Showing posts with label Perkembangan Anak. Show all posts
Showing posts with label Perkembangan Anak. Show all posts

8 Dari 10 Siswa Menjadi Korban Bullying Di Sekolah

6:04:00 PM
 Siswa Menjadi Korban Bullying di Sekolah 8 dari 10 Siswa Menjadi Korban Bullying di Sekolah
Untuk menghapus bullying di sekolah, tidak hanya ditujukan kepada belum dewasa saja tetapi juga para orang dewasa.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan delapan dari sepuluh anak pernah menjadi korban bullying atau perundungan di sekolah. Untuk itu pada Hari Anak Nasional (HAN) 2018 ini, KPAI menggalakkan kampanye Stop Bullying.

Menurut Komisioner KPAI Retno Listyarti sepanjang 2018 hingga 30 Mei, ada 161 kasus kekerasan anak di lingkungan pendidikan. Dari jumlah tersebut ada 22,4 persen kasus anak menjadi korban bullying. Kemudian ada 25,5 persen anak menjadi pelaku bullying.

Dalam data Ikhtisar Penghapusan Kekerasan Pada Anak 2016-2020 dijelaskan bahwa 84 persen atau delapan dari sepuluh siswa pernah mengalami perundungan. Kemudian 45 persen siswa pria menyebutkan guru atau petugas sekolah yakni pelaku kekerasan.

Ada kiprah orang remaja dalam munculnya bullying di sekolah. Anak-anak di sekolah banyak yang menirukan sikap kekerasan atau bullying yang dilakukan oleh orang dewasa. Mereka mencontoh dari acara di media sosial, tayangan televisi, dan sejenisnya.

Baca: Jangan Mendisiplinkan Siswa dengan Kekerasan

"Sekarang banyak belum dewasa usia SD sudah aktif di media sosial," kata Retno yang kutip dari JPNN (25/07/2018).

Untuk menghapus bullying di sekolah, tidak hanya ditujukan kepada belum dewasa saja. Tetapi para orang remaja juga harus memperlihatkan teladan dengan tidak lagi mempertontonkan agresi kekerasan kepada anak-anak. Pasalnya 70 persen sikap anak itu yakni hasil mencontoh.

Perkembangan Tabiat Dan Kecerdasan Spiritual Anak

12:26:00 AM
Perkembangan Moral dan Kecerdasan Spiritual Anak Perkembangan Moral dan Kecerdasan Spiritual Anak
Ciptakan iklim berguru yang aman bagi perkembangan watak dan kecerdasan spiritual akseptor didik.
1. Perkembangan Moral
Setiap individu sebagai bab dari masyarakat diharapkan bersikap sesuai dengan cara yang disetujui masyarakat. Belajar berperilaku sesuai dengan yang disetujui masyarakat merupakan proses yang panjang dan usang yang terus berlanjut hingga usia remaja. Interaksi sosial memegang peranan penting dalam perkembangan moral, alasannya yaitu anak mempunyai kesempatan untuk berguru isyarat watak dan mendapat kesempatan untuk berguru bagaimana orang lain memperlihatkan penilaian. Bila penilaiannya positif maka akan memotivasi untuk menyesuaikan dengan standar nilai yang berlaku.

a. Moralitas Merupakan Hasil Belajar

Hati nurani atau skala nilai merupakan hasil dari proses berguru untuk berguru berperilaku sesuai dengan yang disetujui masyarakat. Salah satu kiprah perkembangan yang penting di masa kanak-kanak sebelum masuk sekolah mereka diharapkan sudah bisa membedakan yang baik dan salah dalam suatu situasi yang sederhana, hal itu merupakan dasar bagi perkembangan hati nurani. Sebelum masa kanak-kanak berahir, amat diharapkan anak sanggup menyebarkan skala nilai atau hati nurani untuk membimbing mereka dalam mengambil keputusan moral.

Menurut Hurlock (2013: 75) terdapat empat pokok utama dalam mempelajari sikap watak sebagai berikut ini.
1) Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum, kebiasaan, dan peraturan.

2) Mengembangkan hati nurani atau bunyi hati merupakan salah satu kiprah perkembangan yang penting pada final masa kanak-kanak. Suara hati juga dikenal sebagai “cahaya dari dalam” dan polisi internal yang mendorong anak untuk melaksanakan hal yang benar dan menghindari hukuman.

3) Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa aib jikalau perilakunya tidak sesuai dengan impian kelompok. Ausubel (Hurlock, 2013:78) menjelaskan rasa bersalah merupakan salah satu prosedur psikologis yang paling penting dalam proses sosialisasi. Hal itu juga merupakan unsur penting bagi kelangsungan hidup budaya alasannya yaitu hal itu merupakan penjaga yang paling efisien dari individu.

4) Mempunyai kesempatan berinteraksi sosial dengan anggota kelompok sosial. Interaksi sosial memegang peranan penting dalam perkembangan moral.

Pada masa ini anak sudah mempertimbangkan situasi khusus mengenai watak yang baik dan salah. Menurut Piaget (Hurlock, 2003:163) pada masa ini anak mulai menggantikan watak yang kaku menjadi relativisme, misalnya anak umur 5 tahun berbohong itu buruk, anak yang lebih besar berbohong itu dibolehkan dalam situasi tertentu. Anak akan berusaha beradaptasi dengan peraturan kelompok biar diterima oleh kelompoknya. Oleh alasannya yaitu itu sekolah harus memperlihatkan perhatian pada pendidikan watak mengenai konsep benar dan salah serta alasannya mengapa perbuatan itu diperbolehkan atau dilarang, biar akseptor didik memahami konsep benar dan salah secara lebih luas dan lebih abstrak. Penerapan konsep benar dan salah harus diberikan secara konsisten oleh guru dan orang tua.

Kehidupan watak tidak sanggup dipisahkan dari keyakinan beragama, alasannya yaitu nilai-nilai watak bersifat tegas, pasti, tetap, serta tidak berubah alasannya yaitu keadaan, daerah dan waktu. Nilai ini bersumber dari agama (Daradjat: 2010:156)

b. Tingkat dan Tahapan Perkembangan Moral

Kohlberg menekankan bahwa perkembangan watak didasarkan terutama pada budi sehat watak dan berkembang secara sedikit demi sedikit (Santrock, 2010:118-119). Terdapat tiga tingkat perkembangan moral, yang masing-masing ditandai oleh dua tahap. Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg yaitu internalisasi, yaitu perubahan perkembangan dari sikap yang dikendalikan secara eksternal menjadi sikap yang dikendalikan secara internal.

2. Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual yaitu kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap sikap dan kegiatan. Menurut Zohar dan Marshal kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia, alasannya yaitu paling berperan dalam kehidupan manusia. Kecerdasan spiritual merupakan aspek yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian manusia. dan merupakan landasan yang diharapkan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif (Agustian, 2001:57).

Setiap orang pernah mengalami penghayatan keagamaan bahwa di luar dirinya ada kekuatan yang Maha Agung yang melebihi apapun. Penghayatan keagamaan berdasarkan Brightman (Makmun, 2009:108) tidak hanya mengakui atas keberadaan-Nya melainkan juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang eksternal (abadi) yang mengatur tata hidup insan dan alam semesta.

a. Tahap Perkembangan Penghayatan Keagamaan Usia Sekolah dan Karakteristiknya

Sejalan dengan perkembangan kesadaran moraliras, perkembangan penghayatan keagamaan, yang erat hubungannya dengan perkembangan intelektual, emosional dan konatif. Para andal menyerupai Daradjat, Starbuch, dan James (Makmun, 2009:108) sependapat secara garis besarnya perkembangan penghayatan keagamaan dibagi dalam tiga tahapan yang secara kualitatif memperlihatkan karakteristik yang berbeda. Tahapan-tahapan itu ialah sebagai berikut, 1) masa kanak-kanak (sampai usia tujuh tahun); 2) masa anak sekolah(7-8 hingga 11-12 tahun); 3) masa pandai balig cukup akal (12-18 tahun) dibagi ke dalam dua sub tahapan, yaitu pandai balig cukup akal awal dan akhir.

Karakteristik penghayatan keagamaan pada masa anak sekolah (7-8 hingga 11-12 tahun), yang ditandai, antara lain sebagi berikut ini.

