Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

8 Dari 10 Siswa Menjadi Korban Bullying Di Sekolah

6:04:00 PM
 Siswa Menjadi Korban Bullying di Sekolah 8 dari 10 Siswa Menjadi Korban Bullying di Sekolah
Untuk menghapus bullying di sekolah, tidak hanya ditujukan kepada belum dewasa saja tetapi juga para orang dewasa.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan delapan dari sepuluh anak pernah menjadi korban bullying atau perundungan di sekolah. Untuk itu pada Hari Anak Nasional (HAN) 2018 ini, KPAI menggalakkan kampanye Stop Bullying.

Menurut Komisioner KPAI Retno Listyarti sepanjang 2018 hingga 30 Mei, ada 161 kasus kekerasan anak di lingkungan pendidikan. Dari jumlah tersebut ada 22,4 persen kasus anak menjadi korban bullying. Kemudian ada 25,5 persen anak menjadi pelaku bullying.

Dalam data Ikhtisar Penghapusan Kekerasan Pada Anak 2016-2020 dijelaskan bahwa 84 persen atau delapan dari sepuluh siswa pernah mengalami perundungan. Kemudian 45 persen siswa pria menyebutkan guru atau petugas sekolah yakni pelaku kekerasan.

Ada kiprah orang remaja dalam munculnya bullying di sekolah. Anak-anak di sekolah banyak yang menirukan sikap kekerasan atau bullying yang dilakukan oleh orang dewasa. Mereka mencontoh dari acara di media sosial, tayangan televisi, dan sejenisnya.

Baca: Jangan Mendisiplinkan Siswa dengan Kekerasan

"Sekarang banyak belum dewasa usia SD sudah aktif di media sosial," kata Retno yang kutip dari JPNN (25/07/2018).

Untuk menghapus bullying di sekolah, tidak hanya ditujukan kepada belum dewasa saja. Tetapi para orang remaja juga harus memperlihatkan teladan dengan tidak lagi mempertontonkan agresi kekerasan kepada anak-anak. Pasalnya 70 persen sikap anak itu yakni hasil mencontoh.

Mengapa Anak Masuk Sd Harus Usia 7 Tahun?

7:14:00 PM
 kognitif dan emosi untuk masuk SD  Mengapa Anak Masuk SD Harus Usia 7 Tahun?
Pada usia 7 tahun, anak dianggap sudah siap secara fisik, psikis, kognitif dan emosi untuk masuk SD (SD).
Memasuki tahun aliran gres orang bau tanah mulai mendaftrakan anaknya ke sekolah. Secara umum, anak-anak yang masuk ke sekolah dasar (SD) berusia 7 tahun. Namun menyerupai diketahui, tidak sedikit juga orang bau tanah menyekolahkan anaknya di bawah usia tersebut.

Menurut Psikolog anak, Ratih Zulhaqqi, M.Psi, bahwasannya pada usia 7 tahun, anak dianggap sudah siap secara fisik maupun psikis. Gerakan motorik, anak sudah lebih bagus, otot dan sarafnya juga sudah terbentuk. Salah satu contohnya menyerupai memegang pensil.

Selain itu, dikutip dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), menuliskan mengapa anak usia 7 tahun harus masuk SD:

1. Aspek Fisik
Pada usia 7 tahun secara fisik anak sudah bisa membisu di kelas dan memegang pensil secara mandiri. Di mana, gerakan motorik anak sudah bagus, otot dan sarafnya sudah terbentuk. Berbeda dengan usia satu tahun di bawahnya. Anak usia 6 tahun terkadang masih selalu ingin bermain.

2. Aspek Kognitif
Saat masuk ke SD anak diperlukan bisa membaca, menulis, berhitung sederhana. Selain itu anak juga diperlukan bisa mengikuti instruksi, paham dan bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan.

3. Aspek Psikologis
Dalam dunia perkembangan, anak mulai bisa berkonsentrasi dengan baik pada usia di atas 6 tahun. Semakin bertambah usianya kemampuan konsentrasi meningkat, semakin bisa memilah bahan mana yang harus diperhatikan dan harus diabaikan.

Anak yang terlalu dini masuk SD umumnya masih bermasalah khususnya di kelas satu, alasannya ialah ia belum siap untuk berguru berkonsentrasi. Dia masih berbagi keterampilan geraknya.

4. Aspek Emosi
Umumnya anak yang terlalu dini masuk SD memang cukup matang secara akademik. Namun biasanya kematangan emosi dan kemandirian belum maksimal. Padahal dijenjang SD anak tidak lagi akan menerima perhatian menyerupai di TK. Anak diperlukan lebih sanggup bangun diatas kaki sendiri dan juga tidak lagi terlalu tergantung pada orangtuanya.

Baca: Syarat Seleksi Penerimaan Siswa Baru Kelas 1 SD

Sehingga duduk kasus yang terlihat ialah anak bisa mengikuti pelajaran di sekolah, tapi disisi lain contohnya anak masih minta ditunggui dan gampang mengalah terhadap kiprah yang diberikan atau tidak mau mengerjakan PR alasannya ialah masih kebih suka bermain dan sebagainya.

Melihat aneka macam aspek tersebut, sebaiknya orang bau tanah jangan terlalu dini menyekolahkan anak tetapi melihat kondisi anak.

10 Taktik Jitu Menyiapkan Anak Menghadapi Ujian

8:06:00 PM
 Strategi Jitu Menyiapkan Anak Menghadapi Ujian 10 Strategi Jitu Menyiapkan Anak Menghadapi Ujian
Sebagai orangtua, Anda bisa membantu anak mempersiapkan ujian anak.
Ujian sekolah untuk tingkat SD dan sederajat akan dilaksanakan pada bulan Mei mendatang. Biasanya segala ketegangan dihadapi bawah umur yang menjalani ujian. Mereka mengalami stres pra-ujian, hal itu bisa terbaca dari sikap mereka. Misalnya, gampang marah, gampang sedih, gelisah, dan enggan menjalankan acara yang biasanya mereka sukai.

Ada beberapa srategi yang sanggup dilakukan orang orangtua dalam mendampingi anak melewati masa-masa ujiannya. Ayah Ibu bisa mempraktikkan taktik ini dikala anak menjalani masa ujian, baik ketika ulangan, ujian tengah semester, dan selesai semester. Sebagai orangtua, Anda bisa membantu anak mempersiapkan ujian anak dengan cara-cara berikut ini:

1. Bangun kepercayaan diri mereka.
Ajari anak untuk lebih berani dengan membuktikan Anda percaya mereka bisa melampaui ujian, bahkan dikala mereka merasa gugup. Menyebarkan perasaan positif, akan sangat mendukung mereka meraih sukses.

