Showing posts with label Metode Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Metode Pembelajaran. Show all posts

Metode Pembelajaran Puzzle Jigsaw

1:36:00 AM
Melalui metode puzzle jigsaw siswa mendapat pengalaman secara eksklusif Metode Pembelajaran Puzzle Jigsaw
Melalui metode puzzle jigsaw siswa mendapat pengalaman secara langsung.
Metode mengajar merupakan salah satu faktor yang menghipnotis prestasi mencar ilmu anak. Penggunaan metode mengajar yang menarik dan menyenangkan akan sangat besar lengan berkuasa pada iklim mencar ilmu di kelas. Salah satu metode yang sanggup dipakai untuk pembelajaran di Sekolah Dasar ialah puzzle jigsaw. Dengan penggunaaan metode ini sanggup meningkatkan minat mencar ilmu siswa sehingga akan berdampak positif pada prestasi mencar ilmu siswa.

Puzzle jigsaw merupakan metode pembelajaran kolaborasi antara permainan puzzel dengan metode kooperatif model jigsaw. Menurut Adenan (1989: 9) dinyatakan bahwa puzzle dan games ialah bahan untuk memotivasi diri secara nyata dan merupakan daya penarik yang kuat. Puzzle dan games untuk memotivasi diri alasannya hal itu mengatakan sebuah tantangan yang sanggup secara umum dilaksanakan dengan berhasil. Sedangkan berdasarkan Hadfield (1990: v), puzzle ialah pertanyaan-pertanyaan atau duduk kasus yang sulit untuk dimengerti atau dijawab.

Tarigan (1986: 234) menyatakan bahwa pada umumnya para siswa menyukai permaianan dan mereka sanggup memahami dan melatih cara penggunaan kata-kata, puzzle, crosswords puzzle, anagram dan palindron. Sedangkan Jigsaw ialah salah satu metode kooperatif yang lebih mengetengahkan kerja sama tim dalam memecahkan masalah.

Jigsaw meruapakan salah satu metode kooperatif dalam PAKEM. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ialah suatu tipe pembelajaran yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bab bahan mencar ilmu dan bisa mengajarkan bahan tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 2001).

Metode puzzle jigsaw ini mengajak siswa untuk menyusun potongan-potongan gambar dan diubahsuaikan dengan mal yang telah disediakan sehingga membentuk sebuah gambar yang benar. Selain menyusun potongan gambar, siswa juga dituntut untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan arahan puzzle yang telah disusun.

Melalui metode puzzle jigsaw siswa mendapat pengalaman secara langsung, mengambarkan konsep secara menyenangkan, menggali kreatifitas, melatih cara berfikir tingkat tinggi, menguatkan hafalan, mencar ilmu bekerja sama dengan sobat dan hasilnya siswa memperoleh kebenaran secara nyata dan ganda.

Dengan metode puzzle jigsaw siswa dituntut aktif berfikir merangkaikan kepingan gambar dan goresan pena sebuah konsep pembelajaran tak beraturan sehingga membentuk konsep yang saling bertautan. Metode ini menekankan bahwa mencar ilmu intinya ialah proses berpikir.

Selain untuk mengkonkretkan konsep yang terdapat dalam pembelajaran, metode puzzle jigsaw diharapkan sanggup membangkitkan motivasi siswa dalam belajar. Dengan kata lain, penggunaan puzzle dalam pembelajaran sanggup memperbesar minat dan perhatian siswa.

Langkah-langkah penerapan metode puzzle jigsaw sebagai berikut:

1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok induk. Setiap anggota kelompok mendapat kartu warna.

2. ‘Siswa yang mendapat kartu yang berwarna sama bergabung menjadi kelompok gres yang disebut kelompok ahli.

3. Setiap kelompok jago mendapat sebuah puzzle dan menyusunnya.

4. Kelompok yang telah berhasil menyusun puzzle , berhak mengambil kartu soal dan menjawab pertanyaan yang ada pada kartu soal tersebut.

5. Siswa kembali ke kelompok induk dan melaporkan apa yang telah didapat dari kelompok ahli.

6. Kelompok jago bertugas menjawab pertanyaan yang dibagikan guru berdasarkan pengetahuan yang telah didapat dari kelompok ahli.

