Showing posts with label Memajukan Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Memajukan Sekolah. Show all posts

Kepala Sekolah Dan Pengawas Memilih Hitam Putihnya Pendidikan

7:56:00 PM
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan kepala sekolah dan pengawas sekolah merupakan dua unsur penting dalam pengelolaan layanan pendidikan di satuan pendidikan. Mereka mempunyai tugas strategis yang tidak saja memilih hitam putihnya pendidikan di sekolah tapi juga cetak biru generasi bangsa.

Menteri Muhadjir juga menyampaikan tata kelola pengawas dan kepala sekolah sebaiknya terus menerus mengalami pembaharuan selaras tuntutan perubahan dan tantangan zaman. Pemerintah harus berani melaksanakan otokritik yang tajam dalam keseluruhan proses pembinaan tenaga pendidik, khususnya pengawas sekolah mulai dari proses rekrutmen, pengembangan, dan pemberdayaannya.
Kepala Sekolah dan Pengawas Menentukan Hitam Putihnya Pendidikan Kepala Sekolah dan Pengawas Menentukan Hitam Putihnya Pendidikan
Tata kelola pengawas dan kepala sekolah sebaiknya terus menerus mengalami pembaharuan selaras tuntutan perubahan dan tantangan zaman.

“Saat ini perlu ide-ide baru, bahkan paradigma gres dikala kita berbicara dalam konteks pembinaan tenaga kependidikan. Oleh alasannya yaitu itu, kedua unsur ini harus diadaptasi dengan tuntutan perubahan dan tantangan kekinian,” ujar Mendikbud yang kutip dari JPNN (17/10/18).

Terkait pembinaan dan penguatan kompetensi yang selama ini dilakukan, berdasarkan Muhadjir diharapkan review yang menyeluruh. Baik yang berkaitan dengan kesiapan dan kelayakan forum penyelenggara, metode maupun substansi pelatihan. Analisis lebih lanjut yaitu esensi dan eksistensi pembinaan di era digital, era millenia dengan generasi industri 4.0 serta era disrupsi.

Dari analisis tersebut melahirkan konklusi bahwa setiap individu mempunyai kesempatan yang sama dalam meningkatkan kapasitas nilainya dan kapasitas profesionalnya. Sehingga bisa memberi tantangan transformasi aksara bagi akseptor serta kesempatan bertumbuh secara kognisi, emosi dan estetika

Dia berharap pembinaan yang akan dikembangkan tidak lagi sekadar sebagai pembinaan konvensional yang selama ini dilaksanakan. Pelatihan yang benar-benar menyentuh sisi intristik dan inner motivation para peserta. Pelatihan yang futuristik dan berbasis pada problematika dunia baru, kurun milenial.

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (Mpls)

6:09:00 PM
Acara besrih lingkungan sekolah pada MPLS, diharapkandapat menumbuhkan semangat berguru terhadap siswa baru.
Pada hari pertama masuk sekolah semester ganjil untuk siswa gres tentu akan mendapat pengalaman yang gres juga. Diantaranya kelas baru, sekolah baru, guru serta teman – teman gres dan sudah niscaya lingkungan sekolah yang baru.

Seperti memasuki hutan untuk pertama kalinya anak akan merasa cemas dengan situasi ibarat ini. Namun seiring berjalanya waktu perasaan cemas itu akan segera hilang.

Pada kebanyakan sekolah biasanya setiap tahun pedoman gres selalu diadalakan Masa Pengenalan Lingkunga Sekolah (MPLS) guna menyambut kedatangan penerima didik baru.

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) jaman dulu disebut juga Masa Orientasi Sekolah (MOS) atau Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) hal ini merupakan sebuah kegiatan umum yang dilaksanakan di sekolah sekolah.

Dari tahun ke tahun kegiatan ini selalu menuai pro dan kontra ditengah masyarakat, mereka menganggap MOS tidaklah perlu diadakan lantaran hanya menjadi ajang senioritas dan perpeloncoan yang menjurus pada kekasaran dan sanggup menjadikan menurunya mental pada siswa baru.

Namun pemerintah mencoba untuk meluruskan perihal tujuan MPLS yang tercantum dalam Prmendikbud No. 18 Tahun 2016.
1. Mengenali potensi siswa baru
2. Membantu siswa gres menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan sekitarnya, antara lain terhadap aspek keamanan, kemudahan umum, dan sarana prasarana sekolah.
3. Menumbuhkan motifasi, semangat dan cara berguru efektif sebagai siswa baru.
4. Mengembangkan interaksi konkret antar siswa dan warga sekolah lainya.
5. Menumbuhkan sikap konkret antara lain kejujuran, kemandirian, sikap saling menghargai, menghormati keaneka ragaman dan persatuan, kedisiplinan, hidup higienis dan sehat untuk mewujudkan siswa yang mempunyai nilai integritas, etos kerja dan semangat gotong royong.

Dari tujuan MPLS diatas, terang sekali pada pelaksanaan didalamnya jauh sekali dengan yang namanya perpeloncoan dan kekerasan. Tetapi malah sebaliknya kegiatan MPLS justru sangat menyenangkan dan penuh kekeluargaan.

Selama pelaksanaan MPLS di tiap sekolah selalu terdapat kegiatan yang menyangkut kebersihan lingkungan ( Adiwiyata ), yakni salah satu kegiatan Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.

Dimana siswa gres diperkenalkan dan diajarkan mengenai kebersihan lingkungan di sekolahnya dan eksklusif dipimpin guru pembimbingnya untuk terjunke lapangan bersama sama.

Adapun kegiatan yang dilaksanakan diantaranya :
1. Membersihkan sampah yang berserakan.
2. Membersihkan selokan air.
3. Menyediakan kolam sampah menurut jenis sampahnya.
4. Melakukan penghijauan dengan cara menanam pohon.
5. Membersihkan ruangan kelas dan laboratorium dan kemudahan sekolah lainya
6. Mengumpulkan flora obat
7. Menanam flora obat dll

Kebersihan sanggup mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman tentram dan sedap dipandang mata termasuk dilingkungan sekolah.

Bagaimana mungkin siswa gres sanggup terkesan apabila lingkungan daerah ia menuntut ilmu keadaanya kotor dan kumuh, alasannya dengan keadaan lingkungan sekolah yang kotor akan menurunkan hasrat dan minat untuk belajar. Selain itu keadaan lingkungan yang kotor sanggup menjadi daerah bersarangnya basil dan bibit penyakit.

Keadaan lingkungan yang kotor tersebut dikarenakan kurangnya kesadaran warga sekolahnya dalam menggalakan kebersihan lingkungan.

Apalagi menyangkut dengan siswa gres yang sejatinya harus diperkenalkan dengan sesuatu yang baik dan elok untuk merangsang semangat belajarnya ditempat beliau akan menuntut ilmu.

Dengan adanya kegitan higienis lingkungan yang di ajarkan kepada siswa gres pada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah ( MPLS ), dibutuhkan sanggup menumbuhkan semangat berguru bagi siswa gres serta akan timbul rasa besar hati terhadap sekolahnya dikarenakan kesan pertama yang diajarkan oleh sekolah itu sendiri.

*) Ditulis oleh Asep Sulistina Sekolah Menengah kejuruan N 9 Kota Tangerang

Sekolah Periode Depan Dan Guru Yang Dibutuhkan

4:20:00 PM
Sekolah Masa Depan dan Guru yang Dibutuhkan Sekolah Masa Depan dan Guru yang Dibutuhkan
Yang paling diharapkan justru guru yang lebih berfungsi sebagai motivator, menjadi role model, yang menginspirasi, serta bisa membangun karakter.
Sistem pendidikan di Indonesia dinilai tidak banyak mengatakan ruang untuk pengembangan diri dan cenderung membelenggu kreativitas anak. Saat ini, bawah umur lebih banyak terbebeban materi pelajaran yang menciptakan daya kritis mereka justru tidak muncul. Hal ini dikarenakan orientasi sekolah hanya untuk memenuhi kebutuhan industrialisasi.

