Showing posts with label Pendidikan Karakter. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Karakter. Show all posts

Memahami Karakteristik Penerima Asuh Melalui Pendekatan Teman Sebaya

3:34:00 PM
Memahami karakteristik penerima didik melalui pendekatan sahabat sebaya
Pendidikan pada hakekatnya ialah memanusiakan manusia. Untuk mencapai impian ini, kehadiran Guru menjadi referensi impian para orang renta anak tersebut. Berbagai upaya memanusiakan insan telah dilakukan oleh guru di sekolah. Jika seorang Peserta didik sukses dalam studinya maka semua keluarga bahkan lingkungan akan membanggakan nama anak tersebut dan seluruh keluarga berbesar hati. Ini merupakan karakteristik insan pada umumnya. Akan tetapi kalau Peserta Didik tersebut gagal dalam sebuah forum Pendidikan maka orang pertama yang dicoreng namanya ialah Guru yang membimbing dan mengajar Peserta Didik tersebut. Hal semacam ini yang masih terbawa sepanjang ini di banyak sekali tempat di potongan Indonesia tercinta ini.

Memperhatikan budaya kekeliruan yang sulit diperbaiki ini maka sebagai Guru harusnya membangun banyak sekali konsep strategis guna memperkecil banyak sekali prasangka jelek yang ungkapkan oleh banyak sekali kalangan masyarakat selama ini. Salah satu konsep yaitu pendekatan sahabat sebaya. Teknik pendekatan ini diawali dengan langkah-langkah berikut:

a. Guru meminta Peserta Didik dengan mengajukan satu pertanyaan sederhana sebagai berikut:-
- Siapa saja sahabat berbain Anda setiap hari ? Kelas Rendah [Belum lancar membaca dan menulis]
- Tulislah teman-teman bersahabat Anda minimal nama 3[tiga] sahabat ! Kelas atas [yang lancar membaca dan menulis]

b. Menanyakan kesukaan Peserta Didik dari sahabat sebaya Peserta Didik tersebut dari daftar nama yang diterima

c. Mencatat semua gosip dari semua sahabat yang disebutkan/dituliskan dalam daftar secara lengkap.

d. Membaca dan menganalisa serta mengkaji pendapat yang dikumpulkan

e. Guru menciptakan final sementara abjad Peserta Didik bersangkutan

f. Mulai menyusun taktik gres guna menghipnotis serta memasukan konsep gres yang sanggup mengubah konsep dasar Peserta Didik sesuai impian Guru.

g. Menemukan karakteristik gres Peserta Didik menurut hasil karja guru.

Baca: Strategi untuk Mengenal Karakter Peserta Didik

Inilah beberapa langkah yang sanggup membantu Guru dalam menghadapi Karakter Peserta Didik yang sulit diatur. Selamat mencoba supaya bermanfaat demi memperkecil prasangka jelek dari banyak sekali pihak.

Maju Terus Pantang Mundur, Guru mengmang Pahlawan Tanpa Jasa namun Karya Guru merupakan gesekan Kecil yang tetap membekas di hati Peserta Didik hingga diujung penghabisan Riwayat Pendidikan ikut dibacakan di depan Khalayak.

*) Ditulis oleh Paulus Pobas,S.Pd
Guru Non PNS di SMAS Katolik 1 SoE-Kab.Timor Tengah Selatan-Nusa Tenggara Timur.

Pendidikan Abjad Harus Melibatkan Keluarga

7:06:00 AM
Pendidikan Karakter Harus Melibatkan Keluarga Pendidikan Karakter Harus Melibatkan Keluarga
Penguatan pendidikan abjad harus dilaksanakan serentak oleh keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Masyarakat diminta jangan membebankan pendidikan abjad hanya ke sekolah, namun juga keluarga, dan masyarakat. Hal ini dikatakan Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Daryanto. Menurutnya, penguatan pendidikan abjad harus dilaksanakan serentak oleh keluarga, sekolah, dan masyarakat.

"Penguatan pendidikan abjad jangan hanya dibebankan pada sekolah saja, harus bergerak serentak, gotong royong dan berimbang dari tri pusat pendidikan, ialah keluarga, sekolah, dan masyarakat," kata Daryanto yang kutip dari Republika (20/02/18).

Dengan demikian, tanggung jawab pendidikan bukan dibebankan kepada sekolah semata, tetapi juga pergerakan awal yang dimulai dari lingkungan keluarga. Dia menyampaikan interaksi kasih sayang murid dengan orang tua, sanak saudara, dan kakek nenek itu juga menentukan. Setelah itu, gres kondisi lingkungan masyarakat pun harus menunjang.

Daryanto menyebut perihal prinsip saling asah, asih, dan ajar dalam dunia pendidikan yang harus sanggup terealisasi dengan baik. Karena mendidik itu harus penuh kasih sayang, menyebarkan pikiran kritis hingga mendorong siswanya untuk berprestasi. Baca: Peran Guru dalam Penguatan Pendidikan Karakter

Bukan Zamannya Lagi Siswa Sd Dijejali Pengetahuan

6:59:00 AM
Bukan Zamannya Lagi Siswa SD Dijejali Pengetahuan Bukan Zamannya Lagi Siswa SD Dijejali Pengetahuan
Kalau di sekolah SD dan Sekolah Menengah Pertama itu masih padat dengan memperlihatkan pengetahuan kepada siswa, itu sudah tidak zamannya lagi
Sekolah-sekolah pada jenjang SD (SD) kini harus berubah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy menyampaikan harus ada reformasi dan restorasi pendidikan yang mengutamakan pendidikan karakter.

"Kalau di sekolah SD dan Sekolah Menengah Pertama itu masih padat dengan memperlihatkan pengetahuan kepada siswa, itu sudah tidak zamannya lagi," ujar Menteri Muhadjir yang kutip dari JPNN (03/01/18).

Guru menjadi salah satu kunci dalam membenahi pendidikan abjad itu. Mengajar bagi seorang guru merupakan bab kecil dari tugasnya. Namun, mendidik siswa mempunyai abjad besar lengan berkuasa itulah yang menjadi kiprah pertama dan utama seorang guru.

"Seperti anutan Ki Hadjar Dewantara bahwa seorang guru seharusnya berada di depan untuk memperlihatkan keteladanan, berada di tengah untuk memperlihatkan inspirasi, dan berada di belakang untuk memperlihatkan dorongan. Namun sampai ketika ini sebagian besar guru hanya memperlihatkan dorongan melalui transfer pengetahuan saja kepada siswa-siswanya," kata Muhadjir.

Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini menjelaskan, tanggung jawab utama mendidik belum dewasa mempunyai abjad yang besar lengan berkuasa itu tetap ada pada keluarga atau orang renta mereka. Sekolah hanya membantu mereka ketika berada di rumah keduanya.

Baca: Peran Guru dalam Penguatan Pendidikan Karakter

"Sudah keliru paradigma masyarakat kini ini. Kalau anaknya sudah masuk sekolah, orang renta tidak ikut campur mendidik, ini ialah suatu kesalahan besar. Keluarga harus bertanggung jawab terhadap pendidikan anak terutama pendidikan dasar," kata Muhadjir.

Kemendikbud telah berupaya mengeluarkan regulasi perihal pendidikan abjad tersebut, yakni Peraturan Mendikbud Nomor 23 Tahun 2017 perihal Hari Sekolah dan Peraturan Mendikbud Nomor 23 Tahun 2015 perihal Penumbuhan Budi Pekerti. Regulasi tersebut diperkuat dengan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 perihal Penguatan Pendidikan Karakter.

Usbn Bertentangan Dengan Pendidikan Karakter

8:37:00 AM
USBN Dinilai Bertentangan dengan Pendidikan Karakter USBN Bertentangan dengan Pendidikan Karakter
USBN berlawanan dengan penguatan pendidikan aksara yang digaungkan Presiden Joko Widodo.
Rencana penerapan ujian sekolah berstandar nasional (USBN) di jenjang SD yang mengujikan delapan mata pelajaran (mapel) dinilai bertentangan dengan pendidikan karakter. Ikatan Guru Indonesia (IGI) meminta pemerintah membatalkan kebijakan ini.

Penambahan mapel di USBN yang mulai diterapkan tahun depan itu berlawanan dengan penguatan pendidikan aksara yang digaungkan Presiden Joko Widodo. Sebab pada praktiknya nanti, akan semakin menciptakan siswa dan guru berpacu mengejar nilai USBN setinggi-tingginya.