1) Sikap keagamaan bersifat reseptif (menerima saja apa yang dijelaskan orangtua atau guru kepadanya) tetapi disertai pengertian

2) Pandangan dan paham ke-Tuhan-an diterangkan secara rasional sesuai dengan kemampuan berpikir anak yaitu dengan cara yang lebih bersahabat dengan kehidupan sehari-hari dan lebih nyata yang bersumber pada indikator alam semesta sebagai perwujudan dari keberadaan dan keagungan-Nya;

3) Penghayatan secara rohaniah makin mendalam, melaksanakan acara ritual (ibadah keagamaan) diterima sebagai keharusan moral.

b. Proses Perkembangan Kecerdasan Spiritual dan Penghayatan Keagamaan

Agama tidak sama dengan spiritualitas, namun berdasarkan Mikley (Desmita, 2014:208) agama bersama dengan eksistensial merupakan dimensi dari spiritualitas. Dimensi eksistesial berfokus pada tujuan dan makna hidup, sedangkan dimensi agama berfokus pada kekerabatan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Potensi kecerdasan spiritual berkembang alasannya yaitu adanya efek interaksi dengan lingkungan sekitar hingga final hayatnya. Anak-anak dilahirkan dengan kecerdasan spiritual yang tinggi. Namun perlakuan yang tidak sempurna dari orang tua, sekolah dan lingkungan seringkali merusak apa yang mereka miliki. Menurut Daradjat (2010:75) bahwa faktor yang menghipnotis perkembangan penghayatan keagamaan yaitu orangtua, guru dan dan lingkungan. Pendidikan dilingkungan keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan penghayatan keagamaan. Hubungan yang serasi dengan orangtua, disayang, dlindungi, dan mendapat perlakuan baik, maka anak akan gampang mendapatkan kebiasaan orangtua, dan selanjutnya akan cenderung kepada agama. Sebaliknya kekerabatan dengan orangtua yang kurang harmonis, penuh tekanan, kecemasan, ketakutan, menjadikan sulitnya perkembangan agama pada anak.

Pendidikan anak di sekolah, khususnya pendidikan agama di SD merupakan dasar bagi sikap jiwa agama. Apabila guru memberi sikap positif terhadap agama maka akan besar lengan berkuasa dalam membentuk pribadi dan adat yang baik. Pendidikan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat memegang peranan penting dalam memelihara dan menyebarkan potensi kecerdasan spiritual. Terpeliharanya kecerdasan spiritual akan mengoptimalkan IQ dan EQ.

Daradjat (2010:90) menyatakan penghayatan keagamaan berkaitan dengan kematangan intelektual dan sanggup dikembangkan melalui pembiasaan juga memperlihatkan pemahaman agama sesuai dengan tahap kemampuan berpikirnya.

3. Implementasi dalam Pembelajaran

a. Jadilah panutan dengan menampilkan sikap dan sikap yang mencerminkan kepribadian dan watak yang baik, serta cerdas secara spiritual,

b. Ciptakan iklim berguru yang aman bagi perkembangan watak dan kecerdasan spiritual akseptor didik. Selain pandai guru juga harus bersikap bijaksana, sabar, hangat dan tulus dalam melaksanakan tugas, dan bersikap positif terhadap pekerjaan. Sikap yang demokratis dan perlakuan yang baik dari guru akan membangun kekerabatan baik dengan akseptor didik, sehingga iklim berguru yang aman bagi perkembangan akseptor didik akan terwujud.

C. Pahami ada keragaman dalam sikap watak dan kecerdasan spiritual alasannya yaitu tidak semua akseptor didik mempunyai lingkungan keluarga yang menjunjung watak dan spiritual yang tinggi serta keluarga yang harmonis. Oleh alasannya yaitu itu, guru harus bersikap mendapatkan semua akseptor didik, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jangan bersikap bergairah atau sinis kepada mereka yang belum menampilkan watak dan kecerdasan spiritual sesuai yang diharapkan, namun bersikap bijak dan tetap membimbing serta mendorongnya dengan sabar.

d. Rancang pembelajaran dengan memasukan aspek watak atau aksara dan spiritual dalam pembelajaran.

e. Kembangkan sikap watak dan spiritual melalui pembiasaan yang disertai pemahaman dan disiplin yang disertai konsekuensi yang mendidik. Buatlah norma-norma sikap moral/spiritual yang harus dilakukan yaitu jujur, empati, taat aturan, tanggung jawab, menghargai orang lain, mencintai orang lain dsb.

f. Biasakan berdoa sebelum dan setelah berguru dan dorong akseptor didik untuk rajin beribadah serta libatkan mereka dalam acara keagamaan dan sosial.

g. Buat suatu kiprah kelompok/kelas yang sanggup meningkatkan sikap altruisme (membantu orang lain dengan ikhlas). Beri mereka kebebasan untuk menentukan acara yang sanggup membantu orang lain, mungkin membantu teman yang kesulitan belajar, membersihkan halaman sekolah, dsb (Santrock, 2007:124)

h. Bekerja sama dengan rekan guru, terutama guru agama serta orangtua untuk membantu meningkatkan sikap watak dan kecerdasan spiritual.

Kecerdasan Emosional Dan Perkembangan Sosial

4:04:00 PM
Kecerdasan Emosional dan Perkembangan Sosial Kecerdasan Emosional dan Perkembangan Sosial
Guru harus mengetahui karakteristik emosi dan sikap sosial pada masa usia sekolah dasar.
A. Perkembangan Emosi

1. Pengertian emosi : Emosi sanggup didefinisikan sebagai suatu suasana yang kompleks dan getaran jiwa yang menyertai atau muncul sebelum/sesudah terjadinya sikap (Makmun, 2009:114). Emosi tidak hanya melibatkan perasaan dan pikiran, aspek biologis dan psikologis, namun disertai serangkaian tindakan.

2. Aspek sikap dari suatu emosi ada tiga variabel :
a. Situasi yang menjadikan emosi
b. perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi dalam diri individu yang mengalami emosi
c. respon atau reaksi individu yang menyertai emosi.

Masa kanak-kanak disebut sebagai “periode kritis” dalam perkembangan emosi (Hurlock, 2003:213-214). Keadaan emosi pada masa usia sekolah (akhir masa kanak-kanak) umumnya merupakan periode yang relatif damai hingga datangnya masa puber. Namun ada dikala anak sering mengalami emosi yang meninggi menyerupai cepat murka dan rewel, umumnya sulit dihadapi (periode ketidakseimbangan) disebabkan:

1) Faktor fisik (sakit, lelah)
2) Menghadapi lingkungan gres menyerupai dikala anak masuk sekolah
3) Perubahan yang besar pada kehidupan anak, menyerupai perceraian atau janjkematian orangtua.

Emosi yang umum pada masa final kanak-kanak (usia sekolah) ialah marah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih, dan kasih sayang.

Menurut Hurlock (2003:211) emosi mempunyai peranan yang penting bagi kehidupan anak lantaran menghipnotis adaptasi langsung dan sosial anak, diantaranya yaitu:

1) Menambah rasa bahagia dan menyiapkan badan untuk bertindak
2) Ketegangan emosi mengganggu keterampilan motorik.
Contoh sanggup mengakibatkan gangguan bicara menyerupai bicara tidak terperinci dan gagap
3) Emosi merupakan bentuk suatu komunikasi dan memperlihatkan kesannya pada ekspresi
wajah, serta mewarnai pandangan anak terhadap kehidupan
4) Emosi mengganggu acara mental.
5) Emosi merupakan sumber evaluasi diri dan sosial.
6) Emosi menghipnotis interaksi sosial.
7) Emosi menghipnotis suasana psikologis.
8) Reaksi emosional apabila diulang-ulang akan berubah menjadi kebiasaan.

Menurut Goleman (1997:57) setiap orang tentu mempunyai kemampuan yang berbeda dalam wilayah kecerdasan emosi. Kecerdasan emosional mempunyai lima wilayah utama, yaitu:

1) Mengenali emosi diri
2) Mengelola emosi.
3) Memotivasi diri sendiri
4) Mengenali emosi orang lain
5) Membina hubungan.

Kualitas-kualitas emosional yang penting untuk mencapai kesuksesan berdasarkan Peter Salovey dan John Mayer diantaranya :

a) empati
b) mengungkapkan dan memahami perasaan
c) mengendalikan amarah
d) kemandirian
e) kemampuan mengikuti keadaan
f) disukai
g) kemampuan memecahkan persoalan antar pribadi
h) ketekunan
i) kesetiakawanan
j) keramahan
k) sikap hormat.

