Showing posts with label kecerdasan. Show all posts
Showing posts with label kecerdasan. Show all posts

Pendidikan Di Indonesia Alami Krisis Kecerdasan Emosional

7:00:00 PM
Sekolah ketika ini cenderung hanya mengajarkan hal-hal yang sangat standar terkait pendidikan.
Saat ini dunia pendidikan di Indonesia mengalami krisis kecerdasan emosional. Hal ini dikatakan Pemerhati sektor pendidikan dari forum Wiratama Institute, Rahmawati Habie. Menurutnya kalau pengembangan kecerdasan emosional dilakukan dengan benar, maka hal tersebut sanggup membantu dan meningkatkan proses pembelajaran.

"Siswa yang mempunyai kecerdasan emosi stabil, bisa mengendalikan amarah dan sanggup memecahkan duduk masalah antarpribadi sehingga secara signifikan sanggup memengaruhi prestasi berguru pada setiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah," kata Rahmawati yang Sekolahdasar.Net kutip dari Republika (07/10/17).

Senada dengan Rahmawati Habie, berdasarkan Pengamat Kebijakan Publik bidang Sosial Masyarakat dari Universitas Indonesia, Sri Handiman Supyansuri, sekarang banyak kalangan cukup umur yang mengalami krisis pengendalian diri. Hal itu terjadi akhir minimnya pembelajaran wacana kecerdasan emosional yang diajarkan di sekolah.

Sekolah ketika ini cenderung hanya mengajarkan hal-hal yang sangat standar terkait pendidikan, sehingga menyulitkan siswa untuk melihat serta berguru wacana pengendalian diri. Di sisi lain, banyak keluarga yang abai terhadap pendidikan emosional anak-anaknya sehingga tidak ada figur yang bisa menjadi pola bagi anak.

"Masalah kecerdasan emosional sanggup dipelajari dari orangtua sendiri. Bukan dari kecanggihan teknologi. Justru tanpa didikan orangtua secara langsung, maka akomodasi teknologi hanya akan merugikan pertumbuhan kecerdasan emosional anak," kata Handiman.

Nilai Buruk Di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh

7:36:00 PM
Nilai Jelek di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh Nilai Jelek di Sekolah Bukan Berarti Anak Bodoh
Tidak ada anak yang disebut ndeso hanya alasannya ialah nilai akademisnya di sekolah jelek.
Nilai di sekolah tidak sanggup mengatakan cerdas tidaknya seorang anak. Setiap anak mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda. Maka tidak ada anak yang disebut ndeso hanya alasannya ialah nilai akademisnya di sekolah jelek. Seorang jago kecerdasan multipel (Multiple Intelligences) dari Universitas Harvard Amerika Serikat, Thomas Amstrong mengungkapkan anak mempunyai kepintaran yang berbeda-beda.

"Ada anak yang nilai di sekolahnya bagus, bakir menjawab pertanyaan di sekolah dengan benar, punya IQ 150, tapi kepintaran bukan hanya soal itu," kata Thomas yang lansir dari laman Kompas (06/06/17).

Dalam teori multiple intelligences terdapat 8 jenis kecerdasan anak. Delapan jenis itu ialah kecerdasan linguistik (word smart), kecerdasan logika-matematika (number smart), kecerdasan visual-spasial (picture smart), kecerdasan gerak badan (body smart), kecerdasan bermusik (music smart), kecerdasan interpersonal (people smart), kecerdasan intrapersonal (self smart), dan kecerasan naturalis (nature smart).

"Semua anak sanggup mempunyai kepintaran yang berbeda-beda. Ada yang menonjol di suatu bidang tertentu, ada yang tidak. Orangtua harus mengetahui delapan jenis kepintaran ini," kata Thomas.

Baca: Setiap Anak Terlahir Unik, Ini Ciri Anak Berbakat

Untuk mengetahui delapan jenis kepintaran anak, orang renta sanggup mengamati tingkah laris mereka. Misalnya, anak suka memukul-mukul benda ibarat bermain drum, maka dia mungkin mempunyai minat di musik. Anak yang suka menciptakan sesuatu dengan tangan mereka, menyentuh, mengamati benda, cenderung mempunyai kepintaran body smart.