Akhirnya upaya penguatan pendidikan aksara di SD, yang menjadi pondasi pendidikan masa depan, bakal kian terabaikan. Menurut Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim, pembelajaran di SD sebaiknya berfokus pada penanaman dan penguatan pendidikan karakter.

Selain itu konsekuensi adanya 25 persen butir soal USBN dibentuk oleh Kemendikbud, bakal menjadi beban di banyak sekolah. Sebab tidak dapat dipungkiri kondisi SD di Indonesia sangat bermacam-macam kualitasnya.

"Masih banyak SD yang guru PNS-nya hanya dua orang. Bahkan ada yang satu orang, itupun merangkap sebagai kepala sekolah," kata Ramli yang kutip dari JPNN (30/12/17).

Ramli juga menjelaskan memperbanyak jumlah mapel dalam USBN di SD menjadi cermin bahwa pemerintah sentra tidak percaya kepada sekolah. Ia beropini sebaiknya urusan ujian selesai di SD dipasrahkan kepada guru di masing-masing sekolah.

Baca: Mulai 2018 USBN SD untuk Semua Mata Pelajaran

Pemerintah sejatinya tidak perlu menambah kasus baru. Khusus untuk pendidikan jenjang SD, pemerintah sentra harusnya berfokus pada pemenuhan layanan dasar menyerupai dicukupinya jumlah guru PNS di seluruh unit SD.

"Siapa guru yang akan mengajari siswa menghadapi USBN. Gurunya saja tidak ada," kata Ramli.

Peran Guru Dalam Penguatan Pendidikan Karakter

6:54:00 AM
Peran guru dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sangat penting alasannya ialah guru menjadi contoh bagi anak didiknya.
Peraturan Presiden (Perpres) nomor 87 Tahun 2017 perihal Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) memperlihatkan bahwa Presiden Joko Widodo menaruh perhatian besar pada PPK. Sekira 70 persen pendidikan dasar, yakni jenjang SD dan SMP, harus bermuatan PPK.

Guru mempunyai tugas yang sangat penting dalam PPK alasannya ialah guru menjadi contoh bagi anak didiknya. Fungsi guru tidak hanya sebagai pengajar melainkan juga pendidik. Pentingnya peran guru dalam penerapan PPK, tentu menerima perhatian dari Kemendikbud.

Guru tidak hanya dituntut bisa mengajar, melainkan bisa mengamati setiap siswanya untuk mengetahui aksara masing-masing siswa. Kekurangan dan kelebihan tiap siswa mesti dipelajari alasannya ialah setiap anak mempunyai latar belakang keluarga yang berbeda.

Kepala Subdirektorat Perencanaan Kebutuhan Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Dijen GTK Kemendikbud Elvira, menyampaikan guru harus meneladai Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Sebagai pendidik, Ki Hajar Dewantara mengutamakan empat pilar pendidikan karakter, yaitu olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga.

“Guru juga menjadi sosok yang memperlihatkan sisi kepemimpinan dalam menawarkan batas-batas kepada siswanya, ini boleh, ini tidak boleh. Itulah keteladanan guru,” kata Elvira yang kutip dari Kompas (17/12/17).

Guru juga dibutuhkan menjadi sosok yang bisa membangkitkan sifat-sifat baik lainnya, ibarat mempunyai etos kerja, sportif, dan disiplin. Hal ini menjadi bagian dari penanaman karakter.

“Sebenarnya pendidikan aksara dari dulu sudah ada, tapi kini konsep itu harus menjadi adaptasi baik dari kelas, budaya sekolah, dan lingkungan rumah, yaitu dari orangtua,” imbuh Elvira.

Menumbuhkan 5 Budaya Aksara Di Jaman Now

6:28:00 AM
Upaya konkret menumbuhkan budaya abjad Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong dan integritas pada akseptor didik.
Peringatan hari besar nasional dan hari besar agama yakni waktu yang sempurna untuk sekolah mengadakan acara dalam rangka menunjukkan wadah bantuan untuk akseptor ajar mengetahui sejarah sebuah program dan berpatisipasi eksklusif dalam keseluruhan rangkaian acara mulai dari persiapan keragaman pakaian, goresan pena inspiratif, tampilan kreatifitas, acara menyebarkan dan pekan raya akseptor didik. Keseluruhan acara merupakan upaya konkret menumbuhkan budaya karakter mulai dari Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong dan integritas pada akseptor ajar dalam satu wadah.

SD Muhammadiyah 9 melalui peringatan Hari Pahlawan dan Milad Muhammadiyah ke 108 mengadakan program pawai di lingkungan sekitar sekolah. Pawai diikuti oleh seluruh warga sekolah dengan pakaian yang bermacam-macam pada masing-masing tingkat kelas mulai dari pakaian adat, pahlawan, seragam sekolah, batik nasional, kebaya malangan, tapak suci dan hisbul wathon sesuai hukum panitia sekolah. Hal tersebut secara konkret merupakan wujud dari sikap taat hukum dan disiplin sekaligus menunjukkan kepada akseptor ajar perihal wujud Bhineka tunggal lka di sekolah meskipun banyak sekali ragam pakaian dan ciri masing-masing tingkat kelas tetap bersatu bersama mensukseskan program pawai, semua yakni rangkaian operasional dari abjad nasionalis.

Tingkatan Kelas yang berpartisipasi dalam pawai menyiapkan satu tampilan kreasi bebas yang akan ditampilkan pada panggung bersama dapat berupa tari, drama, musik, dan paduan suara. Selain itu setiap kelas menyediakan bermacam-macam goresan pena ide untuk dibawa selama pelaksanaan pawai dengan tujuan untuk mengajak kebaikan pada diri diri sendiri dan masyarakat sekitar. Tampilan kreasi dan goresan pena ide merupakan wadah mewujudkan kreatifitas dan keberanian akseptor ajar yang merupakan operasional dari abjad mandiri.

Proses persiapan tampilan kreasi dan pembuatan ragam goresan pena ide dilakukan bersama –sama antara akseptor didik, wali kelas pendamping beserta wali murid yang tergabung dalam paguyuban kelas. Kegiatan bersama menyerupai ini wadah konkret untuk akseptor ajar terlibat dalam sebuah komunitas kebersamaan yang terdiri atas bermacam-macam usia dan karakter, selain itu selama proses jalannya pawai akseptor ajar menunjukkan oleh-oleh kepada masyarakat yang sudah tertempel stiker permintaan kebaikan pada perayaan Hari Pahlawan dan Milad Muhammadiyah. Buah tangan pun bermacam-macam mulai dari bunga mawar, permen yang dikreasi bunga, hingga mie yang berbentuk keranjang. Keseluruhan rangkaian di atas mulai kebersamaan dan solidaritas akan menumbuhkan budaya gotong-royong pada diri akseptor didik.

Akhir acara jalan pawai di sekitar lingkungan sekolah seluruh warga sekolah menikmati bazar, tampilan kreasi dan pembagian hadiah undian. Selama proses ini seluruh akseptor ajar selalu diingatkan untuk menjaga ke etika dalam melihat tampilan bersama biar semua dapat menikmati dengan baik. Proses pekan raya dan pengambilan hadiah akseptor ajar dilatih eksklusif untuk selalu jujur sekaligus upaya penguatan abjad religius dan Integritas.

Ayo selalu bersemangat untuk membuat sarana dan wadah konkret penguatan abjad pada akseptor didik untuk bekal masa depan yang sukses dan berkarakter.

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Anak-Anak Menyerupai Ini, Tolong Dicetak Sebanyak-Banyaknya

7:36:00 PM
Karakter, etika-moral jauh lebih penting dari prestasi akademik.
Namanya Ika. Trismeyka Anandya Suwardi. Sekarang beliau kelas 5 SD. Hari itu pembagian raport kenaikan kelas sekaligus pembagian tabungan. Ika sendiri naik ke kelas 4.

Aksi Ika ketika itu menciptakan saya dan wali kelasnya melongo. Bagaimana sanggup anak sekecil Ika sanggup berfikir dan berbuat ibarat itu?

Tanpa diketahui oleh guru, belakang layar Ika mengkordinir teman-temannya yang mendapatkan tabungan. Meminta mereka menyisihkan tabungan yang diterima untuk diserahkan kepada salah seorang sahabat kelasnya yang kurang beruntung. Tidak mempunyai tabungan. Seorang anak yang kurang terurus, yatim, selalu berpakaian lusuh, jarang membawa belanja ke sekolah. Saat itu saya dan wali kelasnya sangat terharu.