Menurut Hurlock (2003:231) mengendalikan emosi ialah mengarahkan energi emosi ke terusan ekspresi yang bermanfaat dan dapatditerima secara sosial. Dalam mengendalikan emosi, anak harus berguru bagaimana cara menangani rangsangan yang membangkitkan emosi dan bagaimana cara mengatasi reaksi yang biasa menyertai emosi.

B. Perkembangan Sosial

Setelah memasuki sekolah, anak melaksanakan relasi sosial yang lebih luas dengan sahabat sebayanya dibandingkan dengan anak pada masa pra sekolah. Pada masa ini minat terhadap kegiatan keluarga berkurang, sebaliknya minat terhadap kegiatan sahabat sebayanya semakin kuat. Perubahan permainan individual menjadi permainan kelompok yang membutuhkan banyak orang, sehingga pergaulannya semakin luas. Berubahnya minat bermain, impian untuk bergaul dan diterima oleh teman-temannya semakin kuat. Pada masa ini disebut sebagai masa “gang”, yaitu usia dimana kesadaran sosial berkembang pesat. Gang mempunyai kiprah dalam meningkatkan sosialisasi anak, anak berguru berperilaku biar sanggup diterima secara sosial. Menjadi langsung sosial ialah salah satu kiprah perkembangan yang utama dalam periode ini. Anak menjadi anggota kelompok sahabat sebaya dan secara sedikit demi sedikit menggantikan imbas orangtua dalam berperilaku.

a. Bentuk Perilaku yang Paling Umum pada Masa Kanak-kanak Akhir

1) Rentan terhadap penerimaan sosial.
2) Kepekaan yang berlebihan.
3) Sikap sportif dan tanggung jawab
4) Diskriminasi sosial
5) Prasangka
6) Antagonisme jenis kelamin
7) Persaingan terjadi antara anggota dalam kelompok atau antara gang saingannya.
8) Praktis dipengaruhi dan tidak gampang dipengaruhi.
9) Wawasan social

b. Status Hubungan Sosial

Penerimaan sosial bekerjasama dengan kualitas langsung yaitu banyaknya sifat-sifat baik, menarik , dan keterampilan sosial. Ada 3 status sosial, yaitu:

1) Anak popular
Menurut Hartuf (Santrock, 2010:100) anak terkenal ialah sahabat yang terbaik, mempunyai keterampilan sosial yang tinggi, ramah, suka bergaul, bersahabat, sangat peka secara sosial, suka menolong, dan sangat gampang bekerjasama dengan orang lain, mandiri, cenderung riang.

2) Anak yang diabaikan (neglected children)
Ciri-ciri sikap anak yang diabaikan adalah, cenderung menarik diri, jarang bergaul, temannya sedikit, jarang diharapkan oleh temannya.

3) Anak yang ditolak (rejected chidren),
Anak yang ditolak mempunyai ciri menawarkan aksi tinggi, menarik diri, serta kemampuan sosial dan kognitif yang rendah. Anak yang ditolak ada yang bersikap agresif, yaitu menawarkan sikap bergairah yang tinggi, kontrol diri rendah (impulsive), serta sikap menganggu. Adapula yang tidak agresif, perilakunyamenunjukkan melarikan diri, cemas, dan tidak mempunyai keterampilan sosial

C. Kecerdasan Emosi dan Keterampilan Sosial

Kecerdasan emosi dan keterampilan sosial akan membentuk karakter, berdasarkan beberapa hasil penelitian kecerdasan emosi dan keterampilan sosial lebih penting dari inteligensi (IQ) dalam mencapai keberhasilan hidup. Kecerdasan emosi (EQ) menciptakan anak mempunyai semangat yang tinggi dalam berguru atau disukai oleh teman-temannya dalam kegiatan bermain, maka hal itu akan membawa keberhasilan ketika memasuki dunia kerja atau berkeluarga. Menurut Shapiro (1997:175) kecerdasan emosi dan keterampilan sosial sanggup diajarkan kepada anak sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak.

Dalam mengajarkan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial sanggup dilakukan antara lain dengan
1) Membina relasi persahabatan
2) Bekerja dalam kelompok
3) Berbicara dan mendengarkan secara efektif
4) Mengatasi persoalan dengan sahabat yang nakal
5) Berempati terhadap orang lain
6) Mencapai prestasi tinggi
7) Memecahkan masalah
8) Memotivasi diri kalau menghadapi masa-masa yang sulit
9) Percaya diri dikala menghadapi situasi yang sulit
10) Menjalin keakraban, dan mengajarkan tata krama

D. Identifikasi kecerdasan emosi dan keterampilan sosial peserta didik

Untuk mengidentifikasi kecerdasan emosi dan keterampilan sosial peserta didik, guru harus mengetahui karakteristik emosi dan sikap sosial pada masa usia sekolah dasar. Cara mengidentifikasi hal tersebut, diantaranya ialah pengamatan, wawancara, angket, tes (lisan tulis dan tindakan), studi okumentasi, angket atau inventori, menyerupai telah dijelaskan di materi perkembangan peserta didik.

Memahami Karakteristik Penerima Asuh Melalui Pendekatan Teman Sebaya

3:34:00 PM
Memahami karakteristik penerima didik melalui pendekatan sahabat sebaya
Pendidikan pada hakekatnya ialah memanusiakan manusia. Untuk mencapai impian ini, kehadiran Guru menjadi referensi impian para orang renta anak tersebut. Berbagai upaya memanusiakan insan telah dilakukan oleh guru di sekolah. Jika seorang Peserta didik sukses dalam studinya maka semua keluarga bahkan lingkungan akan membanggakan nama anak tersebut dan seluruh keluarga berbesar hati. Ini merupakan karakteristik insan pada umumnya. Akan tetapi kalau Peserta Didik tersebut gagal dalam sebuah forum Pendidikan maka orang pertama yang dicoreng namanya ialah Guru yang membimbing dan mengajar Peserta Didik tersebut. Hal semacam ini yang masih terbawa sepanjang ini di banyak sekali tempat di potongan Indonesia tercinta ini.

Memperhatikan budaya kekeliruan yang sulit diperbaiki ini maka sebagai Guru harusnya membangun banyak sekali konsep strategis guna memperkecil banyak sekali prasangka jelek yang ungkapkan oleh banyak sekali kalangan masyarakat selama ini. Salah satu konsep yaitu pendekatan sahabat sebaya. Teknik pendekatan ini diawali dengan langkah-langkah berikut:

a. Guru meminta Peserta Didik dengan mengajukan satu pertanyaan sederhana sebagai berikut:-
- Siapa saja sahabat berbain Anda setiap hari ? Kelas Rendah [Belum lancar membaca dan menulis]
- Tulislah teman-teman bersahabat Anda minimal nama 3[tiga] sahabat ! Kelas atas [yang lancar membaca dan menulis]

b. Menanyakan kesukaan Peserta Didik dari sahabat sebaya Peserta Didik tersebut dari daftar nama yang diterima

c. Mencatat semua gosip dari semua sahabat yang disebutkan/dituliskan dalam daftar secara lengkap.

d. Membaca dan menganalisa serta mengkaji pendapat yang dikumpulkan

e. Guru menciptakan final sementara abjad Peserta Didik bersangkutan

f. Mulai menyusun taktik gres guna menghipnotis serta memasukan konsep gres yang sanggup mengubah konsep dasar Peserta Didik sesuai impian Guru.

g. Menemukan karakteristik gres Peserta Didik menurut hasil karja guru.

Baca: Strategi untuk Mengenal Karakter Peserta Didik

Inilah beberapa langkah yang sanggup membantu Guru dalam menghadapi Karakter Peserta Didik yang sulit diatur. Selamat mencoba supaya bermanfaat demi memperkecil prasangka jelek dari banyak sekali pihak.

Maju Terus Pantang Mundur, Guru mengmang Pahlawan Tanpa Jasa namun Karya Guru merupakan gesekan Kecil yang tetap membekas di hati Peserta Didik hingga diujung penghabisan Riwayat Pendidikan ikut dibacakan di depan Khalayak.