2. Mendampingi secara emosional.
Saat menjalani masa sulit menyerupai ujian, bawah umur membutuhkan kehadiran dan perhatian lebih dari orang tuanya. Mereka perlu dimengerti, maka jangan sepelekan saat-saat bisa bersama mereka. Hal itu akan menciptakan mereka merasa kondusif dan percaya diri. Bersikaplah terbuka akan apapun yang ingin disampaikan anak-anak.

3. Ajari dan beri teladan bagaimana berpikir positif.
Mengajarkan kata-kata penegasan penting buat anak-anak. Misalnya mengganti kata-kata “Saya tidak bisa” dengan membiasakan anak mengatakan, “Saya akan mencobanya.”

4. Bantu anak untuk punya persiapan yang rinci.
Berkordinasi dengan sekolah wacana dimana bawah umur akan menjalankan ujiannya. Apa saja yang akan diujikan, bagaimana ujian akan berlangsung. Lebih baik lagi kalau Anda dan anak sudah mengunjungi daerah ujian akan dilaksakan.

5. Belajar bersama-sama.
Dipastikan bahwa orangtua sanggup bersama anak membuka buku membahas mata pelajaran yang akan dihadapi dikala ujian. Tanyakan pokok bahasan apa saja yang akan diujikan. Setelah bahan pokok ujian dibaca dan dipelajari bersama orangtua sekira satu jam, berikanlah kesempatan anak untuk berguru sendiri.

6. Hargai perjuangan anak dan tidak membebaninya.
Hindari memberi sasaran terlalu tinggi di luar kemampuan anak. Pasalnya, setiap anak mempunyai tingkat kemampuan yang beragam. Ajari anak Anda semoga ujian bukan atas dasar berkompetisi dengan orang lain, melainkan dengan diri sendiri untuk mencapai hasil yang terbaik.

7. Berdiskusi wacana pemecahan masalah.
Ajak anak untuk mendiskusikan tak hanya wacana bahan yang akan diujikan tapi juga bagaiman taktik menghadapi ujian. Seperti contohnya mengerjakan hal-hal yang gampang dulu.

8. Mendiskusikan perasaaan.
Dorong anak untuk bicara wacana apa yang mereka rasakan. Dengarkan dengan empati, sehingga mereka mengerti bahwa mereka dipahami dan bahwa perasaan tegang mereka yakni sesuatu yang normal.

9. Memberi santunan dengan setulus hati.
Sampaikan bahwa Anda sebagai orangtua mendukung dan siap untuk berada di samping anak dikala keadaan mudah, ataupun sulit dikala mengadapi ujian sekolah. Besarkan hatinya semoga anak sanggup menjalani ujian dengan hening dan nyaman.

10. Beri kesempatan anak beristirahat
Cara berguru yang baik yakni dengan berguru secara rutin, sehingga anak tak perlu memforsir diri dikala malam sebelum tes tiba. Beri kesempatan anak untuk beristirahat dikala mereka mulai kesulitan berkonsentrasi, entah dengan mendengarkan musik, menonton video pendek lucu, atau hal-hal lain yang bisa menyegarkan kepalanya.

Faktor Penyebab Nilai Anak Di Sekolah Turun

7:29:00 AM
Faktor yang Menyebabkan Nilai Anak di Sekolah Turun Faktor Penyebab Nilai Anak di Sekolah Turun
Banyak faktor penyebab nilai anak turun, yakni faktor dari dalam atau luar sekolah.
Setiap orang tua niscaya menginginkan anaknya berprestasi di sekolah. Segala upaya dilakukan untuk mendukung dan membantu anak semoga ia sanggup mencar ilmu dengan baik. Namun, tak sedikit pula sehabis mendapatkan rapor, orang bau tanah menemukan nilai dan prestasi anak di sekolah menurun. Mengapa nilai anak di sekolah turun?

Banyak faktor penyebab nilai anak turun, yakni faktor dari dalam atau luar sekolah. Dari dalam sekolah, menyerupai bahan pelajaran semakin sulit, adanya guru gres sehingga ia belum terbiasa dengan metode pengajarannya, atau mungkin juga adanya insiden atau insiden yang mengganggunya di sekolah.

Sedangkan faktor dari luar sekolah penyebab nilai anak turun. Misalnya, korelasi orang bau tanah yang sedang tidak harmonis, atau adanya kondisi ekonomi keluarga yang sedang menurun yang tanpa sengaja diketahui anak. Mengenai kondisi di dalam keluarga, tentu Anda sendiri sebagai orang bau tanah yang mengetahuinya.

Orang bau tanah perlu mencari tahu apa faktor penyebabnya. Jika anak menolak untuk bercerita, mintalah tolong pada figur lain yang lebih erat dengan anak. Bisa juga, Anda komunikasikan hal ini ke guru sekolah. Mungkin saja, mereka menyadari hal yang sama dan mengetahui penyebabnya.

Baca: Nilai Jelek di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh

Orang bau tanah yang terlibat ialah salah satu kunci keberhasilan anak. Orang bau tanah harus konsisten dengan janji untuk mendukung anak mencar ilmu di rumah. Nilai di kelas merupakan cerminan dari keterampilan mencar ilmu yang baik. Jika nilainya masih belum memuaskan, kiprah Anda membantunya menemukan ruang berkembang dalam memperbaiki keterampilan belajarnya.

Upgreding Meningkatkan Kualitas Ibu Sebagai Guru

6:44:00 AM
Upgreding Meningkatkan Kualitas Ibu Sebagai Guru Upgreding Meningkatkan Kualitas Ibu Sebagai Guru
Ibu juga harus terus berguru sepanjang hidupnya sebagai upaya menjaga kualitas seorang ibu.
Tanggal 22 Desember sempurna Indonesia memperingati hari ibu. Hari istimewa untuk orang yang istimewa yaitu IBU. Ibu yaitu master segala ilmu, ibu dengan segala keistimewaan dan fitroh kelebihannya bisa menunaikan kiprah dalam satu waktu dengan baik yaitu sebagai manajer keluarga, sebagai guru anak, psikolog handal yang tahu kapan anak sedih dan gembira, akuntan hebat, sobat baik, chef merangkap jago gizi, desain interior, pertamanan sekaligus pegawai kebersihan dan masih banyak lagi (Dosenpsikologi, 2017). Ibu juga harus terus berguru sepanjang hidupnya sebagai upaya menjaga kualitas seorang ibu.