Masih di tahun yang sama. Tapi pada masa libur sesudah kenaikan kelas.

Hari itu saya melintas di jalan menuju ke sekolah. Ada urusan di kota kabupaten. Rumah saya sendiri jauh dari sekolah, 60 Km. Sampai di sebuah jembatan, dua orang tampak sedang sibuk membersihkan jalan dari sampah dan tumpukan pasir. Bekas luapan air parit. Yang ibarat ini memang biasa di Lombok Utara. Jalan-jalan tertimbun tanah/pasir terutama ketika ekspresi dominan hujan. Orang-orang membersihkan jalan memakai sekop atau pacul. Kemudian meminta imbalan kepada pengendara yang lewat. Kadang hanya akal-akalan bekerja ketika pengendara lewat saja. Tumpukan tanahnya hingga beberapa hari ke depanpun tetap begitu-begitu saja.

Tapi ada yang tidak biasa dilakukan dua orang yang saya lihat. Mereka tidak berusaha mencegat pengendara yang lewat. Tidak meminta imbalan apa-apa. Sekedar melirikpun tidak. Mereka fokus bekerja.

Saya lebih surprise lagi ketika mengetahui salah seorang pembersih jalan itu ialah siswa saya sendiri. Ratno. Setelah masuk sekolah, saya cari Ratno di kelasnya. Saya tanya seputar aksinya membersihkan jalan. Ternyata beliau membersihkan jalan berdua dengan kakaknya. Alasannya? Tidak ingin ada pengendara yang jatuh. Berhubung jembatan itu tidak mengecewakan dalam, jalannya pun turunan, tanjakan berliku. Aksi Ratno saya bahas ketika semua siswa berkumpul di program Imtaq. Menjadi contoh.

Selanjutnya seorang siswa berbadan tegap, kekar dan paling besar di kelasnya. Sering berkelahi. Namanya Amat. Suatu hari seorang wali murid menghadap ke kepala sekolah. Menjelaskan bahwa anaknya sudah tiga hari tidak masuk sekolah. Matanya sakit. Bengkak dan menghitam. Dihantam oleh sahabat kelasnya sendiri. Ternyata si Amat pelakunya.

Kami sangat terkejut dan malu. Bagaimana sanggup kami pihak sekolah tidak mengetahui bencana ibarat itu? Wali kelasnya pun tidak. Siswa cidera serius bahkan sudah 3 hari tidak masuk. Kepala sekolahpun meminta maaf dengan lapang dada. Berterima kasih kepada wali murid yang sangat sabar itu. Biarpun anaknya mengalami hal seburuk itu. Dia masih sanggup menahan diri, menghadap ke sekolah dengan baik dan sopan. Amat menerima penanganan khusus.

Beberapa bulan kemudian. Si Amat menciptakan saya benar-benar terharu. Dia yang dulu jawara berubah drastis. Saat kelasnya ribut, dialah yang meminta teman-temannya tenang. Baik ketika ada guru atau pelajaran kosong. Saat teman-temannya berkelahi, dialah yang mendamaikan. Diapun tampak lebih tenang dan kalem.

Ika, Ratno, dan Amat ialah beberapa siswa luar biasa ketika saya masih mengajar di sekolah lama, SDN 1 Bayan. Sekarang saya sudah pindah ke sekolah lain. SDN 3 Sambik Elen. Ternyata di sana juga saya bertemu belum dewasa luar biasa.

Saat pawai karnaval tujuh belasan beberapa ahad yang lalu. Seorang anak melonjak bangga menemukan sebuah kolam sampah di pinggir jalan. Namanya Wahyu. Tegopoh-gopoh menuju kolam sampah dan membuang sebuah botol air mineral bekas minum. Rupanya sudah usang lama beliau ingin membuang botol itu. Tapi tidak menemukan kolam sampah sepanjang rute karnaval. Membuang di pinggir jalan beliau tidak mau. Padahal pada kontingen yang lain, jangankan siswa, guru pun tampak hirau membuang begitu saja gelas plastik air mineral bekas mereka minum. Sedangkan Wahyu masih anak kelas 2 SD.

Dan hari Jumat kemarin. Yulia Yasmin, siswi kelas tiga. Tiba-tiba berteriak lantang. Bertanya ke teman-temannya yang sedang bergerombol belanja. Bertanya siapa yang merasa kehilangan uang. Yulia telah menemukan selembar uang 5 ribuan. Uang itupun diserahkan Yulia ke pemiliknya.

Sebuah Paradoks

Jika kini kita menemukan masyarakat yang egois, hanya mementingkan dirinya sendiri. Maka kita butuh generasi ibarat Ika dan Ratno untuk berubah. Jika kini kita melihat negeri kita bertabur sampah, di darat, pinggir jalan, sungai, maritim bahkan puncak gunung yang sangat tinggi ibarat Rinjani, maka kita butuh sebanyak-banyaknya generasi ibarat Wahyu. Jika hari ini kita miris melihat agresi bullying, maka kita butuh generasi ibarat Amat. Jika hari ini kita hingga tidak sanggup berkata apa-apa melihat maraknya sikap korup, maka kita butuh generasi jujur ibarat Yulia.

Tapi sayang. Kenyataan berkata lain. Kita sudah mengetahui ibarat apa keadaan bangsa kita. Kita pun sudah mengetahui generasi ibarat apa yang kita butuhkan untuk berubah. Generasi yang mempunyai abjad ibarat siswa-siswa di atas. Tapi kita tidak pernah serius mencetak generasi yang diharapkan itu. Kita terlalu fokus pada prestasi akademik. Orang bau tanah berlomba-lomba secepat mungkin menciptakan anaknya menguasai Calistung, bahkan ketika usia PAUD. Bila perlu ketika masih Balita, ketika sudah mulai sanggup bicara.

Guru-guru menganak emaskan siswa-siswa yang prestasi akademiknya mentereng. Siswa yang kurang mempunyai prestasi akademik seolah sebagai embel-embel saja.

Kita semua mendewa-dewakan prestasi akademik. Seolah itulah segalanya. Padahal di negara maju yang terjadi sebaliknya.

Saya teringat dongeng seorang praktisi pendidikan, pemilik Sekolah Mahakarya Gangga. Ayah Edy.

Saat berdiskusi dengan seorang guru dari Australia. Guru itu berkata. Kami tidak khawatir jikalau belum dewasa SD kami tidak pintar Matematika, kami jauh lebih khawatir jikalau mereka tidak pintar mengantri.

Ketika ditanya mengapa sanggup begitu? Guru Australia itu menjawab: Jauh lebih mudah melatih belum dewasa untuk sanggup Matematika, butuh beberapa bulan saja. Sementara melatih mereka sanggup mengantri jauh lebih sulit. Bertahun-tahun belum tentu berhasil. Dan tidak semua anak kelak akan berprofesi memakai ilmu Matematika yang rumit, kecuali tambah, kurang, kali, bagi. Sebagian mereka akan menjadi penari, atlet, penyanyi, musisi, pelukis, dan sebagainya. Hanya sebagian kecil dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan menentukan profesi di bidang yang bekerjasama dengan Matematika. Sementara semua murid dalam satu kelas ini niscaya akan membutuhkan adat moral dan pelajaran berharga dari mengantri sepanjang hidup mereka kelak.

Demikianlah kenyataannya. Bagaimana karakter, etika-moral jauh lebih penting dari prestasi akademik. Kitapun mengetahuinya. Menyadarinya. Tapi entah mengapa budaya kita yang terlalu mendewa-dewakan prestasi akademik sulit berubah.

Pemerintah sendiri tidak habis-habisnya berusaha mengubah budaya ini. Kurikulum diganti. Ujian Nasional bukan penentu kelulusan. Pengintegrasian pendidikan karakter, melarang menunjukkan PR Matematika tapi diganti dengan PR yang menumbuhkan kecerdikan pekerti ibarat menolong sesama. Sampai beberapa hari yang kemudian Presiden Jokowi mengeluarkan Perpres No. 87 Th. 2017 wacana penguatan pendidikan karakter.

Tapi dunia pendidikan dengan tuhan prestasi akademiknya tampaknya tak akan bergeming. Tetap ibarat biasa. Kokoh-padu tak tergoyahkan. Seperti sebelum-sebelumnya.