Fungsi pengajar juga belum bisa mengatakan perubahan besar bagi akseptor didik. Guru belum siap mengantarkan anak didiknya untuk menjawab tantangan pendidikan di masa mendatang. Padahal, di kurun disrupsi menyerupai ketika ini yang paling diharapkan justru guru yang lebih berfungsi sebagai motivator, menjadi role model, yang menginspirasi, serta bisa membangun abjad anak didiknya.

Sehingga, perlu ada transformasi fundamental pada sistem pendidikan di negeri ini. Sistem yang maksud berupa pendidikan yang benar-benar mengatakan ruang kreativitas bagi anak dengan para guru yang bisa menjadi motivator dalam meningkatkan kompetensi anak.

Baca: 2 Cara Sederhana untuk Menjadi Guru yang Baik

“Di sinilah, gerakan sekolah menyenangkan hadir dengan mengatakan konsep transformasi melalui penciptaan sebuah ekosistem sekolah yang lebih siap mengantarkan bawah umur didik yang siap menjawab tantangan jaman,” kata Pengamat Pendidikan, Muhammad Nur Rizal yang kutip dari Republika (17/04/18).

Rizal menjelaskan, ada empat prinsip utama ketika sekolah itu menjadi sebuah ekosistem sekolah yang menyenangkan, yakni learning environment, pedagogical practice, character development, dan school connectedness. Keempat prinsip itu yang patut menjadi perhatian bersama demi tumbuh- kembang segala potensi anak.

Sedangkan ekosistem sekolah menyenangkan antara lain mempunyai ruang kegiatan fisik dan emosi, interaksi yang hangat, dan saling menghargai dalam kegiatan belajar, sehigga siswa merasa kondusif dan percaya diri serta pembelajarannya terhubung pada duduk perkara nyata.

Sekolah masa depan memakai metode belajar yang tidak hanya abstraksi membaca buku kemudian ujian. Namun lebih memandang kepada duduk perkara konkret atau tematik dan itu membutuhkan paradigma yang berkembang di masa mendatang. Sekolah yang mengatakan proses pengajaran yang bukan ordering, tapi coaching, melalui pendampingan, guru yang menginspirasi dan memotivasi.

“Oleh alasannya yaitu itu, ekosistem sekolah yang positif ini menjadi penting, demikian halnya teladan pengajaran yang berpusat kepada siswa,” kata Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) tersebut dalam workshop GSM di hadapan 32 perwakilan sekolah dasar (SD) se-Kota Semarang, di aula Gedung Labschool Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Bisa Ditiru, Ini Trik Menumbuhkan Minat Baca Siswa

5:37:00 PM
Rachmawati menyebarkan trik menarik untuk menumbuhkan minat baca siswa Bisa Ditiru, Ini Trik Menumbuhkan Minat Baca Siswa
Rachmawati menyebarkan trik menarik untuk menumbuhkan minat baca siswa.
Minat baca harus ditumbuhkan semenjak dini supaya kelak menjadi orang yang gemar membaca. Untuk menciptakan siswa mau ke perpustakaan, ada trik yang dapat menarik perhatian. Sebagai kepala perpustakaan di SD Islam Bunga Bangsa, Rachmawati menyebarkan trik menarik untuk menumbuhkan minat baca siswa. Ruang perpustakaan dikelola menjadi lebih indah, menarik, dan dihiasi dengan hasil kerajinan. Dia juga memperlihatkan reward bagi anak yang sering membaca dan meminjam buku.

“Ada dua sistem yang saya berlakukan untuk donasi reward. Pertama, reward akan diberikan kepada siswa-siswi yang meminjam buku terbanyak, dihitung selama sebulan sekali. Kedua, akan ada juga reward bagi siswa yang meringkas isian buku sebanyak 30 judul. Penghitungannya tidak manual, tapi memakai aplikasi", kata Rachmawati yang kutip dari kaltim.prokal.co (20/02/18).

Awalnya, banyak siswa yang tiba hanya alasannya ingin mendapat reward. Namun, alasannya suasana perpustakaan diolah menjadi lebih nyaman dan indah, bawah umur malah ketagihan datang. Tak hanya itu, Rachmawati menciptakan sebuah aktivitas yang membantu mengembangkan imajinasi anak melalui bacaan. Di perpustakaan, disediakan selembar kertas bagi pembaca. Untuk siswa-siswi kelas I dan II SD, sesudah membaca buku, mereka disuruh menulis judul buku yang dibaca, tokoh yang digemari, nama penulis, dan penerbit.

"Sedangkan untuk siswa-siswi kelas III, IV, V, dan VI, selain menulis judul, tokoh, penulis, dan penerbit, mereka dianjurkan menulis ringkasan buku yang telah dibaca. Tujuannya, biar mereka semakin memahami isi dari buku yang dibaca. Mereka juga dapat berkreasi dan berimajinasi menuliskan apa yang ada di pikiran mereka,” terperinci Rachmawati.

Baca: Presiden Mengajak Anak Indonesia Gemar Membaca

Untuk meningkatkan minat baca bawah umur didiknya, Rachma bekerja sama dengan guru dan wali kelas untuk menciptakan aktivitas yang mewajibkan siswa-siswi membaca setiap hari di perpustakaan. Di bagi setiap kelasnya secara bergiliran. Menurut pustakawan yang sudah dialkoninya semenjak 2019 ini, kesuksesan ini, juga tidak terlepas dari kerjasama seluruh civitas sekolah untuk meningkatkan budaya literasi di sekolah.

Selain itu, kepada setiap angkatan kelulusan SD, beliau mewajibkan seluruh siswa untuk menciptakan sebuah karya. Dia menyediakan waktu selama dua jam kepada siswa untuk menulis sebuah cerpen, puisi, pantun, gambar, dan lainnya, kemudian dikumpulkan untuk dijadikan sebuah buku, yang didesain sendiri oleh Rachma, sebagai buku tahunan.

"Pertama kali menciptakan buku tahunan menyerupai itu, sebagian besar siswa-siswi menciptakan gambar, tapi sekarang sudah semua menulis sebuah cerita. Dengan begitu, terbukti bahwa minat membaca dan menulis anak sudah tertanamkan semenjak dini,” pungkasnya.

Program Gizi Anak Sekolah Dasar Tidak Efektif

6:38:00 AM
Program Gizi Anak SD Tidak Efektif Program Gizi Anak SD Tidak Efektif

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan serta memperbaiki gizi bawah umur Indonesia. Salah satu misalnya Kemdikbud telah mencanangkan Program Gizi Anak SD (Progas) pada 3 kabupaten di Nusa Tenggara Timur.

Perhatian Pemerintah Pusat kepada wilayah Nusa Tenggara Timur sangat besar melalui aneka macam terobosan. Salah satunya pencanangan acara Gizi Anak SD (Progas) untuk anak SD di Kabupaten Manggarai barat, Belu dan Timur Tengah Selatan.

Progas ini menjadi satu suplemen acara anak dan merupakan satu motivasi untuk perkenalkan kepada kita yang tidak terbiasa dengan sarapan pagi alasannya yaitu itu sangat penting khususnya untuk generasi muda bangsa yang berada Nusa Tenggara Timur. Kepedulian ibarat ini mau membangunkan rasa sadar kita bahwa makan pagi itu tidak harus menjadi sesuatu kebutuhan untuk bawah umur biar mempunyai semangat dan kemampuan.