Dalam menyambut hari ibu yang sempurna diperingati dikala liburan sekolah, para ibu yang bertugas sebagai guru SD Muhammadiyah 9 Malang tetap mengisi liburannya dengan upgreding yaitu upaya peningkatan mutu guru. Kegiatan upgreding dilaknakan selama lima hari dengan aneka macam rangkaian kegiatan mulai dari kegiatan mengaji bersama (KMB), kultum, pembagian kiprah akreditasi, penyelesaian perangkat untuk semester dua dan diskusi kegiatan kerja untuk pembelajaran tahun fatwa 2018-2019. Semua rangkaian kegiatan upgreding tersebut upaya meningkatkan mutu guru sekaligus mutu para ibu lantaran sebagian besar guru di SD Muhammadiyah 9 Malang yaitu wanita yang merangkap kiprah sebagai ibu dan calon ibu.

Hasil pengamatan dari kegiatan upgreding SD Muhammadiyah 9 Malang, Ibu yaitu orang hebat, sangat terlihat sekali beberapa guru yang berperan sebagai ibu harus rela membawa anaknya kesekolah untuk bersama mengikuti kegiatan upgreding. Karena anak di massa liburan menuntut para ibu bisa menghabiskan waktu bersama dengan mereka, disisi lain ibu juga tetap harus mengemban kiprah sebagai guru untuk mengikuti serangkaian kegiatan sekolah sebagai bab dari sekolah. Mereka para ibu harus membagi konsentrasi antara pelaksanaan upgreding dengan derma perhatian untuk anak dan hal itu butuh energi besar, hal itu perlu menejerial yang ampuh sehingga semua bisa dilaksanakan secara bersama dengan hasil yang baik. Tapi jangan khawatir wahai para ibu komitmen ilahi itu niscaya semua kebaikan niscaya palasannya kebaikan.

Seorang ibu yang merangkap kiprah sebagai seorang guru merupakan kiprah yang sangat mulia dan wadah berguru yang sangat baik lantaran kiprah itu saling berkaitan. ibu sebagai guru utama dan yang pertama pagi anak, oleh alasannya itu apabila ibu merangkap kiprah menjadi guru paling tidak mereka akan bisa mengajarkan yang terbaik untuk anaknya sendiri, sebaliknya ketika ibu mendapat ilmu selama mendidik anak dirumah maka itu juga bermanfaat untuk mengajarkan pada akseptor didik di sekolah dengan baik. Karena kita sebagai ibu dan guru akan sangat banyak mendapat pengalaman mengajar dan materi berguru terutama dari perkembangan anak dan akseptor didik. Guru akan bisa menciptakan media berguru untuk anak dengan motorik tinggi ketika guru menangani akseptor didik dengan motorik tinggi. Ibu akan tahu cara membangun fokus anaknya di rumah lantaran ibu pernah menagani dan mendampingi anak ketika makan akan lebih usang dikala dilakukan dengan nonton tv. Pengalaman-pengamalan konkret yang pernah ibu dan guru alami yaitu guru dasyat untuk menjadi ibu guru yang hebat dunia akherat.

Tetaplah menjadi IBU dan GURU yang hebat, teruslah berkarya di rumah dan di sekolah, teruslah berguru untuk yang terbaik, Jaga kesehatan biar kehidupan keluarga dan pendidikan berjalan baik, teruslah bersyukur lantaran kedudukanmu yang terbaik. Semangat wahai para IBU GURU.

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Biarkan Anak Berkembang Sesuai Talenta Dan Minatnya

12:08:00 AM
Biarkan Anak Berkembang Sesuai Bakat dan Minatnya Biarkan Anak Berkembang Sesuai Bakat dan Minatnya
Setiap anak yang lahir telah dikaruniai talenta dan minat.
Para guru dan orang renta diminta membiarkan anak-anaknya berkembang sesuai dengan talenta dan minatnya. Menurut Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dengan memahami dan mengerti talenta minat anak, ke depan bawah umur ini bisa bersanding sejajar dengan bawah umur di dunia.

"Jika mereka tidak suka matematika tetapi suka olahraga dan musik biarkan saja, jangan dipaksakan. Sebab, perilaku ini akan mempengaruhi tumbuh kembangnya ke depan dengan impian bisa menorehkan prestasi," kata Risma yang kutip dari Republika (14/08/17).

Dalam program peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang digelar di Halaman Taman Surya. Risma mengajak seluruh anak yang hadir untuk naik ke panggung bernyanyi lagu Surabaya oh Surabaya dan lagu nasional Indonesia Tanah Pusaka yang diiringi alat musik keyboard.

Usai menyanyi, Risma berbincang dengan salah satu pemain musik berjulukan Ibar yang merupakan siswa difabel. Ketika berbincang, Risma menunjukkan kepadanya untuk mau tampil pada salah satu program internasional di Surabaya. Risma memberi pesan kepada para orang renta dan guru bahwa setiap anak yang lahir telah dikaruniai talenta dan minat tersendiri oleh Tuhan.

"Jadi jangan sekali-kali menyampaikan anak itu ndeso atau tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya butuh pengertian dan pemberian dari kita supaya ke depan mereka mengerti arah dan tujuan kehidupannya," kata Risma.

Harus Peka Kecedasaran Anak, Jangan Labeli Anak

7:59:00 AM
Orang renta harus peka di mana letak kecerdasan anak Harus Peka Kecedasaran Anak, Jangan Labeli Anak
Orang renta harus peka di mana letak kecerdasan anak.
Setiap orang renta niscaya berharap anaknya berprestasi menyerupai menerima nilai yang tinggi atau menjadi ranking satu di kelasnya. Anak yang selalu menerima ranking satu selalu dianggap pintar, sedangkan yang tidak menerima ranking dianggap sebaliknya.

Indra Kusumah SPsi MSi CHt, seorang psikolog mengatakan, orang renta sebaiknya jangan memberikan label arif dan bodoh serta memaksa untuk menjadi juara di kelas. Orang renta harus peka terhadap kecerdasan anak, kecerdasan itu tidak melulu menerima nilai bagus.

Banyak orang renta yang mempermasalahkan rapot anaknya dikala melihat nilai Matematika 5 sedangkan seni 9. "Nah, malah fokus ke nilai yang rendah dan lupa untuk membuatkan potensi lainnya," kata Indra yang kutip dari Tribunnews (08/08/17).

Orang renta harus peka di mana letak kecerdasan anak, alasannya bila orang renta salah menyikapi akan menawarkan pengaruh kepada anak. Pemberian label arif dan tidak arif yang diberikan oleh orang renta akan kuat kepada konsep diri anak dikala dewasa.