*) Ditulis oleh Paulus Pobas,S.Pd
Guru Non PNS di SMAS Katolik 1 SoE-Kab.Timor Tengah Selatan-Nusa Tenggara Timur.

Mengapa Anak Masuk Sd Harus Usia 7 Tahun?

7:14:00 PM
 kognitif dan emosi untuk masuk SD  Mengapa Anak Masuk SD Harus Usia 7 Tahun?
Pada usia 7 tahun, anak dianggap sudah siap secara fisik, psikis, kognitif dan emosi untuk masuk SD (SD).
Memasuki tahun aliran gres orang bau tanah mulai mendaftrakan anaknya ke sekolah. Secara umum, anak-anak yang masuk ke sekolah dasar (SD) berusia 7 tahun. Namun menyerupai diketahui, tidak sedikit juga orang bau tanah menyekolahkan anaknya di bawah usia tersebut.

Menurut Psikolog anak, Ratih Zulhaqqi, M.Psi, bahwasannya pada usia 7 tahun, anak dianggap sudah siap secara fisik maupun psikis. Gerakan motorik, anak sudah lebih bagus, otot dan sarafnya juga sudah terbentuk. Salah satu contohnya menyerupai memegang pensil.

Selain itu, dikutip dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), menuliskan mengapa anak usia 7 tahun harus masuk SD:

1. Aspek Fisik
Pada usia 7 tahun secara fisik anak sudah bisa membisu di kelas dan memegang pensil secara mandiri. Di mana, gerakan motorik anak sudah bagus, otot dan sarafnya sudah terbentuk. Berbeda dengan usia satu tahun di bawahnya. Anak usia 6 tahun terkadang masih selalu ingin bermain.

2. Aspek Kognitif
Saat masuk ke SD anak diperlukan bisa membaca, menulis, berhitung sederhana. Selain itu anak juga diperlukan bisa mengikuti instruksi, paham dan bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan.

3. Aspek Psikologis
Dalam dunia perkembangan, anak mulai bisa berkonsentrasi dengan baik pada usia di atas 6 tahun. Semakin bertambah usianya kemampuan konsentrasi meningkat, semakin bisa memilah bahan mana yang harus diperhatikan dan harus diabaikan.

Anak yang terlalu dini masuk SD umumnya masih bermasalah khususnya di kelas satu, alasannya ialah ia belum siap untuk berguru berkonsentrasi. Dia masih berbagi keterampilan geraknya.

4. Aspek Emosi
Umumnya anak yang terlalu dini masuk SD memang cukup matang secara akademik. Namun biasanya kematangan emosi dan kemandirian belum maksimal. Padahal dijenjang SD anak tidak lagi akan menerima perhatian menyerupai di TK. Anak diperlukan lebih sanggup bangun diatas kaki sendiri dan juga tidak lagi terlalu tergantung pada orangtuanya.

Baca: Syarat Seleksi Penerimaan Siswa Baru Kelas 1 SD

Sehingga duduk kasus yang terlihat ialah anak bisa mengikuti pelajaran di sekolah, tapi disisi lain contohnya anak masih minta ditunggui dan gampang mengalah terhadap kiprah yang diberikan atau tidak mau mengerjakan PR alasannya ialah masih kebih suka bermain dan sebagainya.

Melihat aneka macam aspek tersebut, sebaiknya orang bau tanah jangan terlalu dini menyekolahkan anak tetapi melihat kondisi anak.

Tips Sederhana Menghadapi Murid Yang Nakal

8:56:00 AM
Tips Sederhana Menghadapi Murid yang Nakal Tips Sederhana Menghadapi Murid yang Nakal
Tips sederhana menghadapi murid nakal.
Seorang guru tentu perlu mempunyai taktik yang sempurna untuk menghadapi murid pembangkang di dalam kelas. Strategi yang diterapkan para guru sanggup saja variatif, dikondisikan dengan tempat, lingkungan dan konteks situasi yang terjadi. Meskipun berbeda cara, namun, setidaknya dengan tips sederhana menghadapi murid pembangkang yang ditulis Victoria Lerrick, yang lansir dari jitunews.com (24/08/17 ini sanggup coba Anda praktikkan:

Mengenal Karakter dan Latar Belakang Murid yang Nakal

Semua guru niscaya mengenal karakter setiap murid yang dididiknya. Apalagi seorang guru kelas di SD (SD). Seorang Guru SD biasanya mempunyai daftar muridnya yang mempunyai kecenderungan yang tinggi dalam berperilaku pembangkang di dalam kelas. Dengan mengenal huruf murid yang pembangkang itu, maka seorang guru pribadi mengetahui taktik apa yang diterapkan.

Misalnya, seorang yang sangat aktif dalam berbicara. Dia suka ngobrol dengan teman-temannya. Di rumahnya, beliau sangat dimanjakan oleh orang tuanya. Dia bahagia mencoba hal-hal yang baru, yang beliau temukan di lingkungannya. Di dalam kelas, tentu keaktifan berbicara itu akan beliau lakukan dengan teman-temannya meskipun ketika pelajaran sedang berlangsung, dan teman-temannya sedang mendengarkan pemaparan bahan pelajaran dari guru di depan kelas.

Meminta Murid Nakal Menjelaskan Ulang Materi

Saat pelajaran tengah berlangsung dan seorang guru melihat dan mendapati murid pembangkang tengah mengganggu murid yang lain, seorang guru pribadi memanggil nama murid tersebut dan meminta beliau mengulangi apa yang gres saja disampaikan guru. Misalnya: “Randi, coba kau ulangi apa yang gres saja ibu jelaskan”.

Tips ini sanggup saja dilakukan dalam dua bentuk. Pertama, meminta murid tersebut mengulangi apa yang disampaikan guru secara lisan, dan, Kedua, murid tersebut diminta menuliskan di papan tulis apa yang disampaikan gurunya. Cara itu cukup ampuh untuk menghentikan sikap murid yang pembangkang di dalam kelas ketika pelajaran berlangsung. Saat beliau berhenti melaksanakan perbuatannya, seorang guru pribadi memberi pelatihan supaya perbuatannya tidak diulangi lagi.

Meminta Murid Nakal Berpindah Tempat Duduk

Cara ini duduk pada pemahaman, sanggup saja murid yang pembangkang di dalam kelas juga sebab imbas temannya yang duduk berdekatan. Misalnya, sebab mereka sering bermain bersama di luar kelas, atau sebab sahabat yang berdekatan itu ialah sahabat akrabnya. Murid yang pembangkang tadi diminta untuk berpindah daerah duduk, misalya ke daerah duduk yang lebih dekat dengan gurunya.

Guru Menjedahi Materi Pelajaran dengan Game

Bagi seorang guru SD, game sangat penting untuk mendinamisasi situasi di dalam kelas. Tujuannya, supaya pelajaran tidak terasa membosankan dan jenuh. Sebab, kadang-kadang, murid SD sanggup menemukan semangatnya untuk menemukan pelajaran sesudah diajak bermain dalam sebuah game (permainan) yang dikreasikan gurunya.

Guru juga sanggup memakai game untuk menghentikan sikap murid yang pembangkang di dalam kelas. Meskipun, dalam beberapa kasus, seorang guru kadang terkesan mengabaikan murid yang tadinya melaksanakan perbuatan pembangkang di dalam kelas. Padahal, sebenarnya, tidak lah demikian. Guru tentu tahu dan melihat agresi pembangkang muridnya selama jam pelajaran berlangsung.

Namun, juga dibutuhkan otokritik dalam diri guru dengan perkiraan sederhana bahwa penyebab murid pembangkang di dalam kelas juga sebab metode pengajaran gurunya membosankan dan menciptakan muridnya jenuh. Untuk hal tersebut, silahkan menentukan game yang paling cocok dengan situasi kelas anda dan dimainkan pada ketika ada agresi pembangkang yang dilakukan murid.

Lakukan Pendekatan dengan Orang Tua Murid

Perkembangan seorang kognitif dan afektif seorang murid tidak hanya bergantung sepenuhnya terhadap pendekatan akademik di sekolah. Lingkungan sosial dan keluarga juga mempunyai imbas yang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Oleh sebab itu, dalam menghadapi murid yang sering pembangkang di dalam kelas, guru juga sanggup menerapkan metode pendekatan terhadap kedua orang tuanya.

