Showing posts with label Hasil Belajar. Show all posts
Showing posts with label Hasil Belajar. Show all posts

Faktor-Faktor Yang Mensugesti Prestasi Belajar

6:38:00 PM
Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi berguru yaitu perjuangan maksimal yang dicapai oleh seseorang sesudah melakukan usaha-usaha belajar.
Proses berguru pada hakikatnya merupakan acara mental yang tidak sanggup dilihat. Artinya, proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang berguru tidak sanggup kita saksikan. Kita hanya sanggup menyaksikan adanya gejala-gejala perubahan sikap yang tampak.

Banyak teori yang membahas perihal terjadinya perubahan tingkah laris diantaranya aliran behavioristik dan aliran holistik. Menurut aliran behavioristik, berguru pada hakikatnya yaitu pembentukan asosiasi antara kesan yang yang ditangkap panca indra dengan kecenderungan untuk bertindak atau berafiliasi antara stimulus dan respons (S-R). Tokoh-tokoh aliran ini antara lain Thorndike, Skiner, Pavlop, Hull, dan Guthrie (Sanjaya 2006:114).

Menurut aliran kognitif, berguru merupakan proses pengembangan insight. Insight yaitu pemahaman terhadap hubungan antar penggalan di dalam suatu situasi permasalahan. Teori-teori yang termasuk ke dalam kelompok kognitif holistik diantaranya teori Gestalt, teori Medan , teori Organismik, teori Humanistik, teori konstruktivistik (Sanjaya 2006:115). Teori medan yang bersumber dari aliran psikologi kognitif atau psikologi gestalt menjelaskan bahwa keseluruhan lebih memberi makna daripada bagian-bagian terpisah.

Belajar dianggap sebagai proses perubahan sikap sebagai akhir dari pengalaman dan latihan. Menurut Hilgard (dalam Sanjaya 2006:113) berguru yaitu proses perubahan melalui acara atau mekanisme latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah. Sanjaya (2006:112) mengemukakan bahwa berguru yaitu proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga mengakibatkan munculnya perubahan perilaku.

Belajar dalam arti mengubah tingkah laku, akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, pembiasaan diri. Menurut Hamalik (2002:57).

Pembelajaran yaitu suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi (siswa dan guru), material (buku, papan tulis, kapur dan alat belajar), akomodasi (ruang, kelas audio visual), dan proses yang saling mensugesti mencapai tujuan pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa secara umum pembelajaran yaitu suatu acara yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laris siswa berubah ke arah yang lebih baik.

Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi berguru merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Maka prestasi berguru merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang sesudah melakukan usaha-usaha belajar. Sedangkan berdasarkan Arif Gunarso (1993:77) mengemukakan bahwa prestasi berguru yaitu perjuangan maksimal yang dicapai oleh seseorang sesudah melakukan usaha-usaha belajar.

Prestasi berguru di bidang pendidikan yaitu hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor sesudah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan memakai instrumen tes atau instrumen yang relevan. Makara prestasi berguru yaitu hasil pengukuran dari evaluasi perjuangan berguru yang dinyatakan dalam bentuk simbol, aksara maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu. Prestasi berguru merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor sesudah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan memakai instrumen tes yang relevan.

Prestasi berguru sanggup diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar. Menurut Saifudin Azwar (2005:8-9) mengemukakan perihal tes prestasi berguru kalau dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan sesorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang sanggup dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi berguru berupa tes yang disusun secara terrencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam acara pendidikan formal tes prestasi berguru sanggup berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan UAN dan ujian-ujian masuk akademi tinggi.

Faktor-Faktor yang mensugesti prestasi berguru antara lain:

1. Faktor Intern
Faktor intern yaitu faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri. Faktor ini meliputi:

a. Faktor fisiologi (yang bersifat fisik) yang meliputi:
1) Karena sakit
Seorang yang sakit akan mengalami kelemahan fisiknya, sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah. Akibatnya ransangan yang diterima melalui inderanya lama, sarafnya akan bertambah lemah
2) Karena cacat badan

b. Faktor psikologi (faktor yang bersifat rohani) meliputi:

1) Intelegensi

Setiap orang mempunyai tingkat IQ yang berbeda-beda. Seseorang yang mempunyai IQ 110-140 sanggup digolongkan cerdas, dan yang mempunyai IQ 140 keatas tergolong jenius. Golongan ini mempunyai potensi untuk sanggup menuntaskan pendidikan di Perguruan Tinggi. Seseorang yang mempunyai IQ kurang dari 90 tergolong lemah mental, mereka inilah yang banyak mengalami kesulitan belajar.