Jika kecerdasan anak sudah diketahui, berikanlah stimulus untuk membuatkan kepintaran anak tersebut. Misalnya, untuk anak yang mempunyai body smart, ajak si kecil bermain menyusun balok, melaksanakan aktivitas fisik ibarat olahraga.

"Orangtua harus meluangkan banyak waktu untuk memperhatikan belum dewasa mereka," katanya.

Teori multiple intelligences ini diperkenalkan oleh seorang profesor dari Havard University berjulukan Dr. Howard Gardner untuk mengukur potensi kecerdasan seseorang secara lebih luas.

Dampak Jelek Kalau Anak Dipaksa Arif Semua Pelajaran

3:33:00 PM
Dampak Buruk Jika Anak Dipaksa Pintar Semua Pelajaran Dampak Buruk Jika Anak Dipaksa Pintar Semua Pelajaran
Itu akan membunuh abjad anak dan mengakibatkan orang yang biasa saja nantinya.
Jangan memaksakan anak untuk pintar pada semua mata pelajaran di sekolah lantaran hal itu akan menghipnotis moralnya. Hal ini dikatakan Pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat Dr Yanuar Asri, untuk mengingatkan orangtua biar tidak memaksakan keinginannya.

"Saat ini budaya kapitalisme orangtua terhadap anak semakin tinggi, contohnya anak lemah dalam satu atau dua pelajaran, maka ia akan melaksanakan aneka macam cara biar anaknya cerdik dalam segalanya," kata Yanuar yang kutip dari Antaranews (26/02/17).

Saat ini marak fenomena orangtua memasukkan anaknya ke daerah les biar unggul dalam semua mata pelajaran tanpa mengukur terlebih dahulu kemampuan anak. Sehingga nanti menciptakan anak terpaksa berguru pelengkap mengenai hal yang tidak disukainya.

Menurutnya, les itu boleh saja namun hanya sebatas untuk penyegaran bila ada yang belum tuntas di sekolah. Bimbingan berguru itu bukan untuk menciptakan anak cerdik terhadap pelajaran yang tidak ia kuasai, namun hanya untuk memperjelas kalau ada pelajaran yang belum dipahami saat di sekolah.

Baca juga: Les Semestinya Tidak Ada, Itu Tanggung Jawab Guru

Orangtua harus memahami bahwa proses pendidikan anak bukan untuk nilai-nilai di atas kertas melainkan penerapan pendidikan untuk hidup dengan beretika dan bermoral. Menurutnya, untuk apa bawah umur cerdik semua mata pelajaran tetapi tidak bermoral.

Orangtua dihimbau biar memperlihatkan pendidikan yang sehat kepada anaknya, menyerupai menunjang impian anak dengan memfasilitasi apa yang diminati. Misalnya, kata dia, anak menyukai puisi, maka berikan ia pelajaran pelengkap bahasa Indonesia dan hal-hal terkait lainnya.

Anak-anak tidak akan menjadi unggul saat orangtua memperlihatkan pelengkap belajar mengenai hal yang tidak ia minati. Misalnya di sekolah ia tidak unggul dalam pelajaran matematika, maka orang renta jangan memaksakan kehendak biar anaknya cerdik matematika lantaran itu akan membunuh abjad anak dan mengakibatkan orang yang biasa saja nantinya.

"Di luar negeri, banyak bawah umur yang diberi pelengkap berguru oleh orangtuanya menurut apa yang diminati oleh anak, oleh alasannya yaitu itu mereka maju dalam segala bidang," kata Yanuar.

Kecerdasan Anak Diturunkan Dari Ibunya

10:20:00 PM
Hasil penelitian menerangkan bahwa kecerdasan anak bergantung pada ibunya Kecerdasan Anak Diturunkan dari Ibunya
Hasil penelitian menerangkan bahwa kecerdasan anak bergantung pada ibunya.
Sebuah penelitian menemukan gen kecerdasan seorang anak diturunkan dari ibunya. Penelitian ini dilakukan oleh Psychology Spot. Hasilnya menyampaikan bahwa setiap gen dalam badan insan mempunyai sumber yang berbeda. Dan untuk gen kecerdasan, ditemukan berasal dari ibu.

