Showing posts with label membaca. Show all posts
Showing posts with label membaca. Show all posts

Faktor Yang Memengaruhi Kualitas Pendidikan Nasional

9:01:00 PM
Faktor yang Memengaruhi Kualitas Pendidikan Nasional Faktor yang Memengaruhi Kualitas Pendidikan Nasional
Faktor dan permasalahan ini satu sama lain sangat terkait, saling memengaruhi, dan penangannya butuh keseriusan.
Kualitas pendidikan nasional masih sangat rendah, dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Hal ini dikatakan oleh banyak pengamat pendidikan. Rendahnya kualitas tersebut, banyak faktor yang memengaruhinya.

Maswan, dosen Unisnu Jepara menulis di harian Suara Merdeka di antara faktor yang memengaruhi kualitas pendidikan nasional ialah faktor politik yang tidak kondusif, perkembangan ekonomi tidak stabil, konsep administrasi pendidikan belum terbangun secara profesional dan tersistem, perilaku mental bangsa yang malas mencar ilmu dan sejenisnya.

Menurutnya bila hubungannya dengan faktor-faktor tersebut dikaji dari sudut pandang administrasi pendidikan, kesudahannya memunculkan permasalahan pendidikan yang sanggup kita identifikasi.

Faktor dan permasalahan ini satu sama lain sangat terkait, saling memengaruhi, dan penangannya butuh keseriusan. Permasalahan pendidikan ini diibaratkan mirip benang kusut, sangat diperlukan kecerdasan, keterampilan dan ketekunan dalam mengurainya.

Baca: Kualitas Pendidikan Tak Naik Bukan Salah Guru

Permasalahan pendidikan yang sangat mencuat dan ini yang memengaruhi rendahnya mutu pendidikan nasional, yaitu mutu sumber daya insan (SDM), sarana prasarana yang sangat kurang, pembiayaan pendidikan yang minim, isi kurikulum yang tidak terang arahnya, persoalan pemerataan pendidikan dan sejenisnya.

Berbagai faktor dan permasalahan pendidikan tersebut yang belum sanggup teratasi mengakibatkan mutu pendidikan Indonesia menjadi sangat rendah. Ini terlihat dari ranking pendidikan Indonesia berada di level bawah dalam Program for International Studies Assessment (PISA) 2015. Indonesia berada di ranking ke-72, jauh di bawah Vietnam yang menempati rangking ke-8.

Big Book “Di Dalam Hutan” Media Penyesuaian Literasi

6:24:00 PM
 Pembiasaan pada kegiatan literasi yaitu bab tahapan  Big Book “Di Dalam Hutan” Media Pembiasaan Literasi
Big book “ di dalam hutan” yaitu media adaptasi membaca.
Pembiasaan pada kegiatan literasi yaitu bab tahapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang bertujuan untuk menumbuhkan minat baca akseptor didik terhadap buku (bacaan) dan kegiatan membaca sesuai dengan Permendikbud No 23 tahun 2015. Kegiatan adaptasi bisa dikelompokkan menjadi 2 bab yaitu kegiatan adaptasi jenjang SD kelas bawah dan jenjang SD kelas atas.

Big book atau buku besar yaitu media pembelajaran membaca dengan pendekatan membaca bersama (shared reading) yang mempunyai ukuran, goresan pena dan gambar yang besar dengan tujuan bisa dilihat oleh akseptor didik dengan jelas, dibentuk dengan menyesuaikan kebutuhan siswa baik kebutuhan SD jenjang kelas atas ataupun kelas bawah dan terdapat prinsip pengulangan bacaan dengan tujuan untuk mengenalkan rangkain huruf, kata, serta menghubungkan dengan suara alasannya yaitu disajikan dalam bentuk verbal (Wardhani, 2015).

Fakta di lapangan akseptor didik kelas 1 SD Muhammadiyah 9 mempunyai kecenderungan kemampuan motorik yang sangat tinggi dengan dibarengi tingginya kemampuan linguistik akseptor didik sehingga kecenderungan suasa kelas sangat ramai. Karakteristik akseptor didik tersebut kuat pada kemampuan fokus dalam membaca apalagi membaca yang butuh waktu usang dan teks bacaan yang panjang.