2) Bakat

Bakat yaitu potensi atau kecakapan dasar yang dibawa semenjak lahir. Setiap individu mempunyai talenta yang berbeda-beda. Seseorang akan lebih gampang mempelajari sesuatu yang sesuai dengan bakatnya

3) Minat

Tidak adan ya minat seorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhannya, tidak sesuai dengan kecakapan dan akan mengakibatkan problema pada diri anak.

4) Motivasi

Motivasi sabagai faktor dalam (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari dan mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi sanggup menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan, sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya.

5) Faktor Kesehatan Mental

Hubungan kesehatan mental dengan berguru yaitu timbal balik. Kesehatan mental dan ketenangan emosi akan mengakibatkan hasil berguru yang baik demikian juga berguru yang selalu sukses akan membawa harga diri seseorang.

2. Faktor Ekstern

Faktor ekstern yaitu faktor-faktor yang sanggup mensugesti prestasi berguru yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya.
Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memperlihatkan paksaan kepada individu. Menurut Slameto (1995:60) faktor ekstern yang sanggup mensugesti berguru yaitu “keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat.”

Faktor sekolah yang mensugesti berguru meliputi metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dengan siswa, hubungan siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode berguru dan kiprah rumah (Slameto, 2003:64-69).

Untuk lebih jelasnya faktor-faktor tersebut akan dibahas sebagai berikut:

a) Metode Mengajar

Metode mengajar yaitu suatu cara/jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mensugesti berguru siswa yang tidak baik pula. Guru perlu mencoba metode-metode mengajar yang baru, yang sanggup membantu meningkatkan acara berguru mengajar, dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.

b) Kurikulum

Kurikulum diartikan sebagai sejumlah acara yang diberikan kepada siswa. Kurikulum yang kurang baik besar lengan berkuasa tidak baik terhadap belajar. Kurikulum yang tidak baik itu contohnya kurikulum yang terlalu padat, di atas kemampuan siswa, tidak sesuai dengan bakat, minat dan perhatian siswa.

c) Relasi Guru dengan Siswa

Proses berguru mengajar terjadi antara guru dengan siswa. Cara berguru siswa juga dipengaruhi oleh relasinya dengan gurunya. Di dalam hubungan guru dengan siswa yang baik, maka siswa akan berusaha mempelajari mata pelajaran yang diberikannya dengan baik.

d) Relasi Siswa dengan Siswa

Siswa yang mempunyai sifat atau tingkah laris yang kurang menyenangkan, akan diasingkan dari kelompoknya. Akibatnya anak akan menjadi malas untuk masuk sekolah alasannya yaitu di sekolah mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman-temannya.

e) Alat Pelajaran

Alat pelajaran yang lengkap dan sempurna akan memperlancar penerimaan materi pelajaran yang diberikan kepada siswa. Tetapi kebanyakan sekolah masih kurang mempunyai media dalam jumlah maupun kualitasnya.

f) Disiplin Sekolah

Kedisiplinan dekat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar. Agar siswa disiplin haruslah guru beserta staf yang lain disiplin pula, alasannya yaitu sanggup memberi dampak yang positif terhadap belajarnya.

g) Waktu Sekolah

Waktu sekolah sanggup terjadi pada pagi hari, siang, sore/malam hari. Tetapi waktu yang baik untuk sekolah yaitu pada pagi hari dimana pikiran masih segar, jasmani dalam kondisi yang baik sehingga siswa akan gampang berkonsentrasi pada pelajaran.

h) Standar Pelajaran di Atas Ukuran

Guru berpendirian untuk mempertahankan wibawanya, perlu memberi pelajaran di atas ukuran standar. Padahal guru dalam menuntut penguasaan materi harus sesuai dengan kemampuan siswa.

i) Keadaan Gedung

Dengan jumlah siswa yang banyak serta bervariasi karakteristik mereka masing-masing menuntut keadaan gedung cukup umur ini harus memadai di dalam setiap kelas.

j) Metode Belajar

Siswa perlu berguru teratur setiap hari, dengan pembagian waktu yang baik, menentukan cara berguru yang sempurna dan cukup istirahat akan meningkatkan hasil belajarnya.

k) Tugas Rumah

Kegiatan anak di rumah bukan hanya untuk belajar, melainkan juga dipakai untuk kegiatan-kegiatan lain. Maka dibutuhkan guru jangan terlalu banyak memberi kiprah yang harus dikerjakan di rumah.