Pendekatan terhadap orang tuanya bertujuan supaya orang tuannya juga mengetahui situasi dan sikap anaknya di sekolah. Sehingga, harapannya, melalui pendekatan komunikatif dan persuasif tersebut, orang renta murid sanggup turut membantu memperlihatkan dorongan dan perbaikan terhadap murid yang pembangkang tersebut.

Meminta Bantuan Guru Bimbingan Konseling

Untuk menangani sikap murid yang nakal, guru juga sanggup meminta tunjangan dan dukungan dari guru yang membidangi Bimbingan Konseling di sekolah. Pola ini ini ternyata cukup manjur untuk memperbaiki sikap murid yang sering pembangkang di dalam kelas.

Oleh pihak bimbingan konseling, murid yang pembangkang tersebut diberikan motivasi dan penguatan huruf (baca: pembinaan) supaya tidak mengulangi perbuatannya dan menjadi murid teladan, disiplin dan patuh terhadap gurunya.

Alasan Mengapa Siswa Sekolah Dasar Nakal

8:15:00 AM
Alasan Mengapa Siswa Sekolah Dasar Nakal Alasan Mengapa Siswa Sekolah Dasar Nakal
Perilaku siswa yang bandel di dalam kelas berkaitan dekat dengan perkembangan usia mereka.
Dalam psikologi pendidikan, tentu kita mengenal tahapan-tahapan perkembangan anak. Mulai dari beliau kanak-kanak, sampai dewasa. Bagi seorang guru, mengenal tahapan perkembangan anak secara komprehensif sangat membantu dirinya menemukan solusi atas tindakan-tindakan murid di dalam kelas yang mengganggu proses pembelajaran. [Baca: Penyebab 'Anak Nakal' dan Cara Mengatasinya]

Di sekolah dasar, sikap siswa yang bandel di dalam kelas dikala jam pelajaran berlangsung tentu berkaitan dekat dengan perkembangan usia mereka, yang mana lebih didominasi harapan untuk bermain dan bercengkerama dengan teman-temannya. Mereka tidak terlalu betah di dalam kelas jikalau mereka hanya duduk dan mendengar klarifikasi dari gurunya.

Sering sekali dialami situasi kelas yang terganggu alasannya yaitu ulah dan tindakan beberapa orang murid yang sangat mengganggu suasana pelajaran selama pelajaran berlangsung. Beberapa tindakan mereka, misalnya; mengganggu sahabat sebangku yang sedang asyik mendengar pelajaran, menggambar sesuatu yang muncul dalam pikirannya dikala guru sedang berbicara, tidur dikala pelajaran berlangsung, bahkan ada yang memukul temannya dikala jam pelajaran berlangsung.

Akibatnya, situasi kelas menjadi gaduh, konsentrasi murid lainnya menjadi terganggu-tidak lagi mendengar penyajian bahan yang dipaparkan guru dan pelajaran hasilnya harus ditunda beberapa dikala alasannya yaitu sang guru harus memberi training terhadap murid yang menjadikan situasi itu di dalam kelas. Situasi-situasi tersebut tidak hanya terjadi satu kali. Saban hari, guru selalu menemukan situasi tersebut di dalam kelas.

Meskipun situasi pembelajarannya terganggu oleh tindakan-tindakan bandel dari murid di dalam kelas, seorang guru senantiasa dituntut untuk bersikap sabar, rendah hati dan bisa mengendalikan situasi tersebut dengan baik. Seorang guru harus tetap hening dan fokus pada tujuan penyajian materi.

Harus Peka Kecedasaran Anak, Jangan Labeli Anak

7:59:00 AM
Orang renta harus peka di mana letak kecerdasan anak Harus Peka Kecedasaran Anak, Jangan Labeli Anak
Orang renta harus peka di mana letak kecerdasan anak.
Setiap orang renta niscaya berharap anaknya berprestasi menyerupai menerima nilai yang tinggi atau menjadi ranking satu di kelasnya. Anak yang selalu menerima ranking satu selalu dianggap pintar, sedangkan yang tidak menerima ranking dianggap sebaliknya.

Indra Kusumah SPsi MSi CHt, seorang psikolog mengatakan, orang renta sebaiknya jangan memberikan label arif dan bodoh serta memaksa untuk menjadi juara di kelas. Orang renta harus peka terhadap kecerdasan anak, kecerdasan itu tidak melulu menerima nilai bagus.

Banyak orang renta yang mempermasalahkan rapot anaknya dikala melihat nilai Matematika 5 sedangkan seni 9. "Nah, malah fokus ke nilai yang rendah dan lupa untuk membuatkan potensi lainnya," kata Indra yang kutip dari Tribunnews (08/08/17).

Orang renta harus peka di mana letak kecerdasan anak, alasannya bila orang renta salah menyikapi akan menawarkan pengaruh kepada anak. Pemberian label arif dan tidak arif yang diberikan oleh orang renta akan kuat kepada konsep diri anak dikala dewasa.

Jangan Beri Anak Gadget Sebelum Usianya 14 Tahun

11:54:00 PM
Jangan Beri Anak Gadget Sebelum Usianya  Jangan Beri Anak Gadget Sebelum Usianya 14 Tahun
Orangtua harus berani tegas dalam menetapkan hukum terkait menunjukkan gadget pada anak.
Sebagai salah satu orang terkaya di dunia, dan pencipta teknologi modern di industri komputer, Bill Gates pastinya tahu kapan usia terbaik menunjukkan gadget pada anak. Dalam sebuah wawancara, ayah dari tiga orang anak ini menegaskan bahwa anak seharusnya TIDAK dibolehkan mempunyai ponsel pintar atau gadget sebelum usianya 14 tahun.

Bill mengaku, bahwa beliau dan istrinya Melinda menetapkan hukum ketat terkait menunjukkan gadget pada anak-anaknya. Hal tersebut juga sesuai dengan pendapat pakar parenting dan mahir teknologi. Karena penelitian telah pertanda bahwa membiarkan anak menyentuh teknologi terlalu dini sanggup berdampak jelek pada anak.

"Kami tidak membolehkan ada yang memegang ponsel pada ketika makan. Kami juga tidak menunjukkan anak kami ponsel sebelum usianya 14 tahun, dan mereka mengeluh bahwa teman-teman merek sudah mempunyai ponsel sebelum berusia 14 tahun," kata Bill.

Berikut ini yaitu sederet hukum terkait penggunaan teknologi, yang diterapkan Bill Gates pada anak-anaknya yang lansir dari laman theAsianparents.

  • Melarang anak mereka mempunyai ponsel sebelum berusia 14 tahun
  • Membatasi screen time, sehingga mereka punya waktu lebih banyak untuk dihabiskan bersama keluarga
  • Tidak dibolehkan membawa ponsel pada ketika makan
  • Menentukan jam berlaku untuk melihat televisi dan ponsel setiap hari sehingga bawah umur sanggup pergi tidur lebih awal dibanding anak lain.

Pemilik merek gadget populer di dunia Apple, Steve Jobs juga menyatakan bahwa beliau melarang anak-anaknya untuk memakai teknologi terbaru. [ Baca: Ini Akibat Jika Anak Kebanyakan Main Gadget ]

Hal ini tentunya membuka mata kita, bahwa para pakar teknologi sendiri tidak membiarkan anak mereka terpapar oleh kecanggihan teknologi terlalu dini. Mereka membiarkan anaknya tumbuh dengan normal, dan akrab dengan lingkungan sekitarnya. Agar anak sanggup bertumbuh kembang dengan baik.

Sebagai orangtua, kita harus berani tegas dalam menetapkan hukum terkait menunjukkan gadget pada anak. Meski anak mengeluh ini itu, Anda harus tetap berpengaruh menerapkan hukum itu. Mari jadikan pelajaran untuk lebih tegas dalam peraturan penggunaan gadget pada anak kita di rumah.

Guru Harus Buat Anak Miliki Kemerdekaan Berpikir

8:31:00 PM
Guru Harus Buat Anak Miliki Kemerdekaan Berpikir Guru Harus Buat Anak Miliki Kemerdekaan Berpikir
Tanamkan pada anak bahwa banyak jalan menuju kebenaran, kebenaran mempunyai banyak sisi.
Peneliti madya pada Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Kemendikbud, Nur Barlian Venus Ali mengatakan, guru harus menciptakan anak mempunyai kemerdekaan berpikir. Sebab, kemerdekaan berpikir sanggup menciptakan anak nyaman dalam memberikan pendapat.