Fakta dilapangan berikutnya, kemampuan membaca pada akseptor didik kelas 1 SD Muhammadiyah 9 sangat bermacam-macam mulai dari yang sudah lancar membaca, perlu pendampingan dalam membaca hingga akseptor didik yang belum bisa merangkai abjad atau kata secara mandiri. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh aktivitas Full Day School (FDS) yang masih di selenggarakan di SD Muhammadiyah 9, alasannya yaitu menurut gosip guru kelas 1 dengan aktivitas Full Day School (FDS) waktu training membaca personal bagi akseptor didik yang belum bisa membaca kurang, alasannya yaitu pendampingan hanya bisa dilakukan di sela-sela pembelajaran, waktu suplemen pulang sekolah sudah tidak memungkingkan baik fisik maupun kemampuan mendapatkan suplemen pendampingan baik dari sisi akseptor didik maupun tenaga guru.

Berdasarkan fakta di lapangan masih perlunya media untuk melatih adaptasi membaca pada akseptor didik kelas 1 atau pemula sehingga akseptor didik kelas 1 bisa menyimak cerita, meprediksi gambar, membaca nyaring dan senyap dengan memakai teks sederhana dengan baik. Big book “ di dalam hutan “ salah satu media adaptasi membaca sempurna alasannya yaitu Big book atau buku besar dengan judul di dalam hutan berisi gambar dengan teks sederhana, memuat prinsip pengulangan bacaan dengan pemdekatan membaca bersama (shared reading).

Analisis Masalah

Pembiasaan membaca selama 15 menit setiap hari sebelum proses pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran dan mendorong akseptor didik gemar membaca merupakan kegiatan wajib pengembangan potensi diri yang merupakan bentuk kegiatan gerakan Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) di Sekolah sebagai upaya penghargaan terhadap keunikan potensi akseptor didik untuk dikembangkan (Permendikbud No 23 tahun 2015).

Tahapan pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) terdiri dari 3 tahapan yaitu adaptasi untuk penumbuhan minat baca, tahapan pengembangan melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan, dan tahapan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran. Kegiatan adaptasi jenjang SD kelas bawah terdiri dari menyimak cerita, meprediksi gambar, membaca nyaring dan senyap dengan memakai buku dongeng bergambar tanpa teks ataupun buku dongeng bergambar dengan teks sederhana. Konten bacaan yang sesuai dengan jenjang SD kelas bawah adalah: buku bacaan berukuran besar (big book), buku mengadung pesan moral, buku bergenre fantasi dengan tokoh binatang (fabel), gosip sederhana, dongeng mengandung nilai optimis, inspiratif, dan mengembangakan imajinatif (Faizah, 2016).

Big book “ di dalam hutan” yaitu media adaptasi membaca yang dibentuk untuk media pembelajaran jenjang SD kelas bawah yang bertujuan untuk:

1.Membuat akseptor didik bahagia terhadap buku yaitu buku bacaan jenis big book “di dalam hutan” dan bahagia membaca, tertihat dari ketertarikan akseptor didik terhadap buku.

2.Merangsang imajinasi akseptor didik ihwal hutan dari gambar latar hutan yang terdiri dari tumbuhan yang besarnya beragam, terdapat aliran sungai, padang rumput dengan impian yang bisa mendiskripsikan kondisi hutan bahu-membahu pada akseptor didik.

3.Mengenalkan keragaman jenis binatang yang terdapat dihutan sekaligus sumber kosakata nama-nama binatang mulai dari binatang yang bertubuh kecil hingga besar, dan dari binatang jenis pemakan rumput hingga pemakan binatang lain,

4.Menganalkan ihwal kalimat perintah secara tidak pribadi yaitu melalui penyajian dalam bentuk verbal dan suara dari intonasi guru dalam memberi pola membaca. Sekaligus mengenalkan ciri kata perintah yang diakhiri tanda seru, dikenalkan secara tidak pribadi alasannya yaitu melalui prinsip pengulangan dan penulisan yang bisa dilihat oleh akseptor didik secara langsung.

5.Melatih analisis sekaligus ketelitian akseptor didik melalui sajian gambar yang letaknya berpindah-pindah sehingga akseptor didik bisa membedakan posisi hewan. Selain itu di simpulan rangkaian teks sederhana pada gambar muncul raja hutan yaitu singa yang merupakan binatang pemakan daging, dan bertepatan hilangnya kelinci dari hutan. Gambar dan teks sederhana akan merangsang munculnya analisa siswa ihwal bencana tersebut Kemampuan analisa ini yaitu salah satu indikator high-order thinking skill (HOTS) (Anderson, 2015).