Baca: Anak Perlu Sarapan Sebelum Belajar di Sekolah

Progas ini untuk meningkatkan gizi bawah umur yang selama ini kurang sarapan pagi. Dengan demikian, bawah umur lebih berpengaruh dan mencar ilmu lebih giat. Kita harapkan pencanangan ini sanggup terealisasi dengan baik dan pertanggungjawaban lebih baik, sehingga di tahun mendatang bisa menyeluruh di wilayah Indonesia.

Jika dipahami, tujuan progas sangatlah bermanfaat bagi bawah umur di Nusa Tenggara Timur. Namun disisi Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Pengelolaannya masih belum efektif. Apalagi rencana pencairan di awal januari 2017 kemarin ternnyata Dana yang masuk pada pertengahan tahun 2017.

Dan ini sangat mengganggu kesibukan KBM guru dalam penyusunan Rencana Kegiatan dan belanja sekolah (RKAS) Progas. Apalagi Pemerintah menekankan biar Dana Progas semaksimal mungkin di habisi dalam tahun 2017 ini.

Dan pada tahap pelaksanaan kegiatan Progas tentu mengganggu kegiatan guru dan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar, ini terbukti dengan acara sarapan anak anak yaitu 15 menit sebelum istirahat pertama. Timbul pertanyaan “ Apakah sarapan itu matang sempurna waktu yang acara masaknua Pkl 08.00 pagi sedangkan Istirahat pertama Pkl 09.00. Ketika sarapan itu dimakan pada pkl 11.00 apakah itu disebut sarapan?

Bukan hanya itu, Para guru sibuk dengan banyak SPJ yang nota bene bukan Jurusan Akuntansi melainkan Guru Kelas yang mengetahui sepintas wacana akuntansi pengelolaan keuangan.

Dan Kegiatan Progas 4 kali dalam seminggu, para guru dan beberapa pihak orang bau tanah yang nota bene akuntasinya kurang memadai sibuk dengan memasak, belum dihitung berapa usang kuliner itu matang.

Oleh alasannya yaitu itu diperlukan kepada Pemerintah Pusat di Bidang Pendidikan SD untuk diadakan Pelatihan Pengeloaan Keuangan Progas hingga pada tahapan pelaporan, bukan hanya sekedar klarifikasi singkat pada Juknis yang sudah Peroleh. Dan Pembayaran Pajak atas Penggunaan dana tersebut harus dijelaskan secara terinci untuk wilayah Nusa Tenggara Timur yang berada di wilayah yang terislir dalam memperoleh informasi.

*) Ditulis oleh FLORIANUS JONI, S. Pd. Guru Honorer SD Negeri Bambor, Manggarai Barat, NTT

Program Gizi Anak Sekolah Dasar Tidak Efektif

6:38:00 AM
Program Gizi Anak SD Tidak Efektif Program Gizi Anak SD Tidak Efektif

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan serta memperbaiki gizi bawah umur Indonesia. Salah satu misalnya Kemdikbud telah mencanangkan Program Gizi Anak SD (Progas) pada 3 kabupaten di Nusa Tenggara Timur.

Perhatian Pemerintah Pusat kepada wilayah Nusa Tenggara Timur sangat besar melalui aneka macam terobosan. Salah satunya pencanangan acara Gizi Anak SD (Progas) untuk anak SD di Kabupaten Manggarai barat, Belu dan Timur Tengah Selatan.

Progas ini menjadi satu suplemen acara anak dan merupakan satu motivasi untuk perkenalkan kepada kita yang tidak terbiasa dengan sarapan pagi alasannya yaitu itu sangat penting khususnya untuk generasi muda bangsa yang berada Nusa Tenggara Timur. Kepedulian ibarat ini mau membangunkan rasa sadar kita bahwa makan pagi itu tidak harus menjadi sesuatu kebutuhan untuk bawah umur biar mempunyai semangat dan kemampuan.

Baca: Anak Perlu Sarapan Sebelum Belajar di Sekolah

Progas ini untuk meningkatkan gizi bawah umur yang selama ini kurang sarapan pagi. Dengan demikian, bawah umur lebih berpengaruh dan mencar ilmu lebih giat. Kita harapkan pencanangan ini sanggup terealisasi dengan baik dan pertanggungjawaban lebih baik, sehingga di tahun mendatang bisa menyeluruh di wilayah Indonesia.

Jika dipahami, tujuan progas sangatlah bermanfaat bagi bawah umur di Nusa Tenggara Timur. Namun disisi Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Pengelolaannya masih belum efektif. Apalagi rencana pencairan di awal januari 2017 kemarin ternnyata Dana yang masuk pada pertengahan tahun 2017.

Dan ini sangat mengganggu kesibukan KBM guru dalam penyusunan Rencana Kegiatan dan belanja sekolah (RKAS) Progas. Apalagi Pemerintah menekankan biar Dana Progas semaksimal mungkin di habisi dalam tahun 2017 ini.

Dan pada tahap pelaksanaan kegiatan Progas tentu mengganggu kegiatan guru dan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar, ini terbukti dengan acara sarapan anak anak yaitu 15 menit sebelum istirahat pertama. Timbul pertanyaan “ Apakah sarapan itu matang sempurna waktu yang acara masaknua Pkl 08.00 pagi sedangkan Istirahat pertama Pkl 09.00. Ketika sarapan itu dimakan pada pkl 11.00 apakah itu disebut sarapan?

Bukan hanya itu, Para guru sibuk dengan banyak SPJ yang nota bene bukan Jurusan Akuntansi melainkan Guru Kelas yang mengetahui sepintas wacana akuntansi pengelolaan keuangan.

Dan Kegiatan Progas 4 kali dalam seminggu, para guru dan beberapa pihak orang bau tanah yang nota bene akuntasinya kurang memadai sibuk dengan memasak, belum dihitung berapa usang kuliner itu matang.

Oleh alasannya yaitu itu diperlukan kepada Pemerintah Pusat di Bidang Pendidikan SD untuk diadakan Pelatihan Pengeloaan Keuangan Progas hingga pada tahapan pelaporan, bukan hanya sekedar klarifikasi singkat pada Juknis yang sudah Peroleh. Dan Pembayaran Pajak atas Penggunaan dana tersebut harus dijelaskan secara terinci untuk wilayah Nusa Tenggara Timur yang berada di wilayah yang terislir dalam memperoleh informasi.

*) Ditulis oleh FLORIANUS JONI, S. Pd. Guru Honorer SD Negeri Bambor, Manggarai Barat, NTT

Perangkat Pengakuan Sd/Mi Tahun 2017 (Terbaru)

12:52:00 AM
 yang bersumber dari Badan Akreditasi Nasional  Perangkat Akreditasi SD/MI Tahun 2017 (Terbaru)
Panduan perangkat dan instrumen Akreditasi SD/MI tahun 2017
Perangkat Akreditasi SD/MI Tahun 2017 yang dirilis oleh Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN SM) ini penting untuk dijadikan anutan dan kelengkapan bagi sekolah yang akan melakukan acara Akreditasi sekolah tahun 2017. Dalam panduan perangkat dan instrumen Akreditasi SD/MI tahun 2017 secara substansi menilai 8 standar nasional pendidikan. Namun, dalam jumlah butir yang diakreditasi banyak yang berkurang.

Sesuai dengan Perangkat Akreditasi SD/MI Tahun 2017, sekolah/Madrasah dinyatakan terakreditasi, apabila; (1.) Memperoleh Nilai Akhir Hasil Akreditasi sekurang-kurangnya 71, (2.) Memperoleh Nilai Komponen Standar Sarana dan Prasarana tidak kurang dari 61, dan (3.) Tidak ada Nilai Komponen Standar di bawah 50. Sekolah/Madrasah dinyatakan tidak terakreditasi kalau sekolah/madrasah tidak memenuhi kriteria tersebut.