Identifikasi Kemampuan Awal Dan Kesulitan Belajar

11:02:00 PM
Identifikasi Kemampuan Awal dan Kesulitan Belajar Identifikasi Kemampuan Awal dan Kesulitan Belajar
Identifikasi Kemampuan Awal dan Kesulitan Belajar
Keragaman karakteristik sikap dan eksklusif akseptor didik dipengaruhi banyak faktor. Guru perlu termotivasi dan bekerja keras menentukan keadaan karakteristik sikap dan eksklusif akseptor didik dengan cermat sebelum memulai pembelajaran. Tidak semua akseptor didik berhasil mencapai tujuan-tujuan berguru sesuai dengan taraf kualifikasi yang diharapkan. Indikasi kegagalan mencapai tujuan berguru perlu diidentifikasi secara jujur dan cermat untuk mendapatkan solusi kreatif dan tepat.

1. Identifikasi Kemampuan Awal


Untuk mengetahui apakah perubahan sikap atau tingkat prestasi berguru yang dicapai itu yakni hasil pembelajaran yang bersangkutan, maka kita perlu menentukan keadaan karakteristik sikap dan eksklusif siswa pada dikala mereka akan memasuki dan memulai pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran antara lain dipengaruhi oleh karakteristik akseptor didik baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Meskipun guru menghadapi kelompok kelas yang terdiri dari akseptor didik yang mempunyai umur yang relatif sama, namun mereka tidak sanggup diberi perlakukan yang sama. Oleh alasannya itu pada awal pembelajaran guru harus meneliti dahulu kemampuan awal akseptor didik, alasannya menjadi dasar bagaimana pembelajaran sebaiknya direncanakan dan apakah indikator pembelajaran yang semula dirumuskan harus mengalami perubahan. Apalagi bila sikap awal berkaitan dengan kemampuan prasyarat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Makmun (2002:224) dengan mengetahui citra wacana entering behavior akseptor didik, maka akan menawarkan banyak proteksi kepada guru, diantaranya sebagai berikut ini :

a.Untuk mengetahui seberapa jauh adanya kesamaan individual antara akseptor didik dalam taraf kesiapannya, kematangan, serta tingkat penguasaan dari pengetahuan dan ketarampilan dasar sebagai landasan bagi penyajian materi baru.
b.Dapat mempertimbangkan dalam menentukan bahan, prosedur, metode, teknik dan alat bantu belajar-mengajar yang sesuai.
c.Membandingkan nilai pre-tes dengan post-tes sehingga diperoleh indikator atau petunjuk seberapa banyak perubahan sikap itu telah terjadi pada akseptor didik, sebagai hasil efek dari pembelajaran.

Hal penting bagi guru sebelum merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, seyogyanya sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Dengan memperhatikan tingkatan kelas, jenis bidang studi, usia, dan waktu yang tersedia dan terencana.

a.Sejauh manakah batas-batas (jenis dan ruang lingkup materi pengetahuan yang telah diketahui dan dikuasai akseptor didik yang akan kita ajar?
b.Tingkat dan tahap serta jenis kemampuan (kognitif, afektif, psikomotor) manakah yang telah dicapai dan dikuasai akseptor didik yang akan kita ajar?
c.Apakah siswa sudah cukup siap dan matang (secara intelektual dan emosional) untuk mendapatkan materi dan pola-pola sikap yang akan kita ajarkan itu?

2. Identifikasi Kemampuan Awal Peserta Didik

a.Identifikasi Jenis dan Ruang Lingkup Pengetahuan yang Telah Diketahui dan Dikuasai Peserta Didik
1) Pada dikala memulai pembelajaran berikan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang telah diberikan terdahulu (apersepsi).
2) Memberikan pre-tes dengan memakai instrumen pengukuran prestasi berguru yang memadai syarat (validitas, realibilitas dan sebagainya) sebelum pembelajaran.
b.Identifikasi Tingkat dan Tahap serta Jenis Kemampuan (Kognitif, Afektif, Psikomotor) yang telah dicapai oleh akseptor didik.