Hasil observasi lapangan ihwal big book “Di dalam hutan” sebagai media adaptasi literasi. Penggunaan big book “Di dalam hutan” pada kelas 1 Ibnu Kaldun terlihat berjalan dengan baik, awal guru memperlihatkan big book dan memberi gosip kalau akan berguru membaca bersama, semua akseptor didik pribadi menempati dingklik masing-masing. Guru membaca judul “Di dalam hutan,” yang ditirukan oleh semua akseptor didik dengan baik. “Apa benar di dalam hutan?” secara responsif beberapa akseptor didik menjawab, ”Benar, kan ada banyak pohonnya.”

Guru melanjutkan membaca dengan sangat baik intonasi tanda baca koma, intonasi kata perintah sangat di perhatikan serta guru membaca dengan artikulasi kata sangat terang sehingga akseptor didik menirukan dengan tepat. Pada kelas Ibnu Kaldun umpan balik bisa di respon oleh beberapa akseptor didik yaitu berupa menyebutkan jenis binatang yang terdapat di hutan.

Pada simpulan observasi akseptor didik ada yang bertanya, “Kenapa kelinci suruh pergi dari hutan?” Teman yang lain merespon, “Karena ada elang atau hutan bukan tempatnya kelinci.” Hasil analisis akseptor didik sangat baik. (Obs 1 Ibnu Kaldun).

Hasil observasi berikutnya di kelas 1 Ibnu Sina. Guru menginformasikan bahwa kegiatan berguru akan diawali dengan membaca nyaring bersama-sama. Guru menginformasikan akad membaca dan mulai memperlihatkan media big book “Di dalam hutan,” semua akseptor didik merespon dengan kompak meminta buku dikelilingkan. Hal tersebut merupakan bukti ketertarikan akseptor didik dengan buku. Pada kelas Ibnu Sina ketertarikan lebih tinggi dengan buku, ketika guru membacakan setiap lembaran teks bacaan akseptor didik banyak yang mendekat pada media dan banyak yang merespon dengan memperlihatkan pertanyaan. “ Ustazah sehabis ini binatang apalagi yang ada di hutan?” ungkapan rasa ingin tahu akseptor didik terhadap media. Dengan kondisi menyerupai itu guru secara cepat melaksanakan pengembangan materi,” Ayo siapa yang tahu binatang apalagi ya yang ada di hutan?”. Peserta didik pun merespon dengan cepat, meskipun binatang yang disebutkan akseptor didik tidak sesuai teks dan gambar, hal tersebut merupakan bukti kemampuan pengembangan bahan dari sisi akseptor didik.

Pertanyaan serupa di kelas 1 Ibnu Sina, “Kenapa kelinci suruh pergi dari hutan?” Jawaban dari temannya, “ Karena ada singa jadi semua takut terus lari”. Teman lain menjawab, “ Singa yaitu binatang buas, jadi bisa makan binatang lain.”( Obs 2 Ibnu Sina).

Data observasi di atas sanggup diihtisarkan bahwa big book “Di dalam hutan,” merupakan media adaptasi literasi yang sempurna alasannya yaitu bisa menumbuhkan minat akseptor didik terhadap bacaan dan kegiatan membaca. Selaian itu big book “Di dalam hutan,” bisa memfasilitasi kegiatan membaca pada tahap adaptasi alasannya yaitu terdapat proses menyimak baik pada gambar, teks bacaan ataupun menyimak pertanyaan dan menyimak respon sahabat sejawat. Peserta didik mengalami perkembangan dalam kemampuan memprediksi baik melalui gambar ataupun umpan balik guru. Proses pengembangan imajinasi akseptor didik juga terfasilitasi dalam big book “Di dalam hutan,” buktinya akseptor didik bisa mengimajinasikan kelinci ada di mana ketika keberadaannya tidak ada di hutan.
Pembiasaan literasi melalui big book “Di dalam hutan,” terbukti bisa menerapkan pendekatan membaca bersama (shared reading) terbukti satu media bisa memfasilitasi klasikal secara bersama dengan memperkaya jumlah kosakata akseptor didik ihwal jenis binatang yang hidup di hutan. Big book “Di dalam hutan,” juga menerapkan prinsip pengulangan bacaan dengan tujuan untuk mengenalkan rangkain abjad dan kata, sehingga kadang juga menjadikan kebosanan bagi siswa yang sudah cerdik membaca dengan respon refleknya, “Kenapa kok gituu terus? Kelinci, pergilah dari hutan, gitu lagi.” Big book “Di dalam hutan,” bisa menghubungkan dengan suara alasannya yaitu disajikan dalam bentuk verbal faktor ini dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam menyajikan proses membaca nyaring pada akseptor didik, alasannya yaitu membaca nyaring memerlukan intonasi, artikulasi, pengutamaan kata yang baik sehingga mendukung bacaan lebih terang dan gampang dimengerti (Wardhani, 2015).