"Tanamkan pada anak bahwa banyak jalan menuju kebenaran, kebenaran mempunyai banyak sisi. Peran pemerintah perlu memfasilitasi," kata Nur yang dari laman Republika (25/05/17).

Penelitian itu fokus untuk merumuskan bagaimana mewujudkan guru yang kebinekaan dalam praktik di dalam maupun luar lingkungan sekolah. Menurutnya, guru harus mempunyai bermacam-macam soft skill dalam mengajar.

Baca: Guru Diminta Membiasakan Anak Hadapi Perbedaan

Dalam Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan di Kantor Kemendikbud itu Ia mengingatkan, Indonesia merupakan negara yang beragam, baik, suku, budaya, agama, etnis dan lain-lain. Pemahaman itu, menurutnya, harus terpatri dalam soft skill guru.

"Intinya memperlihatkan pendidikan inklusif, misal pembagian kelompok siswa, dengan adanya proyek bersama itu (perbedaan) sanggup melebur. Asosiasikan keberagaman melalui emosional positif," kata Nur.

Guru Diminta Membiasakan Anak Hadapi Perbedaan

2:27:00 AM
Guru Diminta Membiasakan Anak Hadapi Perbedaan Guru Diminta Membiasakan Anak Hadapi Perbedaan
Guru sanggup melatih toleransi berangkat dari hal sederhana, yakni gagasan menjawab soal.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meminta guru membiasakan anak berhadapan dengan perbedaan. Hal tersebut untuk melatih anak mempunyai toleransi. Salah satu upayanya, yakni tidak mendikte anak dengan kebenaran mutlak dalam menjawab soal.

"Tirani satu jawaban, itu membiasakan anak kita tak biasa berhadapan dengan perbedaan gagasan," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembanga (Balitbang) Kemendikbud, Totok Suprayitno yang kutip dari laman Republika (23/05/17).

Selama ini, tirani satu balasan menciptakan guru tidak melatih bawah umur dengan perbedaan pendapat dan pemikiran. Padahal, menurutnya, keberagaman menjawab soal akan melatih anak dengan berbedaan gagasan, toleran. Namun, tetap menghormati pandangan orang lain.

"Kalau belum, maka pendidikan kita belum memerdekakan pikiran," kata Totok dalam Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan di Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta.

Untuk mengajarkan menghargai perbedaan pada anak, guru tidak perlu berangkat dengan gosip agama, ras. Menurutnya, guru sanggup melatih toleransi berangkat dari hal sederhana, yakni gagasan menjawab soal.

Baca: Guru Harus Beri Teladan Untuk Hargai Keberagaman

Menurut Totok, toleransi ialah dikala seseorang tidak baiklah dengan pandangan yang lain, tetapi tetap mempertahankan pandangannya. Namun, orang tersebut harus menjelaskan pada orang lain atas pandangannya dan keyakinananya.

"Hal ini perlu diajarkan, memerdekakan pikiran buat anak kreatif dan toleran, miliki perilaku dan abjad mulia," jelasnya.

Ini Jawaban Jikalau Anak Kebanyakan Main Gadget

1:32:00 AM
Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung pasif Ini Akibat Jika Anak Kebanyakan Main Gadget
Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung pasif, tidak banyak bergerak.
Jika gadget digunakan secara tidak bijak sanggup menciptakan anak mengalami gangguan berinteraksi dengan lingkungan di sekelilingnya. Menurut psikolog dari Tigagenerasi, Annelia Sari Sani menyerupai yang lansir dari Antara (19/03/17) mengungkapkan, jikalau gadget digunakan tidak bijak, akan mengakibatkan problem sebagai berikut:

1. Kurang interaksi

Terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gadget menciptakan anak kurang berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Padahal, dalam interaksi langsung, anak sanggup mencar ilmu mengenali emosi, menyerupai marah, takut atau cemas.

Sejumlah permainan virtual yang ada di gadget memang memberi tahu bahwa tokoh yang sedang dimainkan mengalami rasa tertentu, namun ada kalanya mulut wajah dan bunyi tidak sejalan dengan emosi.

2. Pasif

Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung pasif, tidak banyak bergerak sehingga sanggup kuat pada kesehatan fisik, contohnya mengakibatkan kelebihan berat badan.

3. Diskoneksi dengan lingkungan

Bila terlalu usang dibiarkan bermain dengan gadget, dikhawatirkan anak akan terputus dari lingkungan sosial. Ia merasa tidak butuh keberadaan orang lain.

Baca juga: Berikan Anak Mainan Sungguhan Bukan Gadget

Mengenalkan gadget pada belum dewasa memang bermanfaat bagi anak, terutama bila berkaitan dengan pendidikan. Anak akan butuh gadget dikala mengerjakan tugas, contohnya mencari warta tambahan. Namun, orang bau tanah harus menguasai teknologi, minimal gadget yang digunakan oleh anak-anaknya supaya mengakibatkan problem tersebut.

Ini Jawaban Jikalau Anak Kebanyakan Main Gadget

1:32:00 AM
Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung pasif Ini Akibat Jika Anak Kebanyakan Main Gadget
Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung pasif, tidak banyak bergerak.
Jika gadget digunakan secara tidak bijak sanggup menciptakan anak mengalami gangguan berinteraksi dengan lingkungan di sekelilingnya. Menurut psikolog dari Tigagenerasi, Annelia Sari Sani menyerupai yang lansir dari Antara (19/03/17) mengungkapkan, jikalau gadget digunakan tidak bijak, akan mengakibatkan problem sebagai berikut:

1. Kurang interaksi

Terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gadget menciptakan anak kurang berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Padahal, dalam interaksi langsung, anak sanggup mencar ilmu mengenali emosi, menyerupai marah, takut atau cemas.

Sejumlah permainan virtual yang ada di gadget memang memberi tahu bahwa tokoh yang sedang dimainkan mengalami rasa tertentu, namun ada kalanya mulut wajah dan bunyi tidak sejalan dengan emosi.

2. Pasif

Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung pasif, tidak banyak bergerak sehingga sanggup kuat pada kesehatan fisik, contohnya mengakibatkan kelebihan berat badan.

3. Diskoneksi dengan lingkungan

Bila terlalu usang dibiarkan bermain dengan gadget, dikhawatirkan anak akan terputus dari lingkungan sosial. Ia merasa tidak butuh keberadaan orang lain.

Baca juga: Berikan Anak Mainan Sungguhan Bukan Gadget

Mengenalkan gadget pada belum dewasa memang bermanfaat bagi anak, terutama bila berkaitan dengan pendidikan. Anak akan butuh gadget dikala mengerjakan tugas, contohnya mencari warta tambahan. Namun, orang bau tanah harus menguasai teknologi, minimal gadget yang digunakan oleh anak-anaknya supaya mengakibatkan problem tersebut.

Anak Perlu Sarapan Sebelum Berguru Di Sekolah

6:31:00 PM
Kemdikbud akan menggalakkan kembali sarapan di sekolah Anak Perlu Sarapan Sebelum Belajar di Sekolah
Tujuh dari sepuluh anak Indonesia tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
Orang bau tanah perlu menyiapkan sarapan sebelum anak berangkat sekolah. Hal ini dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy terkait dengan rencana akan dikeluarkannya Inpres Pembangunan Berwawasan Kesehatan yang akan melibatkan 13 kementerian dan lembaga.

"Sebelum berangkat ke sekolah, orang bau tanah perlu menyediakan sarapan terlebih dahulu, semoga anak memiliki konsentrasi mendapatkan pelajaran di sekolah," kata Mendikbud yang kutip dari Antara (16/03/17).

Kemdikbud akan menggalakkan kembali sarapan sebelum mendapatkan pelajaran di sekolah. Mendikbud menyampaikan jikalau Inpres tersebut telah terbit, maka pihaknya akan meminta komite sekolah untuk bahu-membahu membahas mengenai sarapan di sekolah.

Menurutnya, sarapan bersama di sekolah memungkinkan saja jikalau para orang bau tanah setuju untuk menyediakan sarapan di sekolah. Dia menyampaikan bisa saja nantinya, anak yang tidak bisa ditanggung oleh siswa yang mampu.