Masih dari penelitian tersebut, yang lansir dari Goodhousekeeping.com (15/09/16) menyatakan bahwa gen kecerdasan anak berasal dari kromosom X. Dan perempuan membawa dua, itu artinya sang anak mendapat kecerdasan dari ibunya.

Jika sang ayah menurunkan beberapa gen kecerdasannya, kemungkinan untuk berkembang pada otak anak tidak ada. Hal ini disebabkan lantaran gen kecerdasan yang bekerja hanya gen yang berasal dari sang ibu.

"Jika gen yang sama diwariskan dari ayah, gen tersebut menjadi tidak aktif" tulis laporan dalam Psychology Spot.

Baca juga: Kecerdasan Anak Dipengaruhi Lingkungan Keluarga

Penelitian The Medical Research Council Social and Public Helath Sciences Unit di Amerika Serikat juga menerangkan bahwa kecerdasan anak bergantung pada ibunya.

Penelitian ini mewawancara 12.686 anak dengan rentang usia 14 sampai 22 tahun. Pertanyaan fokus pada IQ, edukasi dan status ekonomi. Dan hasilnya, faktor kecerdasan anak bergantung pada besar IQ ibunya.

Bukan Prestasi, Inilah Yang Menciptakan Anak Sukses

1:52:00 AM
 Sedangkan indeks prestasi berada di nomor urut  Bukan Prestasi, Inilah Yang Membuat Anak Sukses
Penentu sukses ialah komunikasi, kejujuran, dan kerja sama. Sedangkan indeks prestasi berada di nomor urut 17 dari 20 indikator utama.
Banyak yang salah persepsi dalam mengukur kesuksesan anak. Indikator utama yang diukur ialah indeks prestasi. Menurut Psikolog Fery Farhati Anies Baswedan, sedangkan kejujuran berada di nomor urut belakang.

"Kegagalan dalam pengasuhan anak terjadi alasannya ialah orang renta belum tahu bagaimana cara mendidik dan mengasuh anak yang baik serta benar," kata Fery yang kutip dari JPNN (22/05/16).

Baca juga: Ingin Anak Cerdas, Orangtua Juga Harus Belajar

Untuk membentuk aksara anak dalam suatu keluarga dimulai dari pengenalan, kemudian dibiasakan. Itu dilatih semoga konsisten sehingga menjadi kebiasaan, karakter, dan budaya anak.

"‎Ini dilakukan semenjak anak berusia dini. Kalau sedari kecil dibiasakan jujur, hingga remaja menjadi budaya dia," kata Fery.

Menurutnya, kebiasaan jujur yang ditanamkan orang renta semenjak dini akan menciptakan anak tidak berani berbohong. Budaya inilah yang akan dikembalikan dalam pengembangan aksara anak.

Hasil survei National Association of Colleges and Employers USA, menyebutkan di mana penentu sukses ialah komunikasi, kejujuran, dan kerja sama. Sedangkan indeks prestasi berada di nomor urut 17 dari 20 indikator utama.

"Orang renta di Indonesia selalu mengukur prestasi anak dari nilai indeks prestasi‎. Padahal itu di urutan belakang. Sedangkan di tiga urutan teratas ialah komunikasi, kejujuran, dan kerja sama," kata Fery.

Tanda-Tanda Anak Ber-Iq Tinggi Sesuai Tahapan Umurnya

4:50:00 PM
Inilah sepuluh tanda anak mempunyai IQ tinggi sesuai tahapan umurnya Tanda-tanda Anak Ber-IQ Tinggi Sesuai Tahapan Umurnya
Inilah sepuluh tanda anak mempunyai IQ tinggi sesuai tahapan umurnya.
Anak mempunyai IQ atau kecerdasan intelektual tinggi sanggup dilihat tanda-tandanya. Untuk memastikannya, dalam setiap tahap umur mempunya gejala tersendiri. Seperti dilansir dari News.com.au yang ditulis Republika (01/02), para ilmuwan di University of Warwick mengemukakan sepuluh tanda anak mempunyai IQ tinggi sesuai tahapan umurnya.