7. Melaporkan hasil kerja kelompok induk di depan kelas.

8. Guru dan siswa tolong-menolong menyimpulkan bahan yang telah dipelajari.

Penerapan metode puzzle jigsaw disamping akan memudahkan anak dalam memahami materi, penggunaan metode ini juga bermanfaat untuk :

a) Mengembangkan kapasitas anak dalam mengamati dan melaksanakan percobaan

b) Membedakan bagian-bagian dari sebuah benda dan meminta bawah umur untuk menyatukannya kembali

c) Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah

d) Mengembangkan koordinasi motorik halus.

Dengan memakai metode yang lebih menarik dan menantang, siswa sanggup termotivasi sebagaimana Ivas K. Davles (1991:215) bila seseorang telah termotivasi maka mereka siap untuk melaksanakan hal-hal yang diharapkan sesuai dengan yang dikehendaki.

12 Cara Menciptakan Siswa Menjadi Aktif Dan Kreatif

6:27:00 AM
 Cara Membuat Siswa Menjadi Aktif dan Kreatif 12 Cara Membuat Siswa Menjadi Aktif dan Kreatif
Guru mempunyai tugas penting dalam mengenalkan dan membuatkan pemikiran kreatif pada siswa.
Kreativitas bisa dilakukan di mana saja dan oleh siapa saja. Dengan kreativitas semua bidang kehidupan akan semakin maju alasannya penemuan lahir dari kreativitas. Dengan membuat siswa di kelas menjadi siswa yang kreatif akan membuat siswa mengenali sendiri potensi dan kemampuannya, sehingga guru sanggup mengasah potensi tersebut.

Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran merupakan faktor penting, aktivitas aktif ini tidaklah hanya berupa keterlibatan secara fisik belaka, tetapi hal yang lebih utama yaitu keterlibatan intelektual-emosional. Guru mempunyai tugas penting dalam mengenalkan dan membuatkan pemikiran kreatif pada siswa.

Untuk membuatkan kreativitas siswa sanggup dilakukan dengan cara-cara yang sederhana. Berikut yang bisa dilakukan guru untuk membuat siswa di kelas menjadi lebih aktif dan kreatif menyerupai yang ditulis Agus Sampurno, seorang fasilitator pendidikan yang lansir dari gurukreatif.wordpress.com (22/01/18).

1. Minta siswa mengajarkan siswa lainnya sebagai bab dari taktik belajar.

2. Latih siswa untuk beropini dengan terperinci dan lancar, sebagai cara membuat siswa percaya diri di depan teman.

3. Biasakan siswa untuk bisa berpartisipasi dalam kelompok.

4. Buat aktivitas di kelas semoga siswa bisa berpikir berdikari sekaligus menjadi pemecah masalah.

5. Siapkan penugasan bagi siswa yang di ujung penugasannya siswa diminta mengekspresikan diri secara kreatif bisa dengan drama, komik atau hal lain yang menuntut siswa kreatif.

6. Sering-seringlah meminta siswa bekerja sama dalam kelompok semoga mereka terbiasa bekerja sama dengan orang lain.

7. Sering-sering memberi penugasan yang kreatif contohnya daripada sekedar meminta siswa merangkum isi buku, lebih baik meminta siswa mendesain ulang covernya.

8. Mengikut sertakan ‘suara’ siswa dalam perencanaan pengajaran. Dengan demikian siswa biasa mengungkapkan pikiran dan berani mengungkapkan pendapat.

9. Saat membahas sesuatu di kelas, sering-seringlah bertanya, “apa yang terlintas di pikiranmu dikala mendengar kata……”

10. Berikan pekerjaan rumah yang berkualitas pada siswa, bukan yang sekedar membuat siswa pusing. Misalnya daripada meminta siswa mengerjakan soal pilihan ganda, lebih baik meminta siswa melaksanakan wawancara, memotret gambar lewat HP lalu menawarkan komentar dan banyak aktivitas lainnya yang membuat siswa tertantang.