Jangan Beri Anak Gadget Sebelum Usianya 14 Tahun

11:54:00 PM
Jangan Beri Anak Gadget Sebelum Usianya  Jangan Beri Anak Gadget Sebelum Usianya 14 Tahun
Orangtua harus berani tegas dalam menetapkan hukum terkait menunjukkan gadget pada anak.
Sebagai salah satu orang terkaya di dunia, dan pencipta teknologi modern di industri komputer, Bill Gates pastinya tahu kapan usia terbaik menunjukkan gadget pada anak. Dalam sebuah wawancara, ayah dari tiga orang anak ini menegaskan bahwa anak seharusnya TIDAK dibolehkan mempunyai ponsel pintar atau gadget sebelum usianya 14 tahun.

Bill mengaku, bahwa beliau dan istrinya Melinda menetapkan hukum ketat terkait menunjukkan gadget pada anak-anaknya. Hal tersebut juga sesuai dengan pendapat pakar parenting dan mahir teknologi. Karena penelitian telah pertanda bahwa membiarkan anak menyentuh teknologi terlalu dini sanggup berdampak jelek pada anak.

"Kami tidak membolehkan ada yang memegang ponsel pada ketika makan. Kami juga tidak menunjukkan anak kami ponsel sebelum usianya 14 tahun, dan mereka mengeluh bahwa teman-teman merek sudah mempunyai ponsel sebelum berusia 14 tahun," kata Bill.

Berikut ini yaitu sederet hukum terkait penggunaan teknologi, yang diterapkan Bill Gates pada anak-anaknya yang lansir dari laman theAsianparents.

  • Melarang anak mereka mempunyai ponsel sebelum berusia 14 tahun
  • Membatasi screen time, sehingga mereka punya waktu lebih banyak untuk dihabiskan bersama keluarga
  • Tidak dibolehkan membawa ponsel pada ketika makan
  • Menentukan jam berlaku untuk melihat televisi dan ponsel setiap hari sehingga bawah umur sanggup pergi tidur lebih awal dibanding anak lain.

Pemilik merek gadget populer di dunia Apple, Steve Jobs juga menyatakan bahwa beliau melarang anak-anaknya untuk memakai teknologi terbaru. [ Baca: Ini Akibat Jika Anak Kebanyakan Main Gadget ]

Hal ini tentunya membuka mata kita, bahwa para pakar teknologi sendiri tidak membiarkan anak mereka terpapar oleh kecanggihan teknologi terlalu dini. Mereka membiarkan anaknya tumbuh dengan normal, dan akrab dengan lingkungan sekitarnya. Agar anak sanggup bertumbuh kembang dengan baik.

Sebagai orangtua, kita harus berani tegas dalam menetapkan hukum terkait menunjukkan gadget pada anak. Meski anak mengeluh ini itu, Anda harus tetap berpengaruh menerapkan hukum itu. Mari jadikan pelajaran untuk lebih tegas dalam peraturan penggunaan gadget pada anak kita di rumah.

Nilai Buruk Di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh

7:36:00 PM
Nilai Jelek di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh Nilai Jelek di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh
Tidak ada anak yang disebut ndeso hanya alasannya ialah nilai akademisnya di sekolah jelek.
Nilai di sekolah tidak sanggup mengatakan cerdas tidaknya seorang anak. Setiap anak mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda. Maka tidak ada anak yang disebut ndeso hanya alasannya ialah nilai akademisnya di sekolah jelek. Seorang jago kecerdasan multipel (Multiple Intelligences) dari Universitas Harvard Amerika Serikat, Thomas Amstrong mengungkapkan anak mempunyai kepintaran yang berbeda-beda.

"Ada anak yang nilai di sekolahnya bagus, bakir menjawab pertanyaan di sekolah dengan benar, punya IQ 150, tapi kepintaran bukan hanya soal itu," kata Thomas yang lansir dari laman Kompas (06/06/17).

Dalam teori multiple intelligences terdapat 8 jenis kecerdasan anak. Delapan jenis itu ialah kecerdasan linguistik (word smart), kecerdasan logika-matematika (number smart), kecerdasan visual-spasial (picture smart), kecerdasan gerak badan (body smart), kecerdasan bermusik (music smart), kecerdasan interpersonal (people smart), kecerdasan intrapersonal (self smart), dan kecerasan naturalis (nature smart).

"Semua anak sanggup mempunyai kepintaran yang berbeda-beda. Ada yang menonjol di suatu bidang tertentu, ada yang tidak. Orangtua harus mengetahui delapan jenis kepintaran ini," kata Thomas.

Baca: Setiap Anak Terlahir Unik, Ini Ciri Anak Berbakat

Untuk mengetahui delapan jenis kepintaran anak, orang renta sanggup mengamati tingkah laris mereka. Misalnya, anak suka memukul-mukul benda ibarat bermain drum, maka dia mungkin mempunyai minat di musik. Anak yang suka menciptakan sesuatu dengan tangan mereka, menyentuh, mengamati benda, cenderung mempunyai kepintaran body smart.

Jika kecerdasan anak sudah diketahui, berikanlah stimulus untuk membuatkan kepintaran anak tersebut. Misalnya, untuk anak yang mempunyai body smart, ajak si kecil bermain menyusun balok, melaksanakan aktivitas fisik ibarat olahraga.

"Orangtua harus meluangkan banyak waktu untuk memperhatikan belum dewasa mereka," katanya.

Teori multiple intelligences ini diperkenalkan oleh seorang profesor dari Havard University berjulukan Dr. Howard Gardner untuk mengukur potensi kecerdasan seseorang secara lebih luas.

Game Ice Breaking Tepuk Tangan Untuk Anak Sd

3:22:00 AM
Ice breaker terbukti ampuh untuk mencairkan suasana dan mengembalikan konsentrasi para siswa.
 Suasana yang terlihat sepi ataupun kurang menarik sanggup kembali dihidupkan dengan game ice breaking. Sesuai dengan namanya ice breaker yaitu game atau permainan untuk memecahkan kondisi dan keadaan yang cenderung mendingin. Semisal dikala mengajar dan aneka acara lainnya yang melibatkan banyak orang. Sehingga pemberian bahan tetap berjalan dan siswa tetap memperhatikan.

Baca juga: Karakteristik dan Kebutuhan Anak Usia SD

Ice breaker terbukti ampuh untuk mencairkan suasana dan mengembalikan konsentrasi para siswa sehingga anak akan tetap fokus kepada guru. Banyak pola permainan yang sanggup dilakukan, salah satu misalnya ice breaking berupa tepuk tangan ini. Meskipun terlihat sederhana, untuk menciptakan game ice breaker diperlukan daya kreatifitas. Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temui permainan ice breaker.