1. Bayi gres lahir

Semakin besar berat bayi maka semakin tinggi juga kecerdasan yang dimiliki anak yang gres dilahirkan tersebut. Sebuah studi terhadap lebih dari tiga ribu bayi British Medical Journal mengemukakan bobot bayi ketika lahir maka semakin besar IQ-nya. Namun bisa saja berat bayi yang besar dikarenakan gizi yang baik.

2. Usia 12 hingga 24 bulan

Pada usia ini ditandai anak berbicara dengan bermacam-macam bahasa yang menjadi salah satu trik untuk mendorong perkembangan otak pada balita. Mereka yang lahir dari orang bau tanah yang memliki perbedaan bahasa mempunyai IQ yang lebih baik.

3. Usia tiga tahun

Tinggi badan pada usia ini biasanya mencerminkan anak tersebut bisa mempunyai banyak kesempatan terbaik. Pada awal usia tiga tahun, sebelum sekolah mempunyai kesempatan untuk memainkan tugas maka anak yang lebih tinggi lebih mempunyai kemampuan pada tes kognitif.

4. Usia empat tahun

IQ tinggi terlihat pada anak yang bahagia menggambar dan ketertarikan dengan seni ketika usia empat tahun. Anak-anak yang menyerupai itu biasanya ketika remaja bisa lebih cerdas sebab kelebihan IQ-nya.

5. Usia enam tahun

Pada usia ini, kecerdasan emosional anak sanggup ditingkatkan dengan memainkan alat musik. Para peneliti di University of Vermont College mengemukakan hasil scan otak dari 232 anak berusia enam hingga 18 tahun yang sangat sehat. Mereka menemukan, bawah umur yang memainkan instrumen semenjak kecil bisa mengatur kecemasan dan emosi lebih baik.

6. Usia tujuh tahun

Para ilmuwan menyatakan, bawah umur yang membaca semenjak dini merupakan indikator serta kunci kecerdasan. Studi oleh University of Edinburgh dan King College London mengemukakan, bawah umur mempunyai kemampuan membaca lebih baik dari rata-rata pada usia tujuh tahun dan terlihat dalam membenamkan diri dalam novel, serta tampil baik di tes IQ sebagai remaja.

7. Usia delapan tahun

Pada ketika usia delapan tahun maka anak terlihat lebih sering begadang dan telat berdiri pagi maka diperkirakan mempunyai IQ tinggi. Penelitian oleh London School of Economics memperlihatkan bahwa orang cukup umur cerdas lebih mungkin untuk beraktivitas hingga larut malam yang sudah terbiasa semenjak usia dini.

8. Usia sembilan tahun

Makan sarapan sehat pada usia dini memperlihatkan peluang pada anakan-anak terutama usia sembilan tahun mempunyai kelebihan tes akademik di atas rata-rata. Mengonsumsi sereal, roti, dan susu pada pagi hari merupakan pilihan terbaik.

9. Usia sepuluh tahun

Indikator kunci dari kecerdasan, bawah umur pada usia ini bahagia sekali bicara dan lebih aktif dibandingan anak lainnya. Sejalan dengan banyak membaca semenjak dini merupakan indikator kecerdasan tinggi untuk masa depan.

Menghapus Sistem Apartheid Di Sekolah

1:06:00 AM
Pemisahan antara siswa "pintar dan bodoh" di sekolah yakni sebuah diskriminasi yang sewajarnya cukup menciptakan prihatin.
Sistem diskriminasi berdasarkan warna kulit (Apartheid) memang telah berhasil dikikis di Afrika Selatan dengan tokoh pejuangnya yang beberapa waktu kemudian meninggal, Nelson Mandela. Akan tetapi, tanpa disadari spirit dari system tersebut agaknya masih tampak secara kentara di beberapa bidang. Salah satunya ialah dalam dunia pendidikan yang digadang-gadang menelurkan manusia-manusia terdidik dan menjunjung nilai watak dalam bermasyarakat. Seakan-akan prinsip egaliter yang semestinya menjadi pegangan dalam dunia pendidikan hilang tanpa jejak. Adapun yang dimaksud penulis, lebih mengerucut pada pemisahan antara siswa "pintar dan bodoh" di sekolah. Sebuah diskriminasi yang sewajarnya cukup menciptakan prihatin banyak sekali kalangan pemerhati pendidikan.