Kesimpulan

Kesimpulan dari kegiatan penggunaan media big book “Di dalam hutan,”terbukti bisa sebagai media adaptasi literasi di kelas 1 SD Muahammadiyah 9 Malang dengan bukti data sebagai berikut:

1.Big book “Di dalam hutan,”mampu menumbuhkan minat akseptor didik terhadap bacaan dan kegiatan membaca akseptor didik.
2.Big book “Di dalam hutan,” bisa sebagai media yang menerapkan semua prinsip tahap adaptasi kegiatan literasi.
3.Big book “Di dalam hutan,” memenuhi syarat menjadi konten bacaan yang sesuai dengan akseptor didik jenjang SD kelas rendah.

Daftar Pustaka

Anderson, L.,David, K. 2015. Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Faizah, U,D. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan MenengahKementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 23 Tahun2015 ihwal Penumbuhan Budi Pekerti.
Wardhani, L. 2015. Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Melalui Media Big Book. Online. Tersedia di https://filippaarjag.blogspot.com//search?q=meningkatkan-keterampilan-membaca. (11-10-2017)

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Video Tutorial Cara Menciptakan Sudut Baca Di Kelas

9:26:00 PM
Video Tutorial Cara Membuat Sudut Baca di Kelas Video Tutorial Cara Membuat Sudut Baca di Kelas
Berikut video cara membuat rak buku sebagai bab dari sudut baca.
Ada beberapa penyesuaian faktual yang dilakukan sebelum kegiatan mencar ilmu mengajar dimulai. Salah satunya, yaitu mewajibkan siswa membaca buku minimal 15 menit sebelum pelajaran, tapi bacaannya buku non mata pelajaran. Harapannya kegiatan ini bisa membuat budaya membaca.

Baca juga: Video Panduan Program 15 Menit Membaca Buku

Agar tercipta budaya membaca, lingkungan sekolah harus aman bagi kegiatan membaca siswa yaitu dengan mendekatkannya dengan buku dimana pun mereka berada. Guru sanggup membuat sudut baca di kelas, pojok literasi yang sanggup dibentuk di kantin, halaman, atau taman sekolah.

Berikut video cara membuat rak buku sebagai bab dari sudut baca:



Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan kegiatan nasional dari Kemendikbud. Gerakan ini digalakkan alasannya yaitu budaya literasi atau membaca masih rendah di Indonesia. Tujuan umumnya yaitu supaya anak menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sedangkan tujuan khususnya yaitu sebagai berikut:

1.) Menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah.

2.) Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah supaya literat.

3.) Menjadikan sekolah sebagai taman mencar ilmu yang menyenangkan dan ramah anak supaya warga sekolah bisa mengelola pengetahuan.

4.) Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan bermacam-macam buku bacaan dan mewadahi banyak sekali taktik membaca.

Video Tutorial Cara Menciptakan Sudut Baca Di Kelas

9:26:00 PM
Video Tutorial Cara Membuat Sudut Baca di Kelas Video Tutorial Cara Membuat Sudut Baca di Kelas
Berikut video cara membuat rak buku sebagai bab dari sudut baca.
Ada beberapa penyesuaian faktual yang dilakukan sebelum kegiatan mencar ilmu mengajar dimulai. Salah satunya, yaitu mewajibkan siswa membaca buku minimal 15 menit sebelum pelajaran, tapi bacaannya buku non mata pelajaran. Harapannya kegiatan ini bisa membuat budaya membaca.

Baca juga: Video Panduan Program 15 Menit Membaca Buku

Agar tercipta budaya membaca, lingkungan sekolah harus aman bagi kegiatan membaca siswa yaitu dengan mendekatkannya dengan buku dimana pun mereka berada. Guru sanggup membuat sudut baca di kelas, pojok literasi yang sanggup dibentuk di kantin, halaman, atau taman sekolah.

Berikut video cara membuat rak buku sebagai bab dari sudut baca:



Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan kegiatan nasional dari Kemendikbud. Gerakan ini digalakkan alasannya yaitu budaya literasi atau membaca masih rendah di Indonesia. Tujuan umumnya yaitu supaya anak menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sedangkan tujuan khususnya yaitu sebagai berikut:

1.) Menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah.

2.) Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah supaya literat.

3.) Menjadikan sekolah sebagai taman mencar ilmu yang menyenangkan dan ramah anak supaya warga sekolah bisa mengelola pengetahuan.