3. Implementasi dalam Pembelajaran

Hal -hal yang harus dilakukan guru dalam memahami kemampuan awal atau sikap awal akseptor didik antara lain sebagai berikut ini.
a.Pada awal setiap pembelajaran, guru harus mengindentifikasi dulu sikap awal atau kemampuan awal akseptor didik, baik aspek pengetahuan yang telah dikuasainya, aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
b.Tidak setiap aspek kemampuan akseptor didik pada awal pembelajaran sama pentingnya.
c.Bila menyangkut kemampuan yang menjadi prasyarat untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka guru harus menawarkan beberapa pertanyaan secara verbal kepada kelas atau menawarkan tes awal berupa tes tulis singkat.
d.Perbedaan karakteristik dalam kemampuan awal antara kelas yang satu dengan kelas lainnya, antara akseptor didik yang satu dengan akseptor didik lainnya dalam satu kelas, harus menjadi dasar pertimbangan perencanaan dan pengelolaan pembelajaran.
e.Saat akan melaksanakan pembelajaran kenali minat, motivasi belajar, dan sikap berguru akseptor didik sehingga guru sanggup memakai metode dan media pembelajaran yang menarik serta bagaimana cara guru meningkatkan minat, sikap dan motivasi berguru pada mata pelajaran yang bapak/ibu ampu.
f.Pemahaman sikap awal mengenai aspek kesehatan fisik dan sensori-motorik, menjadi pertimbangan dalam menawarkan materi atau kiprah yang melibatkan kegiatan fisik dan psikomotor.

4. Kesulitan Belajar

Apabila akseptor didik memperlihatkan kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya, maka akseptor didik dikatakan mengalami kesulitan belajar.
a.Ciri Peserta Didik Gagal Mencapai Tujuan Belajar Menurut Burton (Makmun, 2002: 307) akseptor didik dikatakan gagal kalau mempunyai ciri-ciri sebagai berikut ini.
1) Dalam batas waktu yang ditentukan akseptor didik tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau penguasaan minimal yang telah ditetapkan oleh guru.
2) Tidak sanggup mengerjakan atau mencapai prestasi yang seharusnya sesuai dengan tingkat intelegensinya. Kasus akseptor didik ini disebut underachievers (prestasinya tidak sesuai dengan kemampuan intelektualnya)
3) Tidak mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk pembiasaan sosial sesuai dengan teladan organisme pada fase perkembangan tertentu. Kasus ini tersebut dikatakan ke dalam slow learners (peserta didik yang lambat belajar).
4) Tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang dibutuhkan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya. Kasus akseptor didik ini sanggup dikategorikan ke dalam slow learners atau belum matang sehingga mungkin harus menjadi pengulang.

b.Diagnostik Kesulitan Belajar
1) Diagnosis merupakan istilah teknis yang diadopsi dari dunia medis. Disimpulkan dari pendapat Thorndike dan Hagen, Makmun (2009:307) menyatakan bahwa diagnosis yakni suatu proses menemukan kelemahan yang dialami seseorang melalui suatu pengujian dan studi yang seksama terhadap gejala-gejalanya sebagai upaya menemukan karakteristik atau kelemahan-kelemahan yang esensial untuk menciptakan suatu keputusan.
2) Pengertian Kesulitan Belajar Suatu proses yang berusaha untuk memahami jenis dan karakteristik kesulitan berguru serta latar belakang kesulitan-kesulitan berguru dengan cara mengumpulkan dan memakai data selengkap dan seobjektif mungkin sehingga sanggup mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternatif pemecahan masalah.
3) Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar Langkah diagnostik kesulitan berguru berdasarkan Ross dan Stanley (Makmun, 2004: 309) itu sebagai berikut ini:

a) Siapa yang mengalami gangguan ?
b) Di manakah kelemahan itu terjadi ?
c) Mengapa kelemahan itu terjadi ?
d) Penyembuhan apakah yang disarankan ?
e) Bagaimana kelemahan itu sanggup dicegah ?