11. Memperbanyak diskusi dan interaksi antar siswa di kelas, mengurangi ceramah dan komunikasi satu arah di kelas, hanya dari guru pada siswa.

12. Menciptakan budaya menjelaskan di kelas, bukan sekedar menjawab yang betul. Artinya jikalau ada siswa yang menjawab betul minta ia menjelaskan alasannya dengan demikian siswa yang lain bisa terbantu dalam berusaha untuk mengerti.

Baca: Guru Harus Beri Kesempatan Siswa Kaprikornus Problem Solver

Intinya, untuk membuatkan kreativitas siswa bisa dilakukan dengan mengondisikan atau membangun suasana yang memicu kemampuan berpikir dan berkarya. Dasarnya yaitu menguasai pengetahuan, juga menerapkan ilmu dalam bentuk keterampilan. Dengan membuat sesuatu yang gres akan terus memancing imajinasi siswa. Selamat mencoba

Presiden Menyebarkan Taktik Belajarnya Ketika Sekolah

8:23:00 PM
Presiden Berbagi Strategi Belajarnya Saat Sekolah Presiden Berbagi Strategi Belajarnya Saat Sekolah
Presiden menceritakan pengalamannya ketika masih sekolah, di mana waktu belajarnya selalu melebihi teman-temannya.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpesan kepada para siswa untuk terus mencar ilmu tanpa kenal lelah. Hal ini dikatannya ketika menyerahkan 1.539 Kartu Indonesia Pintar (KIP) kepada siswa SD, SMP, SMA, Sekolah Menengah kejuruan dan juga jadwal Keseteraan (Paket A, Paket B, dan Paket C) se-Kabupaten Malang.

"Saya titip, mencar ilmu yang baik. Habis Subuh belajar, pulang sekolah belajar, malam hari belajar. Kalau mau bakir mesti menyerupai itu," kata Jokowi yang kutip dari JPNN (05/06/17).

Mantan Walikota Solo itu lantas menceritakan pengalamannya ketika masih sekolah, di mana waktu belajarnya selalu melebihi teman-temannya.

"Saya ingat waktu kecil, aku tanya ke teman. Kamu mencar ilmu berapa jam? dua jam. Saya empat jam. Kamu berapa jam? empat jam. Saya delapan jam," kata Jokowi.

Baca juga: Presiden Restui Full Day School

Tak lupa, Presiden juga berpesan biar para siswa selalu meningkatkan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bagi yang muslim, salatnya harus rajin. Kemudian sering berolahraga supaya sehat. Di simpulan acara, Jokowi juga memperlihatkan kuis berhadiah sepeda kepada siswa yang hadir.

Metode Pembelajaran Paikem Gembot

5:22:00 PM
 dan mengonstruksi ilmu pengetahuan dan ketrampilan Metode Pembelajaran Paikem Gembot
Peserta didik aktif menemukan, memproses, dan mengonstruksi ilmu pengetahuan dan ketrampilan.
Metode pembelajaran PAIKEM GEMBOT (Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Gembira, dan Berbobot). Metode ini memakai pendekatan proses aktif membangun makna dan pemahaman dilema yang berkait informasi, ilmu pengetahuan dan pengalaman penerima didik. Peserta didik aktif menemukan, memproses, dan mengonstruksi ilmu pengetahuan dan ketrampilan.

AKTIF
Guru memfasilitasi penerima didik
Untuk melaksanakan percobaan
Melibatkan penerima didik mencari isu wacana topik/materi yang sedang dipelajari

INOVATIF
Dapat memunculkan wangsit /gagasan gres dalam penyelesaian masalah

KREATIF
Menemukan banyak sekali cara /jalan dalam pembelajaran

EFEKTIF
Penggunaan waktu yang terbatas untuk menuntaskan dilema dalam KBM sesuai rencana/tujuan yang akan dicapai.