4.) Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan bermacam-macam buku bacaan dan mewadahi banyak sekali taktik membaca.

Budaya Baca Indonesia Tertinggal Empat Tahun

6:33:00 PM
 harus kita kejar semoga tidak tertinggal lebih jauh lagi Budaya Baca Indonesia Tertinggal Empat Tahun
Kemampuan literasi kita jauh tertinggal dengan negara lain.
Budaya membaca dan literasi masyarakat Indonesia tertinggal empat tahun dibandingkan dengan negara maju. Hal ini dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy ketika di Malang, Jawa Timur, Rabu.

"Kemampuan literasi kita jauh tertinggal dengan negara lain. Oleh alasannya yaitu itu, harus kita kejar semoga tidak tertinggal lebih jauh lagi," kata Mendikbud.

Ketertinggalan yang dikala ini dialami bangsa Indonesia, menurutnya, harus dikejar dengan Undang Undang (RUU) Sistem Perbukuan 2017 dan diadaptasi dengan situasi dan kondisi seluruh wilayah di Indonesia.

Baca juga: Program 15 Menit Membaca Buku Sebelum Pelajaran

Oleh alasannya yaitu itu, ia mengemukakan, perkara perbukuan dan literasi sangat mendesak sekaligus harus diluruskan, serta harapannya RUU tersebut segera disahkan. Buku dan membaca penting untuk memperkokoh bangsa menuju Indonesia lebih baik.

Untuk mempercepat budaya literasi, Kemendikbud akan membangun budaya literasi dari wilayah pinggiran, melaksanakan gerakan literasi dan membaca, membagi buku ke wilayah tertinggal atau kawasan terluar, terdepan dan tertinggal (3T) sampai waqaf buku.

"Harapan kami, pada tahun ini persoalan-persoalan disparitas literasi dan kemampuan siswa di seluruh Tanah Air bisa merata dan tuntas," kata Mendikbud yang kutip dari Antara (23/03/17).

Budaya Baca Indonesia Tertinggal Empat Tahun

6:33:00 PM
 harus kita kejar semoga tidak tertinggal lebih jauh lagi Budaya Baca Indonesia Tertinggal Empat Tahun
Kemampuan literasi kita jauh tertinggal dengan negara lain.
Budaya membaca dan literasi masyarakat Indonesia tertinggal empat tahun dibandingkan dengan negara maju. Hal ini dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy ketika di Malang, Jawa Timur, Rabu.

"Kemampuan literasi kita jauh tertinggal dengan negara lain. Oleh alasannya yaitu itu, harus kita kejar semoga tidak tertinggal lebih jauh lagi," kata Mendikbud.

Ketertinggalan yang dikala ini dialami bangsa Indonesia, menurutnya, harus dikejar dengan Undang Undang (RUU) Sistem Perbukuan 2017 dan diadaptasi dengan situasi dan kondisi seluruh wilayah di Indonesia.

Baca juga: Program 15 Menit Membaca Buku Sebelum Pelajaran

Oleh alasannya yaitu itu, ia mengemukakan, perkara perbukuan dan literasi sangat mendesak sekaligus harus diluruskan, serta harapannya RUU tersebut segera disahkan. Buku dan membaca penting untuk memperkokoh bangsa menuju Indonesia lebih baik.

Untuk mempercepat budaya literasi, Kemendikbud akan membangun budaya literasi dari wilayah pinggiran, melaksanakan gerakan literasi dan membaca, membagi buku ke wilayah tertinggal atau kawasan terluar, terdepan dan tertinggal (3T) sampai waqaf buku.

"Harapan kami, pada tahun ini persoalan-persoalan disparitas literasi dan kemampuan siswa di seluruh Tanah Air bisa merata dan tuntas," kata Mendikbud yang kutip dari Antara (23/03/17).

Guru Diminta Jadi Contoh Gemar Membaca Buku

5:07:00 PM
Guru Diminta Makara Teladan Gemar Membaca Buku Guru Diminta Makara Teladan Gemar Membaca Buku
Beri rujukan kepada anak bahwa membaca itu mengasikkan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meminta guru biar jadi teladan gemar membaca buku bagi anak-anak. Mendikbud mengimbau pada orang bau tanah dan guru jangan hanya menyuruh membaca, tetapi tidak diberikan rujukan atau teladan.

"Beri rujukan kepada anak bahwa membaca itu mengasikkan," kata Mendikbud yang kutip dari Republika (06/03/17).