Baca juga: Bukan Hanya Label, Ini Guna Hasil Akreditasi Sekolah

Untuk mendapat nilai pengakuan sekolah yang baik tentu saja modal utamanya yaitu kelengkapan perangkat akreditasi. Ini sanggup dilihat dari hasil pertanyaan 8 Standar Instrumen yang diisi juga bukti fisik. Oleh alasannya yaitu itu, kesemuannya itu haruslah dipersiapkan dari sekarang. Perangkat Akreditasi SD/MI Tahun 2017 ini berisi Instrumen Akreditasi yang mencakup 8 komponen standar nasional pendidikan, yaitu:

1. Komponen standar isi nomor 1—10;
2. Komponen standar proses nomor 11—31;
3. Komponen standar kompetensi lulusan nomor 32—38;
4. Komponen standar pendidik dan tenaga kependidikan nomor 39—54;
5. Komponen standar sarana dan prasarana nomor 55—75;
6. Komponen standar pengelolaan nomor 76—90;
7. Komponen standar pembiayaan nomor 91—106; dan
8. Komponen standar evaluasi nomor 107—119.

Perangkat Akreditasi untuk SD/MI Tahun 2017 dalam bentuk file berformat PDF yang bersumber dari Badan Akreditasi Nasional (BAN/SM) sanggup didownload di tautan berikut ini.


Tips dan trik yang paling manis dan banyak dipakai sekolah dalam menghadapi akrediatasi yaitu dengan membentuk TIM Akreditasi Sekolah yang diberi kiprah pokok dan fungsi masing-masing setiap standar instrumen pengakuan di atas. Dengan pembagian guru menjadi beberapa kelompok menciptakan pekerjaan mempersiapkan manajemen dalam kelengkapan perangkat pengakuan sekolah akan lebih gampang dan cepat.

Perangkat Pengakuan Sd/Mi Tahun 2017 (Terbaru)

12:52:00 AM
 yang bersumber dari Badan Akreditasi Nasional  Perangkat Akreditasi SD/MI Tahun 2017 (Terbaru)
Panduan perangkat dan instrumen Akreditasi SD/MI tahun 2017
Perangkat Akreditasi SD/MI Tahun 2017 yang dirilis oleh Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN SM) ini penting untuk dijadikan anutan dan kelengkapan bagi sekolah yang akan melakukan acara Akreditasi sekolah tahun 2017. Dalam panduan perangkat dan instrumen Akreditasi SD/MI tahun 2017 secara substansi menilai 8 standar nasional pendidikan. Namun, dalam jumlah butir yang diakreditasi banyak yang berkurang.

Sesuai dengan Perangkat Akreditasi SD/MI Tahun 2017, sekolah/Madrasah dinyatakan terakreditasi, apabila; (1.) Memperoleh Nilai Akhir Hasil Akreditasi sekurang-kurangnya 71, (2.) Memperoleh Nilai Komponen Standar Sarana dan Prasarana tidak kurang dari 61, dan (3.) Tidak ada Nilai Komponen Standar di bawah 50. Sekolah/Madrasah dinyatakan tidak terakreditasi kalau sekolah/madrasah tidak memenuhi kriteria tersebut.

Baca juga: Bukan Hanya Label, Ini Guna Hasil Akreditasi Sekolah

Untuk mendapat nilai pengakuan sekolah yang baik tentu saja modal utamanya yaitu kelengkapan perangkat akreditasi. Ini sanggup dilihat dari hasil pertanyaan 8 Standar Instrumen yang diisi juga bukti fisik. Oleh alasannya yaitu itu, kesemuannya itu haruslah dipersiapkan dari sekarang. Perangkat Akreditasi SD/MI Tahun 2017 ini berisi Instrumen Akreditasi yang mencakup 8 komponen standar nasional pendidikan, yaitu:

1. Komponen standar isi nomor 1—10;
2. Komponen standar proses nomor 11—31;
3. Komponen standar kompetensi lulusan nomor 32—38;
4. Komponen standar pendidik dan tenaga kependidikan nomor 39—54;
5. Komponen standar sarana dan prasarana nomor 55—75;
6. Komponen standar pengelolaan nomor 76—90;
7. Komponen standar pembiayaan nomor 91—106; dan
8. Komponen standar evaluasi nomor 107—119.

Perangkat Akreditasi untuk SD/MI Tahun 2017 dalam bentuk file berformat PDF yang bersumber dari Badan Akreditasi Nasional (BAN/SM) sanggup didownload di tautan berikut ini.


Tips dan trik yang paling manis dan banyak dipakai sekolah dalam menghadapi akrediatasi yaitu dengan membentuk TIM Akreditasi Sekolah yang diberi kiprah pokok dan fungsi masing-masing setiap standar instrumen pengakuan di atas. Dengan pembagian guru menjadi beberapa kelompok menciptakan pekerjaan mempersiapkan manajemen dalam kelengkapan perangkat pengakuan sekolah akan lebih gampang dan cepat.

Majalah Dinding Sarana Menumbuhkan Budaya Literasi

1:49:00 AM
Majalah Dinding Sarana Menumbuhkan Budaya Literasi Majalah Dinding Sarana Menumbuhkan Budaya Literasi
Media majalah dinding (mading) bisa menjadi media yang memfasilitasi jadwal literasi di sekolah.
Literasi yaitu kemampuan membaca menulis sekaligus kemampuan mengakses, memahami dan memakai informasi secara cerdas. Berdasarkan data di lapangan kemampuan literasi pada anak mengalami penurunan, hal tersebut menurut data hasil akomodir laporan dari orang bau tanah dilapangan yang menunjukkan informasi bahwa anak sering bertanya kepada orang bau tanah ketika menuntaskan latihan soal tulis disebabkan anak mengerjakan tanpa membaca terlebih dahulu, mencar ilmu anak sering dilakukan dengan cara orang bau tanah membacakan uraian konsep bacaan sedangkan anak hanya mendengarkan, hal tersebut dilakukan oleh orang bau tanah dengan pertimbangan daripada anak tidak mau mencar ilmu atau membaca. Proses mencar ilmu menyerupai itu disadari oleh orang bau tanah bukan solusi mencar ilmu anak yang sempurna lantaran menyebabkan anak mengalami ketergantungan dalam mencar ilmu dan berdampak tidak baik dalam pembentukan aksara kemandirian. Masalah tersebut juga disebabkan lantaran kemampuan membaca anak belum tumbuh.

Baca juga: Panduan Program 15 Menit Membaca Buku (GLS)

Fakta berikutnya penerima didik mempunyai kecenderungan mengalami kesulitan dikala mengerjakan tes penilaian mencar ilmu dalam bentuk uraian atau bentuk soal dongeng lantaran dalam tes penilaian mencar ilmu berbentuk uraian terdapat aspek memahami, aplikasi sekaligus analisis yang diperlukan sebelum menuntaskan tes penilaian mencar ilmu dalam bentuk uraian dan hal tersebut akan lebih gampang dilakukan apabila anak rajin membaca. Berdasarkan taksonomi, tujuan pendidikan yang dikembangkan oleh Benjamin S. Bloom dalam Nirsam (2005:21) mencakup kognitif, afektif dan psikomorik dan ranah yang diamati yaitu ranah kognitif yang berkaitan dengan daypikir yang mencakup enam aspek, yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.

Fakta dilapangan berikutnya yaitu penerima didik sering bertanya perihal arti/ sinonim dari sebuah kata dalam bacaan, hal itu tentu terjadi lantaran rendahnya kemampuan membaca pada anak sehingga anak mengalami penurunan penguasaan kosakata, hal tersebut sesuai dengan artikel dalam Bloganakpertama perihal cara yang bisa dilakukan untuk menambah kosakata anak salah satunya yaitu membaca dan mendongeng.