Tepuk tangan niscaya semua orang pernah melakukannya dan niscaya pernah melihat orang lain tepuk tangan. Nah game ice breaking tepuk tangan ini sanggup dipraktekkan dalam acara kita, terutama untuk belum dewasa niscaya mereka akan sangat menyukainya. Lalu bagaimana cara kerja ice breaker tepuk tangan ini? Seperti yang kutip dari al-maghribicendekia.com, berikut langkah-langkahnya.

1. Untuk yang pertama kita akan mempraktekkan tepuk tangan dengan memakai tunjangan anggota badan. Coba ajak anak untuk bertepuk tangan dikala kita memegang salah satu anggota badan. Sebagai pola adalah

- Apabila kita memegang hidung, maka anak tepuk 1 X tepuk
- Apabila kita memegang mulut, maka anak tepuk 2 X tepuk
- Apabila kita memegang telinga, maka anak tepuk 3 X tepuk
- Apabila tangan kita bersedekap, maka anak tepuk 4 X tepuk

Cara di atas sanggup dikreasikan sedemikian rupa sesuai dengan harapan kita. Teknik tersebut sanggup dibolak-balik.

2. Untuk yang kedua yaitu tepuk dibalas dengan tepukan pula. Untuk yang kedua ini maka kita sanggup memakai cara yaitu

- Apabila kita tepuk 1 kali maka penerima tepuk sebanyak 4 kali
- Apabila kita tepuk 2 kali maka penerima tepuk sebanyak 3 kali
- Apabila kita tepuk 3 kali maka penerima tepuk sebanyak 2 kali
- Apabila kita tepuk 4 kali maka penerima tepuk sebnayak 1 kali

Metode ice breaking tersebut sanggup dibalik sesuai dengan selera kita. Cara ini sanggup dikreasikan dengan bentuk lain dengan hal yang lebih menarik.

Game Ice Breaking Tepuk Tangan Untuk Anak Sd

3:22:00 AM
Ice breaker terbukti ampuh untuk mencairkan suasana dan mengembalikan konsentrasi para siswa.
 Suasana yang terlihat sepi ataupun kurang menarik sanggup kembali dihidupkan dengan game ice breaking. Sesuai dengan namanya ice breaker yaitu game atau permainan untuk memecahkan kondisi dan keadaan yang cenderung mendingin. Semisal dikala mengajar dan aneka acara lainnya yang melibatkan banyak orang. Sehingga pemberian bahan tetap berjalan dan siswa tetap memperhatikan.

Baca juga: Karakteristik dan Kebutuhan Anak Usia SD

Ice breaker terbukti ampuh untuk mencairkan suasana dan mengembalikan konsentrasi para siswa sehingga anak akan tetap fokus kepada guru. Banyak pola permainan yang sanggup dilakukan, salah satu misalnya ice breaking berupa tepuk tangan ini. Meskipun terlihat sederhana, untuk menciptakan game ice breaker diperlukan daya kreatifitas. Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temui permainan ice breaker.

Tepuk tangan niscaya semua orang pernah melakukannya dan niscaya pernah melihat orang lain tepuk tangan. Nah game ice breaking tepuk tangan ini sanggup dipraktekkan dalam acara kita, terutama untuk belum dewasa niscaya mereka akan sangat menyukainya. Lalu bagaimana cara kerja ice breaker tepuk tangan ini? Seperti yang kutip dari al-maghribicendekia.com, berikut langkah-langkahnya.

1. Untuk yang pertama kita akan mempraktekkan tepuk tangan dengan memakai tunjangan anggota badan. Coba ajak anak untuk bertepuk tangan dikala kita memegang salah satu anggota badan. Sebagai pola adalah

- Apabila kita memegang hidung, maka anak tepuk 1 X tepuk
- Apabila kita memegang mulut, maka anak tepuk 2 X tepuk
- Apabila kita memegang telinga, maka anak tepuk 3 X tepuk
- Apabila tangan kita bersedekap, maka anak tepuk 4 X tepuk

Cara di atas sanggup dikreasikan sedemikian rupa sesuai dengan harapan kita. Teknik tersebut sanggup dibolak-balik.

2. Untuk yang kedua yaitu tepuk dibalas dengan tepukan pula. Untuk yang kedua ini maka kita sanggup memakai cara yaitu

- Apabila kita tepuk 1 kali maka penerima tepuk sebanyak 4 kali
- Apabila kita tepuk 2 kali maka penerima tepuk sebanyak 3 kali
- Apabila kita tepuk 3 kali maka penerima tepuk sebanyak 2 kali
- Apabila kita tepuk 4 kali maka penerima tepuk sebnayak 1 kali

Metode ice breaking tersebut sanggup dibalik sesuai dengan selera kita. Cara ini sanggup dikreasikan dengan bentuk lain dengan hal yang lebih menarik.

Ini Jawaban Jikalau Anak Kebanyakan Main Gadget

1:32:00 AM
Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung pasif Ini Akibat Jika Anak Kebanyakan Main Gadget
Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung pasif, tidak banyak bergerak.
Jika gadget digunakan secara tidak bijak sanggup menciptakan anak mengalami gangguan berinteraksi dengan lingkungan di sekelilingnya. Menurut psikolog dari Tigagenerasi, Annelia Sari Sani menyerupai yang lansir dari Antara (19/03/17) mengungkapkan, jikalau gadget digunakan tidak bijak, akan mengakibatkan problem sebagai berikut:

1. Kurang interaksi

Terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gadget menciptakan anak kurang berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Padahal, dalam interaksi langsung, anak sanggup mencar ilmu mengenali emosi, menyerupai marah, takut atau cemas.

Sejumlah permainan virtual yang ada di gadget memang memberi tahu bahwa tokoh yang sedang dimainkan mengalami rasa tertentu, namun ada kalanya mulut wajah dan bunyi tidak sejalan dengan emosi.

2. Pasif

Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung pasif, tidak banyak bergerak sehingga sanggup kuat pada kesehatan fisik, contohnya mengakibatkan kelebihan berat badan.

3. Diskoneksi dengan lingkungan

Bila terlalu usang dibiarkan bermain dengan gadget, dikhawatirkan anak akan terputus dari lingkungan sosial. Ia merasa tidak butuh keberadaan orang lain.