Selain menjadi teladan, guru harus membimbing belum dewasa memahami buku yang dibaca. Menurutnya, banyak cara yang sanggup dilakukan untuk membantu belum dewasa memahami buku bacaan. Salah satunya, ialah menugaskan untuk meringkas buku yang telah dibaca.

Baca juga: Video Panduan Program 15 Menit Membaca Buku (GLS)

Pada pembukaan aktivitas Discovery 4, Gerakan Banyuwangi Membaca, di Taman Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur, Mendikbud menyampaikan menanamkan budaya membaca semenjak dini merupakan wujud dari penguatan pendidikan karakter.

Mendikbud juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan kantor isu Radar Banyuwangi yang telah menginisiasi aktivitas Banyuwangi Discovery 4 sebagai upaya menyosialisasikan gerakan gemar membaca.

Majalah Dinding Sarana Menumbuhkan Budaya Literasi

1:49:00 AM
Majalah Dinding Sarana Menumbuhkan Budaya Literasi Majalah Dinding Sarana Menumbuhkan Budaya Literasi
Media majalah dinding (mading) bisa menjadi media yang memfasilitasi jadwal literasi di sekolah.
Literasi yaitu kemampuan membaca menulis sekaligus kemampuan mengakses, memahami dan memakai informasi secara cerdas. Berdasarkan data di lapangan kemampuan literasi pada anak mengalami penurunan, hal tersebut menurut data hasil akomodir laporan dari orang bau tanah dilapangan yang menunjukkan informasi bahwa anak sering bertanya kepada orang bau tanah ketika menuntaskan latihan soal tulis disebabkan anak mengerjakan tanpa membaca terlebih dahulu, mencar ilmu anak sering dilakukan dengan cara orang bau tanah membacakan uraian konsep bacaan sedangkan anak hanya mendengarkan, hal tersebut dilakukan oleh orang bau tanah dengan pertimbangan daripada anak tidak mau mencar ilmu atau membaca. Proses mencar ilmu menyerupai itu disadari oleh orang bau tanah bukan solusi mencar ilmu anak yang sempurna lantaran menyebabkan anak mengalami ketergantungan dalam mencar ilmu dan berdampak tidak baik dalam pembentukan aksara kemandirian. Masalah tersebut juga disebabkan lantaran kemampuan membaca anak belum tumbuh.

Baca juga: Panduan Program 15 Menit Membaca Buku (GLS)

Fakta berikutnya penerima didik mempunyai kecenderungan mengalami kesulitan dikala mengerjakan tes penilaian mencar ilmu dalam bentuk uraian atau bentuk soal dongeng lantaran dalam tes penilaian mencar ilmu berbentuk uraian terdapat aspek memahami, aplikasi sekaligus analisis yang diperlukan sebelum menuntaskan tes penilaian mencar ilmu dalam bentuk uraian dan hal tersebut akan lebih gampang dilakukan apabila anak rajin membaca. Berdasarkan taksonomi, tujuan pendidikan yang dikembangkan oleh Benjamin S. Bloom dalam Nirsam (2005:21) mencakup kognitif, afektif dan psikomorik dan ranah yang diamati yaitu ranah kognitif yang berkaitan dengan daypikir yang mencakup enam aspek, yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.

Fakta dilapangan berikutnya yaitu penerima didik sering bertanya perihal arti/ sinonim dari sebuah kata dalam bacaan, hal itu tentu terjadi lantaran rendahnya kemampuan membaca pada anak sehingga anak mengalami penurunan penguasaan kosakata, hal tersebut sesuai dengan artikel dalam Bloganakpertama perihal cara yang bisa dilakukan untuk menambah kosakata anak salah satunya yaitu membaca dan mendongeng.

Menurut fakta dilapangan, menurut pengamatan perkembangan pada anak dan pada penerima didik faktor utama menurunnya kemampuan membaca adalah:

1. Beralihnya kemudahan bermain pada anak, anak sering bermain memakai gadged yang cara bermainnya hanya membutuhkan kontak antara dirinya sendiri dengan media bermain sehingga tidak terbangun komunikasi dua arah dalam waktu tertentu.

2. Alat –alat elektronik berkembang sangat pesat dan beragam, menyerupai tayangan televisi dengan banyak sekali saluran televisi dengan bermacam-macam acara. Televisi menyajikan semua serba instan, mulai dari murung , lucu, murka semua sudah siap dinikmati. Hal tersebut menyebabkan anak bahkan orang bau tanah pu bisa lepas fokus. Misalnya kegiatan makan yang dilakukan bersama melihat televisi menyebabkan waktu makan lebih lama

3. Orang bau tanah senantiasa disibukkan banyak sekali kegiatan, serta membantu mencari perhiasan nafkah untuk penghidupan keluarga. Kadang itu membuat para pelajar merasa kehilangan kasih sayang dan mencari kegiatan lain untuk mencari cara menghilangkan kejenuhan dan itu cenderung mengarah ke hal yang negative.