MENYENANGKAN
Peserta didik berguru dalam suasana menyenangkan (tidak tertekan, tidak takut)

GEMBIRA
Suasana yang bangga tanpa tekanan
Sesuai perkembangan penerima didik

BERBBOBOT
Proses berguru mengajar yang sesuai dengan planning dan tujuan
Mengarah pada keberhasilan proses berguru mengajar sesuai kompetensi dasar

Prinsip Metode Pembelajaran Paikem Gembot
1. Guru memahami karakteristik penerima didik: sifat ingin tahu dan berimajinasi (modal dalam perkembangan sikap, berpikir kritis dan kreatif)
2. Guru mengenal penerima didik secara individu (latar belakang dan kemampuannya)
3. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif
4. Menciptakan ruang kelas sebagai linkungan berguru yang menarik (fisik,sosial, budaya)
5. Umpan balik untuk meningkatkan aktivitas (interaksi antara guru dan penerima didik)

Guru Kini Pilih Ceramah Padahal Banyak Metode

5:20:00 AM
Guru Sekarang Pilih Ceramah Padahal Banyak Metode Guru Sekarang Pilih Ceramah Padahal Banyak Metode
Guru kini itu terlalu menikmati cara mengajar dengan metode ceramah padahal banyak metode lain.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan akan menerapkan pendidikan abjad di seluruh Indonesia. Guru dibutuhkan bisa menerapkan metode pembelajaran yang lebih bervariasi. Tujuannya untuk membangun abjad siswa didik.

"Guru kini itu terlalu menikmati cara mengajar dengan metode ceramah padahal banyak metode lain yang bisa dipakai," kata Mendikbud, dalam siaran persnya, Senin (7/11/2016)

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mencontohkan, contohnya dengan metode role model maupun role playing. Untuk memperkuat abjad siswa guru bisa mencontohkan simulasi dagang atau perbankan.

"Di situ nanti siswa ada yang jadi manager, ada yang jadi peminjam uang. Makara secara automatis mereka mencar ilmu cara matematika dengan menghitung uang, ada pendidikan kejujuran, kecermatan dan berani mengambil resiko, itulah yang dimaksud pendidikan karakter," ujarnya.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu juga mengatakan, Lembar Kerja Siswa (LKS) akan dihapuskan alasannya tidak banyak memperlihatkan nilai tambah bagi siswa. Selain itu, siswa juga tidak akan banyak dibebani oleh pekerjaan rumah (PR).

Baca juga: Hasil Penelitian Menyebutkan Anak SD Tak Perlu PR

"Karena setiap murid mempunyai kemampuan berkembang sendiri-sendiri, itu tidak bisa disama ratakan dengan LKS," kata Muhadjir.

Dengan Metode Dan Motivasi Yang Hebat, Tak Ada Anak Bodoh

2:52:00 AM
Keberhasilan anak dalam bidang sains tergantung pada metode pengajaran yang benar dan moti Dengan Metode dan Motivasi yang Hebat, Tak Ada Anak Bodoh
Keberhasilan anak dalam bidang sains tergantung pada metode pengajaran yang benar dan motivasi yang hebat.
Tidak ada anak kurang terpelajar di dunia ini, yang ada hanyalah hanya anak yang tidak menerima kesempatan dan motivasi untuk menjadi hebat.

Menurut pemimpin Tim Olimliade Fisika Indonesia (TOFI), Yohanes Surya, keberhasilan anak dalam bidang sains tergantung pada metode pengajaran yang benar dan motivasi yang hebat.

Baca juga: Guru Jangan Mengatakan Anak Bodoh

Kunci dari keberhasilan yaitu motivasi yang hebat. Dengan cara itu, anak didik tidak merasa terpaksa mempelajari ilmu sains dan fisika dan berkemauan mencetak prestasi.

Setelah anak termotivasi, bahan apa pun yang diberikan kepada mereka sanggup masuk dengan baik alasannya yaitu adanya kemauan tinggi. Belajar siang dan malam pun dilakukan sehingga mereka sanggup menuai hasilnya.

Ini telah dibuktikannya dengan membawa para anak didiknya menyabet 54 medali emas, 33 medali perak, dan 42 medali perunggu dalam banyak sekali kompetisi sains atau fisika Internasional.

Seperti yang kutip dari Kompas (18/10/16), motivasi dan metode yang baik yaitu kunci kesuksesannya mendidik siswa binaannya.