Menurut fakta dilapangan, menurut pengamatan perkembangan pada anak dan pada penerima didik faktor utama menurunnya kemampuan membaca adalah:

1. Beralihnya kemudahan bermain pada anak, anak sering bermain memakai gadged yang cara bermainnya hanya membutuhkan kontak antara dirinya sendiri dengan media bermain sehingga tidak terbangun komunikasi dua arah dalam waktu tertentu.

2. Alat –alat elektronik berkembang sangat pesat dan beragam, menyerupai tayangan televisi dengan banyak sekali saluran televisi dengan bermacam-macam acara. Televisi menyajikan semua serba instan, mulai dari murung , lucu, murka semua sudah siap dinikmati. Hal tersebut menyebabkan anak bahkan orang bau tanah pu bisa lepas fokus. Misalnya kegiatan makan yang dilakukan bersama melihat televisi menyebabkan waktu makan lebih lama

3. Orang bau tanah senantiasa disibukkan banyak sekali kegiatan, serta membantu mencari perhiasan nafkah untuk penghidupan keluarga. Kadang itu membuat para pelajar merasa kehilangan kasih sayang dan mencari kegiatan lain untuk mencari cara menghilangkan kejenuhan dan itu cenderung mengarah ke hal yang negative.

Majalah Dinding


Majalah dinding yaitu salah satu jenis media komunikasi massa tulis yang paling sederhana, Prinsip majalah tercermin lewat penyajiannya, baik yang berwujud tulisan, gambar, atau kombinasi dari keduanya untuk menampilkan bermacam-macam hasil karya, menyerupai lukisan, vinyet, teka-teki silang, karikatur, dongeng bergambar, dan sejenisnya disusun secara variatif. Semua materi itu disusun secara serasi sehingga keseluruhan perwajahan mading tampak menarik. Bentuk fisik mading biasanya berwujud lembaran tripleks, karton, atau materi lain dengan ukuran yang beraneka ragam. Peranan majalah dinding yang tampak pokok sebagai salah satu kemudahan kegiatan siswa secara fisikal dan faktual serta mempunyai sejumlah fungsi, yaitu :informatif,komunikatif, rekreatif, dan kreatif. https://id.wikipedia.org/wiki/Majalah_dinding

Program literasi membutuhkan media yang sempurna untuk menerapkan keseluruhan konponen literasi menyerupai membaca, menulis, mengakses, memahami dan memakai informasi secara cerdas. Majalah dinding merupakan salah satu media yang sempurna untuk memfasilitasi jadwal literasi lantaran majalah dinding (mading) merupakan media untuk memasang hasil karya penerima didik berupa goresan pena atau gambar. Hasil goresan pena penerima didik merupakan bukti hasil berkembangnya kemampuan menulis pada penerima didik. Hasil penerima didik berupa gambar juga bisa sebagai sarana pengembangan kreatifitas penerima didik, hasil citra penerima didik yang telah di pasang pada majalah dinding (mading) sebagai materi ide penerima didik yang lain untuk bahagia menggambar dan sebagai daya tarik penerima didik mengakses informasi dengan cara melihat dan memanfaat majalah dinding (mading ) dengan baik sebagai sarana penghargaan pada penerima didik yang telah berkarya.

Majalah dinding (mading) merupakan sarana untuk menampilkan hasil kemampuan penerima didik dalam mengakses informasi baik dari media cetak maupun media elektronik dengan tema, guru membatasi dengan tema tertentu dalam rangka melatih penerima didik memilih hasil jalan masuk yang sesuai dengan perkembangan usia. Hasil jalan masuk informasi yang telah terpasang dalam majalah dinding (mading) bisa dipakai sebagai materi membaca bagi teman lain, sehingga penerima didik mendapat ilmu dari semangat membaca majalah dinding (mading) yang ditampilkan dengan menarik. Kegiatan menyerupai ini secara pribadi bisa memfasilitasi penerima didik dalam membuatkan kemampuan membaca, menulis, mengakses, memahami dan memakai informasi secara cerdas.

Media majalah dinding (mading) bisa menjadi media yang memfasilitasi jadwal literasi dengan mewadahi seluruh komponennya. Beberapa pertimbangan yang bisa memaksimalkan hasil majalah dinding (mading) sebagai media pendukung prodram literasi adalah:

1. Papan majalah dinding (mading) dibentuk permanen dengan latar papan yang menarik sesuai dengan dunia bawah umur dan sudah dipertimbangkan tingkat keamanannya. Misalnya, dari materi triplek yang dicat dengan gambar,warna sesuai dunia anak dan melindungi sudut yang lancip dengan materi yang lunak sehingga tidak berbahaya dan aman. Hal tersebut dengan tujuan majalah dinding (mading) tidak mengalami kerusakan dalam waktu yang pendek lantaran pecahan majalah dinding (mading) berupa gambar dan goresan pena yang berubah secara rutin dengan tema tertentu dalam jangka waktu tertentu.

2. Pemasangan majalah dinding (mading) dipasang dengan ketenggian yang diadaptasi dengan tinggi rata rata penerima didik yang berada dalam kelas tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah jangkauan penerima didik dalam memasang, membaca, menikmati maupun mengakses seluruh pecahan gambar dan tulisan.

3. Kepingan goresan pena dan gambar yang terpasang pada majalah dinding (mading) sesuai dengan tema bawah umur yang berganti secara rutin pada jangka waktu tertentu. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kebosahan gambar dan informasi yang dilihat oleh penerima didik dan memperkaya informasi penerima didik yang menikmati majalah dinding (mading)

Semoga media majalah dinding (mading) bisa menginspirasi pembaca dan pendidik (guru) dalam rangka membuat media kreatif yang lain sebagai sarana pembelajaran sekaligus support terhadap jadwal pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas membaca pada anak.

*) Ditulis oleh Loukais Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Bukan Hanya Label, Ini Guna Hasil Ratifikasi Sekolah

3:05:00 AM
Kita gunakan data ratifikasi ini menjadi dasar perumusan kebijakan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan evaluasi ratifikasi bukan hanya sebatas memberi label pada sekolah. Ia berharap jadwal perencanaan dan pengembangan pada setiap satuan pendidikan sanggup diadaptasi dengan hasil akreditasi. Untuk itu, ia mengimbau supaya hasil ratifikasi betul-betul sesuai dengan apa yang diperlukan untuk diperbaiki atau ditingkatkan oleh satuan pendidikan.

“Mari kita gunakan data ratifikasi ini menjadi dasar perumusan kebijakan untuk kita sampaikan kepada para pemangku kepentingan,” ajak Mendikbud dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) I Badan Akreditasi Nasional – Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) dan Badan Akreditasi Provinsi – Sekolah/Madrasah (BAP-S/M) Tahun 2017 dengan tema "Penguatan Lembaga, Transparansi dan Akuntabilitas Akreditasi" di Banten (5-2-2017).

Berdasarkan data, untuk semua jenjang di seluruh Indonesia, sekolah yang mendapat ratifikasi A (Amat Baik) sebanyak 39.771 sekolah, ratifikasi B (Baik) sebanyak 87.588 sekolah, ratifikasi C (Cukup) sebanyak 27.408 sekolah serta yang tidak terakreditasi 4.058 sekolah. Mendikbud ingin dibentuk terobosan-terobosan dalam pelaksanaan jadwal dan kebijakan.

Baca juga: Cara Cek Hasil Nilai Akreditasi Sekolah

"Perlu juga dipikirkan supaya ratifikasi sanggup biayai oleh sekolah/madrasah, sama halnya dengan perguruan tinggi tinggi yang mulai memberlakukan ini. Hal ini sanggup saja dilakukan, yang terpenting BAN-S/M tetap sanggup independen," kata Mendikbud yang lansir dari laman kemdikbud.go.id (06/02/17).