Baca juga: Berikan Anak Mainan Sungguhan Bukan Gadget

Mengenalkan gadget pada belum dewasa memang bermanfaat bagi anak, terutama bila berkaitan dengan pendidikan. Anak akan butuh gadget dikala mengerjakan tugas, contohnya mencari warta tambahan. Namun, orang bau tanah harus menguasai teknologi, minimal gadget yang digunakan oleh anak-anaknya supaya mengakibatkan problem tersebut.

Ini Jawaban Jikalau Anak Kebanyakan Main Gadget

1:32:00 AM
Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung pasif Ini Akibat Jika Anak Kebanyakan Main Gadget
Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung pasif, tidak banyak bergerak.
Jika gadget digunakan secara tidak bijak sanggup menciptakan anak mengalami gangguan berinteraksi dengan lingkungan di sekelilingnya. Menurut psikolog dari Tigagenerasi, Annelia Sari Sani menyerupai yang lansir dari Antara (19/03/17) mengungkapkan, jikalau gadget digunakan tidak bijak, akan mengakibatkan problem sebagai berikut:

1. Kurang interaksi

Terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gadget menciptakan anak kurang berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Padahal, dalam interaksi langsung, anak sanggup mencar ilmu mengenali emosi, menyerupai marah, takut atau cemas.

Sejumlah permainan virtual yang ada di gadget memang memberi tahu bahwa tokoh yang sedang dimainkan mengalami rasa tertentu, namun ada kalanya mulut wajah dan bunyi tidak sejalan dengan emosi.

2. Pasif

Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung pasif, tidak banyak bergerak sehingga sanggup kuat pada kesehatan fisik, contohnya mengakibatkan kelebihan berat badan.

3. Diskoneksi dengan lingkungan

Bila terlalu usang dibiarkan bermain dengan gadget, dikhawatirkan anak akan terputus dari lingkungan sosial. Ia merasa tidak butuh keberadaan orang lain.

Baca juga: Berikan Anak Mainan Sungguhan Bukan Gadget

Mengenalkan gadget pada belum dewasa memang bermanfaat bagi anak, terutama bila berkaitan dengan pendidikan. Anak akan butuh gadget dikala mengerjakan tugas, contohnya mencari warta tambahan. Namun, orang bau tanah harus menguasai teknologi, minimal gadget yang digunakan oleh anak-anaknya supaya mengakibatkan problem tersebut.

Waktu Yang Sempurna Mengajari Anak Bahasa Inggris

8:20:00 PM
Mengajarkan dua bahasa secara bersamaan justru lebih efektif bagi anak maupun orangtua Waktu yang Tepat Mengajari Anak Bahasa Inggris
Bolehkah mengajarkan bahasa inggris semenjak balita atau tunggu ketika ia besar?
Kapan waktu yang sempurna sebaiknya mulai mengajari anak bahasa kedua kerap membingungkan orangtua. Bolehkah semenjak balita atau menunggu ketika ia lebih besar? Seperti yang lansir dari Antara (16/03/17), berikut ialah mitos dan fakta terkait pengajaran bahasa Inggris terhadap balita.

“Belajar satu bahasa dulu kemudian bahasa lain kemudian”

Studi terbaru mengatakan, mengajarkan dua bahasa secara simultan atau bersamaan justru lebih efektif bagi anak maupun orangtua.

“Ah, kasihan, nanti ia gundah bahasa”

Semakin dini anak terpapar lebih dari satu bahasa, semakin cepat mereka menguasainya. Ini menurut siaran pers EF, Dr. David Freeman dan Dr. Yvonne Freeman, Professor of Bilingual Education dari Amerika Serikat.

Baca juga: Anak Usia SD Adalah Masa Emas Belajar Bahasa

Sebab, otak anak sangat besar lengan berkuasa dan mempunyai kapasitas untuk dapat berubah dikala menanggapi tuntutan lingkungan, inilah mengapa bahasa dapat diajarkan semenjak dini. Orangtua tidak perlu takut anak mereka akan kebingungan.

“Anak saya akan mencampur adukkan kedua bahasa dan itu tidak baik”

Pada dikala proses belajar, anak niscaya akan mencampur dua bahasa berbeda. Mengapa? Karena anak sedang berguru merangkai kalimat, dan bila ia tidak ingat atau tidak tahu kosakata salah satu bahasa dari apa yang ia maksud, maka ia akan memakai kosakata dari bahasa lainnya. Pada dikala balita pembentukan tata bahasa atau grammar juga sedang berlangsung, masuk akal bila mereka melaksanakan kesalahan.

“Kan sudah saya beri tontonan berbahasa Inggris di rumah, nanti juga dapat sendiri”

“Anak-anak harus dibiasakan berinteraksi dengan bahasa kedua paling sedikit 30 persen dari keseluruhan hari mereka dikala mereka terjaga,” kata Fred Genesse, professor dalam bidang psikolingusitik dari McGill University, Montreal, AS.

Hal itu yang menjadi salah satu faktor sukses menumbuhkan anak bilingual atau bahkan multilingual. Jadi, orangtua juga harus aktif mengajak anak berbicara dalam bahasa Inggris atau memasukkannya ke daerah kursus.

Waktu Yang Sempurna Mengajari Anak Bahasa Inggris

8:20:00 PM
Mengajarkan dua bahasa secara bersamaan justru lebih efektif bagi anak maupun orangtua Waktu yang Tepat Mengajari Anak Bahasa Inggris
Bolehkah mengajarkan bahasa inggris semenjak balita atau tunggu ketika ia besar?
Kapan waktu yang sempurna sebaiknya mulai mengajari anak bahasa kedua kerap membingungkan orangtua. Bolehkah semenjak balita atau menunggu ketika ia lebih besar? Seperti yang lansir dari Antara (16/03/17), berikut ialah mitos dan fakta terkait pengajaran bahasa Inggris terhadap balita.

“Belajar satu bahasa dulu kemudian bahasa lain kemudian”

Studi terbaru mengatakan, mengajarkan dua bahasa secara simultan atau bersamaan justru lebih efektif bagi anak maupun orangtua.

“Ah, kasihan, nanti ia gundah bahasa”

Semakin dini anak terpapar lebih dari satu bahasa, semakin cepat mereka menguasainya. Ini menurut siaran pers EF, Dr. David Freeman dan Dr. Yvonne Freeman, Professor of Bilingual Education dari Amerika Serikat.

Baca juga: Anak Usia SD Adalah Masa Emas Belajar Bahasa

Sebab, otak anak sangat besar lengan berkuasa dan mempunyai kapasitas untuk dapat berubah dikala menanggapi tuntutan lingkungan, inilah mengapa bahasa dapat diajarkan semenjak dini. Orangtua tidak perlu takut anak mereka akan kebingungan.