Sekolah Bukan Lagi Daerah Yang Nyaman Bagi Guru

10:10:00 PM
Sekolah Bukan Lagi Tampat yang Nyaman Bagi Guru Sekolah Bukan Lagi Tempat yang Nyaman Bagi Guru
Sekolah bukan lagi sebagai ruang yang nyaman bagi para guru dalam mendidik dan membentuk karakter.
Sekolah bukan lagi daerah yang nyaman bagi guru untuk mendidik. Hal ini dikatakan Pelaksana Tugas Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rasidi. Menurutnya, ini terlihat dari maraknya kasus yang menyeret guru ke ranah pidana oleh orang renta siswa.

"Sekolah bukan lagi sebagai ruang yang nyaman bagi para guru dalam mendidik, menanamkan kebijaksanaan pekerti, membentuk karakter, dan nilai-nilai disiplin dan kerja keras siswanya. Para guru dicekam rasa ketakutan dalam melakukan kiprah edukatifnya," kata Unifah yang kutip dari republika.co.id (14/06/16).

PGRI meminta para guru untuk mengubah metoda mengajar yang lebih ramah pada anak. Guru-guru diminta mempelajari dan mencermati aturan, dan diminta memperkuat kompetensi pribadi serta sosial dalam menghadapi siswa yang seringkali menguji kesabaran guru.

Baca juga: Mendikbud Minta Sekolah Harus Menyenangkan

Dia mengatakan, ada nilai-nilai yang berubah dalam diri masyarakat dan pemahaman yang salah dalam memahami hukum sekolah. Dia meminta kalau guru khilaf atau kurang sabar dalam menjalankan tugas, biar masyarakat menghormati pekerjaan guru tersebut.

"Jangan eksklusif para guru ditahan atau dilaporkan sepihak oleh orang tua. Ajaklah bicara, tolong dimediasi dengan kepala sekolah, orang tua, dan pihak terkait," kata Unifah.

Pengertian Metode Inquiri, Kelebihan Dan Kekurangannya

6:04:00 AM
Tujuan utama memakai metode inquiri yaitu membantu siswa dalam berbagi keteramp Pengertian Metode Inquiri, Kelebihan dan Kekurangannya
Tujuan utama memakai metode inquiri yaitu membantu siswa dalam berbagi keterampilan inovasi ilmiah.
Pengertian metode inquiri yaitu metode pembelajaran yang mana siswa dituntut untuk lebih aktif dalam proses penemuan, penempatan siswa lebih banyak berguru sendiri serta berbagi keaktifan dalam memecahkan masalah.

Metode mengajar yaitu suatu pengetahuan ihwal cara-cara mengajar yang dipakai oleh seorang guru atau instruktur. Pengertian lain yaitu teknik pengajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan materi pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individual maupun kelompok, biar pelajaranitu sanggup disrap, dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik.makin baik metode mengajar makin efektif pula pencapaian tujuan. ( Ahmadi, 2005 : 52). Proses inquiri yaitu suatu proses khusus untukmeluaskanpengetahuan melalui penelitian.

Peran utama guru dalam pelajaran inquiri sebagai metoderator (Sutrisman,Tambunan 1987:6-39). Metode inquiri merupakan metode pengajaran yang berusaha meletakan dasar dan berbagi cara berpikir ilmiah. Dalam penerapan metode ini siswa dituntut untuk lebih banyak berguru sendiri dan berusaha berbagi kreatifitas dalam berbagi duduk kasus yang dihadapinya sendiri. Dan tujuan utama memakai metode inquiri yaitu membantu siswa dalam berbagi keterampilan inovasi ilmiah.

Langkah-langkah penerapan metode inquiri

Kegiatan-kegiatan berguru yang disajikan dalam semangat banyak sekali inquiri menambah motivasi dan dan memajukan partisipasi aktif (Hamalik,200 :64). Syarat-syarat penerapan metode inquiri yaitu merumuskan topik inquiri dngan terang dan bermanfaaat bagi siswa, membantu kelompok yang seimbang baik akademik mupunsosial dan mejelaskan tugas, menyediakan balikan kepada kelompok-kelompok dengan cara yang responsive dan sempurna waktunya.