Bukan Hanya Label, Ini Guna Hasil Ratifikasi Sekolah

3:05:00 AM
Kita gunakan data ratifikasi ini menjadi dasar perumusan kebijakan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan evaluasi ratifikasi bukan hanya sebatas memberi label pada sekolah. Ia berharap jadwal perencanaan dan pengembangan pada setiap satuan pendidikan sanggup diadaptasi dengan hasil akreditasi. Untuk itu, ia mengimbau supaya hasil ratifikasi betul-betul sesuai dengan apa yang diperlukan untuk diperbaiki atau ditingkatkan oleh satuan pendidikan.

“Mari kita gunakan data ratifikasi ini menjadi dasar perumusan kebijakan untuk kita sampaikan kepada para pemangku kepentingan,” ajak Mendikbud dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) I Badan Akreditasi Nasional – Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) dan Badan Akreditasi Provinsi – Sekolah/Madrasah (BAP-S/M) Tahun 2017 dengan tema "Penguatan Lembaga, Transparansi dan Akuntabilitas Akreditasi" di Banten (5-2-2017).

Berdasarkan data, untuk semua jenjang di seluruh Indonesia, sekolah yang mendapat ratifikasi A (Amat Baik) sebanyak 39.771 sekolah, ratifikasi B (Baik) sebanyak 87.588 sekolah, ratifikasi C (Cukup) sebanyak 27.408 sekolah serta yang tidak terakreditasi 4.058 sekolah. Mendikbud ingin dibentuk terobosan-terobosan dalam pelaksanaan jadwal dan kebijakan.

Baca juga: Cara Cek Hasil Nilai Akreditasi Sekolah

"Perlu juga dipikirkan supaya ratifikasi sanggup biayai oleh sekolah/madrasah, sama halnya dengan perguruan tinggi tinggi yang mulai memberlakukan ini. Hal ini sanggup saja dilakukan, yang terpenting BAN-S/M tetap sanggup independen," kata Mendikbud yang lansir dari laman kemdikbud.go.id (06/02/17).

Cara Cek Hasil Nilai Pengukuhan Sd/Mi Di Bansm.Or.Id

6:27:00 PM
Untuk mengetahui nilai pengakuan sekolah sanggup melihat di website yang dikelola BAN Cara Cek Hasil Nilai Akreditasi SD/MI di bansm.or.id
Untuk mengetahui nilai pengakuan sekolah sanggup melihat di website yang dikelola BAN-SM di bansm.or.id
Hasil evaluasi atau status akreditasi sekolah sanggup dilihat secara online. Badan Akreditasi Nasional Sekolah-Madrasah atau disingkat BAN-SM sebagai lemabaga pelaksana proses evaluasi terhadap sekolah atau madrasah menyediakan laman website bansm.or.id. Berikut cara melihat hasil evaluasi pengakuan untuk jenjang SD (SD) / Madrasah Ibtidaiyyah (MI).

Cara Cek Nilai Akreditasi Sekolah

1. Kunjungi http://bansm.or.id/sekolah/sudah_akreditasi/1

2. Pilih Propinsi > Pilih wilayah Kab/KOta > Pilih Tipe Sekolah atau Madrasah > Pilih Status Sekolah > Pilih Nilai > kemudian Klik Tampilkan

3. Atau, eksklusif ketik nama sekolah di kolom pencarian, kemudian klik enter.

4. Klik sekolah yang muncul maka akan terlihat data sekolah beserta data pengakuan tahun berapa dan standar standar nilai pengakuan sekolah.

Bagiamana kalau pada pengecekan dengan cara tersebut di atas ternyata nilai pengakuan sekolah Anda tidak muncul? Hal tersebut mungkin dikarenakan nilai pengakuan sekolah Anda masih ada di daftar nama sekolah yang belum akreditasi.

Akreditasi sekolah merupakan pengakuan dan evaluasi dari beberapa pihak yang berwenang. Pemerintah melaksanakan pengakuan sekolah untuk menilai kelayakan jadwal atau satuan pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional secara bertahap, terjadwal dan terukur. Proses evaluasi terhadap sekolah atau madrasah diselenggarakan oleh BAN-SM.

Instrumen penilaian pengakuan sekolah meliputi; Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi, Standar Pendidik, Standar Sarana, Standar Pengelolaan, Standar Biaya, dan Standar Nilai. Akreditasi sekolah bertujuan untuk memilih tingkat kelayakan suatu sekolah dan memperoleh citra wacana kinerja sekolah.

Hasil pengakuan berupa Sertifikat Akreditasi Sekolah dan Profil Sekolah, kekuatan dan kelemahan, dan rekomendasi. Sertifikat Akreditasi Sekolah yaitu surat yang menyatakan pengakuan dan penghargaan terhadap sekolah atas status dan kelayakan sekolah melalui proses pengukuran dan evaluasi kinerja sekolah terhadap komponen-komponen sekolah menurut standar yang ditetapkan BAN-SM.

Sekolah sanggup diikutsertakan pengakuan apabila : (a) mempunyai surat keputusan kelembagaan (UPT); (b) mempunyai siswa pada semua tingkatan; (c) mempunyai sarana dan prasarana pendidikan; (d) mempunyai tenaga kependidikan; (e) melaksanakan kurikulum nasional; dan (f) telah menamatkan siswa. Masa berlaku pengakuan selama 4 tahun. Permohonan Akreditasi Ulang 6 bulan sebelum masa berlaku habis.

Cara Cek Hasil Nilai Pengukuhan Sd/Mi Di Bansm.Or.Id

6:27:00 PM
Untuk mengetahui nilai pengakuan sekolah sanggup melihat di website yang dikelola BAN Cara Cek Hasil Nilai Akreditasi SD/MI di bansm.or.id
Untuk mengetahui nilai pengakuan sekolah sanggup melihat di website yang dikelola BAN-SM di bansm.or.id
Hasil evaluasi atau status akreditasi sekolah sanggup dilihat secara online. Badan Akreditasi Nasional Sekolah-Madrasah atau disingkat BAN-SM sebagai lemabaga pelaksana proses evaluasi terhadap sekolah atau madrasah menyediakan laman website bansm.or.id. Berikut cara melihat hasil evaluasi pengakuan untuk jenjang SD (SD) / Madrasah Ibtidaiyyah (MI).

Cara Cek Nilai Akreditasi Sekolah

1. Kunjungi http://bansm.or.id/sekolah/sudah_akreditasi/1

2. Pilih Propinsi > Pilih wilayah Kab/KOta > Pilih Tipe Sekolah atau Madrasah > Pilih Status Sekolah > Pilih Nilai > kemudian Klik Tampilkan

3. Atau, eksklusif ketik nama sekolah di kolom pencarian, kemudian klik enter.

4. Klik sekolah yang muncul maka akan terlihat data sekolah beserta data pengakuan tahun berapa dan standar standar nilai pengakuan sekolah.

Bagiamana kalau pada pengecekan dengan cara tersebut di atas ternyata nilai pengakuan sekolah Anda tidak muncul? Hal tersebut mungkin dikarenakan nilai pengakuan sekolah Anda masih ada di daftar nama sekolah yang belum akreditasi.

Akreditasi sekolah merupakan pengakuan dan evaluasi dari beberapa pihak yang berwenang. Pemerintah melaksanakan pengakuan sekolah untuk menilai kelayakan jadwal atau satuan pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional secara bertahap, terjadwal dan terukur. Proses evaluasi terhadap sekolah atau madrasah diselenggarakan oleh BAN-SM.