Baca juga: Setiap Anak Terlahir Unik, Ini Ciri Anak Berbakat

Banyak didapati guru lebih menaruh perhatian kepada siswa yang dianggapnya cerdik dengan alasan bisa menguasai bahan pelajaran yang diajarkan. Bahkan tidak ketinggalan pula sanjungan pun meluncur kepada siswa yang bersangkutan. Begitu sebaliknya, kepada anak yang kurang begitu memahami atas apa yang diajarkan cenderung dibiarkan tanpa diberi perhatian khusus. Lebih ekstrem lagi, guru mengeneralisasikan ketidakpahaman siswa di semua mata pelajaran dan menganggap siswa tersebut tidak mempunyai potensi apapun.

Wajar memang, apabila seorang guru menaruh perhatian secara lebih kepada siswa yang bisa memahami bahan pelajaran. Akan tetapi semestinya dibarengi pula dengan memperlihatkan perhatian kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Lebih pentingnya ialah meyakini bahwa setiap siswa mempunyai potensi atau talenta yang sanggup berkembang untuk masa depannya.

Anggapan guru dengan penyematan cerdik dan terbelakang terhadap siswa-siswanya sangat umum terjadi sampai kini. Bukankah Allah SWT telah memperlihatkan kelebihan pada setiap insan dalam bidang tertentu?. Jika anggapan terbelakang dan cerdik terus tersemat dalam paradigma para pendidik di sekolah (guru), bukankah mengesampingkan fitrah insan yang diberikan Sang Pencipta?.

Pertanyaan di atas agaknya perlu direnungkan dan dijawab oleh para guru dengan pendekatan spiritual. Anggapan cerdik dan terbelakang terhadap siswa dengan berdasar pada kemampuan absorpsi bahan pelajaran di sekolah tanpa memandang pada aspek kausalitas (sebab akibat) sangatlah tidak pantas. Tanpa disadari pula, hal tersebut membunuh potensi yang terpendam pada diri siswa. Satu dari dua anggapan tersebut yang menjadi pementingan pada ruang goresan pena ini yakni anggapan bodoh. Kata bodoh, menyerupai yang diketahui bersama yakni kata bernuansa negative yang disematkan karena ketidakbisaan. Akan tetapi, kata tersebut berdasarkan penulis sangat tidak etis dipergunakan di dunia pendidikan yang sangat dihormati itu.

Ketidakpahaman seorang siswa terhadap suatu bahan pelajaran bisa dikarenakan dua factor secara garis besar. Pertama, sangat mungkin guru yang mengajarnya memakai cara/metode yang memang tidak cocok bagi siswa yang bersangkutan. Guru yang mengajar suatu konsep bahan dianggap terlalu sukar dipahami sehingga pemahamannya tidak masuk. Oleh karena itu, seorang guru memang selayaknya bisa memahami kondisi psikis siswa dalam belajar. Membuka ruang kesempatan untuk bertanya dengan pendekatan tertentu secara leluasa terhadap siswa sangat ditekankan. Apabila hal ini terjadi, tentunya guru tidak secara gegabah melayangkan ungkapan terbelakang terhadap siswa secara gamblang.

Kedua, secara fitrah insan mempunyai kelebihan pada bidang tertentu. Hanya saja, kelebihan yang menjadi potensinya tidak terlejitkan. Sebagai contoh, ada seorang siswa yang kesulitan dalam pelajaran Matematika, namun ia mempunyai kelebihan dalam pelajaran bahasa Indonesia. Potensi dalam bahasa Indonesia itulah yang perlu diapresiasi dan dihargai oleh guru. Ada pula yang kurang dalam bidang pelajaran yang menuntut kemampuan kognitif, namun mempunyai potensi dalam bidang olahraga. Dengan demikian, sanggup ditarik suatu kesimpulan bahwa setiap siswa niscaya mempunyai kelebihan pada bidang tertentu.