c.Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Untuk memahami karakteristik dan faktor-faktor penyebab kesulitan berguru secara seksama, Burton (Makmun, 2002:310) melaksanakan diagnostik kesulitan berguru berdasarkan pada teknik dan instrumen yang pelaksanaannya yaitu sebagai berikut ini.
1) Diagnosis Umum Pada tahap ini biasa dipakai tes baku, menyerupai yang dipakai untuk penilaian dan pengukuran psikologis dan hasil belajar. Tujuannya untuk menemukan siapakah yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
2) Diagnosis Analitik Pada tahap ini biasanya dipakai tes diagnosis. Tujuannya untuk mengetahui di mana letak kelemahan tersebut.
3) Diagnosis Psikologi Pada tahap ini teknik, pendekatan, dan instrumen yang dipakai antara lain sebagai berikut
a) Observasi,
b) Analisis karya tulis,
c) Analisi proses dan respon lisan,
d) Analisis aneka macam catatan objektif,
e) Analisi aneka macam catatan objektif,
f) Wawancara,
g) pendekatan laboratories dan klinis, h) Studi kasus.
d.Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar

Berikut yakni rincian langkah-langkah diagnostik kesulitan belajar.
1)Identifikasi Kasus
Identifikasi kasus bertujuan untuk menandai dan menemukan akseptor didik yang mengalami kesulitan belajar.
a) Untuk mengetahui akseptor didik yang diduga mengalami kesulitan berguru dilakukan dengan membandingkan nilai akseptor didik dengan kriteria yang telah ditetapkan sebagai batas lulus (KKM, rata-rata kelas). Peserta didik yang prestasi belajarnya di bawah KKM diduga mempunyai kesulitan belajar. Mereka yang berada di bawah KKM diranking, untuk menentukan prioritas pemberian bantuan. Semakin jauh perbedaan antara nilai akseptor didik dengan KKM maka kesulitan belajarnya semakin besar. Apabila secara umum dikuasai dari akseptor didik nilainya berada di bawah KKM, maka termasuk kasus kelompok. Bila hanya sebagian kecil saja akseptor didik yang nilainya di bawah KKM, maka termasuk kasus individual.
b) Untuk mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan berguru selain dari nilai prestasi berguru sanggup pula dilakukan dengan memperhatikan atau menganalisis catatan observasi atau laporan proses kegiatan belajar.
(1) Penggunaan catatan berguru siswa untuk mengetahui cepat atau lambatnya dalam menuntaskan kiprah atau pekerjaannya.
(2) Penggunaan catatan daftar hadir.
(3) Penggunaan catatan atau skema partisipasi untuk mengetahui acara dan partisipasi akseptor didik dalam kelas. Peserta didik yang pasif diduga mengalami kesulitan belajar. Penggunaan catatan dan skema partisipasi sangat berharga pada pelajaran yang mengutamakan komunikasi dan interaksi sosial dalam menawarkan pendapat, menyanggah, dan menjawab dengan argumentasi tertentu.
(4) Penggunaan catatan sosiometri dilakukan pada bidang studi tertentu yang menuntut siswa bekerja sama dalam kelompok yakni untuk mengetahui anak yang terisolir.

2)Identifikasi Masalah
Berikut yakni beberapa pertanyaan yang sanggup mengarahkan kita untuk mengetahui letak kesulitan berguru siswa.
a) dalam mata pelajaran mana kesulitan berguru itu terjadi?
b) pada tempat tujuan berguru (aspek perilaku) yang manakah kesulitan berguru itu terjadi?
c) pada serpihan (ruang lingkup) materi manakah kesulitan berguru itu terjadi?
d) pada segi-segi proses berguru yang manakah kesulitan berguru itu terjadi?
Berikut ini yakni cara melaksanakan identifikasi duduk kasus (melokalisasi letak kesulitan belajar).
a) Mengidentifikasi kesulitan berguru pada bidang studi tertentu untuk mengetahui pada bidang studi manakah siswa mengalami kesulitan belajar.
b) Mengidentifikasi pada tempat tujuan berguru dan serpihan ruang lingkup materi pelajaran manakah kesulitan berguru terjadi.
c) Analisis Catatan Proses Pembelajaran
Untuk mengetahui kesulitan berguru pada aspek-aspek proses berguru tertentu dilakukan dengan menganalisis empiris terhadap catatan keterlambatan penyelesaian kiprah atau soal, absensi, kurang aktif dalam partisipasi, kurang pembiasaan sosial. Hasil analisis tersebut dengan terperinci memperlihatkan posisi dari kasus-kasus yang bersangkutan.

