak, belum dihitung berapa usang kuliner itu matang.

Oleh alasannya yaitu itu diperlukan kepada Pemerintah Pusat di Bidang Pendidikan SD untuk diadakan Pelatihan Pengeloaan Keuangan Progas hingga pada tahapan pelaporan, bukan hanya sekedar klarifikasi singkat pada Juknis yang sudah Peroleh. Dan Pembayaran Pajak atas Penggunaan dana tersebut harus dijelaskan secara terinci untuk wilayah Nusa Tenggara Timur yang berada di wilayah yang terislir dalam memperoleh informasi.

*) Ditulis oleh FLORIANUS JONI, S. Pd. Guru Honorer SD Negeri Bambor, Manggarai Barat, NTT

Program Gizi Anak Sekolah Dasar Tidak Efektif

6:38:00 AM
Program Gizi Anak SD Tidak Efektif Program Gizi Anak SD Tidak Efektif

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan serta memperbaiki gizi bawah umur Indonesia. Salah satu misalnya Kemdikbud telah mencanangkan Program Gizi Anak SD (Progas) pada 3 kabupaten di Nusa Tenggara Timur.

Perhatian Pemerintah Pusat kepada wilayah Nusa Tenggara Timur sangat besar melalui aneka macam terobosan. Salah satunya pencanangan acara Gizi Anak SD (Progas) untuk anak SD di Kabupaten Manggarai barat, Belu dan Timur Tengah Selatan.

Progas ini menjadi satu suplemen acara anak dan merupakan satu motivasi untuk perkenalkan kepada kita yang tidak terbiasa dengan sarapan pagi alasannya yaitu itu sangat penting khususnya untuk generasi muda bangsa yang berada Nusa Tenggara Timur. Kepedulian ibarat ini mau membangunkan rasa sadar kita bahwa makan pagi itu tidak harus menjadi sesuatu kebutuhan untuk bawah umur biar mempunyai semangat dan kemampuan.

Baca: Anak Perlu Sarapan Sebelum Belajar di Sekolah

Progas ini untuk meningkatkan gizi bawah umur yang selama ini kurang sarapan pagi. Dengan demikian, bawah umur lebih berpengaruh dan mencar ilmu lebih giat. Kita harapkan pencanangan ini sanggup terealisasi dengan baik dan pertanggungjawaban lebih baik, sehingga di tahun mendatang bisa menyeluruh di wilayah Indonesia.

Jika dipahami, tujuan progas sangatlah bermanfaat bagi bawah umur di Nusa Tenggara Timur. Namun disisi Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Pengelolaannya masih belum efektif. Apalagi rencana pencairan di awal januari 2017 kemarin ternnyata Dana yang masuk pada pertengahan tahun 2017.

Dan ini sangat mengganggu kesibukan KBM guru dalam penyusunan Rencana Kegiatan dan belanja sekolah (RKAS) Progas. Apalagi Pemerintah menekankan biar Dana Progas semaksimal mungkin di habisi dalam tahun 2017 ini.

Dan pada tahap pelaksanaan kegiatan Progas tentu mengganggu kegiatan guru dan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar, ini terbukti dengan acara sarapan anak anak yaitu 15 menit sebelum istirahat pertama. Timbul pertanyaan “ Apakah sarapan itu matang sempurna waktu yang acara masaknua Pkl 08.00 pagi sedangkan Istirahat pertama Pkl 09.00. Ketika sarapan itu dimakan pada pkl 11.00 apakah itu disebut sarapan?

Bukan hanya itu, Para guru sibuk dengan banyak SPJ yang nota bene bukan Jurusan Akuntansi melainkan Guru Kelas yang mengetahui sepintas wacana akuntansi pengelolaan keuangan.

Dan Kegiatan Progas 4 kali dalam seminggu, para guru dan beberapa pihak orang bau tanah yang nota bene akuntasinya kurang memadai sibuk dengan memasak, belum dihitung berapa usang kuliner itu matang.

Oleh alasannya yaitu itu diperlukan kepada Pemerintah Pusat di Bidang Pendidikan SD untuk diadakan Pelatihan Pengeloaan Keuangan Progas hingga pada tahapan pelaporan, bukan hanya sekedar klarifikasi singkat pada Juknis yang sudah Peroleh. Dan Pembayaran Pajak atas Penggunaan dana tersebut harus dijelaskan secara terinci untuk wilayah Nusa Tenggara Timur yang berada di wilayah yang terislir dalam memperoleh informasi.

*) Ditulis oleh FLORIANUS JONI, S. Pd. Guru Honorer SD Negeri Bambor, Manggarai Barat, NTT