Majalah Dinding


Majalah dinding yaitu salah satu jenis media komunikasi massa tulis yang paling sederhana, Prinsip majalah tercermin lewat penyajiannya, baik yang berwujud tulisan, gambar, atau kombinasi dari keduanya untuk menampilkan bermacam-macam hasil karya, menyerupai lukisan, vinyet, teka-teki silang, karikatur, dongeng bergambar, dan sejenisnya disusun secara variatif. Semua materi itu disusun secara serasi sehingga keseluruhan perwajahan mading tampak menarik. Bentuk fisik mading biasanya berwujud lembaran tripleks, karton, atau materi lain dengan ukuran yang beraneka ragam. Peranan majalah dinding yang tampak pokok sebagai salah satu kemudahan kegiatan siswa secara fisikal dan faktual serta mempunyai sejumlah fungsi, yaitu :informatif,komunikatif, rekreatif, dan kreatif. https://id.wikipedia.org/wiki/Majalah_dinding

Program literasi membutuhkan media yang sempurna untuk menerapkan keseluruhan konponen literasi menyerupai membaca, menulis, mengakses, memahami dan memakai informasi secara cerdas. Majalah dinding merupakan salah satu media yang sempurna untuk memfasilitasi jadwal literasi lantaran majalah dinding (mading) merupakan media untuk memasang hasil karya penerima didik berupa goresan pena atau gambar. Hasil goresan pena penerima didik merupakan bukti hasil berkembangnya kemampuan menulis pada penerima didik. Hasil penerima didik berupa gambar juga bisa sebagai sarana pengembangan kreatifitas penerima didik, hasil citra penerima didik yang telah di pasang pada majalah dinding (mading) sebagai materi ide penerima didik yang lain untuk bahagia menggambar dan sebagai daya tarik penerima didik mengakses informasi dengan cara melihat dan memanfaat majalah dinding (mading ) dengan baik sebagai sarana penghargaan pada penerima didik yang telah berkarya.

Majalah dinding (mading) merupakan sarana untuk menampilkan hasil kemampuan penerima didik dalam mengakses informasi baik dari media cetak maupun media elektronik dengan tema, guru membatasi dengan tema tertentu dalam rangka melatih penerima didik memilih hasil jalan masuk yang sesuai dengan perkembangan usia. Hasil jalan masuk informasi yang telah terpasang dalam majalah dinding (mading) bisa dipakai sebagai materi membaca bagi teman lain, sehingga penerima didik mendapat ilmu dari semangat membaca majalah dinding (mading) yang ditampilkan dengan menarik. Kegiatan menyerupai ini secara pribadi bisa memfasilitasi penerima didik dalam membuatkan kemampuan membaca, menulis, mengakses, memahami dan memakai informasi secara cerdas.

Media majalah dinding (mading) bisa menjadi media yang memfasilitasi jadwal literasi dengan mewadahi seluruh komponennya. Beberapa pertimbangan yang bisa memaksimalkan hasil majalah dinding (mading) sebagai media pendukung prodram literasi adalah:

1. Papan majalah dinding (mading) dibentuk permanen dengan latar papan yang menarik sesuai dengan dunia bawah umur dan sudah dipertimbangkan tingkat keamanannya. Misalnya, dari materi triplek yang dicat dengan gambar,warna sesuai dunia anak dan melindungi sudut yang lancip dengan materi yang lunak sehingga tidak berbahaya dan aman. Hal tersebut dengan tujuan majalah dinding (mading) tidak mengalami kerusakan dalam waktu yang pendek lantaran pecahan majalah dinding (mading) berupa gambar dan goresan pena yang berubah secara rutin dengan tema tertentu dalam jangka waktu tertentu.

2. Pemasangan majalah dinding (mading) dipasang dengan ketenggian yang diadaptasi dengan tinggi rata rata penerima didik yang berada dalam kelas tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah jangkauan penerima didik dalam memasang, membaca, menikmati maupun mengakses seluruh pecahan gambar dan tulisan.