“Anak saya akan mencampur adukkan kedua bahasa dan itu tidak baik”

Pada dikala proses belajar, anak niscaya akan mencampur dua bahasa berbeda. Mengapa? Karena anak sedang berguru merangkai kalimat, dan bila ia tidak ingat atau tidak tahu kosakata salah satu bahasa dari apa yang ia maksud, maka ia akan memakai kosakata dari bahasa lainnya. Pada dikala balita pembentukan tata bahasa atau grammar juga sedang berlangsung, masuk akal bila mereka melaksanakan kesalahan.

“Kan sudah saya beri tontonan berbahasa Inggris di rumah, nanti juga dapat sendiri”

“Anak-anak harus dibiasakan berinteraksi dengan bahasa kedua paling sedikit 30 persen dari keseluruhan hari mereka dikala mereka terjaga,” kata Fred Genesse, professor dalam bidang psikolingusitik dari McGill University, Montreal, AS.

Hal itu yang menjadi salah satu faktor sukses menumbuhkan anak bilingual atau bahkan multilingual. Jadi, orangtua juga harus aktif mengajak anak berbicara dalam bahasa Inggris atau memasukkannya ke daerah kursus.

Cara Efektif Mendisiplinkan Siswa Tanpa Kekerasan

4:02:00 AM
Ini yang sanggup dilakukan guru untuk menghindari eksekusi dengan kekerasan Cara Efektif Mendisiplinkan Siswa Tanpa Kekerasan
Tips yang sanggup dilakukan guru untuk mendisiplikan siswa tanpa eksekusi dengan kekerasan
Hukuman fisik ke siswa dianggap oleh beberapa guru sebagai cara efektif dalam mengatur kelas. Namun, itu bukanlah cara yang sempurna untuk mendisiplinkan siswa, dan tak jarang hal tersebut menciptakan guru harus berurusan dengan penegak hukum. Praktis saja menciptakan siswa merasa tertarik dalam kelas tanpa perlu menghukum. Kuncinya hanyalah isi kegiatan kelas dengan hal yang menyenangkan.

Berikut beberapa hal yang sanggup dilakukan guru untuk menghindari eksekusi dengan kekerasan.

Tunjukkan cinta

Diberikan imbalan bukan berarti sangat disayang, diberikan eksekusi juga bukan berarti dibenci. Tunjukkan bahwa Anda sebagai guru menyayangi mereka tak ada beda, namun setiap apa yang dilakukan ada konsekuensinya.

Dekati secara personal

Meski jumlah siswa tak sedikit, mengenal kepribadian mereka satu persatu merupakan kewajiban. Sehingga, Anda akan mengenali huruf masing-masing dan tahu apa yang harus dilakukan jikalau ada yang bermasalah.

Tunjukkan akhir dari perilakunya

Guru sanggup meminta siswa untuk menulis sebuah pernyataan yang menggambarkan imbas negatif dari sikap mereka, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Tanamkan pula kebiasaan meminta maaf atas kesalahannya.

Buat aturan bersama

Sebaiknya dikala menciptakan aturan di dalam kelas, ajaklah siswa untuk bersama memilih eksekusi apa yang sempurna dan tidak terlalu memberatkannya. Selain itu, berilah reward bagi yang disiplin meskipun hanya berupa pujian.

Baca juga: Jangan Mendisiplinkan Siswa dengan Kekerasan

Saat ini dalam mendidik, guru lebih baik menyebarkan konsep disiplin positif ialah dengan pendekatan yang menumbuhkan tanggung jawab, kesadaran dan komitmen. Disiplin positif menekankan pada penciptaan lingkungan positif melalui contoh komunikasi yang bersifat membangun dan menguatkan. Pada dasarnya setiap anak mempunyai potensi untuk menjadi baik dan sanggup dikembangkan dengan banyak sekali pendekatan.

Pendidikan Di Indonesia Mematikan Kreativitas Anak

6:49:00 PM
Pendidikan di Indonesia Mematikan Kreativitas Anak Pendidikan di Indonesia Mematikan Kreativitas Anak
Kalau mereka dipaksakan belajar, begitu di usia mereka harus serius berguru malah mereka maunya main-main.
Sistem pendidikan anak usia dini (PAUD) di Indonesia yang diterapkan sekolah dinilai justru mematikan‎ kreativitas di masa emasnya. Menurut pengamat pendidikan Indra Charismiadji, ketika ini bawah umur dipaksakan harus dapat baca, tulis, menghitung (calistung).

"Bagaimana dapat berkembang jikalau bawah umur kecil dipaksakan harus dapat baca, tulis, menghitung.‎ Di masa emas anak (usia 0-6 tahun), harusnya mereka dibiarkan bermain dan gembira. Dengan bermain kreativitasnya justru tumbuh," kata Indra.

Anak-anak usia dini diharuskan dapat calistung. Ini diperparah dengan ketentuan sekolah SD yang mewajibkan anak ketika masuk harus dapat calistung. Padahal, seharusnya calistung gres diajarkan ketika anak duduk di kursi SD.

"PAUD itu‎ masa bawah umur bermain sambil belajar. Kalau mereka dipaksakan belajar, begitu di usia mereka harus serius berguru malah mereka maunya main-main," kata kata Indra yang kutip dari JPNN (11/03/17).

Baca juga: Ini Waktu yang Tepat Anak Mulai Belajar Calistung

Itu sebabnya sistem pendidikan dasar dari sentra hingga tempat harus sejalan. Jangan ada sekolah yang memaksakan anak PAUD dapat calistung. Selain itu, orang renta juga harus diberi pengetahuan supaya tidak memaksakan anaknya dapat calistung di usia emasnya.

Mengapa Anak Sd Mulai Suka Membentuk Geng?

2:05:00 AM
Mengapa Anak SD Mulai Suka Membentuk Geng Mengapa Anak SD Mulai Suka Membentuk Geng?
Ini yakni bab perkembangan anak, di mana di usia sekolah 6-12 tahun itu mereka mulai mencari pertemanan.
Memasuki usia sekolah dasar (SD), umumnya bawah umur mulai suka membentuk geng alias kelompok. Menurut psikolog anak Karina Priliani, M.Psi, hal ini alasannya perkembangan anak di usia tersebut mulai mencari pertemanan.

"Sebenarnya ini yakni bab perkembangan anak, di mana di usia sekolah 6-12 tahun itu mereka mulai mencari pertemanan. Ini alasannya mereka berguru menyesuaikan diri di lingkungan di luar keluarga," kata Karina yang kutip dari detikcom (03/03/17).