Baca juga: Pentingnya Melibatkan Orang Tua dalam Mendidik Anak

Berdasarkan data, tujuh dari sepuluh anak Indonesia tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Sarapan bukan hanya mencegah rasa lapar, tetapi juga memperlihatkan energi dan gizi yang diperlukan anak untuk belajar, bermain serta berolahraga.

"Dengan sarapan pagi bisa membantu anak lebih fokus dalam mencar ilmu sehingga meningkatkan prestasi dan menghipnotis daya tangkap mereka dikala sekolah serta beraktivitas fisik," kata Ketua Umum Pergizi Pangan, Hardinsyah.

Anak Perlu Sarapan Sebelum Berguru Di Sekolah

6:31:00 PM
Kemdikbud akan menggalakkan kembali sarapan di sekolah Anak Perlu Sarapan Sebelum Belajar di Sekolah
Tujuh dari sepuluh anak Indonesia tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
Orang bau tanah perlu menyiapkan sarapan sebelum anak berangkat sekolah. Hal ini dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy terkait dengan rencana akan dikeluarkannya Inpres Pembangunan Berwawasan Kesehatan yang akan melibatkan 13 kementerian dan lembaga.

"Sebelum berangkat ke sekolah, orang bau tanah perlu menyediakan sarapan terlebih dahulu, semoga anak memiliki konsentrasi mendapatkan pelajaran di sekolah," kata Mendikbud yang kutip dari Antara (16/03/17).

Kemdikbud akan menggalakkan kembali sarapan sebelum mendapatkan pelajaran di sekolah. Mendikbud menyampaikan jikalau Inpres tersebut telah terbit, maka pihaknya akan meminta komite sekolah untuk bahu-membahu membahas mengenai sarapan di sekolah.

Menurutnya, sarapan bersama di sekolah memungkinkan saja jikalau para orang bau tanah setuju untuk menyediakan sarapan di sekolah. Dia menyampaikan bisa saja nantinya, anak yang tidak bisa ditanggung oleh siswa yang mampu.

Baca juga: Pentingnya Melibatkan Orang Tua dalam Mendidik Anak

Berdasarkan data, tujuh dari sepuluh anak Indonesia tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Sarapan bukan hanya mencegah rasa lapar, tetapi juga memperlihatkan energi dan gizi yang diperlukan anak untuk belajar, bermain serta berolahraga.

"Dengan sarapan pagi bisa membantu anak lebih fokus dalam mencar ilmu sehingga meningkatkan prestasi dan menghipnotis daya tangkap mereka dikala sekolah serta beraktivitas fisik," kata Ketua Umum Pergizi Pangan, Hardinsyah.

Mengapa Anak Sd Mulai Suka Membentuk Geng?

2:05:00 AM
Mengapa Anak SD Mulai Suka Membentuk Geng Mengapa Anak SD Mulai Suka Membentuk Geng?
Ini yakni bab perkembangan anak, di mana di usia sekolah 6-12 tahun itu mereka mulai mencari pertemanan.
Memasuki usia sekolah dasar (SD), umumnya bawah umur mulai suka membentuk geng alias kelompok. Menurut psikolog anak Karina Priliani, M.Psi, hal ini alasannya perkembangan anak di usia tersebut mulai mencari pertemanan.

"Sebenarnya ini yakni bab perkembangan anak, di mana di usia sekolah 6-12 tahun itu mereka mulai mencari pertemanan. Ini alasannya mereka berguru menyesuaikan diri di lingkungan di luar keluarga," kata Karina yang kutip dari detikcom (03/03/17).

Anak-anak usia SD mulai jadi mengidolakan pertemanan sehingga mulai membentuk geng. Untuk berteman, anak tentu mencari orang-orang yang sanggup menciptakan nyaman yang umumnya didapat dari suatu hal yang sama.

Baca juga: Inilah Empat Alasan Anak Merasa Bosan di Sekolah

Misalnya geng bawah umur dengan nilai-nilai manis alias yang isinya bawah umur paling berilmu di kelas. Ada juga geng dengan kesukaan yang sama, contohnya sama-sama menyukai grup band tertentu. Bisa juga bawah umur membentuk geng alasannya rumahnya berdekatan.

"Lagi-lagi ini alasannya kebutuhan sesuai perkembangan usianya, butuh interaksi melalui pertemanan," sambung Karina.

Agar geng yang dibentuk anak tidak langsung sehingga memandang rendah teman-teman di luar gengnya, berdasarkan Karina hal ini kembali pada nilai yang diajarkan orang tua di rumah.

Jika semenjak dini anak telah menerima pemahaman bahwa semua orang itu setara meskipun ada yang lebih pintar, lebih rupawan, maupun dari keluarga dengan perekonomian yang lebih baik, maka tidak akan memandang rendah orang lain.

"Kalau di rumah menerima nilai bagaimana menghargai orang lain, kemudian orang tuanya memperlihatkan teladan juga, maka anak akan mengikuti. Karena anak berguru dari apa yang dilihatnya dari orang tua," terperinci Karina.

Ini Waktu Yang Sempurna Anak Mulai Mencar Ilmu Calistung

8:30:00 PM
Kapan Waktu yang Tepat Anak Mulai Belajar Calistung Ini Waktu yang Tepat Anak Mulai Belajar Calistung
Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung bukanlah keterampilan yang sanggup begitu saja dikuasai anak.
Terdapat keterampilan-keterampilan pendahuluan yang harus dimiliki anak untuk karenanya bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Hal inilah yang akan mengembangkannya untuk menjadi anak cerdas. Salah satu tantangan bagi orangtua yaitu dikala memilih anak untuk mulai berguru membaca, menulis dan berhitung. Tidak jarang ada orangtua yang mengajarkan kegiatan ini dari sedini mungkin.

Padahal, kemampuan anak akan sangat bergantung dari bagaimana perkembangan fisik dan mentalnya. Memperkenalkan anak membaca, menulis, dan berhitung bisa dimulai dari usia 3 tahun. Usia 3-5 tahun merupakan golden period, yaitu otak sedang mulai berkembang dengan pesat sehingga gosip akan ditangkap dengan cepat oleh anak.

Baca juga: Belajar Calistung Sebelum Waktunya Bisa Rusak Tatanan Otak

Untuk permulaan, gambar yaitu bentuk membaca yang paling sederhana. Anak umur 3-5 tahun hanya mempunyai ketertarikan untuk “membaca” gambar, simbol, dan logo yang ada di sekitarnya. Orangtua harus membentuk kesukaan anak pada buku-buku bergambar. Pada usia 4-6 tahun, anak gres mulai dibutuhkan bisa membaca gambar, simbol, dan logo. Selanjutnya pada usia 5-7 tahun anak mulai menguasai membaca dengan pola.

Seperti yang lansir dari klikdokter.com (21/02/17), dr. Kartika Mayasari menyatakan, untuk menulis, sebelumnya anak harus bisa memegang pensil dengan baik, ia perlu berguru memegang benda dengan telunjuk dan ibu jari. Ia perlu mengetahui bahwa goresan pena itu mempunyai arti. Sama ibarat berguru membaca, orangtua perlu memperlihatkan banyak sekali buku kepada anak untuk membentuk kesukaan.

Sedangkan untuk berhitung, anak cerdas perlu memahami konsep berhitung, bahwa satu untuk satu benda. Makara sebelum mengajarkan anak menghitung satu-dua-tiga, ajarkan anak untuk membagikan satu benda untuk satu orang atau satu benda ke dalam satu lubang (bisa menggunakan congklak). Seperti disebutkan di atas, mengenali simbol – termasuk angka – gres dibutuhkan sesudah anak berusia 4-6 tahun.

Usia 3-5 tahun merupakan periode emas yang bisa dipakai untuk mengajarkan mereka banyak hal. Meski demikian, kemampuan anak tetap berbeda-beda. Pendekatan tertentu harus diadaptasi dengan karakteristik anak. Jangan terlalu memaksa mereka untuk mengikuti banyak kursus yang bahu-membahu belum tentu mereka butuhkan. Ingatlah bahwa setiap anak yaitu anak yang cerdas, dengan kemampuan belajarnya masing-masing.

Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung bukanlah keterampilan yang sanggup begitu saja dikuasai anak. Kemampuan tersebut untuk anak merupakan acara dasar untuk mereka mulai belajar. Dengan menerapkan kiat-kiat di atas, Anda sanggup mewujudkan anak yang cerdas sekaligus berprestasi sebab itu merupakan dambaan setiap orangtua.