Sekali-sekali perlu intervensi oleh guru biar terjadi interaksi antara langsung yang sehat dan demi kemajuan tugas. Melaksanakan evaluasi terhadap kelompok, baik terhadap kemajuan kelompok maupn hasil-hasil yang dicapai (Hamalik,2004 :65).

Menurut pendapat Sudjana (2004 :155) dalam menerapkan metode inquiri yaitu beberapa tahapan yaitu : perumusan duduk kasus untuk dipecahkan siswa menetapkan balasan sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis, siswa mencari informasi, data, fakta yang dibutuhkan untuk menjawab permasalahan atau hipotesis, dalam menarik kesimpulan atau generalisasi, mengaplikasikan kesimpulan dalam situasi baru.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Inquiri:

a. Kelebihan Metode Inquiri
Siswa aktif dalam kegiataan belajar. Sebab ia berpikir dan menggunnakan kemampuan untuk hasil final perkembangan secara bepikir ilmiah. Seperti mengali petanyaan, mencari jawaban, dan menyimpulkan atau memproses keterangan. Dengan metode inquiri sanggup dikembangkan seluas-luasnya dan melatih anak untuk berguru sendiri dengan kasatmata sehingga sanggup dikembangkan pendidikan demokrasi.

b. Kelemahan Metode Inquiri
Metode inquiri kurang cocok pada anak yang usianya terlalu muda contohnya anak Sekolah Dasar khususnya di kelas rendah. Dengan penerapan metode inquiri memerlukan kecerdasan anak yang tinggi, bila anak kurang cerdas, karenanya kurang efektif.

Berdasarkan pendapat tersebut diatas sanggup ditarik kesimpulan bahwa setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan tetapi semua itu sanggup diatasi dengan baik jikalau seorang guru kreatif dalam menggunakannya dan siswa akan terlihat aktif dalam proses berguru mengajar.

Pengalaman Kala Kemudian Besar Lengan Berkuasa Terhadap Minat Mencar Ilmu Siswa

6:01:00 AM
Guru profesional tidak pernah lupa bahwa pengalaman masa kemudian kuat terhadap minat berguru siswa.
Setiap insan secara sadar maupun tidak sadar selalu memandang bahwa pengalaman masa kemudian yang pernah mereka alami sangat berharga bagi dirinya. Pengalaman tersebut menjadi catatan yang sulit dilupakan di dalam memori otaknya, baik yang terkesan menghasilkan/ menggagalkan, menyenangkan/menyedihkan, menentramkan/menyeramkan, dan sebagainya. Semua pengalaman tersebut bisa berdampak positif maupun negatif.

Bagi seorang anak yang mempunyai IQ di atas 100, pengalaman jelek masa kemudian bisa jadi pemacu minat untuk berguru lebih intensif dengan menghindari kesalahan yang pernah dilakukan, tetapi bagi anak yang mempunyai IQ semakin kurang dari 100 kegagalan dianggap sebagai suatu petaka yang menjadikannya stress berat dan selalu terbayang kegagalan yang pernah dialami. Misal, seorang anak yang gres berguru berdiri ternyata ia jatuh dan mengakibatkan anggota badannya terasa sakit sebab membentur dinding, bisa jadi anak tersebut bangun lagi sesudah rasa sakitnya hilang, atau menjadikannya enggan berlatih berdiri lagi sebab apa yang dilakukan dianggap kesalahan yang tidak akan diulang. Maka selaku orang sampaumur yang sedang mengasuh anak menyerupai itu harus berhati-hati dalam menenangkan anak dan berusaha memotivasi mereka biar mau berlatih lagi.