3. Kepingan goresan pena dan gambar yang terpasang pada majalah dinding (mading) sesuai dengan tema bawah umur yang berganti secara rutin pada jangka waktu tertentu. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kebosahan gambar dan informasi yang dilihat oleh penerima didik dan memperkaya informasi penerima didik yang menikmati majalah dinding (mading)

Semoga media majalah dinding (mading) bisa menginspirasi pembaca dan pendidik (guru) dalam rangka membuat media kreatif yang lain sebagai sarana pembelajaran sekaligus support terhadap jadwal pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas membaca pada anak.

*) Ditulis oleh Loukais Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Video Panduan Aktivitas 15 Menit Membaca Buku (Gls)

2:02:00 AM
Apa saja yang sanggup dilakukan dalam kegiatan  Video Panduan Program 15 Menit Membaca Buku (GLS)
Apa saja yang sanggup dilakukan dalam kegiatan 15 menit membaca buku sebelum jam pelajaran pertama dimulai? Simak video ini
Melalui sebuah videografis, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjelaskan latar belakang kegiatan 15 menit membaca buku nonteks pelajaran sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan kegiatan nasional dari Kemendikbud. Gerakan ini digalakkan sebab budaya literasi atau membaca masih rendah di Indonesia.

Dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 perihal Penumbuhan Budi Pekerti, disebutkan ada beberapa adaptasi konkret yang dilakukan sebelum kegiatan berguru mengajar dimulai. Salah satunya, yaitu mewajibkan siswa membaca buku minimal 15 menit sebelum pelajaran, tapi bacaannya buku non mata pelajaran. Harapannya kegiatan ini sanggup membuat budaya membaca.

Lalu apa saja yang sanggup dilakukan dalam kegiatan 15 menit membaca buku nonteks pelajaran sebelum jam pelajaran pertama dimulai? Tonton video berikut ini:



Kegiatan membaca buku minimal 15 menit sebelum pelajaran sanggup dilakukan melalui membaca nyaring, membaca mandiri, membaca bersama, atau membaca terpandu. Buku yang dibaca ialah buku bacaan selain buku pelajaran. Siswa boleh membawa buku dari rumah. Kegiatan diikuti pula oleh guru dan dilaksanakan dalam kondisi yang menyenangkan serta untuk memotivasi siswa.

Baca juga: Membuat Membaca Lebih Menyenangkan untuk Anak

Agar tercipta budaya membaca, lingkungan sekolah harus aman bagi kegiatan membaca siswa yaitu dengan mendekatkannya dengan buku dimana pun mereka berada. Guru sanggup membuat sudut baca di kelas, pojok literasi yang sanggup dibentuk di kantin, halaman, atau taman sekolah. Ayo sukseskan kegiatan 15 menit membaca buku dan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan.

Siswa Wajib Baca Buku 15 Menit Sebelum Belajar

9:19:00 AM
 menit sebelum melaksanakan kegiatan berguru mengajar di sekolah Siswa Wajib Baca Buku 15 Menit Sebelum Belajar
Siswa diwajibkan membaca buku minimal 15 menit sebelum melaksanakan kegiatan berguru mengajar di sekolah.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mewajibkan para siswa untuk membaca buku minimal 15 menit sebelum melaksanakan kegiatan berguru mengajar di sekolah setiap hari. Kegiatan ini merupakan salah satu yang akan dilakukan dalam menerapkan aktivitas Penumbuhan Budi Pekerti (PBP).

Baca juga: Mendikbud Minta Kebiasaan Ini Diterapkan di Sekolah

Anies menyampaikan jenis buku yang akan dibaca siswa itu bebas. Kemendikbud menyerahkan penetapan ini kepada pihak sekolah terutama Kepala Sekolah (Kepsek). Hal yang terpenting, kata dia, buku itu harus pantas dan disukai oleh para siswa sesuai dengan tingkatannya.

Terkait metode membaca, hal ini juga menjadi kiprah sekolah untuk menentukannya. Pihak sekolah bisa menerapkan metode membaca nyaring, dalam hati dan sebagainya. Bahkan, berdasarkan Anies, para siswa juga boleh membaca dengan sambil tidur-tiduran.

Program membaca yang dimulai tahun pelajaran gres ini dibutuhkan bisa menumbuh kembangkan potensi utuh para siswa. Terutama, pada kemampuan siswa melalui kegiatan membaca buku tersebut. Dengan begitu, budaya membaca di Indonesia bisa berkembang ke depannya.

Anies menyampaikan imbas dari kegiatan membaca sebelum melaksanakan kegiatan berguru di sekolah ini bisa dilihat dari kunjungan para siswa ke Perpustakaan. “Kalau kunjungannya meningkat, hal ini berarti kegiatan kita berpengaruh,” kata beliau yang kutip dari Republika (26/07/15).