Maka. Lupakanlah mimpi bahwa kita akan melihat Indonesia bertaburan orang-orang ibarat Ika, Ratno, Amat, Wahyu, atau Yulia. Maka Indonesia akan tetap terlihat ibarat ini. 10, 50, 100 tahun yang akan datangpun mungkin akan tetap ibarat ini. Bertabur sampah, kemiskinan, orang-orang egois, penjahat, dan koruptor. *LBS*

*) Ditulis oleh Lukman bin Saleh. Guru SDN 3 Sambik Elen-Lombok Utara.

Kebijakan Gres Setiap Siswa Dua Rapor Sulit Diterapkan

7:36:00 PM
Kebijakan Baru Setiap Siswa Dua Rapor Sulit Diterapkan Kebijakan Baru Setiap Siswa Dua Rapor Sulit Diterapkan
Kebijakan gres Kemendikbud memperlihatkan setiap siswa dua buku rapor akan sulit diterapkan.
Kebijakan gres Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai imbas aktivitas penguatan pendidikan huruf (PPK) dengan memberikan setiap siswa dua buku rapor akan sulit diterapkan. Selain buku rapor akademik, siswa juga akan ada buku rapor wacana catatan pendidikan karakter.

Pengamat pendidikan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jejen Musfah menjelaskan, rapor untuk merekam catatan pendidikan huruf memang baik. Tetapi buku rapor ini efektif diterapkan jikalau jumlah siswa di dalam kelas sedikit. Maksimal 25 siswa dalam satu kelas.

"Tetapi realita di sekolah-sekolah negeri jumlah murinya besar-besar. Sampai 36 murid," kata Jejen yang kutip dari JPNN (31/08/17).

Untuk kelas-kelas besar ibarat itu, evaluasi huruf siswa tidak efektif untuk dikerjakan oleh guru. Menurut Jejen, guru akan kesulitan menilai huruf murid satu per satu. Jika dipaksakan, hasil penilaiannya dapat cenderung copy paste untuk sekedar menggugurkan kewajiban.

Sementara itu, Mendikbud Muhadjir Effendy menuturkan bahwa buku rapor untuk menilai ekstrakurikuler atau pendidikan huruf anak itu tidak serumit buku rapor akademik. Ia menyampaikan teknis atau format buku rapor untuk menilai rekam jejak huruf siswa itu sedang dimatangkan oleh Balitbang Kemendikbud.

"Cukup ada dua catatan saja sudah bagus. Misalnya catatan anak ini pernah jadi ketua OSIS. Itu memperlihatkan mempunyai huruf kepemimpinan," terang Mendikbud.

Baca: Tumbuhkan Budi Pekerti Guru Harus Dampingi Anak

Mantan rektor UMM ini berharap tahun depan, dikala aktivitas PPK sudah berjalan cukup masif, buku rapor huruf siswa dapat diterapkan di sekolah-sekolah. Ia menyampaikan initinya guru harus mengamati bawah umur dikala mengikuti ekstrakurikuler. Mereka Tidak boleh dilepas begitu saja.

Guru Boleh Tidak Tahu Tapi Jangan Aib Akui Kesalahan

7:32:00 AM
Guru Boleh Tidak Tahu Tapi Jangan Malu Akui Kesalahan Guru Boleh Tidak Tahu Tapi Jangan Malu Akui Kesalahan
Guru boleh tidak tahu dan jangan aib untuk mengakui kesalahannya.
Guru diimbau tidak aib mengakui kesalahan, alasannya hal itu menjadi kebutuhan penting dalam pendidikan penguatan karakter. Menurut pemerhati pendidikan dari Yayasan Cahaya Baru, Henny Supolo, guru yang mengakui kesalahannya, tahu lingkungannya dan ingin memperbaikinya, menunjukkan bahwa ia mempunyai kemerdekaan berpikir.

"Guru boleh tidak tahu dan jangan aib untuk mengakui kesalahannya," kata Henny yang kutip dari Antara (15/08/17).

Selain itu, guru yang dibutuhkan dalam penguatan huruf ialah guru yang siap menjadi murid. Jika itu terjadi, maka masyarakat tak perlu lagi khawatir dengan pendidikan huruf anak.

"Guru yang siap menjadi murid maka ia menyadari bahwa dirinya bukan satu-satunya sumber ilmu", ujar Henny.

Selain perubahan paradigma terhadap guru, pendidikan penguatan huruf dan literasi sangat diharapkan lantaran mengembalikan pada pendidikan berkebudayaan.

"Pendidikan tidak lagi menyiapkan anak ke dalam slot pekerjaan dan tidak lagi mencari tetapi juga menjadi langsung yang besar lengan berkuasa serta ada kompetensi yang diiringi dengan kualitas karakter," kata Anggota Tim Penguatan Pendidikan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Prof Djoko Saryono.

Pendidikan penguatan huruf dan gerakan literasi diiringi juga bersama antisipasi perubahan yang destruktif. Kaprikornus bukan sekadar menyembuhkan penyakit tetapi pendidikan huruf memulangkan kembali ke substansi pemberdayaan sehingga menjadi langsung utuh yang berakhlak mulia.

"Anak kini tidak hanya disebut generasi milenial tetapi juga di sisi lain sebagai "strawberry gen". Indah, yummy tapi praktis rusak. Oleh lantaran itu perlu pendidikan penguatan huruf yang sempurna untuk generasi ini," kata Djoko.

Sekolah Akan Diwajibkan Mempunyai Dua Versi Rapor

6:47:00 AM
Sekolah akan Diwajibkan Memiliki Dua Versi Rapor Sekolah akan Diwajibkan Memiliki Dua Versi Rapor
Sekolah nanti akan mempunyai dua versi rapor.
Dalam acara Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyampaikan setiap sekolah wajib mempunyai dua versi rapor untuk memantau perkembangan siswa mulai dari jenjang SD hingga SMA.

"Sekolah nanti akan mempunyai dua versi rapor, yang pertama rapor akademik untuk intrakulikuler, yang kedua rapor rekaman acara siswa yang berupa naratif deskriptif untuk menceritakan tingkat perkembangan siswa dari tingkat SD hingga SMA," kata Muhadjir.

Rapor rekaman aktifitas siswa antara lain akan mencakup laporan mengenai minat, talenta serta kemahiran istimewa siswa. Selain itu, dalam acara PPK, akan ada porsi yang seimbang antara peranan sekolah dengan keluarga untuk mendidik siswa.

"Ini dalam rangka implemntasi administrasi pendidikan berbasis sekolah, sekolah harus mempunyai tanggung jawab untuk mengatur kegiatan berguru siswa baik di sekolah, masyarakat maupun di rumah," kata Mendikbud.

Saat ini pemerintah sedang menciptakan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai Program Penguatan Pendidikan Karakter, yang antara lain berkenaan dengan apakah semua sekolah akan diwajibkan menerapkan lima hari sekolah atau tidak.

"Nanti akan diatur di Perpres, apakah nanti sifatnya pilihan atau sedikit demi sedikit kita akan lihat, ketika ini kita sedang godok problem itu," kata Muhadjir yang kutip dari Antara (26/07/17).

Dengan kegiatan sekolah lima hari, orangtua sanggup mempunyai waktu untuk ikut mendidik dan mengasuh anak secara penuh selama dua hari libur sekolah. Pasalnya selama ini, orangtua cenderung melimpahkan semua tanggung jawab pendidikan kepada sekolah.

Pada 19 Juli pemerintah telah melaksanakan rapat mengenai Rancangan Perpres Penguatan Pendidikan Karater. Perpres itu nantinya akan menggantikan peraturan yang pernah diterbitkan dalam bentuk peraturan menteri yakni Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017.

Dalam acara Penguatan Pendidikan Karater tersebut pendidikan huruf menyerupai nilai integritas, religius, nasionalisme, kemandirian dan gotong-royong akan ditekankan kepada penerima didik.

Mendikbud Minta Guru Rekam Kepribadian Anak

5:34:00 AM
Mendikbud Minta Guru Rekam Kepribadian Anak Mendikbud Minta Guru Rekam Kepribadian Anak
Ini merupakan implementasi pendidikan karakter.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbu) Muhadjir Effendy meminta guru sanggup menciptakan portofolio anak semenjak jenjang sekolah dasar (SD). Tujuannya, biar guru tidak mengabaikan talenta istimewa masing-masing anak. Selain rapor akademik anak seharusnya ada catatan kepribadian di sekolah.