Instrumen penilaian pengakuan sekolah meliputi; Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi, Standar Pendidik, Standar Sarana, Standar Pengelolaan, Standar Biaya, dan Standar Nilai. Akreditasi sekolah bertujuan untuk memilih tingkat kelayakan suatu sekolah dan memperoleh citra wacana kinerja sekolah.

Hasil pengakuan berupa Sertifikat Akreditasi Sekolah dan Profil Sekolah, kekuatan dan kelemahan, dan rekomendasi. Sertifikat Akreditasi Sekolah yaitu surat yang menyatakan pengakuan dan penghargaan terhadap sekolah atas status dan kelayakan sekolah melalui proses pengukuran dan evaluasi kinerja sekolah terhadap komponen-komponen sekolah menurut standar yang ditetapkan BAN-SM.

Sekolah sanggup diikutsertakan pengakuan apabila : (a) mempunyai surat keputusan kelembagaan (UPT); (b) mempunyai siswa pada semua tingkatan; (c) mempunyai sarana dan prasarana pendidikan; (d) mempunyai tenaga kependidikan; (e) melaksanakan kurikulum nasional; dan (f) telah menamatkan siswa. Masa berlaku pengakuan selama 4 tahun. Permohonan Akreditasi Ulang 6 bulan sebelum masa berlaku habis.

Pengawas Sekolah Dan Komputer

6:58:00 AM
Menjadi seorang Pengawas diharapkan Sikap mental, wawasan, mental dan intelektual yang mumpuni.
Dalam periode digital ini seorang Pengawas wajib mempunyai kompetensi lebih dibandingkan dengan Kepala Sekolah apalagi dengan guru. Sehingga untuk menjadi seorang Pengawas diharapkan Sikap mental, wawasan, mental dan intelektual yang mumpuni, sesuai dengan perkembangan teknologi dan Sosial budaya masyarakat kekinian.

Untuk menjadi seorang pengawas jangan dilatarbelakangi oleh alasannya ialah menghindari "PERIODESASI", hal ini akan berdampak Kinerja yang asal-asalan. Selain itu yang paling penting bagi seorang Pengawas jangan berasumsi bahwa semua pekerjaan yang berkaitan dengan komputerisasi mengandalkan Operator.

Ingat, tanggung jawab seorang Pengawas bukan hanya pada bentuk Laporan Administrasi semata yang hanya akan menyenangkan rekan Senioritas (ABS), akan tetapi lebih dari itu ... KOMPETENSI PROFESIONAL seorang Pengawas akan dipertanyakan oleh khalayak. Intinya Seorang Pengawas Wajib bekerja dengan memakai KOMPUTER.

Disamping itu pula setiap hasil dari acara DIKLAT, WORKSHOP.... jangan hanya coppy paste yang juga disampaikan kepada audience begitu-begitu saja... itu menyampaikan Pengawas yang UNCREATIVE.

Pengawas ialah Pembeharu, Pendobrak, Konseptor ... bukan Pengekor. Dengan demikian seorang Pengawas mesti bersahabat dengan yang namanya equipment (alat kerja) yang namanya Komputer, bukan menghindari dan menjauhinya, apa lagi tidak mau mencar ilmu sama sekali.

Dalam menyikapi perubahan menuju perbaikan dan peningkatan kwalitas diri tidak ada istilah untuk menyampaikan "NANTI SAJA". Sebagai konsekwensi logis bahwa Pengawas ialah PEMBAHARU.

Semoga goresan pena ini bermanfaat sebagai materi perenungan bersama.

*) Ditulis oleh Dadang, S.Pd., MM. Pengawas Sekolah Kab. Bogor

Pengawas Sekolah Dan Komputer

6:58:00 AM
Menjadi seorang Pengawas diharapkan Sikap mental, wawasan, mental dan intelektual yang mumpuni.
Dalam periode digital ini seorang Pengawas wajib mempunyai kompetensi lebih dibandingkan dengan Kepala Sekolah apalagi dengan guru. Sehingga untuk menjadi seorang Pengawas diharapkan Sikap mental, wawasan, mental dan intelektual yang mumpuni, sesuai dengan perkembangan teknologi dan Sosial budaya masyarakat kekinian.

Untuk menjadi seorang pengawas jangan dilatarbelakangi oleh alasannya ialah menghindari "PERIODESASI", hal ini akan berdampak Kinerja yang asal-asalan. Selain itu yang paling penting bagi seorang Pengawas jangan berasumsi bahwa semua pekerjaan yang berkaitan dengan komputerisasi mengandalkan Operator.

Ingat, tanggung jawab seorang Pengawas bukan hanya pada bentuk Laporan Administrasi semata yang hanya akan menyenangkan rekan Senioritas (ABS), akan tetapi lebih dari itu ... KOMPETENSI PROFESIONAL seorang Pengawas akan dipertanyakan oleh khalayak. Intinya Seorang Pengawas Wajib bekerja dengan memakai KOMPUTER.

Disamping itu pula setiap hasil dari acara DIKLAT, WORKSHOP.... jangan hanya coppy paste yang juga disampaikan kepada audience begitu-begitu saja... itu menyampaikan Pengawas yang UNCREATIVE.

Pengawas ialah Pembeharu, Pendobrak, Konseptor ... bukan Pengekor. Dengan demikian seorang Pengawas mesti bersahabat dengan yang namanya equipment (alat kerja) yang namanya Komputer, bukan menghindari dan menjauhinya, apa lagi tidak mau mencar ilmu sama sekali.

Dalam menyikapi perubahan menuju perbaikan dan peningkatan kwalitas diri tidak ada istilah untuk menyampaikan "NANTI SAJA". Sebagai konsekwensi logis bahwa Pengawas ialah PEMBAHARU.

Semoga goresan pena ini bermanfaat sebagai materi perenungan bersama.

*) Ditulis oleh Dadang, S.Pd., MM. Pengawas Sekolah Kab. Bogor

Mendikbud: Tidak Ada Lagi Istilah Sekolah Favorit

2:33:00 AM
 tidak ada lagi istilah sekolah favorit atau tidak favorit Mendikbud: Tidak Ada Lagi Istilah Sekolah Favorit
Dengan ini, tidak ada lagi istilah sekolah favorit atau tidak favorit.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, pihaknya sedang merancang sistem penerimaanya siswa gres memakai zona, bukan rayon. Sistem ini bertujuan untuk menghapus kastanisasi sekolah.

"Kalau sekarang, banyak sekolah favorit yang jadi rebutan. Dengan ini, tidak ada lagi istilah sekolah favorit atau tidak favorit," kata Muhadjir yang kutip dari Republika (06/12/16).

Sistem gres ini akan mempertimbangkan seberapa jauh jarak anak dari sekolah. Aturan sistem penerimaan siswa memakai zona ini mewajibkan sekolah negeri mendapatkan anak cerdik maupun bodoh.

"Ini pemerataan hak, tak boleh ada diskriminasi," kata Muhadjir.

Sistem penerimaan ini mempertimbangkan jarak dan waktu tempuh setiap anak ke sekolah. Jika saat ini kan mempertimbangkan nilai, maka dengan sistem ini yang penting anak gampang menjangkau sekolah.

Baca juga: Seperti Inilah SD (SD) di Jepang

Sistem penerimaan siswa memakai zona masih dalam perumusan. Namun, Kemdikbud menargetkan hukum tersebut akan tanggapan pada 2017. Sistem gres itu akan berlaku bagi semua jenjang, baik SD, SMP,  dan Sekolah Menengan Atas sederajat.

Internet Tidak Dapat Menggantikan Posisi Guru

8:45:00 PM
Perkembangan pesat internet dan teknologi menjadikan membludaknya arus warta dan telah besar lengan berkuasa pada proses berguru mengajar yang materinya bisa diperoleh dengan gampang di dunia maya. Namun, bukan berarti internet telah menggantikan posisi guru dan tenaga pengajar.
Internet Tidak Bisa Menggantikan Posisi Guru Internet Tidak Bisa Menggantikan Posisi Guru
Secanggih-canggihnya teknologi tidak bisa menggantikan posisi guru

"Cari warta apapun bisa dengan gampang klik Google, tapi data itu masih mentah dan secanggih-canggihnya teknologi tidak bisa menggantikan posisi guru," kata Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Poppy Dewi Puspitawati yang kutip dari Republika (30/11/2016).

Guru justru berperan penting dalam penguatan pendidikan abjad yang sudah menjadi kebijakan pemerintah. Guru sebaiknya tidak membiarkan siswa mengakses internet tanpa pendampingan yang bisa berakibat berbahaya. Namun, guru harus menguasai teknologi digital terlebih dahulu daripada siswa.

Baca juga: Pengaruh Internet Terhadap Prestasi Siswa

"Ini ialah tantangan dan bukan sebuah kendala. Sejauh ini, pemerintah telah melaksanakan aneka macam upaya ibarat menunjukkan training kepada guru untuk pengayaan kemampuan IT melalui Pustekkom, termasuk di dalamnya pengembangan profesi guru melalui digital," kata Poppy.

47 Jenis Tarikan Di Sekolah Yang Termasuk Pungli

6:35:00 PM
Ada 47 jenis tarikan menurut pengaduan masyarakat yang dimasukkan pungutan liar (pungli). Tarikan yang dibebankan kepada siswa sanggup digolongkan sebagai pungli, apabila besaran tarikan diputuskan secara sepihak oleh sekolah tanpa melibatkan pendapat orang bau tanah siswa, serta mengandung unsur pemaksaan dalam hal pembayaran.

 Jenis Tarikan di Sekolah yang Termasuk Pungli 47 Jenis Tarikan di Sekolah yang Termasuk Pungli
47 Jenis Tarikan di Sekolah yang Termasuk Pungli
Malang Corruption Watch beserta Forum Masyakat Peduli Pendidikan, menurut data sebagaimana tertera di buku “Panduan Advokasi Pendidikan: Memahami untuk melaksanakan pendampingan kasus-kasus pendidikan,” ada 47 jenis tarikan menurut pengaduan masyarakat sebagaimana dijelaskan di atas.

Semua bentuk pungli dengan bermacam-macam modusnya di atas, yaitu pelanggaran terhadap UU dan peraturan pendidikan yang ada. Masyarakat dihentikan takut untuk menolak bila ada pungutan, bila masih takut segera laporkan kepada Dinas Pendidikan. Semua laporan dilindungi oleh undang-undang Keterbukaan Informasi Publik Nomor 14 tahun 2008, termasuk nama/identitas pelapor.

Baca: Menemukan Pungutan Liar di Sekolah, Laporkan ke Sini

Pungutan liar dengan segala jenis dan bentuknya, merupakan duduk kasus yang harus segera diselesaikan, bila tidak, pelayanan publik yang menjadi kiprah utama pemerintah akan bergeser menjadi barang yang diperjualbelikan.

Jika duduk kasus menyerupai alokasi anggaran, transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan tidak dilakukan, maka pungutan liar akan terus berkembang dan jadi jalan ilegal untuk menjawab kebutuhan sekolah. Tim Saber Pungli untuk bekerja serius memberantas pungli yang terjadi pada sektor-sektor pelayanan dasar.

Presiden Minta Pendidikan Dirombak Besar-Besaran

8:20:00 PM
Presiden Minta Pendidikan Dirombak Besar Presiden Minta Pendidikan Dirombak Besar-besaran
Perombakan yang diminta Presiden semoga segera dilakukan semoga kualitas pendidikan di Indonesia meningkat.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta perombakan besar-besaran dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Hal ini dikatakan Presiden Jokowi dalam rapat terbatas dengan topik Efektivitas Belanja Pendidikan dan Kesehatan pada APBN di Kantor Presiden Jakarta (5/10).

Baca juga: Presiden Minta SD Ditekankan Membangun Karakter

"Saya minta dilakukan perombakan besar-besaran untuk peningkatan kualitas pendidikan," kata Jokowi yang kutip dari BeritaSatu (08/10/16).

Anggaran pendidikan dan kesehatan dari tahun ke tahun semakin meningkat dan membesar. Oleh alasannya ialah itu, Prsiden meminta dengan anggaran yang semakin besar tersebut, harus dibentuk semakin fokus semoga sempurna sasaran.

"Mestinya kita harus fokus pada upaya menciptakan belanja pendidikan dan kesehatan betul-betul sanggup sempurna sasaran. Jangan hingga anggaran yang semakin meningkat tapi kesannya tidak maksimal atau belum maksimal," ucapnya.

Presiden meminta semoga alokasi dana pendidikan betul-betul dipakai secara efektif untuk meningkatkan jalan masuk dan kualitas pendidikan. Dia juga menekankan semoga jalan masuk siswa, terutama siswa dari keluarga miskin, betul-betul memperoleh pendidikan dan mendapat prioritas.

"Saya minta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merampungkan distribusi Kartu Indonesia Pintar dan pastikan bahwa kartu itu betul-betul menjangkau siswa-siswa miskin dan sempurna sasaran," kata Jokowi.

Baca juga: Andai Dana TPG Dipakai Untuk Membangun Sekolah

Presiden juga meminta supaya infrastruktur pendidikan untuk diperbaiki. Terlebih, dia telah mendapat warta bahwa dari 1,8 juta ruang kelas yang ada di Indonesia, hanya 466 ribu yang dalam kondisi baik dan dari 212.000 sekolah, ada 100.000 sekolah yang belum mempunyai perawatan pendidikan.

Andai Dana Tpg Digunakan Untuk Membangun Sekolah

11:48:00 PM
 berapa ratus sekolah yang dibangun dari pemberian profesi itu Andai Dana TPG Dipakai Untuk Membangun Sekolah
Bisa dibayangkan kalau uang ini digunakan untuk membangun sekolah.
Tunjangan profesi guru (TPG) yang bertujuan mengakibatkan guru lebih semangat dan profesional, berdasarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, ternyata salah ditafsirkan oleh tenaga pendidik. Diakuiny sebagian besar guru belum profesional dalam melakukan tugas.

Sejak penetapan pemberian profesi oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, penerima sertifikasi guru hanya tujuh persen dari jumlah guru yang ada ketika itu, sehingga APBN yang dikeluarkan untuk membayar pemberian hanya Rp7 triliun.

"Kepemimpinan Jokowi kini menanggung beban kebijakan Pak SBY dulu, kini menjadi Rp72 lebih triliun," kata Muhadjir yang kutipdari Okezone (07/10/16).

Ia menambahkan, dari total 3 juta guru yang ada, gres 61 persen yang menerima TPG sehingga kalau memproyeksikan seluruh guru mendapatkan pemberian maka dana yang dikeluarkan oleh negara cukup besar.

Baca juga: Tahun Depan Kebutuhan Guru SD Mencapai 188 Ribu

"Pemerintah harus menyiapkan setidaknya Rp110 triliun. Bisa dibayangkan kalau uang ini digunakan untuk membangun sekolah di Papua, berapa ratus sekolah yang dibangun dari pemberian profesi itu. Tunjangan sangat mahal, tetapi profesi gurunya tidak profesional-profesional dan ini menjadi tantangan kita," kata dia.

Kunjungan tiga hari Mendikbud ke Papua dari 6 Oktober ialah untuk melihat secara akrab kondisi fisik, keadaan guru dan mempelajari peta pendidikan di Papua. Menurutnya, kawasan Indonesia Timur ini bab dari prioritas pembangunan pendidikan yang diminta oleh Presiden Jokowi.