Howard Gardner, seorang pakar psikologi dari Universitas Harvard, menyodorkan suatu teori yang sanggup mengubah dunia pendidikan, khususnya di Indonesia. Gardner menemukan teori tersebut yang kini mulai dikenal yakni Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences). Sejatinya, setiap siswa mempunyai kecerdasan pada bidangnya masing-masing. Kecerdasan yang dimaksud oleh Gardner terbagi menjadi sembilan bidang kecerdasan, yakni Musikal, Moral, Naturalis (Cerdas Alam), Intrapersonal (Cerdas Diri), Linguistik (Cerdas Bahasa), Interpersonal (Cerdas Bergaul), Spasial-Visual (Cerdas Gambar dan Ruang), Kinestetis (Cerdas Gerak) dan Matematis-Logis (Cerdas Angka dan Logika).

Baca juga: Teori Multiple Intelegensi (Kecerdasan Majemuk)

Teori tersebut di atas semestinya membuka kesadaran bagi para guru yang masih memasang paradigma anggapan siswa cerdik dan bodoh. Munif Chatib (2013) lebih memandang, letak kesalahan guru dan atau sekolah terhadap siswanya ialah tidak memperhatikan potensi-potensi lain yang sekiranya terpendam pada diri siswa. Nilai kuantitas dari hasil tes atau ujian yakni patokan yang terlalu diagung-agungkan oleh kebanyakan sekolah dalam mengukur keberhasilan dalam belajar. Alhasil, angka seperti menjadi buruan yang paling dicari oleh para pengenyam pendidikan. Tentulah hal tersebut mengkaburkan hakikat pendidikan itu sendiri.

Alangkah baiknya, apabila guru yang mendapati siswanya yang mengalami kesulitan terhadap suatu konsep bahan pelajaran didekati dan diberi kode serta mencoba mengenal psikisnya sehingga ditemukan aksara belajarnya. Perhatian yang demikian akan terjadi suatu kedekatan yang sangat mungkin siswa bersangkutan merasa terdorong meningkatkan belajarnya. Jikalau, siswa memang benar-benar mengalami kesulitan pada bidang pelajaran tertentu karena bukan bidang kecerdasannya, janganlah pribadi mencap bodoh. Segenap guru di suatu sekolah selayaknya mencari bidang kecerdasan masing-masing siswanya. Terpenting ialah anggaplah semua siswa cerdik sesuai dengan bidangnya. Jika paradigma demikian terbangun maka segera terwujud pendidikan yang berkualitas. Upaya untuk membangun bangsa supaya lebih maju pun segera terwujud lewat pendidikan.

*) Ditulis oleh Usep Setyawan, S.Pd.I. Guru di SDIT Bina Anak Sholeh Cilacap

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Temu

9:00:00 PM
Kurikulum 2013, yang diterapkan mulai tahun aliran 2014/2015, masih menjadikan pro dan kontra di kalangan praktisi pendidikan. Sudah Siapkah guru menghadapi kurikulum yang terus menerus berubah? Sistem pembelajaran gres berbasis penguatan penalaran, bukan sekadar hafalan. Kurikulum 2013 untuk sekolah dasar berisi perihal perubahan materi bidang studi berupa tematik integratif khususnya untuk kelas IV.

Sebagai pendidik perlu mempertimbangkan model pembelajaran gres yang kreatif, inovatif, dan fleksibel dengan kurikulum yang selalu mengalami perubahan. Salah satu alternatif terbaru model pembelajaran yaitu TEMU. Model pembelajaran T diambil dari kata Telusur Ilmu. Sepertinya model pembelajaran ini masih gila di indera pendengaran kita, terlebih oleh para praktisi pendidikan.

Model pembelajaran TEMU (Telusur Ilmu) ini merupakan pembelajaran berbasis outbond dan pelaksanaannya pun fleksibel. Bisa di dalam, di luar kelas, ataupun keduanya. Model ini juga mengedepankan pembelajaran student centered yang sanggup berbagi multiple intelegence. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa penerima didik itu unik. Unik alasannya yaitu mempunyai karakteristik ataupun gaya berguru yang berbeda-beda.

Baca juga: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick

Ciri khas dari model ini sudah sanggup diketahui dari judulnya yaitu Telusur Ilmu. Telusur Ilmu berarti bahwa penerima didik mencari ilmu/pengetahuan gres melalui acara berjelajah sedangkan berjelajah konteksnya pembelajaran yang didesain adanya “bilik belajar”. Jumlah bilik menyesuaikan materi yang ditematik-integratifkan di hari itu.