Rekam jejak kepribadian dan talenta sanggup merupakan implementasi pendidikan karakter. Rekam jejak anak tersebut sanggup dijadikan portofilio sampai siswa tersebut dewasa. Dengan demikian, ia mengatakan, saat ada perusahaan membutuhkan tenaga kerja sanggup meminta file Dapodik di Kemendikbud sesuai keahlian yang diinginkan.

“Biar matematika nilai empat, tapi ada rekam jejak kepemimpinan OSIS, ekstrakulikuler, lebih manis jadi manajer daripada yang nilainya bagus, tapi nggak pernah berorganisasi,” kata Muhadjir yang kutip dari Republika (22/07/17).

Mendikbud menyebut, portoflio anak tidak lepas dari tugas guru sebagai katalisator. Guru harus sanggup menggali potensi dan talenta terpendam masing-masing anak. Guru dilarang menyamaratakan dalam memperlakukan anak didik.

Guru Harus Bisa Dorong Semoga Siswa Mempunyai 4C

9:37:00 PM
Guru Harus Mampu Dorong Agar Siswa Memiliki  Guru Harus Mampu Dorong Agar Siswa Memiliki 4C
Guru harus bisa mengolah situasi supaya siswa mempunyai 4C
Guru merupakan salah satu kunci kesuksesan pendidikan penguatan abjad (PPK). Hal ini dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. Oleh alasannya ialah itu, beban kerja guru harus diatur sedemikian rupa sehingga selain bisa memenuhi kewajiban sertifikasi juga menjadi pihak yang harus bisa membangun sinergi tripusat pendidikan.

"Tripusat itu ialah sekolah, masyarakat dan keluarga. Guru harus bisa menjadikannya beririsan satu sama lain sehingga siswa terbentuk karakternya tidak hanya dari jam tatap muka di kelas saja, tetapi juga dengan lingkungan dan masyarakat," kata Mendikbud yang kutip dari JPNN (11/07/17).

Dalam PPK, guru harus bisa mengolah situasi supaya siswa mempunyai 4C. Yakni, critical thinking, communication skill, creativity and innovation, serta collaboration. Pentingnya penguasaan 4C sebagai sarana meraih kesuksesan, khususnya di masa 21, masa di mana dunia berkembang dengan sangat cepat dan dinamis.

"Untuk itu pembelajaran tidak hanya mengandalkan kelas. Guru harus bisa mengajak siswa lebih aktif, memecahkan masalah, bekerja dalam tim, saling menghormati dan menghargai," kata Guru Besar Universitas Negeri Malang ini dikala di Mataram.

Ia menyebutkan, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 ihwal Hari Sekolah sebagai pintu masuk penerapan PPK melalui pengaturan jam kerja guru. Diharapkan acara mencar ilmu siswa tidak membosankan lantaran dilakukan di kelas saja, tapi lebih menyenangkan lantaran melalui bermacam-macam metode yang dikelola guru.

Tak Ada Paksaan Untuk Terapkan 5 Hari Sekolah

11:33:00 PM
Sekolah lima hari hanya untuk sekolah yang siap Tak Ada Paksaan Untuk Terapkan 5 Hari Sekolah
Sekolah lima hari hanya untuk sekolah yang siap.
Tidak ada paksaan bagi satuan pendidikan untuk melakukan lima hari sekolah per pekan pada tahun fatwa gres 2017/2018. Hari sekolah yang diatur di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017. Sekolah lima hari hanya untuk sekolah yang siap sesuai dengan Permendikbud 23 Tahun 2017 perihal Hari Sekolah.

"Sesuai dengan pasal 9, bisa dilakukan secara bertahap," kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) Ari Santoso yang kutip dari JPNN (02/07/17).

Aturan perihal hari sekolah tersebut, merupakan hal teknis yang sanggup dipilih satuan pendidikan dengan mempertimbangkan kemampuan dan ketersediaan sumber daya. Masyarakat dibutuhkan tidak terjebak pada perdebatan perihal lima hari atau enam hari, tapi kembali pada semangat penguatan huruf melalui jadwal Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

"Sudah ada sekolah-sekolah percontohan penerapan praktik baik PPK di aneka macam wilayah di Indonesia yang melakukan kegiatan lima hari sekolah. Hari Sabtu dan Minggu bisa dipakai menjadi hari keluarga. Pertemuan anak dan orang renta menjadi lebih berkualitas," terang Ari.

Ari menegaskan, lima hari sekolah bukan berarti siswa harus berguru di dalam kelas terus menerus. Ada bermacam-macam acara berguru yang dilakukan dengan bimbingan dan training guru. Beragam kegiatan yang bisa dilakukan misalnya, mengaji, pramuka, palang merah remaja.

Selain itu kegiatan yang terkait upaya mendukung pencapaian tujuan pendidikan, menyerupai berguru budaya bangsa di museum atau sanggar seni budaya. Diharapkan acara berguru siswa tidak membosankan alasannya dilakukan secara tatap muka di kelas saja, tapi lebih menyenangkan alasannya melalui bermacam-macam metode yang dikelola guru dan sekolah.

Membela Negara Berbekal Budaya

7:18:00 AM
 Membela negara tak selalu identik dengan berseragam loreng Membela Negara Berbekal Budaya

Membela negara tak selalu identik dengan berseragam loreng, mengangkat senjata dan bertempur. Berbahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan salah satu bentuk dari bela negara. Selain itu berperilaku santun dan berbudaya juga sanggup dikategorikan sebagai sikap yang menjunjung tinggi nilai-nilai patriotisme. Hal itu diungkapkan oleh anggota dewan perwakilan rakyat Dedi Gumilar alias Miing dikala memperlihatkan pembekalan pada Kongres Himpunan Sekolah Asrama Indonesia di SMAT Krida Nusantara beberapa waktu kemudian (PR, “08/05/2017”). Menurutnya, budaya tidak selalu berarti kesenian, namun juga cara berpikir seseorang dalam memandang sebuah persoalan.

Apa yang disampaikan oleh mantan pelawak tersebut memang bukan tanpa alasan. Degradasi moral di kalangan dewasa merupakan problem utama yang dikala ini dihadapi oleh bangsa yang telah lebih dai 71 tahun merayakan kemerdekaannya tersebut. Berdasarkan laporan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), aneka macam problem menyerupai seks bebas, alkohol dan Narkoba kerap kali mengintai para dewasa yang sedang dalam proses tumbuh kembang itu. Selain itu ujaran kebencian (di media sosial) pun nampaknya semakin sulit dijauhkan dari dewasa yang juga dikenal sebagai generasi digital (digital native) ini. Berbagai permasalahan tersebut muncul seiring dengan masa transisi yang dialaminya.

Beragam upaya tolong-menolong telah dilakukan oleh pemerintah melalui pihak sekolah untuk mendorong dewasa biar berperilaku positif. Sejak tahun 2015 kemudian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan sebuah jadwal yang diberi nama Program Penumbuhan Budi Pekerti (PPBP). Program yang berorientasi pada pembentukan huruf siswa tersebut diperlukan bisa mengatasi permasalahan degradasi moral serta lunturnya rasa cinta tanah air (nasionalisme) yang dikala ini tengah menjangkiti generasi muda kita. Dalam hal ini sekolah berperan sebagai ujung tombak dalam upaya menghidupkan kembali semangat kebhinekaan serta menanamkan pendidikan huruf kepada penerima didiknya.

Baca: Menanamkan Budaya Daerah Pada Anak Sekolah Dasar

Adapun bentuk kegiatan wajib untuk menunjang jadwal tersebut antara lain pelaksanaan upacara bendera pada hari senin, menyanyikan lagu Indonesia Raya dikala hendak memulai pelajaran, serta membiasakan membaca buku selama 15 menit setiap hari. Selain itu menanamkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pun menjadi bab tak terpisahkan dari upaya pembentukan karakater siswa. Melalui aneka macam kegiatan tersebut, diperlukan akan lahir siswa-siswa yang mempunyai kecerdikan pekerti luhur sehingga mereka bisa menjadi bab dari solusi atas aneka macam problem yang ada di masyarakat.

Sayangnya, jadwal yang digadang-gadang bisa melahirkan generasi unggul berkarakter tersebut nyaris tak terdengar lagi. Pergantian pucuk pimpinan di tingkat Kementerian nyatanya kuat terhadap program-program yang tengah dijalankan. Alih-alih melanjutkan jadwal yang ada, pimpinan yang gres justru memberlakukan kebijakan gres yang juga tidak dijamin keberlangsungannya di masa yang akan datang.