Anak-anak usia SD mulai jadi mengidolakan pertemanan sehingga mulai membentuk geng. Untuk berteman, anak tentu mencari orang-orang yang sanggup menciptakan nyaman yang umumnya didapat dari suatu hal yang sama.

Baca juga: Inilah Empat Alasan Anak Merasa Bosan di Sekolah

Misalnya geng bawah umur dengan nilai-nilai manis alias yang isinya bawah umur paling berilmu di kelas. Ada juga geng dengan kesukaan yang sama, contohnya sama-sama menyukai grup band tertentu. Bisa juga bawah umur membentuk geng alasannya rumahnya berdekatan.

"Lagi-lagi ini alasannya kebutuhan sesuai perkembangan usianya, butuh interaksi melalui pertemanan," sambung Karina.

Agar geng yang dibentuk anak tidak langsung sehingga memandang rendah teman-teman di luar gengnya, berdasarkan Karina hal ini kembali pada nilai yang diajarkan orang tua di rumah.

Jika semenjak dini anak telah menerima pemahaman bahwa semua orang itu setara meskipun ada yang lebih pintar, lebih rupawan, maupun dari keluarga dengan perekonomian yang lebih baik, maka tidak akan memandang rendah orang lain.

"Kalau di rumah menerima nilai bagaimana menghargai orang lain, kemudian orang tuanya memperlihatkan teladan juga, maka anak akan mengikuti. Karena anak berguru dari apa yang dilihatnya dari orang tua," terperinci Karina.

Dampak Kalau Orangtua Berangasan Pada Pendidikan Anak

5:25:00 PM
Dampak Jika Orangtua Kasar Pada Pendidikan Anak Dampak Jika Orangtua Kasar Pada Pendidikan Anak
Pola pendidikan bergairah orangtua akan berdampak negatif terhadap akademik anak.
Jika Anda suka berteriak, memukul atau memakai fisik untuk mendidik anak, segeralah mengubah teladan pendidikan tersebut. Seperti yang lansir dari Republika (28/02/17), sebuah studi mengungkapkan, teladan pendidikan bergairah orangtua akan berdampak negatif terhadap akademik anak.

Baca juga: Anak yang Sering Bermain dengan Orangtua Akan Tumbuh Cerdas

Berdasarkan penelitian pada 1.482 siswa dari Washington yang diikuti selama lebih sembilan tahun pada bawah umur dari kelas tujuh hingga berakhir tiga tahun sehabis lulus Sekolah Menengan Atas mengatakan siswa yang dibesarkan bergairah mereka malah akan tidak mengikuti hukum orangtua.

"Dalam penelitian kami, orangtua yang keras akan menurunkan tingkat pendidikan anak,” ujar Ketua Peneliti dari University of Pittsburgh di Pennsylvania, AS, Rochelle F. Hentges, dikutip dari Indian Express.

Anak-anak ini sulit untuk bertanggung jawab serta akan lebih mementingkan mencari kelompok sebaya mereka. Selanjutnya, anak-anak dengan didikan yang keras akan lebih mengandalkan rekan-rekannya.

Bukannya melaksanakan pekerjaan rumah, mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan teman-teman. Mereka merasa bahwa tidak ada yang salah dalam melanggar hukum untuk menjaga relasi dengan teman-teman.

Kondisi tersebut terang akan menciptakan mereka semakin terlibat dalam sikap yang lebih berisiko di usia remaja. Perempuan akan lebih terlibat dalam sikap seksual sedangkan pria dalam perbuatan yang salah ibarat memukul dan mencuri.

Dampak Jelek Kalau Anak Dipaksa Arif Semua Pelajaran

3:33:00 PM
Dampak Buruk Jika Anak Dipaksa Pintar Semua Pelajaran Dampak Buruk Jika Anak Dipaksa Pintar Semua Pelajaran
Itu akan membunuh abjad anak dan mengakibatkan orang yang biasa saja nantinya.
Jangan memaksakan anak untuk pintar pada semua mata pelajaran di sekolah lantaran hal itu akan menghipnotis moralnya. Hal ini dikatakan Pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat Dr Yanuar Asri, untuk mengingatkan orangtua biar tidak memaksakan keinginannya.

"Saat ini budaya kapitalisme orangtua terhadap anak semakin tinggi, contohnya anak lemah dalam satu atau dua pelajaran, maka ia akan melaksanakan aneka macam cara biar anaknya cerdik dalam segalanya," kata Yanuar yang kutip dari Antaranews (26/02/17).

Saat ini marak fenomena orangtua memasukkan anaknya ke daerah les biar unggul dalam semua mata pelajaran tanpa mengukur terlebih dahulu kemampuan anak. Sehingga nanti menciptakan anak terpaksa berguru pelengkap mengenai hal yang tidak disukainya.

Menurutnya, les itu boleh saja namun hanya sebatas untuk penyegaran bila ada yang belum tuntas di sekolah. Bimbingan berguru itu bukan untuk menciptakan anak cerdik terhadap pelajaran yang tidak ia kuasai, namun hanya untuk memperjelas kalau ada pelajaran yang belum dipahami saat di sekolah.

Baca juga: Les Semestinya Tidak Ada, Itu Tanggung Jawab Guru

Orangtua harus memahami bahwa proses pendidikan anak bukan untuk nilai-nilai di atas kertas melainkan penerapan pendidikan untuk hidup dengan beretika dan bermoral. Menurutnya, untuk apa bawah umur cerdik semua mata pelajaran tetapi tidak bermoral.

Orangtua dihimbau biar memperlihatkan pendidikan yang sehat kepada anaknya, menyerupai menunjang impian anak dengan memfasilitasi apa yang diminati. Misalnya, kata dia, anak menyukai puisi, maka berikan ia pelajaran pelengkap bahasa Indonesia dan hal-hal terkait lainnya.

Anak-anak tidak akan menjadi unggul saat orangtua memperlihatkan pelengkap belajar mengenai hal yang tidak ia minati. Misalnya di sekolah ia tidak unggul dalam pelajaran matematika, maka orang renta jangan memaksakan kehendak biar anaknya cerdik matematika lantaran itu akan membunuh abjad anak dan mengakibatkan orang yang biasa saja nantinya.

"Di luar negeri, banyak bawah umur yang diberi pelengkap berguru oleh orangtuanya menurut apa yang diminati oleh anak, oleh alasannya yaitu itu mereka maju dalam segala bidang," kata Yanuar.