3)Mengidentifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
a) Bila kasus kelompok (mayoritas akseptor didik mempunyai kesulitan belajar) maka faktor penyebab kesulitan berguru berasal luar diri akseptor didik. Kemungkinan besar faktor penyebabnya kondisi sekolah (kualifikasi guru, pembelajaran, materi, sistem penilaian, strategi/metode/teknik pembelajaran yang tidak sesuai dengan keragaman akseptor didik, dsb.)
b) Bila kasusnya individual, maka faktor penyebabnya kemungkinan berasal dari diri akseptor didik. Faktor penyebab itu sanggup bersumber pada (a) kemampuan dasar atau potensi yaitu intelegensi dan bakat; (b) bukan yang bersifat potensial, yaitu kurang mempunyai keterampilan dan pengetahuan dasar yang dibutuhkan dari sutu bidang studi, aspek fisik (kesehatan, gangguan pancaindra, kecacatan, dsb.), emosional (kecemasan, phobia, pembiasaan yang salah), kurang minat dan motivasi belajar, sikap dan kebiasaan berguru yang negatif, kurang konsentrasi, kurang bisa menyesuaikan diri, dsb.

4)Membuat Alternatif Bantuan Pengambilan keputusan berdasarkan hasil diagnosis menjadi dasar dalam kegiatan menawarkan proteksi kepada akseptor didik yang mempunyai kesulitan belajar
5)Melakukan Tindak Remedial atau Membuat Referal Bila permasalahan yang bertalian dengan sistem pembeajaran dan masih dalam kesanggupan guru, maka bisa diberikan oleh guru sendiri dengan layanan pembelajaran remedial.

5. Implementasi dalam Pembelajaran

a.Pahami gejala-gejala anak yang mempunyai kesulitan belajar.
b.Identifikasi kesulitan berguru serta bantulah akseptor didik mengatasi kesulitan belajarnya.
c.Berikan layanan pembelajaran remedial bila permasalahannya bertalian dengan pembelajaran dan masih dalam kesanggupan guru.
d.Membuat acuan kepada tenaga hebat (konselor pendidikan, dokter, psikolog) bila permasalahannya di luar kemampuan guru.
e.Bantu akseptor didik yang mengalami kesulitan berguru untuk mengoptimalkan prestasi belajarnya, meningkatkan kepercayaan diri, minat, dan sikap postif terhadap pelajaran.
f.Bekerja sama dengan rekan sejawat dan orangtua untuk lebih memahami faktor penyebab kesulitan berguru dalam diri akseptor didik.
g.Cegahlah terjadinya kesulitan berguru pada akseptor didik dengan merancang pembelajaran yang sesuai dengan keragaman akseptor didik.

Sekolah Akan Diwajibkan Mempunyai Dua Versi Rapor

6:47:00 AM
Sekolah akan Diwajibkan Memiliki Dua Versi Rapor Sekolah akan Diwajibkan Memiliki Dua Versi Rapor
Sekolah nanti akan mempunyai dua versi rapor.
Dalam acara Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyampaikan setiap sekolah wajib mempunyai dua versi rapor untuk memantau perkembangan siswa mulai dari jenjang SD hingga SMA.

"Sekolah nanti akan mempunyai dua versi rapor, yang pertama rapor akademik untuk intrakulikuler, yang kedua rapor rekaman acara siswa yang berupa naratif deskriptif untuk menceritakan tingkat perkembangan siswa dari tingkat SD hingga SMA," kata Muhadjir.

Rapor rekaman aktifitas siswa antara lain akan mencakup laporan mengenai minat, talenta serta kemahiran istimewa siswa. Selain itu, dalam acara PPK, akan ada porsi yang seimbang antara peranan sekolah dengan keluarga untuk mendidik siswa.

"Ini dalam rangka implemntasi administrasi pendidikan berbasis sekolah, sekolah harus mempunyai tanggung jawab untuk mengatur kegiatan berguru siswa baik di sekolah, masyarakat maupun di rumah," kata Mendikbud.

Saat ini pemerintah sedang menciptakan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai Program Penguatan Pendidikan Karakter, yang antara lain berkenaan dengan apakah semua sekolah akan diwajibkan menerapkan lima hari sekolah atau tidak.

"Nanti akan diatur di Perpres, apakah nanti sifatnya pilihan atau sedikit demi sedikit kita akan lihat, ketika ini kita sedang godok problem itu," kata Muhadjir yang kutip dari Antara (26/07/17).

Dengan kegiatan sekolah lima hari, orangtua sanggup mempunyai waktu untuk ikut mendidik dan mengasuh anak secara penuh selama dua hari libur sekolah. Pasalnya selama ini, orangtua cenderung melimpahkan semua tanggung jawab pendidikan kepada sekolah.