Di tengah ketidakmampuan pemerintah dalam membuat lingkungan bagi tumbuh kembangnya insan-insan yang berbudaya, peran guru sebagai garda terdepan dalam upaya pembentukan huruf anak menjadi sebuah keniscayaan. Guru diperlukan bisa memposisikan dirinya sebagai “penunjuk jalan” atau kompas moral bagi anak didiknya dalam berperilaku. Datang ke sekolah sempurna waktu, senantiasa berbicara dengan bahasa yang baik dan benar serta tidak merokok di lingkungan sekolah merupakan sikap yang harus ditunjukkan oleh guru di hadapan murid-muridnya. Selain itu berupaya meningkatkan kompetensinya melalui bacaan-bacaan yang sesuai dengan bidangnya juga perlu dilakukan oleh guru dalam rangka menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan serta memahami perbedaan huruf penerima didik. Dengan demikian, keinginan akan lahirnya generasi yang pintar dan berakhlak mulia pun sanggup benar-benar terwujud.

*) Ditulis oleh Ramdan Hamdani. Guru SDIT Alamy Subang, Jawa Barat.

Karakter Yang Dapat Menciptakan Guru Jadi Profesional

7:06:00 AM
Karakter yang Bisa Membuat Guru Makara Profesional Karakter yang Bisa Membuat Guru Makara Profesional
Karakter inilah yang sanggup menciptakan seorang guru menjadi profesional.
Guru yang mengajar di kelas dari hari ke hari mempunyai dua ujung sebagai perjalanan kariernya. Ujung yang pertama ialah rutinitas, artinya guru itu akan jadi orang yang pasif, terjebak rutinitas, cenderung bekerja demi harapkan honor dan dukungan di final bulan. Ujung kedua ialah guru semakin cinta pada profesi dan terus meningkatkan diri serta merasa hidupnya ‘berkah’ alasannya ialah mengajar dan membuatkan ilmu.

Baca: Guru yang Profesional dan Keren Itu Seperti Ini

Pasti semua dari kita ingin menjadi guru yang menemui ujung kedua menyerupai di atas. Untuk hingga ke sana tidak sanggup tidak seorang guru membutuhkan karakter. Sebuah abjad yang memang tidak gampang untuk dipraktekkan serta berafiliasi dengan banyak faktor lain. Karakter apa saja yang sanggup menciptakan seorang guru menjadi profesional? Agus Sampurno di blognya gurukreatif.wordpress.com menulis, setidaknya ada 5 abjad guru yang profesional.

1. Percaya diri

Dalam mempersiapkan dan merencanakan pengajaran di kelas sanggup saja guru menyampaikan semua yang akan diajarkannya sudah ada di ‘luar kepala’ hal ini berarti sama saja menyampaikan sebagai guru ia anti terhadap acara mencar ilmu lagi. Padahal bukan menyerupai itu guru yang percaya diri.

Guru yang percaya diri akan sekuat tenaga mempersiapkan sambil tetap percaya diri kalau ada duduk masalah yang timbul ketika ia sedang melaksanakan perencanaan pengajarannya. Ia yakin sesulit apapun duduk masalah yang timbul ketika ia sedang melaksanakan hasil perencanaan pengajarannya, tetap akan menunjukkan pengalaman dan masukan bagi karier mengajarnya di masa depan.

2. Rendah hati

Karakter ini menciptakan seorang guru berpikiran terbuka serta gampang mendapatkan hal-hal baru. Di depan siswa atau sesama guru ia terus jelas kalau tidak tahu. Maklum di tengah pesatnya pertumbuhan dan kanal informasi, semua orang benar-benar mesti mencar ilmu kembali dan bersedia menjadi seorang pembelajar. Hal ini menciptakan ia menjadi kawan mencar ilmu yang mengasyikkan bagi siswa dan sesama guru.

Karakter rendah hati juga menjadi pembuka jalan bagi masuknya ilmu baru. Di sebuah sekolah kalau semua gurunya rendah hati akan terjadi transfer ilmu dan terbentuk komunitas pembelajar, alasannya ialah semua orang dihargai dari apa bantuan tenaga dan ilmunya dan bukan dari seberapa seniornya ia di sekolah.

3. Berpikiran terbuka

Dengan berpikiran terbuka guru jadi gampang untuk mendapatkan perbedaan dan bahagia akan perubahan. Di kelas dan sekolah semenjak dulu siswa dibagi menjadi murid yang ‘pintar’, ‘bodoh’ dan ‘sedang-sedang saja’. Belum ada pikiran yang terbuka yang menyampaikan bahwa setiap anak ialah unik dan sanggup menjadi ‘juara’ di bidangnya masing-masing. Saat guru berpikiran terbuka ia akan sanggup sekuat tenaga menciptakan setiap siswa di kelasnya meraih masa depan sesuai potensinya.

Dengan pikiran terbuka guru juga jadi gampang untuk menyerap ilmu dari siapa saja tanpa mesti katakan “aah saya sudah tahu” atau “ah saya sudah pernah menerapkan” alasannya ialah di masa kini ini ilmu sanggup tiba dari siapa saja, ia sanggup tiba dari buku dan media massa, sesama guru, orang renta siswa bahkan dari siswa kita di kelas.

4. Menghargai proses

Saat mengajar sering guru pulang ke rumah dalam keadaan yang sangat lelah. Sering juga dilanda kebosanan sambil berucap dalam hati “seperti inikah rasanya jadi guru”. Sebagai insan biasa masuk akal sekali kalau perasaan itu datang. Semua perasaan tersebut akan hilang kalau sebagai guru menghargai proses.

Jika suatu ketika kita gagal atau belum berhasil dalam mengajar, hargailah perjuangan yang diri kita sendiri lakukan. Sebab mengingat-ingat kegagalan tanpa memandang atau menghargai perjuangan diri akan menciptakan malas di lalu hari untuk melaksanakan penemuan dalam mengajar. Ada perasaan khawatir atau takut untuk berubah hanya alasannya ialah pernah gagal. Jika itu terjadi siswa yang akan jadi korban alasannya ialah sebagai guru anda akan tampil biasa-biasa saja dan miskin inovasi.

5. Pandai mengelola waktu

Sebagai seorang yang bekerja dengan manajemen serta kiprah mengajar yang banyak setiap minggunya, guru dituntut untuk pandai mengelola waktu. Bukan cuma siswa di kelas saja yang punya hak terhadap diri kita, namun juga keluarga terdekat kita di rumah yang memerlukan perhatian. Guru yang pandai mengelola waktu membedakan prioritas dalam bekerja, mana yang mesti dikerjakan kini atau yang mesti digarap secara bertahap.

Penguatan Pendidikan Karakter

7:10:00 PM
Konsep pendidikan aksara sesungguhnya ialah konsep pendidikan keteladanan PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

Menteri Pendidikan merevisi istilah yang pernah dilontarkannya sebelumnya yakni full day school menjadi penguatan pendidikan aksara (PPK). Kita tidak tahu kenapa istilahnya berubah sebelum kebijakan itu dilaksanakan. Apa memang full day school tidak cukup seksi untuk dijual atau sebab banyaknya pro kontra yang terjadi selama ini.

Secara substansi istilah penguatan pendidikan aksara lebih dapat diterima dan punya nilai substantif yang tinggi dibandikan istilah full day school. Dari istilahnya saja sudah mencerminkan substansinya. PPK substansinya ialah pada penguatan karakternya, sedangkan FDS substansinya pada waktu yang dihabiskan penerima didik disekolah.

Mungkin sebab aneka macam masukan dari banyak pihak akan substansi tersebut, maka istilah full day school diganti menteri menjadi pendidikan penguatan karakter.

Penulis lebih suka dengan istilah penguatan pendidikan aksara dibandingkan full day school. Tinggal menyerupai apa konsep, materi dan implementasinya disekolah. Tentu itu yang akan kita tunggu.

Namun, hal fundamental yang berdasarkan penulis sangat penting dalam upaya implementasi penguatan pendidikan karakter ini ialah sosok sang guru. Kenapa guru? Karena guru yang akan menjadi role model pendidikan karakter. Guru harus dapat menjadi teladan. Guru sebagai pendidik, bukan pengajar semata. Guru harus terlebih dulu menjadi sosok yang berkharakter. Disamping orang renta juga harus menjadi orang renta yang berkarakter. Karena pendidikan aksara melibatkan tiga pihak sekaligus; orang tua, guru dan masyarakat.