Memasuki usia 2-5 tahun yaitu masa perkembangan ingatan yang luar biasa pesatnya. Pengalaman yang bisa kuat terhadap seorang anak tidak hanya pengalaman pribadi saja, tetapi pengalaman orang lain yang pernah dilihat atau didengar juga menjadi catatan memerinya, sebab mereka telah bisa berkomunikasi secara verbal, non verbal, maupun kontekstual. Hal ini bisa diamati ketika mereka mendengar cerita/larangan orang bau tanah sering mereka memberikan kepada orang lain bahwa cerita/larangan tersebut menjadi sesuatu yang harus dihindari supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, atau mungkin mereka suka menirukan ucapan atau tingkah laris orang atau binatang yang pernah dilihat atau didengarnya. Arno F. Wittig (Psychology of Learning 1981) : Perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam tingkah laris suatu organisme sebagai hasil belajar. Pada usia ini pengasuh anak harus lebih berhati-hati sebab mereka mengalami fese imitasi atau fase menentang pertama yang kadang dianggap badung oleh orang dewasa. Maka segala bimbingan, arahan, nasihat yang diberikan harus benar, jujur, dan memotivasi mereka ke arah kebaikan dan perkembangan mental anak asuhannya.

Saat masuk sekolah dasar pengetahuan siswa sebelumnya sanggup membantu atau menghalangi belajar. Siswa tiba ke sekolah dengan pengetahuan, keyakinan, dan sikap yang diperoleh dari contoh kehidupan lain dalam kehidupan sehari-hari/bermain di TK/PUD. Sebagai siswa mereka membawa pengetahuan tersebut untuk berguru di kelas yang dipola dengan banyak sekali jadwal kegiatan. James Patrick Chaplin ( Dictionary of Psychology 1985 ): Belajar dibatasi dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berguru yaitu perolehan perubahan tingkah laris yang relatif menetap sebagai jawaban latihan dan pengalaman. Rumusan kedua berguru ialah proses memperoleh respons-respons sebagai jawaban adanya latihan khusus. Hal itu menghipnotis bagaimana mereka dalam mendapatkan dan menginterpretasikan apa yang mereka pelajari. Jika pengetahuan siswa sebelumnya telah kuat dan akurat ketika diaktifkan pada ketika yang tepat, mereka menyediakan dasar yang kuat untuk membangun pengetahuan baru, namun ketika pengetahuan tersebut (inert) lamban, tidak cukup untuk melaksanakan tugas, keaktifan tidak tepat, atau tidak akurat, pengalaman tersbut justru mengganggu atau menghambat pembelajaran baru.

Bagaimana siswa mengatur imbas pengetahuan? Bagaimana mereka berguru dan menerapkan apa yang mereka ketahui? Siswa secara alami membuat koneksi antar banyak sekali pecahan pengetahuan. Ketika koneksi yang membentuk struktur pengetahuan yang akurat dan bermakna terorganisir, siswa lebih bisa mengambil dan menerapkan pengetahuan mereka secara efektif dan efisien. Sebaliknya, ketika pengetahuan terhubung dengan cara yang tidak akurat atau acak, siswa sanggup gagal untuk mengambil atau menerapkannya dengan tepat.

Motivasi berguru siswa menentukan, mengarahkan, dan memelihara apa yang mereka lakukan untuk belajar. Sebagai siswa masuk sekolah dan mereka memperoleh otonomi yang lebih besar atas apa, kapan, dan bagaimana mereka berguru dan terus belajar. Motivasi memainkan kiprah penting dalam membimbing arah, intensitas, ketekunan, dan kualitas sikap berguru di mana mereka terlibat. Ketika siswa menemukan nilai positif dalam tujuan pembelajaran atau dalam suatu kegiatan, mereka berharap untuk berhasil mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan dan mencicipi santunan dari lingkungan mereka, maka mereka cenderung merasa sangat termotivasi untuk berguru lebih baik lagi.

Untuk membuatkan penguasaan materi pelajaran, siswa harus memperoleh keterampilan komponen, praktek mengintegrasikan, dan mereka tahu kapan harus menerapkan apa yang telah mereka pelajari. Siswa harus membuatkan diiri, tidak hanya keterampilan komponen dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang kompleks, namun mereka juga harus berlatih menggabungkan dan mengintegrasikan untuk mengem-bangkan kefasihan lebih besar dan (automatically) dengan sendirinya. Pengaruh dari pengalaman tersebut siswa harus berguru kapan dan bagaimana menerapkan keterampilan dan pengetahuan mereka belajar. Menangkap tanda-tanda jiwa tersebut seorang guru sebagai pembimbing belajarharus memahami bahwa hal ini menjadi sangat penting ketika membuatkan kesadaran dari unsur-unsur penguasaan mereka sehingga sanggup membantu para siswa bisa berguru lebih efektif.