Panduan Operasional Bimbingan Konseling Di Sd

7:21:00 AM
Panduan Operasional Bimbingan Konseling di SD Panduan Operasional Bimbingan Konseling di SD
Bimbingan dan Konseling (BK) merupakan bab integral dalam layanan pendidikan.
Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah menerbitkan Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan Dan Konseling untuk SD (SD). Panduan tersebut harus dijadikan pola dalam Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di SD alasannya Bimbingan dan Konseling (BK) merupakan bab integral dalam layanan pendidikan.

Peserta didik sekolah dasar berada pada usia emas perkembangan dan merupakan masa membangun pengalaman berguru awal yang bermakna. Pada usia ini penerima didik berada pada masa peka dalam membuatkan seluruh potensi dan kecerdasan otak mencapai 80%. Guru bimbingan dan konseling atau konselor dan guru kelas/mata pelajaran mempunyai kiprah penting untuk menunjukkan ransangan yang sempurna sehingga otak berkembang dan berfungsi secara optimal untuk mendukung kematangan semua aspek perkembangan.

Perkembangan yang optimal pada usia di Sekolah Dasar menjadi fondasi yang berpengaruh bagi perkembangan pada tahap-tahap berikutnya. Pengalaman berguru awal yang menyenangkan dan bermakna bagi anak mendorong anak untuk memahami fungsi berguru bagi dirinya dan memotivasi untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Baca juga: Pengalaman Masa Lalu Berpengaruh Terhadap Minat Belajar Siswa

Masa sekolah di SD merupakan waktu yang baik bagi penerima didik untuk membuatkan konsep diri dan perasaan bisa serta percaya diri sebagai pembelajar. Peserta didik mulai membuatkan keterampilan mengambil keputusan, berkomunikasi, dan keterampilan hidup. Di samping itu, penerima didik juga membuatkan dan menguasai perilaku yang sempurna terhadap sekolah, diri sendiri, teman sebaya, kelompok sosial, dan keluarga.

Guru bimbingan dan konseling atau konselor di SD sanggup diangkat dengan cakupan kiprah pada setiap sekolah atau di tingkat gugus sekolah untuk membantu guru membuatkan potensi dan mengentaskan problem penerima didik. Guru bimbingan dan konseling atau konselor di tingkat gugus berkantor di sekolah induk yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Dalam kondisi sekolah induk tidak mempunyai ruang yang cukup, maka berkantor di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan atau unit pendidikan yang setingkat.

Melalui Surat Kemendikbud Nomor 4681/B/KS/2017, Kemendikbud meminta semua sekolah mendownload buku Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan Dan Konseling Untuk SD, SMP, SMA, dan SMK. Buku Panduan Bimbingan dan Konseling Untuk SD, SMP, SMA, dan Sekolah Menengah kejuruan (dalam satu file rar) sanggup didownload di sini.

Panduan Operasional Bimbingan Konseling Di Sd

7:21:00 AM
Panduan Operasional Bimbingan Konseling di SD Panduan Operasional Bimbingan Konseling di SD
Bimbingan dan Konseling (BK) merupakan bab integral dalam layanan pendidikan.
Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah menerbitkan Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan Dan Konseling untuk SD (SD). Panduan tersebut harus dijadikan pola dalam Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di SD alasannya Bimbingan dan Konseling (BK) merupakan bab integral dalam layanan pendidikan.

Peserta didik sekolah dasar berada pada usia emas perkembangan dan merupakan masa membangun pengalaman berguru awal yang bermakna. Pada usia ini penerima didik berada pada masa peka dalam membuatkan seluruh potensi dan kecerdasan otak mencapai 80%. Guru bimbingan dan konseling atau konselor dan guru kelas/mata pelajaran mempunyai kiprah penting untuk menunjukkan ransangan yang sempurna sehingga otak berkembang dan berfungsi secara optimal untuk mendukung kematangan semua aspek perkembangan.

Perkembangan yang optimal pada usia di Sekolah Dasar menjadi fondasi yang berpengaruh bagi perkembangan pada tahap-tahap berikutnya. Pengalaman berguru awal yang menyenangkan dan bermakna bagi anak mendorong anak untuk memahami fungsi berguru bagi dirinya dan memotivasi untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Baca juga: Pengalaman Masa Lalu Berpengaruh Terhadap Minat Belajar Siswa

Masa sekolah di SD merupakan waktu yang baik bagi penerima didik untuk membuatkan konsep diri dan perasaan bisa serta percaya diri sebagai pembelajar. Peserta didik mulai membuatkan keterampilan mengambil keputusan, berkomunikasi, dan keterampilan hidup. Di samping itu, penerima didik juga membuatkan dan menguasai perilaku yang sempurna terhadap sekolah, diri sendiri, teman sebaya, kelompok sosial, dan keluarga.

Guru bimbingan dan konseling atau konselor di SD sanggup diangkat dengan cakupan kiprah pada setiap sekolah atau di tingkat gugus sekolah untuk membantu guru membuatkan potensi dan mengentaskan problem penerima didik. Guru bimbingan dan konseling atau konselor di tingkat gugus berkantor di sekolah induk yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Dalam kondisi sekolah induk tidak mempunyai ruang yang cukup, maka berkantor di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan atau unit pendidikan yang setingkat.

Melalui Surat Kemendikbud Nomor 4681/B/KS/2017, Kemendikbud meminta semua sekolah mendownload buku Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan Dan Konseling Untuk SD, SMP, SMA, dan SMK. Buku Panduan Bimbingan dan Konseling Untuk SD, SMP, SMA, dan Sekolah Menengah kejuruan (dalam satu file rar) sanggup didownload di sini.

Inilah Empat Alasan Anak Merasa Bosan Di Sekolah

1:13:00 AM
Inilah Empat Alasan Anak Merasa Bosan di Sekolah Inilah Empat Alasan Anak Merasa Bosan di Sekolah
Rasa bosan anak di sekolah sanggup timbul alasannya adonan penyebab.
Banyak faktor yang sanggup mensugesti mood anak ke sekolah. Bosan di sekolah biasanya menempel pada anak, khususnya bagi yang memang malas sekolah. Seperti dikutip SekolahDasar.Net dari laman VeryWell, terdapat empat alasan anak merasa bosan di sekolah.

1. Kurang termotivasi

Anak yang kurang termotivasi umumnya tidak mengerjakan kiprah atau tidak memperhatikan pelajaran alasannya merasa bosan. Namun hal ini bukan membuktikan anak malas. Bisa jadi anak merasa apa yang dipelajarinya tidak penting. Atau bisa jadi hal ini membuktikan anak mengalami depresi atau mengidap attention deficit hyperactive disorder (ADHD).

2. Kurang tertantang

Anak yang bisa menangkap bahan pembelajaran dengan cepat sering mengeluh bosan di sekolah. Penyebabnya, mereka merasa kurang tertantang dengan kiprah yang diberikan. Namun, meski tergolong cerdas, bawah umur ini perlu tetap diawasi alasannya cenderung ceroboh dalam mengerjakan kiprah dan jarang belajar, meski memperoleh nilai yang baik.

3. Merasa tidak akrab dengan guru atau teman

Anak akan merasa terisolasi dan tidak memiliki orang lain yang bisa membantunya di sekolah, sehingga ia menerjemahkannya sebagai rasa bosan. Jika ini yang menjadi masalah, yakinkan anak bahwa ia merupakan belahan dari teman-teman dan guru di kelasnya.

4. Mengalami kesulitan dalam proses belajar

Biasanya, anak mengeluh bosan alasannya menemui kesulitan dalam proses belajar, sehingga ia tidak terdorong untuk belajar. Hal yang paling nampak ialah pada perbedaan kemampuannya berjalan lebih lambat dibanding anak lainnya. Kemungkinan anak mengalami kesulitan akhir keterbatasannya atau belum menemukan metode mencar ilmu yang tepat.

Baca juga: Dengan Metode dan Motivasi yang Hebat, Tak Ada Anak Bodoh

Rasa bosan anak sanggup timbul alasannya adonan penyebab tersebut. Misalnya anak mengeluh bosan alasannya merasa pelajaran di sekolah terlalu gampang untuknya, sehingga ia merasa tak termotivasi, apalagi ia juga tidak akrab dengan teman-teman di sekolahnya.