Konsep pendidikan aksara sesungguhnya ialah konsep pendidikan keteladanan. Seperti apa penerima didik yang diinginkan, maka menyerupai itu seharusnya guru yang mengajar. Untuk menanamkan konsep kejujuran contohnya kepada anak, maka harus diajarkan dan diberikan oleh guru yang mempunyai kejujuran dalam dirinya. Sekali lagi sebab pendidikan aksara itu ialah pendidikan keteladanan. Begitu seterusnya dengan nilai-nilai aksara lain menyerupai tanggung jawab, disiplin, sopan santun, kasih sayang, mandiri, terampil dan sebagainya.

Ketika guru menginginkan penerima didik menjaga sholatnya, maka tentu saja sang guru harus terlebih dahulu menjadi orang yang pertama menyambut panggilan azan saat waktu sholat sudah masuk. Ibaratnya menyerupai memandikan kuda. Jangan harap siswa akan menjaga sholatnya saat melihat gurunya saat waktu sholat sudah masuk masih asyik dengan pekerjaannya.

Begitulah konsep keteladanan. Menyampaikan apa yang sudah dilakukan, melaksanakan apa yang sudah disampaikan. Seirama antara perkataan dan perbuatan. Memberikan referensi terlebih dahulu kepada penerima didik sebelum menyuruh mereka melakukannya. Itulah inti pendidikan karakter.

Tentu saja menjadi pekerjaan besar bagi kita semua sebelum konsep pendidikan penguatan aksara ini digulirkan disekolah kepada seluruh penerima didik, maka memastikan bahwa guru yang akan menjadi role model penguatan aksara tersebut sudah siap dilapangan. Kenapa begitu? Karena begitu jadwal ini digulirkan maka pihak yang harus siap pertama kali ialah gurunya bukan siswanya. Siswa pertama kali tentu hanya akan menjadi objek, mencontoh, meniru, menteladani gurunya.

Disinilah pendidikan kita diuji selama ini. Bukan tidak ada konten pendidikan aksara yang diajarkan kepada penerima didik. Pendidikan aksara bukan hanya hari ini adanya. Undang-undang wacana sistem pendidikan nasional sesungguhnya sudah mengamanahkan wacana pendidikan karakter. Dimana tujuan pendidikan nasional ialah membuat penerima didik yang beriman, bertaqwa, mandiri, cakap dan bertanggung jawab sesungguhnya ialah inti dari pendidikan karakter.

Persoalannya bukan sebab belum ada dan kini gres digulirkan. Tetapi lebih kepada konsep keteladanan yang belum menjadi inti (ruh) dari pendidikan aksara selama ini. Peserta didik hanya dibebankan dengan materi dan kurikulum tetapi tidak menyentuh kepada aspek karakternya. Karakter tidak dapat dihafal penerima didik tetapi harus ditransfer dan ditularkan oleh gurunya. Prosesnya panjang dan berkesinambungan. Waktunya sepanjang hari tidak dibatasi oleh jam-jam pelajaran dikelas. Bahkan hingga kerumah dan saat berada dimasyarakat. Hadirnya sosok guru sebagai pendidik, bukan guru sebagai pentransfer ilmu semata menjadi keharusan.

Bagaimana penguatan pendidikan aksara yang diinginkan? Dimulai dengan keteladanan dan pembiasaan. Formatnya disekolah mulai dari adaptasi salam, sapa, senyum semenjak tiba ke sekolah dipagi hari hingga pulang di sore harinya. Pembiasaan ibadah menyerupai sholat berjama’ah di masjid, sholat duha bersama, acara puasa sunnah setiap senin dan kamis, membaca alqur’an sebelum pelajaran dimulai setiap hari, kantin jujur, infaq dan gotong royong. Pembiasaan ini harus menjadi jadwal harian menjadi sebuah kebiasaan bagi seluruh stakeholder di sekolah, mulai dari penjaga sekolah, petugas kebersihan, tenaga kependidikan hingga kepada guru dan kepala sekolah.

Semoga penguatan pendidikan aksara yang diinginkan pemerintah sama dengan apa yang menjadi obsesi penulis diatas. Bukan sekedar penambahan jam pelajaran agama dan budaya disekolah. Bukan sekedar menambah waktu lamanya anak berada disekolah. Kalau hanya sekedar itu yang terjadi tanpa dilandasi oleh konsep keteladanan yang kokoh, maka penguatan pendidikan aksara secara substansi akan kehilangan maknanya dan hanya berganti istilah yang bahwasanya ialah penambahan waktu yang lebih usang disekolah (full day school). Wallahu’alam bissawab.

*) Ditulis oleh Iqbal Anas, S.Pd. Kepala Sekolah SDIT Ma’arif Padang Panjang

Penguatan Pendidikan Karakter

7:10:00 PM
Konsep pendidikan aksara sesungguhnya ialah konsep pendidikan keteladanan PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

Menteri Pendidikan merevisi istilah yang pernah dilontarkannya sebelumnya yakni full day school menjadi penguatan pendidikan aksara (PPK). Kita tidak tahu kenapa istilahnya berubah sebelum kebijakan itu dilaksanakan. Apa memang full day school tidak cukup seksi untuk dijual atau sebab banyaknya pro kontra yang terjadi selama ini.

Secara substansi istilah penguatan pendidikan aksara lebih dapat diterima dan punya nilai substantif yang tinggi dibandikan istilah full day school. Dari istilahnya saja sudah mencerminkan substansinya. PPK substansinya ialah pada penguatan karakternya, sedangkan FDS substansinya pada waktu yang dihabiskan penerima didik disekolah.

Mungkin sebab aneka macam masukan dari banyak pihak akan substansi tersebut, maka istilah full day school diganti menteri menjadi pendidikan penguatan karakter.

Penulis lebih suka dengan istilah penguatan pendidikan aksara dibandingkan full day school. Tinggal menyerupai apa konsep, materi dan implementasinya disekolah. Tentu itu yang akan kita tunggu.

Namun, hal fundamental yang berdasarkan penulis sangat penting dalam upaya implementasi penguatan pendidikan karakter ini ialah sosok sang guru. Kenapa guru? Karena guru yang akan menjadi role model pendidikan karakter. Guru harus dapat menjadi teladan. Guru sebagai pendidik, bukan pengajar semata. Guru harus terlebih dulu menjadi sosok yang berkharakter. Disamping orang renta juga harus menjadi orang renta yang berkarakter. Karena pendidikan aksara melibatkan tiga pihak sekaligus; orang tua, guru dan masyarakat.

Konsep pendidikan aksara sesungguhnya ialah konsep pendidikan keteladanan. Seperti apa penerima didik yang diinginkan, maka menyerupai itu seharusnya guru yang mengajar. Untuk menanamkan konsep kejujuran contohnya kepada anak, maka harus diajarkan dan diberikan oleh guru yang mempunyai kejujuran dalam dirinya. Sekali lagi sebab pendidikan aksara itu ialah pendidikan keteladanan. Begitu seterusnya dengan nilai-nilai aksara lain menyerupai tanggung jawab, disiplin, sopan santun, kasih sayang, mandiri, terampil dan sebagainya.

Ketika guru menginginkan penerima didik menjaga sholatnya, maka tentu saja sang guru harus terlebih dahulu menjadi orang yang pertama menyambut panggilan azan saat waktu sholat sudah masuk. Ibaratnya menyerupai memandikan kuda. Jangan harap siswa akan menjaga sholatnya saat melihat gurunya saat waktu sholat sudah masuk masih asyik dengan pekerjaannya.

Begitulah konsep keteladanan. Menyampaikan apa yang sudah dilakukan, melaksanakan apa yang sudah disampaikan. Seirama antara perkataan dan perbuatan. Memberikan referensi terlebih dahulu kepada penerima didik sebelum menyuruh mereka melakukannya. Itulah inti pendidikan karakter.

Tentu saja menjadi pekerjaan besar bagi kita semua sebelum konsep pendidikan penguatan aksara ini digulirkan disekolah kepada seluruh penerima didik, maka memastikan bahwa guru yang akan menjadi role model penguatan aksara tersebut sudah siap dilapangan. Kenapa begitu? Karena begitu jadwal ini digulirkan maka pihak yang harus siap pertama kali ialah gurunya bukan siswanya. Siswa pertama kali tentu hanya akan menjadi objek, mencontoh, meniru, menteladani gurunya.