Pada 19 Juli pemerintah telah melaksanakan rapat mengenai Rancangan Perpres Penguatan Pendidikan Karater. Perpres itu nantinya akan menggantikan peraturan yang pernah diterbitkan dalam bentuk peraturan menteri yakni Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017.

Dalam acara Penguatan Pendidikan Karater tersebut pendidikan huruf menyerupai nilai integritas, religius, nasionalisme, kemandirian dan gotong-royong akan ditekankan kepada penerima didik.

Sekolah Tak Cantumkan Ranking Di Rapor, Mengapa?

12:33:00 AM
Sekolah Tak Mencantumkan Ranking di Rapor Sekolah Tak Cantumkan Ranking di Rapor, Mengapa?
Sebenarnya tanpa ranking sekalipun, orang renta sanggup melihat secara eksklusif prestasi anak di rapor.
Sekolah tak mencantumkan ranking di dalam rapornya. Padahal berdasarkan orangtua, ranking di rapor bermanfaat untuk mengetahui di level mana anaknya berada di antara teman-teman sekelasnya. Kalau tidak ada ranking, bagaimana kami para orang renta tahu prestasi anak?

Rapor tanpa ranking menawarkan bahwa setiap anak itu istimewa. Tiap anak dilahirkan dengan potensi kecerdasan masing-masing. Ranking yang kita kenal selama ini hanya berfungsi untuk menawarkan kecerdasan anak secara akademis.

Baca juga: Anak Indonesia Kuat dalam Hapalan Lemah Penalaran

Di luar kecerdasan akademis, anak juga harus cerdas secara spiritual, emosional, mempunyai life skill, dan kemampuan bersosialisasi yang baik. Orangtua sanggup mengetahui sejauh mana prestasi anak di kelas dengan cara menjalin komunikasi dan menggali info dari guru mengenai potensi kecerdasan apa yang dimiliki anak.

Sebenarnya tanpa ranking sekalipun, orang renta sanggup melihat secara eksklusif prestasi anak di rapor melalui data kuantitatif dengan melihat nilai anak apakah sudah di atas KKM dan rata-rata kelas per pelajaran. Selain itu, juga bisa dilihat dari narasi yang pertanda perilaku dan cara kerja anak dalam pencapaian prestasi selama semester berjalan.

Faktor Yang Menghipnotis Proses Dan Hasil Berguru Anak Di Sekolah

6:50:00 PM
Faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar Anak di Sekolah Faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar Anak di Sekolah
Faktor-faktor yang menghipnotis kegiatan berguru siswa di sekolah tersebut tidak sanggup dilihat satu persatu.
Tugas utama seorang pendidik atau guru SD yakni membuat suasana berguru dan proses pembelajaran yang kondusif. Artinya menyiapkan dan mengorganisasikan banyak sekali faktor menyerupai kesiapan berguru anak, materi, metode, sarana, media, dan sebagainya sehingga memungkinkan anak berguru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan sebelumnya oleh guru.

Untuk sanggup melaksanakan kiprah tersebut dengan sukses, seorang guru harus memahami faktor-faktor yang menghipnotis proses berguru anak di sekolah. Pemahaman seorang guru wacana hal ini sangatlah penting mengingat misi utama sebagai guru khususnya guru SD yakni membuat suasana dan proses berguru yang kondusif.

Baca juga: Pengalaman Masa Lalu Berpengaruh Terhadap Minat Belajar Siswa

Menurut pendapat para pakar wacana faktor yang menghipnotis proses berguru siswa di sekolah sangatlah bervariasi antara pakar yang satu dengan yang lain. Mereka mengemukakan rumusan yang berbeda-beda tergantung pada penekanannya masing-masing. Dengan memakai pendekatan sistem, Aby Syamsudin Makmun (1995) mengemukakan 3 (tiga) faktor yang menghipnotis proses dan hasil berguru siswa di sekolah, yaitu;

1. Faktor Input (masukan)
Faktor ini meliputi (a) raw input atau masukan dasar yang membuatkan kondisi individual anak dengan segala karakteristik fisik dan psikis yang dimilikinya (b) instrumental input atau masukan instrumental yang meliputi guru, kurikulum, materi dan metode, sarana san fasilitas, (c) enviromental input atau masukan lingkungan yang meliputi lingkungan fisik, geografis, sosial, dan lingkungan budaya.