Praktek yang sanggup kita arahkan pada pencapaian tujuan sanggup ditambah dengan umpan balik yang ditargetkan meningkatkan kualitas berguru siswa. Belajar dan kinerja terbaik siswa kita pupuk ketika mereka terlibat dalam praktek yang berfokus pada tujuan atau kriteria tertentu, menargetkan tingkat yang sempurna dari tantangan, dan kuantitas yang cukup dan frekuensi untuk memenuhi kriteria kinerja. Kegiatan praktek harus dibarengi dengan umpan balik yang secara eksplisit berkomunikasi ihwal beberapa aspek dari siswa. Kinerja relatif terhadap kriteria sasaran khusus menyediakan info untuk membantu kemajuan siswa dalam memenuhi kriteria tersebut, dan kalau diberikan pada waktu dan frekuensi yang memungkinkan maka akan menjadi sangat bermanfaat untuk meningkatkan proses dan hasil belajar.

Peningkatan ketika siswa berinteraksi dengan iklim sosial, emosional, dan intelektual sangat menghipnotis proses dan hasil berguru mereka. Siswa selain makhluk intelektual mereka juga makhluk sosial dan emosional. Mereka masih membuatkan banyak sekali keterampilan intelektual, sosial, dan emosional, sementara kita tidak bisa mengendalikan proses perkembangan, melainkan hanya bisa membimbing, mengarahkan, dan melatih. Kita sanggup membentuk aspek intelektual, sosial, emosional, dan fisik iklim kelas dengan cara menyesuaikan dengan tahapan perkembangan mereka. Banyak penelitian telah memperlihatkan bahwa iklim yang dibuat/dipola/diprogram mempunyai implikasi bagi siswa yang belajar. Iklim negatif sanggup menghambat pembelajaran dan kinerja, tetapi iklim positif sanggup memperlihatkan energi positif berguru siswa. Tugas guru di sini yaitu membuat iklim yang bisa menghambat energi negatif dan meningkatkan energi positif.

Untuk menjadi pebelajar mandiri, siswa harus berguru untuk memantau dan menyesuaikan pendekatan mereka dalam belajar. Peserta didik sanggup terlibat pribadi dalam banyak sekali proses metakognitif untuk memonitor dan mengontrol. Mereka belajar-menilai kiprah di tangan, mengevaluasi kekuatan dan kelemahan mereka sendiri, merencanakan pendekatan mereka, menerapkan dan memantau banyak sekali strategi, dan merenungkan sejauh mana pendekatan mereka ketika ini sebagai upaya peningkatan kinerja. Mungkin hal ini di lingkungan sekolah kita siswa cenderung untuk tidak terlibat dalam proses ini secara alami sebab hal itu belu dilatih dan dibiasakan. Ketika siswa membuatkan keterampilan untuk terlibat proses ini, secara pribadi mereka mendapatkan kebiasaan intelektual yang tidak hanya meningkatkan kinerja mereka, tetapi juga efektivitas mereka sebagai penerima didik. Ingat bahwa bersama-sama kehidupan ini yaitu kebiasaan (life is habit).


DAFTAR RUJUKAN
•Hidi, S. & Renninger K.A. (2004). Interest, a motivational varmerekable that combines affective and cognitive functioning. In D. Y. Dai & R. J. Sternberg (Eds.), Motivation, emotion, and cognition: Integrative perspectives on intellectual functioning and development (pp. 89-115). Mahwah, NJ: Erlbaum
•Walton, G. M., & Cohen, G. L. (2007). A question of belonging: race, socmerekal fit, and achievement. Journal of Personality and Socmerekal Psychology, 92 (1), 82-96.
•Bahri Djamarah, Syaiful. dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.

*) Ditulis oleh WIDODO SANTOSO, S.Pd.M.Pd. Kepala SDN 4 Mangkujayan Kabupaten Ponorogo, Jl. Jawa 45 Ponorogo