Disinilah pendidikan kita diuji selama ini. Bukan tidak ada konten pendidikan aksara yang diajarkan kepada penerima didik. Pendidikan aksara bukan hanya hari ini adanya. Undang-undang wacana sistem pendidikan nasional sesungguhnya sudah mengamanahkan wacana pendidikan karakter. Dimana tujuan pendidikan nasional ialah membuat penerima didik yang beriman, bertaqwa, mandiri, cakap dan bertanggung jawab sesungguhnya ialah inti dari pendidikan karakter.

Persoalannya bukan sebab belum ada dan kini gres digulirkan. Tetapi lebih kepada konsep keteladanan yang belum menjadi inti (ruh) dari pendidikan aksara selama ini. Peserta didik hanya dibebankan dengan materi dan kurikulum tetapi tidak menyentuh kepada aspek karakternya. Karakter tidak dapat dihafal penerima didik tetapi harus ditransfer dan ditularkan oleh gurunya. Prosesnya panjang dan berkesinambungan. Waktunya sepanjang hari tidak dibatasi oleh jam-jam pelajaran dikelas. Bahkan hingga kerumah dan saat berada dimasyarakat. Hadirnya sosok guru sebagai pendidik, bukan guru sebagai pentransfer ilmu semata menjadi keharusan.

Bagaimana penguatan pendidikan aksara yang diinginkan? Dimulai dengan keteladanan dan pembiasaan. Formatnya disekolah mulai dari adaptasi salam, sapa, senyum semenjak tiba ke sekolah dipagi hari hingga pulang di sore harinya. Pembiasaan ibadah menyerupai sholat berjama’ah di masjid, sholat duha bersama, acara puasa sunnah setiap senin dan kamis, membaca alqur’an sebelum pelajaran dimulai setiap hari, kantin jujur, infaq dan gotong royong. Pembiasaan ini harus menjadi jadwal harian menjadi sebuah kebiasaan bagi seluruh stakeholder di sekolah, mulai dari penjaga sekolah, petugas kebersihan, tenaga kependidikan hingga kepada guru dan kepala sekolah.

Semoga penguatan pendidikan aksara yang diinginkan pemerintah sama dengan apa yang menjadi obsesi penulis diatas. Bukan sekedar penambahan jam pelajaran agama dan budaya disekolah. Bukan sekedar menambah waktu lamanya anak berada disekolah. Kalau hanya sekedar itu yang terjadi tanpa dilandasi oleh konsep keteladanan yang kokoh, maka penguatan pendidikan aksara secara substansi akan kehilangan maknanya dan hanya berganti istilah yang bahwasanya ialah penambahan waktu yang lebih usang disekolah (full day school). Wallahu’alam bissawab.

*) Ditulis oleh Iqbal Anas, S.Pd. Kepala Sekolah SDIT Ma’arif Padang Panjang

Guru Akan Diberi Bahan Pendidikan Karakter

7:28:00 AM
Mendikbud meminta LPMP biar sanggup memasukkan kegiatan PPK dalam pembinaan Kurikulum  Guru Akan Diberi Materi Pendidikan Karakter
Mendikbud meminta LPMP biar sanggup memasukkan kegiatan PPK dalam pembinaan Kurikulum 2013.
Pemerintah dikala ini tengah memperkuat pendidikan abjad di sekolah melalui kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Untuk itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mendorong Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) biar sanggup memasukkan kegiatan PPK dalam pembinaan Kurikulum 2013.

Baca: Modul Penguatan Pendidikan Karakter Bagi Guru

"Penerapan kurikulum 2013 sanggup diterjemahkan dalam implementasinya disinkronkan kepada kebijakan pemerintah, khususnya dalam penerapan Penguatan Pendidikan Karakter. Program PPK sanggup menyatu dalam penerapan kurikulum pendidikan yang dijalankan," kata Mendikbud yang kutip dari Okezone (04/05/17).

Mendikbud menyampaikan sampai dikala ini PPK sudah diterapkan di 1.500 sekolah. Ia berharap Kurikulum 2013 sanggup menyesuaikan pada kegiatan PPK. Pelatihan yang dikala ini dilakukan sanggup memasukkan bahan ihwal PPK, alasannya yakni tahun ini ditargetkan sebanyak 15 ribu sekolah akan menerapkan kegiatan PPK.

Sesuai dengan isyarat dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), dasar penerapan pendidikan abjad dibedakan atas jenjang pendidikan. Untuk jenjang sekolah dasar (SD) porsi pendidikan abjad sebesar 70%, sekolah menengah pertama (SMP) 60%, serta sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat 40% dan sisanya ilmu pengetahuan.

Jumlah Mata Pelajaran Di Sd Akan Dikurangi, Tetapi ....

6:53:00 PM
Pemberian mata pelajaran hanya akan diberikan paling banyak tiga mata pelajaran per hari dengan durasi waktu tiga kali 45 menit.
Sistem pendidikan di tingkat SD (SD) mulai tahun aliran 2017/2018 mendatang akan mengalami perubahan cukup drastis. Guru dan siswa SD wajib berada di sekolah selama 8 jam per hari, namun sistem asuh dilarang lagi semata-mata diisi dengan pinjaman mata pelajaran di ruang kelas.

Nantinya pinjaman mata pelajaran oleh guru di ruang kelas hanya akan diberikan paling banyak tiga mata pelajaran per hari dengan durasi waktu tiga kali 45 menit. Setelah itu, pendidikan diisi dengan acara yang sifatnya lebih ditekankan pada penguatan pendidikan aksara siswa.

Dengan kewajiban usang acara mencar ilmu 8 jam per hari, maka pada Sabtu dan Ahad akan menjadi hari libur bagi siswa dan guru. Kecuali kalau pada Sabtu diadakan acara ekstrakurikuler. Kegiatan mencar ilmu setiap hari akan dimulai pukul 07.00, dan pulang pukul 15.00. Ketentuan ini, berlaku untuk semua sekolah SD di Indonesia, baik negeri maupun swasta.

Baca: Contoh Jadwal Full Day School untuk Sekolah Dasar

Terkait perubahan acara mencar ilmu tersebut, telah dikeluarkan surat edaran (SE) yang ditujukan pada pemerintah daerah. Berdasarkan SE tersebut, untuk pendidikan dasar, acara mencar ilmu yang dilaksanakan harus 70 persen menekankan pada pendidikan aksara dan 30 persen ilmu pengetahuan.

"Tujuan perubahan acara mencar ilmu ini, semata-mata untuk meningkatkan porsi penguatan pendidikan aksara bagi siswa," terang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi ketika menghadiri program pencanangan penguatan pendidikan aksara di Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Kamis (27/4).

Jumlah Mata Pelajaran Di Sd Akan Dikurangi, Tetapi ....

6:53:00 PM
Pemberian mata pelajaran hanya akan diberikan paling banyak tiga mata pelajaran per hari dengan durasi waktu tiga kali 45 menit.
Sistem pendidikan di tingkat SD (SD) mulai tahun aliran 2017/2018 mendatang akan mengalami perubahan cukup drastis. Guru dan siswa SD wajib berada di sekolah selama 8 jam per hari, namun sistem asuh dilarang lagi semata-mata diisi dengan pinjaman mata pelajaran di ruang kelas.

Nantinya pinjaman mata pelajaran oleh guru di ruang kelas hanya akan diberikan paling banyak tiga mata pelajaran per hari dengan durasi waktu tiga kali 45 menit. Setelah itu, pendidikan diisi dengan acara yang sifatnya lebih ditekankan pada penguatan pendidikan aksara siswa.

Dengan kewajiban usang acara mencar ilmu 8 jam per hari, maka pada Sabtu dan Ahad akan menjadi hari libur bagi siswa dan guru. Kecuali kalau pada Sabtu diadakan acara ekstrakurikuler. Kegiatan mencar ilmu setiap hari akan dimulai pukul 07.00, dan pulang pukul 15.00. Ketentuan ini, berlaku untuk semua sekolah SD di Indonesia, baik negeri maupun swasta.

Baca: Contoh Jadwal Full Day School untuk Sekolah Dasar

Terkait perubahan acara mencar ilmu tersebut, telah dikeluarkan surat edaran (SE) yang ditujukan pada pemerintah daerah. Berdasarkan SE tersebut, untuk pendidikan dasar, acara mencar ilmu yang dilaksanakan harus 70 persen menekankan pada pendidikan aksara dan 30 persen ilmu pengetahuan.

"Tujuan perubahan acara mencar ilmu ini, semata-mata untuk meningkatkan porsi penguatan pendidikan aksara bagi siswa," terang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi ketika menghadiri program pencanangan penguatan pendidikan aksara di Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Kamis (27/4).