Pada umumnya, evaluasi terhadap keberhasilan penerima didik diukur melalui tes kognitif. Akan tetapi pada model ini evaluasi dalam bentuk tes reflektif. Tes reflektif yaitu penerima didik mengungkapkan sebanyak-banyaknya materi yang telah dipelajari, perasaan dalam belajar, serta komentar terhadap pelajaran pada hari itu sebagai refleksi bagi guru.

Langkah PembelajaranKooperatif Tipe TEMU
  • 1.Menyampaikan apersepsi dan tujuan pembelajaran
  • Persiapan awal pembelajaran (ice breaking)
  • Persiapan Bilik Belajar
  • Pembentukan Kelompok
  • Pelaksanaan berguru “Telusur Ilmu”
  • Setiap bilik terdiri dari 2 kelompok. Setiap kelompok melakukan acara sesuai Lomba Kompetensi Siswa dalam setiap bilik belajar. Setiap kelompok harus bersaing dengan kelompok lawan. Setiap 10 menit berpindah bilik. Bilik tidak harus berurutan.
  • Persiapan produk final “Produk Papan Belajar” semenarik mungkin sesuai kreativitas.
  • Presentasi produk
  • Konfirmasi
  • Evaluasi bentuk “Lembar Refleksi” (individu)
  • Penghargaan dan Penempelan Papan Produk Belajar di kelas.

Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa model pembelajaran “Telusur Ilmu” yaitu model pembelajaran dengan berbagi kecerdasan yang dimiliki oleh penerima didik dengan dibuat menjadi beberapa kelompok untuk meningkatkan kolaborasi kemudian melakukan aneka macam acara dalam beberapa “bilik belajar”. Berpatokan pada konsep PAIKEM, suasana berguru dibuat berbeda dari biasanya dan lebih menyenangkan, sehingga penerima didik menjadi aktif berguru serta menghasilkan suatu produk kelompok.

Model pembelajaran ini juga bertujuan untuk menampung wangsit kreatif penerima didik dalam menciptakan produk final yang akan dipresentasikan di depan kelas. Ide kreatif setiap kelompok inilah yang akan memilih seberapa unik dan menarik papan produk yang dihasilkan setiap kelompok. Dari sinilah, kita sanggup melihat dan bisa berbagi daya kreativitas penerima didik.

*) Ditulis oleh Megasari, S. Pd. Mahasiswa Pascasarjana UNY jurusan Pendidikan Dasar

Setiap Anak Terlahir Unik, Ini Ciri Anak Berbakat

1:19:00 AM
Bakat anak tersebut sanggup diasah dan dikembangkan dengan pinjaman dari orang tuanya Setiap Anak Terlahir Unik, Ini Ciri Anak Berbakat
Bakat anak tersebut sanggup diasah dan dikembangkan dengan pinjaman dari orang tuanya.
Setiap anak terlahir unik dan mempunyai talenta yang berbeda-beda. Menurut praktisi minat dan talenta anak Fernando Iskandar talenta anak sanggup diketahui diasah dengan kecerdasan majemuk.

"Menurut profesor pendidik dan peneliti asal Universitas Harvard, Howard Gardner, terdapat sembilan kecerdasan anak atau yang dikenal dengan istilah kecerdasan majemuk," kata Fernando yang kutip dari Antaranews (11/05/15).

Jenis-jenis kecerdasan yang diperkenalkan oleh Gardner adalah logis matematis, musikal, spasial-visual, lingusitik verbal, kinestetik, naturalis, interpersonal, intrapersonal, dan esksitensial.

Baca juga: Konsep Multiple Intelegensi Menurut Gardner

Penting bagi anak untuk mendapat stimulasi kecerdasan beragam semenjak usia dini, tepatnya di usia emas pertumbuhan anak terutama semenjak lahir hingga usia dua tahun. Rangsangan kecerdasan yang sempurna didukung gizi yang sehat seimbang akan membantu anak untuk berkembang sesuai tahapan.

Ada beberapa ciri-ciri anak berbakat, adalah cepat menguasai apa yang diajarkan, tidak cepat bosan dan menunjukkan hasil yang baik. Fernando menyampaikan talenta anak tersebut sanggup diasah dan dikembangkan dengan dukungan dari orang tuanya.