2. Faktor Proses
Faktor proses ini menggambarkan bagaimana ketiga jenis input yang disebutkan diatas saling berinteraksi satu sama lain terhadap acara berguru anak.

3. Faktor Output
Adalah perubahan tingkah laris yang diharapkan terjadi pada anak sehabis anak melaksanakan acara belajar.

Sebagai seorang pendidik pastinya memahami bahwa pembelajaran dipandang sebagai suatu proses membantu anak untuk menemukan dan mengubah sikap dan eksklusif dimana anak membuatkan gagasan, sikap, pengetahuan, apresiasi dan keterampilan sesuai dengan standar kompetensi dan kurikulum SD yang telah ditetapkan. Rochman Natawidjaja (1984) mengemukakan 5 (lima) unsur yang menghipnotis kegiatan berguru siswa di sekolah yaitu;

1. Unsur tujuan
2. Pribadi siswa
3. Bahan pelajaran
4. Perlakuan guru, dan
5. Fasilitas.

Kegiatan berguru siswa merupakan perpaduan dari kelima unsur tersebut. Keberhasilan berguru mungkin akan kurang kalau salah satu unsur itu tidak memadai.

Hubungan antara kegiatan berguru siswa dengan unsur-unsur yang mempengaruhinya sanggup saya uraikan sbagai berikut;

A. Faktor Anak
Anak disini harus diposisikan sebagai titik sentral dari sejumlah proses pembelajaran di sekolah. Anak bukan ember kosong tetapi juga bukan miniatur orang dewasa. Anak yakni individu atau kesatuan jiwa yang utuh yang tengah tumbuh dan berkembang dalam banyak sekali aspek perkembangannya. Anak usia SD tentunya mempunyai kebutuhan dan karakteristik perkembangan yang berbeda dengan siswa Sekolah Menengah Pertama dan SMA.

B. Faktor Guru
Guru yakni faktor kunci dalam kegiatan berguru anak di sekolah. Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam keseluruhan acara pendidikan di sekolah. Guru merupakan manajer pembelajaran yang memutuskan tujuan tujuan pembelajaran, membuat planning pembelajaran, melaksanakan pembelajaran secara efektif, menguasai materi dan metode pembelajaran, mengevaluasi proses dan hasil belajar, memotivasi dan membantu tiap anak untuk mencapai prestasi berguru secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangan dan kesempatan yang dimiliki anak. Untuk sanggup menjalankan fungsi dan kiprahnya guru harus mempunyai kompetensi yang dipersyaratkan meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, sosial dan kompetensi personal secara terintegrasi.

C. Faktor Tujuan
Tujuan yakni sesuatu yang harus dicapai sehabis anak melaksanakan acara belajar. Tujuan ini haruslah dirumuskan sebelum pembelajaran dilaksanakan, jadi tujuan ini harus ditetapkan pada tahap perencanaan pembelajaran. Tujuan juga harus dirumuskan secara terang dan terukur biar seorang guru sanggup memotivasi anak untuk mencapai tujuan tersebut serta sanggup diukur dan menilai tingkat keberhasilan berguru anak.

D. Faktor Bahan Pembelajaran
Bahan pembelajaran yakni sesuatu yang harus disusun dan disiapkan sedemikian rupa oleh guru biar gampang diakses dan dipelajari oleh semua anak. Cakupan materi dan tingkat kesukarannya harus diubahsuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik perkembangan individu anak. Selain itu materi pelajaran juga harus dikemas dengan baik dengan memakai metode pembelajaran yang inovatif dan kreatif yang akan menantang anak untuk berguru dengan serius tetapi tetap menyenangkan.

E. Faktor Ekonomis dan Administratif
Faktor ini meliputi aspek sarana ruang kelas, fasilitas, dan peralatan yang dibutuhkan dalam pembelajaran di sekolah termasuk banyak sekali sumber belajar. Semuanya harus gampang diakses dan dipakai oleh anak SD biar tujuan pembelajaran sanggup dicapai secara optimal.

Akhirnya, perlu dipahami sebagai seorang guru, faktor-faktor yang menghipnotis kegiatan berguru siswa di sekolah tersebut tidak sanggup dilihat satu persatu alasannya yakni didalam prakteknya semua unsur tersebut akan terintegrasi dalam interaksi pembelajaran yang diupayakan guru.

*) Ditulis oleh Imron Ashari, guru honorer di SD negeri di wilayah Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas