Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Reorientasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar

2:48:00 AM
Tiga tantangan yang harus dihadapi oleh sekolah dalam upaya merealisasikan pendidikan abjad sesuai amanat presiden.
Pendidikan abjad hendaknya menjadi prioritas utama dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di Sekolah Dasar (SD). Pembentukan abjad yang dilakukan semenjak dini diyakini akan bisa merubah mental bangsa ini menjadi lebih baik. Hal itu diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah pertemuan dengan mahasiswa Indonesia di Belanda beberapa waktu lalu. Presiden pun mengusulkan semoga 60 hingga dengan 70 persen bahan pelajaran di SD diarahkan pada pembangunan abjad penerima didik.

Baca juga: Presiden Minta SD Ditekankan Membangun Karakter

Apa yang disampaikan oleh presiden tersebut bersama-sama bukan hal yang baru. Sejak Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SD dihapuskan, orientasi pembelajaran pun (seharusnya) mengalami pergeseran. Dalam hal ini membiasakan siswa untuk senantiasa melaksanakan perbuatan baik serta menanamkan kecintaan mereka terhadap dunia berguru seharusnya lebih dikedepankan daripada memaksa siswa untuk menguasai seluruh bahan yang tercantum dalam kurikulum.

Namun, pergeseran orientasi pembelajaran tersebut nampaknya masih jauh panggang dari api. Setidaknya ada tiga tantangan yang harus dihadapi oleh sekolah dalam upaya merealisasikan pendidikan abjad sesuai amanat presiden tersebut. Pertama, keberpihakan kurikulum. Pemberlakuan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) untuk tiap mata pelajaran secara tidak eksklusif telah menyempitkan makna maupun tujuan pendidikan yang sebenarnya, khususnya pada jenjang pendidikan dasar. Anak dianggap berhasil mencapai ketuntasan berguru apabila mereka bisa mengerjakan soal-soal di atas kertas. Sedangkan hal-hal lain yang berkaitan dengan kepribadian menyerupai ketaatan mereka dalam beribadah maupun pengamalan norma-norma sosial justru tidak mendapatkan porsi yang semestinya.

Kedua, kesiapan sekolah lanjutan. Kenyataan menunjukkan, nilai akademik masih dijadikan pertimbangan utama oleh sekolah-sekolah lanjutan (SMP) untuk mendapatkan calon siswa gres dari Sekolah Dasar. Adapun abjad maupun sikap siswa selama di SD kurang begitu mendapatkan perhatian. Akibatnya, tujuan pembelajaran di SD pun lagi-lagi sebatas untuk mendapatkan nilai akademik setinggi-tingginya demi mendapatkan bangku di sekolah lanjutan (unggulan).

Ketiga, kondisi lingkungan sekitar. Semakin banyaknya pelajar yang menimbulkan rokok sebagai “teman setia” merupakan salah satu problem yang dihadapi oleh dunia pendidikan ketika ini. Banyaknya warung-warung di sekitar sekolah maupun rumah yang menjual rokok merupakan penyebab utama maraknya peredaran rokok di kalangan pelajar. Di samping itu tayangan televisi yang menjurus pada kekerasan maupun berbau pornografi pun menciptakan kiprah guru dalam membangun abjad anak semakin berat.

Untuk sanggup mengimplementasikan pendidikan abjad di Sekolah Dasar, dibutuhkan sinergi yang baik antara pemerintah, sekolah dan orangtua. Sebagai pemegang regulasi pemerintah diharapkan bisa memainkan kiprahnya dalam membatasi peredaran minuman keras dan rokok, mengatur tayangan media elektronik, serta merancang sebuah kurikulum pendidikan dasar yang benar-benar berorientasi pada pembentukan abjad penerima didik. Adapun orangtua hendaknya menyadari betapa pentingnya kiprah mereka dalam melanjutkan pendidikan abjad yang dilakukan oleh guru di sekolah. Menciptakan lingkungan aman yang mendukung tumbuhnya abjad anak merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Dengan demikian, pendidikan abjad di SD pun benar-benar sanggup terealisasi dan tidak hanya sebatas wacana.

*) Ditulis dan dikirim ke oleh Ramdan Hamdani. Guru di SD Islam Terpadu Alamy Subang, Jawa Barat

Butiran Mutiara Ki Hajar Dewantara Yang Hilang

7:09:00 PM
Butiran Mutiara Ki Hajar Dewantara yang Hilang Butiran Mutiara Ki Hajar Dewantara yang Hilang

Setiap tanggal dua Mei dijadikan sebagai hari pendidikan nasional. Dijadikan sebagai hari pendidikan nasional sebagai bentuk penghargaan pada Ki Hajar Dewantara atas pemikirannya dibidang pendidikan. Ki Hajar Dewantara populer dengan sekolah taman siswa dengan pola pengajaran atau metode sistem among. Metode yang digali dari kearifan lokal. Metode yang mengindonesia. Metode yang terlupakan.

Baca juga: Saripati Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Pola pengajaran Ki Hajar Dewantara telah tergantikan teori pendidikan Barat. Di kampus teori-teori barat diagung-agungkan sebagai sebuah menara gading. Hal ini telah membentuk pola pikir dan praktek sekuler dalam dunia pendidikan Indonesia; dan apa yang terjadi kini ini merupakan hasil dari pola pikir tersebut. Pendidikan tidak berhasil meneguhkan identitas sebagai bangsa melainkan justru telah mencabut sendi-sendi kebangsan sehingga menjadi bangsa yang tidak mempunyai identitas kebangsaan yang jelas. Pendidikan kini ini telah melahirkan bangsa yang ragu dan gundah perihal dirinya. Semuanya itu sebab hampir tiga puluh tahun lebih pemerintah menggunakan konsultan pendidikan dari barat yang tindak mengindonesia, “kurang paham” akan budaya atau kearifan lokal yang syarat akan metode belajar.

Ki Hadjar Dewantara memaparkan bahwa sistem Among merupakan metode yang sesuai untuk pendidikan sebab merupakan metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Pendidikan sistem Among bersendikan pada dua hal yaitu : Kodrat Alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya, dan Kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak sampai sanggup hidup mandiri. Sistem Among sering dikaitkan dengan dalil yang berbunyi : Tut Wuri Handayani, Ing madya mangun karsa, Ing ngarso sung tuladho. Seorang dosen atau guru yang disebut oleh Ki Hadjar Dewantara sebagai pamong harus menjadi contoh, fasilitor dan mendorong siswa dalam belajar.

Ki Hadjar Dewantara menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu insan lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai insan yang utuh berkembang menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand ”. Ki Hajar Dewantara ingin mengajarkan pada kita bahwa mengajar dan mendidik siswa merupakan tanggung jawab bersama (Tripusat Pendidikan) suatu upaya pendidikan yang mencakup pendidikan di tiga lingkungan hidup, ialah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Baca juga: Menciptakan Ruang Kelas yang Efektif

Dalam proses berguru mengajar Ki Hajar Dewantara menganalogikan kekerabatan guru siswa serupa dengan kekerabatan petani dan tanamannya. Untuk itu guru terhadap para murid harus berfikir, berperasaan dan bersikap sebagai Juru Tani terhadap tanamannya. Orang bercocok tanam harus takluk kepada kodratnya tanaman, janganlah flora ditaklukkan pada kemauan petani. Haruslah petani menyerahkan dirinya, yakni menghilangkan kemurkaan dirinya, dengan nrimo kepada kepentingan tanamannya dan mengejar kesuburan tanamannya semata-mata. Kesuburan tanamannya inilah yang menjadi kepentingan petani. Haruslah ia tahu akan perbedaan antara padi, jagung, dna flora lainnya dalam keperluan masing-masing untuk sanggup bertumbuh dengan subur dan sanggup berhasil. Karena itu perlulah si petani tahu dan mengerjakan segala ilmu atau pengetahuan pertanian, yang benar dan baik. Dalam pada itu janganlah membedabedakan pula dari mana asalnya pupuk, asalnya alat, atau asalnya ilmu pengetahuan pertanian, dan sebagainya; segala yang sanggup menyuburkan flora berdasarkan kodrat dan irodatnya harus digunakan petani.

Cara atau alat mendidik anak (siswa) berdasarkan Ki Hadjar Dewantara dimulai dari: memberi referensi (voorbeeld); adaptasi (pakulinan, gewoontevorming); pengajaran (leering, wulang-wuruk); perintah, paksaan, dan eksekusi (regeering en tucht); laris (zelfbeheersching, zelfdiscipline); pengalaman lahir dan batin (nglakoni, ngroso, beleving).

Akhirnya kita perlu menyadari bahwa tujuan pendidikan ialah memanusiakan insan muda. Pendidikan hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berkhasiat dan kuat di masyarakatnya, yang bertanggungjawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian. Menghasilkan insan yang berwawasan Nasional Indonesia. Semoga.

*) Ditulis dan dikirim ke oleh Heronimus Delu Pingge. Pengajar di STKIP Weetebula Sumba Barat Daya NTT

Karakter Watak Atau Kebijaksanaan Pekerti

3:20:00 AM
Karakter atau budi pekerti bukan materi pelajaran Karakter Moral atau Budi Pekerti
Karakter atau budi pekerti bukan materi pelajaran, tetapi perbuatan yang harus ditanamkan.
Karakter moral atau karakter yaitu penilaian kualitas moral yang stabil individu tertentu. Konsep aksara sanggup menyiratkan banyak sekali atribut termasuk adanya atau kurangnya kebajikan ibarat empati, keberanian, ketabahan, kejujuran, dan kesetiaan, atau sikap yang baik atau kebiasaan. Karakter moral terutama mengacu pada himpunan kualitas yang membedakan satu individu dari yang lain - meskipun pada tingkat budaya, set sikap moral untuk yang satu menganut kelompok sosial sanggup dikatakan untuk bersatu dan mendefinisikannya budaya yang berbeda dari orang lain. Psikolog Lawrence Pervin mendefinisikan aksara moral sebagai "disposisi untuk mengekspresikan sikap dalam pola yang konsisten dari fungsi di banyak sekali situasi".

Kata "karakter" berasal dari kata Yunani Kuno "Charakter", mengacu pada tanda terkesan pada koin. Kemudian tiba berarti titik di mana satu hal diberitahu terpisah dari orang lain. Ada dua pendekatan dikala berhadapan dengan aksara moral. (1) Etika Normatif melibatkan standar moral yang mengatakan sikap benar dan salah. Ini yaitu tes sikap yang sempurna dan menentukan apa yang benar dan salah. (2) Etika terapan melibatkan isu-isu spesifik dan kontroversial bersama dengan pilihan moral, dan cenderung melibatkan situasi di mana orang-orang baik untuk atau terhadap duduk perkara ini.

Sebenarnya setiap insan semenjak zaman Nabi Adam sudah punya aksara mulia, yaitu aksara dasar yang paling hakiki yang diturunkan oleh Sang Maha Pencipta, yaitu aturan tingkah laris benar menurut agama samawi. Jika kita dikembalikan pada fatwa tiap agama samawi, niscaya semua agama mengajarkan wacana perbuatan baik dan proposal untuk melaksanakan, juga wacana akhir perbuatan buruk dan kewajiban untuk meninggalkannya (dalam fatwa agama Islam setiap muslim diwajibkan mempunyai akhlaqul karimah), dampakanya jikalau yang baik dilaksanakan dan yang buruk ditinggalkan niscaya membawa ketenteraman dan kesejahteraan hidup insan di dunia dan di akherat secara universal (rahmatan lil ‘aalamiin).

Setiap komunitas/etnik punya cita-cita yang sama, yaitu semua anggota komunitas sanggup melakukan pola kehidupan normatif sesuai dengan aksara kolektif yang dimiliki. Dalam hal ini kewajiban orang cukup umur harus bersikap jujur selain sebagai pelaku karakter, pemberi contoh, penasihat, pemberi worning, pemberi penghargaan dan hukuman secara adil terhadap diri mereka masing-masing dan terhadap orang lain terutama kepada generasi yang lebih muda.

Sebelum tetapkan sesorang mempunyai aksara cita-cita kolektif atau tidak, setiap anggota masyarakat cukup umur harus menengok diri sendiri apakah ia sudah berkarakter mulia atau belum, sehingga di dalam kehidupan bermasyarakat tidak timpang dan tidak saling menyalahkan. Bisa jadi terbentuknya aksara menyimpang yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sanggup meresahkan masyarakat luas dan divonis berkarakter buruk, bekerjsama hanyalah imbas dari perbuatan orang cukup umur yang menjadi anutan atau teladan nasional yang sudah menyimpang dari norma.

Karakter atau budi pekerti bukan materi pelajaran, tetapi perbuatan yang harus ditanamkan dari generasi awal ke generasi berikutnya sampai final zaman. Karakter tidak perlu diajarkan dalam bentuk pembelajaran, alasannya yaitu terbentuknya aksara yaitu perbuatan rutin dan latah dilakukan setiap hari. Guru tidak perlu mengajarkan dalam kelas secara teoritik alasannya yaitu sudah masuk (include) dalam pembelajaran semua mata pelajaran dan kehidupan sosial. Nilai-nilai aksara menurut budaya bangsa Indonesia sepert: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kretif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu. Semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/berkomunikasi, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan dan sosial, serta tanggung jawab sanggup tertanam dalam jiwa siswa jikalau hal itu dibiasakan dalam kehidupan sehingga tumbuh menjadi kebiasaan.

Siapa yang harus mempunyai aksara mulia? Semua anggota masyarakat (tua-muda, pejabat-rakyat, berpendidikan-tidak berpendidikan, beragama samawi-beragama ardhi) harus mempunyai aksara moral mulia/akhlaqul karimah. Tindakan salah kaprah yang sampai kini yaitu selalu membahas kesalahan pelajar/maha siswa alasannya yaitu dicap berkarakter buruk sehabis ada info tawuran pelajar, dekandensi moral pemuda, mahasiswa pengguna narkoba dan melayani sex komersial, dll., kemudian mencetuskan ide-ide atau program-program pendidikan karakter. Seharusnya bukan kesalahan para pemuda, pelajar, dan mahasiswa saja yang menjadi trading topic setiap mucul info negatif, kesalahan orang-orang kondang yang seharusnya dihormati yang lebih diutamakan untuk rehabilitasi dan perlindungan penularannya.

Sebenarnya semua insan dikala dilahirkan dalam kedaan fitroh/suci. Datangnya dampak buruk yang dampaknya menjadi aksara bangsa (karena terlatih dan menempel pada jiwa generasi muda) justru dari orang dewasa, alasannya yaitu kodrat insan dan binatang secara naluri/instink sifat genetika induk menghipnotis keturunan. Maka bekerjsama yang meyimpang lebih dulu yaitu generasi tua. Jika nilai-nilai aksara di atas sudah dilakukan dan tertanam dengan benar oleh orang-orang yang lahir dahulu, tentu generasi muda tidak perlu dikhawatirkan dan tidak pelu diadakan pendidikan aksara secara khusus.

Masalah yang terjadi kini yaitu sikap masyarakat sudah tidak normatif lagi, dan para pemuda, mahasiswa, serta pelajar banyak yang amoral. Para pejabat banyak yang korupsi, kejahatan semakin menjadi-jadi, sementara keadilan dunia semakin sulit dicari. Kenakalan remaja merajalela, begal motor dan geng motor selalu meneror, dan pemerkosaan semakin brutal. Banyak orang yang lupa pesan Pujanagaaga Mataram, Ronggowarsito: “Anemahi zaman edan, ewuh aya ing pambudi, ora ngedan tan kumanan. Sak beja-bejane wong kang lali isih beja wong kang eling lan waspada.” (“Menemuhi situasi gila, repot untuk memilih, kalau tidak ikut gila tidak menerima bagian. Seuntung-untungnya orang lupa, masih untung orang yang selalu ingat dan waspada”).

Baca juga: Memberi Contoh Positif Sebagai Upaya Membentuk Karakter Peserta Didik

Revolusi moral tidak segera dimulai berarti sengaja bunuh diri. Suatu bangsa akan semakin terpuruk mana kala aksara moral penduduknya tak terkontrol dan terkendali. Situasi dan kondisi yang semakin menjadi-jadi akan membentuk aksara moral/budi pekerti membunuh generasi yang berdampak pada kehidupan mendatang.

Tidak ada istilah terlambat untuk kembali ke kodrat. Masyarakat yang ingin bangun merevolusi diri secara bersama dan serentak mengubah watak buruk dan bertobat, jalan keluar dari keterpurukan masih terbuka. Hal ini tinggal bagaimana dan kapan memulai, bukan hanya sekedar bicara pendidikan aksara yang didengungkan santer. Sergera bertindak faktual solusi niscaya ada. Menunda sama halnya dengan apatis, membiarkan berarti menununggu kiamat tanpa ikhtiar.

Bagaimana menanamkan jiwa berkarakter moral/berbudi pekerti mulia? Resep untuk mengembalikan bangsa ini ke jati diri sesuai harapan, yang harus dilaksanakan secara serentak dan berkoordinasi antara lain melalui:

1. Konsistensi terhadap sistem semerintahan yang benar oleh semua pihak
2. Ketegasan penegak aturan dalam menegakkan keadilan
3. Keteladanan pegawanegeri negara dan tokoh masyarakat
4. Kesadaran penduduk terhadap implementasi norma agama, norma sosial, dan kelestarian lingkungan
5. Menciptakan kerukunan hidup bermasyarakat secara mikro maupun makro
6. Penanaman akhlaqul karimah dan kaidah kehidupan bermasyarakat semenjak dini
7. Pembiasaan akhlaqul karimah dalam kehidupan rumah, sekolah, dan masyarakat
8. Melestarikan sikap tolong menolong dan gotong royong
9. Membiasakan sopan santun dalam segala bentuk berkomunikasi dan bertingkah laku
10. Menghargai dan melestarikan budaya bangsa
11. Mengutamakan musyawarah dalam mencapai mufakat
12. Saling menghargai dan menghormati sesama warga negara.

*) Ditulis oleh Indra. PNS di lingkungan didikpora kabupaten Agam Sumbar

Sekolah Dasar Dalam Tantangan Krisis Pendidikan

6:59:00 AM
Sekolah Dasar dalam Tantangan Krisis Pendidikan SD dalam Tantangan Krisis Pendidikan

Sekolah sebagai salah satu tripusat pendidikan merupakan sarana yang sengaja diciptakan oleh insan untuk mengemban kiprah memanusiakan manusia. Sekolah ini terletak dan berada di dalam lingkungan masyarakat yang menghendaki keberadaanya. Semakin tinggi contoh pikiran masyarakat maka semakin sentral dan penting kiprah sekolah dalam masyarakat tersebut. Hal ini dikarenakan sekolah tersebut merupakan wadah penyiapan generasi muda di dalam masyarakat tersebut. Semakin mantap sekolahnya semakin mantap pula generasi mudanya.

Di tanah air, keberadaan sekolah kita hingga ketika ini masih menuai kritikan akan keberadaan, proses, maupun terhadap para guru dan tenaga kependidikan. Kulminasi dari kritikan terhadap dunia pendidikan terjadi alasannya adanya kesenjangan atau kekontradiktifan antara tingkat pendidikan seseorang dengan perilakunya dalam kehidupan nyata. Dalam bukunya yang bertajuk Filsafat Pendidikan, Profesor Suparlan Suhartono (guru besar di Universitas Negeri Makassar) secara tegas menyampaikan hal tersebut. Berikut kutipan singkatnya: “para politisi bukan lagi memperjuangkan aspirasi rakyat melainkan memperjuangkan aspirasi konglomerat. Para penegak aturan tidak berorientasi pada keadilan dan keberadaban tetapi justru kebiadaban. Penyelenggara pendidikan sudah tidak peduli lagi terhadap pengembangan bakat, tetapi lebih tertarik pada urusan pangkat. Para penyelenggara kesehatan tidak mendidik untuk hidup sehat tetapi justru sibuk dengan pemasaran obat”.

Baca juga: Kesenjangan Pendidikan di Indonesia

Sekiranya problema pendidikan (perbedaan kesenjangan antara tingkat pendidikan dengan sikap kehidupan) yang telah dibeberkan di atas yaitu kenyataan. Tidak perlu kita meminta bukti, lembaran koruptor yang mulai terbuka perhalaman merupakan salah satu santapan tidak sedap dari dapur pendidikan yang dinikmati bangsa Indonesia ketika ini. Lalu muncul pertanyaan bagaimana seharunya pendidikan kita diselenggarakan?

Tulisan ini merupakan sebuah permenungan dan opini sederhana wacana pendidikan sekolah (sekolah dasar dan sekolah menengah) diselenggarakan semestinya.

Pendidikan Sekolah Dasar

Dalam sistem pendidikan nasional, penyelenggaraan pendidikan dilalui melalui dua jalur yakni pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah menyerupai kursus-kursus luar sekolah. Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui acara berguru mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan, dimulai dari sekolah dasar, menengah, dan tinggi. Pendidikan sekolah diselanggarakan untuk memberi bekal dasar untuk hidup dalam masyarakat berupa pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dasar.

Tujuan Pendidikan dan Pentingnya Pemahaman Tujuan Pendidikan

Secara umum tujuan pendidikan dimuat dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 wacana Sisdiknas Bab II Pasal 3, “pendidikan nasional berfungsi membuatkan kemampuan dan membentuk tabiat serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembanganya potensi penerima didik supaya menjadi insan yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab”.

Tujuan pendidikan nasional ini memang terasa aneh dibandingkan dengan tujuan institusional, tujuan kurikuller, dan tujuan pembelajaran yang lebih terang dan kongkrit. Namun perlu dicermati dan dipahami bahwa tujuan nasional ini bersifat menyerupai induk yang menurunkan tujuan-tujuan berikutnya. Artinya dalam hierarki tujuan pendidikan kesemuanya harus mengacu pada tujuan nasional pendidikan. Oleh alasannya itu sangat penting untuk mengetahui dan memahami tujuan nasional secara benar dan tepat. Hal ini dimaksudkan supaya proses pembelajaran atau penyelenggaraan pendidikan bertitik tolak dan bermuara pada tujuan nasional tersebut.

Jika kita mencermati, pada irit saya hampir seluruh isi tujuan nasional ini menuntut atau memuat point-point domain afektif sebagai hasil berguru yang utama. Ini yang masih kurang dipahami oleh para guru. Tidak heran jika sekolah-sekolah hanya bisa membuat ladang kognitif/pengatahuan yang gersang pada otak anak tanpa adanya penanaman nilai-nilai kehidupan. Alhasil berdampak jelek bagi kehidupan alasannya lahir orang-orang pandai tetapi tidak cerdas yang tak berbudi. Mata pelajaran agama contohnya yang bersama-sama berupaya untuk menanamkan nilai-nilai moral kehidupan beralih pada penanaman pengatahuan agama. Pendidikan kewarganegaraan bukan menjalankan misi utamanya membudayakan nilai-nilai budaya lokal pancasila tetapi hanya sebatas pada penanaman pengatahuan kewarganegaraan. Coba saja tanyakan pada anak SD “apakah perbuatan mencuri itu baik atau buruk?” semuanya niscaya akan menjawab “buruk” tetapi tidak semua anak yang menyampaikan jelek itu dengan serta merta tidak mencuri. Terlalu praktis untuk mengetahui pengatahuan tetapi tidak praktis untuk menerapkanya.

Kesalahan Proses Pendidikan dan Upaya Perbaikanya

Pertama sekali yang mesti kita sepakati yaitu para guru mempunyai kiprah utamanya yakni membelajarkan siswa (membuat siswa belajar) bukan sekedar memberi pelajaran, artinya membuat penerima didik mengalami proses pendidikan secara langsung. Hampir niscaya salah satu penyebab utama gagalnya sekolah menghasilkan anak didik yang berbudi (cerdas) yaitu alasannya kesalahan dalam proses pendidikan (pembelajaran). Kebanyakan para guru di lapangan tidak melakukan kiprah utamanya secara tepat. Yang semestinya membuat siswa berguru malah sebaliknya gurunya yang sibuk belajar.

Hadirnya Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), PAKEM, PKP, Kurikullum KTSP dan yang gres kini kurikullum 2013 dan aneka macam macam kecenderungan-kecenderungan mutakhir dalam bidang pendidikan yang menekankan pada keterlibatan siswa masih banyak yang salah diterjemahkan oleh para penyelenggara pendidikan. Banyak guru yang mengartikannya sebagai acara diskusi kelompok, kerja kelompok dan kegiatan-kigiatan yang menekankan pada keaktifan siswa tanpa adanya keaktifan guru secara pribadi di dalamnya. Inilah kekeliruan lainya dalam lingkungan pendidikan khususnya acara pembelajaran. Semestinya disadari bahwa semakin tinggi keaktifan siswa menuntut tingginya keaktifan guru dalam mengaktifkan siswanya. Artinya anak didik tidak akan aktif secara baik jika gurunya tidak aktif, bukan hanya sekedar menunjukkan tema diskusi kemudian gurunya tinggal diam, mengurusi urusan lain, baca koran, ngobrol dengan sesama guru, pergi belanja di pasar, pergi makan bakso, dan acara lainya yang sama sekali tidak membantu pengembangan potensi anak didik.

Melalui keaktifan atau keterlibatan pribadi dalam proses pembelajaran terbuka aneka macam kesempatan untuk menghayati nilai-nilai yang perlu. Siswa sanggup mengalami kedisiplinan dalam perbuatan, berbicara, kemandirian, keyakinan, ketaqwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, penghargaan terhadap waktu, penghargaan terhadap kerja, kegairaan belajar, kedisiplinan, kesetiakawanan sosial, semangat kebangsaan, dan masih banyak yang lainya tergantung pada kompetensi guru yang membelajarkan siswa. Mari kita semua maju bersama dalam mencerdaskan anak bangsa dan semoga pendidikan kita bisa bangun dan jaya. (Bung Viktor)

*) Ditulis oleh Viktor Juru. Mahasiswa PGSD FIP UNM.

Pahlawan, Masihkah Ada?

7:17:00 PM
Momentum hari pendekar ini menjadi peneguh kepada kita semua untuk terus berbuat yang baik Pahlawan, Masihkah Ada?
Momentum hari pendekar ini menjadi peneguh kepada kita semua untuk terus berbuat yang baik terutama dalam membela kebenaran meskipun pahit.
Setiap tanggal 10 di bulan November, bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan. Pertempuran di Surabaya pada tanggal yang sama di tahun 1945 itu menjadi penentu penetapannya oleh pemerintah. Arti pendekar berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) ialah orang yang menonjol alasannya ialah keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Jika ditilik dari insiden sehingga ditetapkannya hari pendekar tersebut, maka pengertian yang cocok ialah bahwa pendekar ialah pejuang yang gagah berani. Lalu, kalau demikian masihkah ada pendekar dikala ini?

Hampir semua hari nasional yang diperingati, tetap memunyai objek pelaku dari hari tersebut. Hari guru misalnya, tentu diperingati dengan antusias oleh para guru. Hari ibu, oleh para ibu, hari santri yang gres saja ditetapkan oleh pemerintah tentu disambut besar hati oleh para santri. Bagaimana dengan hari pahlawan? Mungkin dikala ini masih ada para veteran yang mencicipi pribadi usaha bangsa ini melawan penjajah dahulu, tetapi bagaimana 10 tahun ke depan, dikala tidak ada lagi para veteran kemerdekaan tersebut.

Banyak yang berusaha menyetujui pengertian pendekar sebagai orang yang menonjol alasannya ialah keberanian dan pengorbanan membela kebenaran. Beberapa station TV pun menggelar perhelatan dalam mencari pahlawan-pahlawan yang berada di tengah-tengah masyarakat. Muncullah pendekar lingkungan, pendekar demokrasi, pendekar pembangunan, dan lain sebagainya. Ada pula profesi yang semenjak dulu digelari pendekar tanpa tanda jasa, yakni guru. Dulu, disaat guru masih memeroleh honor pas-pasan, kendaraan yang dipakainya hanya sepeda dengan jarak yang harus ditempuhnya cukup jauh, di sekolah menulis di papan tulis menggunakan kapur, tapi semangat tetap tinggi, dan menjadi pola siswanya dan masyarakat. Indikator tersebut yang penuh dengan penderitaan, tampaknya pas menerima julukan pendekar tanpa tanda jasa tadi. Tapi, bagaimana dengan sekarang? Disaat honor sudah tidak mengecewakan tinggi, kendaraan roda empat, spidol dan In Focus di kelas, tapi semangat sebagian dari guru rendah, dan sebagian tak lagi menjadi teladan. Apakah masih layak menerima predikat pendekar tanpa tanda jasa dengan indikator yang tak lagi ada penderitaan?

Sejatinya, pendekar harus selalu ada. Sejatinya semua kita harus menjadi pahlawan. Bukan pendekar hasil pilihan dan polling pemirsa TV, bukan pula pendekar hasil pencalonan seseorang, tetapi pendekar yang selalu rela berkorban demi kebenaran meski tanpa diketahui orang lain atau tanpa liputan media. Apapun dan siapapun kita, harus mengedepankan kebenaran, bahkan memperjuangkannya. Berat memang, namun itulah tantangan menjadi seorang pahlawan. Seperti halnya para pendekar kemerdekaan kita, tentu tak ada niat sedikitpun menginginkan gelar pendekar disematkan pada mereka. Niatnya cuma satu, merdeka atau mati. Bahkan, tentu jauh lebih banyak lagi pendekar tak dikenal yang rela mati demi kemerdekaan dibandingkan yang kita ketahui namanya dikala ini.

Baca juga: Guru Bekerja dalam Diam

Hari pendekar tetap harus diperingati bangsa ini, meskipun tak ada lagi para pejuang kemerdekaan kita yang hidup. Peringatan tak sekadar seremonial upacara belaka, tetapi harus menjadi cemeti buat kita yang masih unjuk kebolehan dalam kepongahan dan pencitraan. Jadilah pendekar pada setiap profesi yang kita geluti. Sebagai pemimpin harus menjadi teladan, membantu yang lemah dan tertindas, serta tidak angkuh. Guru harus sanggup digugu dan ditiru serta tetap istiqamah dan ikhlash dalam menjalankan tugas. Profesi yang lainnya tentu memunyai kriteria atau indikator sehingga dan menjadi berkinerja baik. Momentum hari pendekar ini tentu menjadi peneguh kepada kita semua untuk terus berbuat yang baik terutama dalam membela kebenaran meskipun pahit. Selamat Hari Pahlawan kepada semua pendekar yang dikenal maupun tidak, yang telah tiada maupun yang masih hidup, yang pendekar pejuang maupun pendekar kebenaran.

*) Ditulis oleh Muh. Syukur Salman. Guru SD 71 Parepare

Kesenjangan Pendidikan Di Indonesia

4:51:00 AM
Pendidikan di Indonesia belum merata dan menyeluruh Kesenjangan Pendidikan di Indonesia
Pendidikan di Indonesia belum merata dan menyeluruh.
Sebagai pemerhati pendidikan bangsa, kami guru Indonesia yang tinggal di pedalaman Kalimantan beropini bahwa pendidikan di Indonesia belum merata dan menyeluruh. Hal ini sanggup kita amati perkembangan pendidikan di Indonesia potongan Tengah dan Timur. Di wilayah tersebut banyak anak usia sekolah yang terlantar dan tidak sekolah. Banyak sekolah yang gurunya hanya satu atau dua orang sedangkan kelas mencar ilmu ada 6 lokal. Memang sangat ironis kalau kita amati secara cermat ibaratnya tikus mati di lumbung padi.

Baca juga: Pendidikan Indonesia Ada di Peringkat ke-69

Negara Indonesia yaitu salah satu negara di dunia yang kaya akan sumber daya alam, tetapi kenyataanya anak bangsa dan rakyatnya masih banyak yang putus sekolah bahkan tidak sekolah. Sebagai materi perbandingan mari kita lirik sekolah- sekolah di perbatasan Kalimantan dan Irian Jaya. Kedua Pulau ini sungguh memperlihatkan bantuan kepada negara yakni sumber daya alamnya. Tapi dari segi pelayan pendidikan belum secara adil dirasakan penduduk dan anak bangsa yang menghuni kedua pulau ini. Kedua pulau ini juga kita rasakan hanya imbas dari para konglomerat bangsa yakni kemelaratan dan kebodohan.

Pada hal berdasarkan banyak sekali pandangan pakar sosiolog Metropolitan dan dunia pendidikan dalam obrolan diberbagai media elektronik mereka menyampaikan bahwa Bangsa yang maju yaitu bangsa yang sumber daya manusianya diperhatikan oleh Negara. Negara yang jaya yaitu Negara yang rakyatnya mengalami keadilan dan pemerataan dalam banyak sekali aspek kehidupan. Sedangkan rakyat yang sejahtera yaitu masyakat yang mengalami fasilitas dalam pelayanan dari Pemimpin bangsa. Dan bangsa yang kuat yaitu bangsa yang selalu memajukan forum pendidikan di Negaranya.

Dengan demikian maka tugas dunia pendidikan sangat penting untuk membuat kehidupan yang cerdas, tenang terbuka dan demokratis. Oleh sebab itu berdasarkan ekonomis kami sebagai guru pedalaman dan perbatasan beropini bahwa pembaharuan pendidikan harus dimulai dan dilakukan dari pendidikan lokal, nasional gres menuju Internasional. Dan kemajuan pendidikan suatu bangsa hanya sanggup dicapai melalui penataan sistem yang baik, terkoordinasi dan penilaian secara terus-menerus serta adanya pemerataan pelayanan pendidikan secara menyeluruh mulai dari tempat perkotaan hingga ke pelosok pedesaan, pedalaman dan perbatasan.

Aneh tapi nyata sebab di negara kita ini apa yang dirasakan dan alami kini tidak demikian. Guru masih bertumpuk di perkotaan. Bangunan bertingkat yang dirasakan hanya anak kota. Singkatnya pelayanan pendidikan kini masih bertumpuk di kota. Mengapa demikian ? Mengapa guru tidak betah untuk tinggal di pedesaan? Lagi-lagi pemerataan pelayanan dari semua aspek kehidupan belum merata dan menyeluruh.

Ketika penulis menyelusuri sekolah - sekolah di pedalaman Kalimantan khususnya di Propinsi Kalimantan Timur Kabupaten Berau penulis berjumpa dengan seorang teman guru yang betah dan tinggal menetap sebagai guru dan dokter di tempat itu. Bapak guru ini sunguh menghayati impian luhur bangsa Indonesia. Mungkin kita semua anak bangsa yang pernah sekolah, niscaya menghafal impian luhur itu. Tetapi kita belum bisa untuk mengejawantakan impian luhur itu. Tapi bapak guru yang mengajar di pedalaman ini sudah membuktikannya. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas dan terang menyatakan bahwa Tujuan awal bangsa Indonesia yaitu Mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sebagai guru kami tidak pungkiri upaya Pemerintah dalam peningkatan mutu pendidikan Nasional. Saat ini system sudah terprogram secara baik dan teratur. Tapi kegiatan itu yang dikelolah baik oleh guru-guru perkotaan tapi bukan guru di pedesaan mirip Irian dan Kalimantan. Perjuangan Pemerintah untuk kesejahteran guru dan dosen sudah diperhatikan secara serius oleh Pemerintah. Tapi sekali lagi kami katakan belum merata dan menyeluruh. Mengapa demikian ? Gaji guru dan dosen naik tapi guru dan dosen sudah terlanjur banyak utang di Bank-Bank Pemerintah maupun swasta. Mengapa mereka berutang ? Karena honor guru di bawah tahun 2010 tidak cukup untuk ditabung.

Baca juga: Belum Banyak Guru yang Memiliki Jiwa Mendidik

Selain guru juga pelayanan pendidikan bagi anak bangsa belum menyentuh anak pinggiran, anak jalanan, anak kolong dan anak pedalaman yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Contohnya bangunan sekolah di kota bentuknya Permanen dan bertingkat sedangkan bangunan sekolah di pedesaan masih dari kayu dan bambu yang berlantai tanah. Dan apalagi ketika ini mulai berlomba-lomba membangun Rintisan Sekolah Berstandar Internasional ( RSBI ) atau Sekolah Berstandar Nasional ( SBN ). Apakah sudah merata ? Jika sudah merata mengapa masih banyak anak yang putus sekolah ? Sampai kapan Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas secara Nasional ?

Hemat kami Sistem Pendidikan Nasional harus secara utuh, menyeluruh dan sanggup menyentuh masyarakat kecil di pedesaan. Sehingga dengan demikian sanggup mengangkat harkat dan martabat insan Indonesia secara menyeluruh dan bukan hanya berpusat di tempat perkotaan saja.

Kalau diamati dan ditinjau secara baik, maka bersama-sama pendidikan ketika ini belum adil, menyeluruh dan merata secara Nasional. Hal ini sanggup dibuktikan dengan lulusan dari tingkat dasar hingga Perguruan Tinggi yang masih mempunyai perbedaan yang sangat signifikan dalam dunia kerja. Mengapa hingga terjadi demikian ? Itulah pelayanan pendidikan yang tidak merata dan menyeluruh.

Sebagai materi perbandingan dapatlah kita telusuri dari hasil test atau ujian baik ujian sekolah maupun ujian nasional. Menurut catatan Human Development Report Tahun 2003 versi UNDP dalam Nurhadi dan Agus Gerrad Senduk,”peringkat HDI (Human Development Index) sumber daya insan berada dalam urutan 112. Menurut Third Matemathics and Sciense Study (TIMSS) melaporkan bahwa kemampuan matematika siswa Sekolah Menengah Pertama di Indonesia berada diurutan 34 dari 38 negara, sedangkan dalam bidang IPA berada dalam urutan 32 dari 38 negara yang disurvei” (hal-1). Untuk itu pembaharuan pendidikan merupakan tuntutan utama.

Pembaharuan pendidikan berdasarkan Depdiknas (2006) yang sering menerima sorotan yaitu “ Pembaharuan dalam bidang kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, dan metodologi pembelajaran, dalam rangka menuju tercapainya tujuan pembelajaran yaitu siswa mempunyai pengetahuan (logos), menghayati pengetahuan (etos) dan mengaktualisasi atau mengamalkan pengetahuannya (patos)” (hal-21).

Setiap akseptor didik yang mempunyai logos, etos dan patos yang sesuai dengan tuntutan zaman digolongkan sebagai akseptor didik yang mempunyai prestasi belajar. Karena Prestasi mencar ilmu hanya diperoleh dari motivasi dari setiap akseptor didik untuk menumbuhkan minat mencar ilmu yang harus ditumbuh kembangkan semenjak dari Pendidikan Dasar, sehingga akan tertanam dalam diri setiap akseptor didik. Berprestasi merupakan kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga terapan ilmunya akan bermanfaat dan dinikmati bagi orang banyak baik masyakat kota maupun masyakat pedesaan.

Menurut Depdiknas (2001 dijelaskan bahwa “Sebagian besar dari siswa tidak bisa menghubungkan antara apa yang mereka pelajari sebagai pengetahuan sanggup dipergunakan atau diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Peserta didik mengalami kesulitan memahami konsep akademik sebagaimana mereka biasa alami dan terima dalam pembelajaran yaitu memakai sesuatu ilmu yang abnormal dan ceramah. Sesungguhnya akseptor didik baik di desa maupun di kota harus dituntun untuk memahami konsep yang berafiliasi dengan dunia kerja dan lingkungan alam serta masyarakat pada umumnya dimana mereka akan hidup dan bekerja. Faktor internal yang sangat besar lengan berkuasa terhadap prestasi yaitu rendahnya motivasi atau minat mencar ilmu siswa untuk berprestasi “.

Faktor yang juga besar lengan berkuasa terhadap minat mencar ilmu siswa di sekolah yaitu lingkungan keluarga yang tidak menumbuhkan motivasi belajar. Motivasi mencar ilmu yang tinggi sungguh berkorelasi dengan hasil mencar ilmu yang baik, akan mensugesti peningkatkan minat mencar ilmu siswa di sekolah. Jika minat mencar ilmu siswa sanggup ditingkatkan, maka kualitas akseptor didik yang dibutuhkan akan terwujud dalam banyak sekali prestasi mencar ilmu siswa.

Strategi untuk meningkatkan motivasi mencar ilmu siswa sering menjadi kendala bagi para guru di sekolah sebab faktor internal maupun eksternal yang mensugesti minat mencar ilmu setiap akseptor didik.

*) Ditulis oleh Oleh : Yohanes Ruma S.Pd.SD, seorang guru yang ketika ini mengajar di SDN 002 Tanjung Redeb Berau Kalimantan Timur.

Beberapa Gagasan Wacana Pendidikan Kecerdikan Pekerti

6:27:00 PM
Pendidikan kebijaksanaan pekerti tidak hanya menyentuh otak Beberapa Gagasan Tentang Pendidikan Budi Pekerti
Pendidikan kebijaksanaan pekerti tidak hanya menyentuh otak, tetapi terutama menyentuh perasaan, menyentuh “hati“.
Pendidikan kebijaksanaan pekerti yang berhasil ialah pendidikan yang berhasil menciptakan anak merasa salah pada waktu beliau berbuat salah, sekalipun tidak ada orang lain yang menyalahkan perbuatannya tadi

Peraturan MENDIKBUD No. 21 Tahun 2015 untuk menerapkan pendidikan kebijaksanaan pekerti di sekolah-sekolah mulai tahun pelajaran 2015/2016 merupakan keputusan yang sangat bijaksana. Karakter menjadi kunci berhasilnya upaya pendidikan membangun peradaban. Salah satu langkah mencapai abjad yang baik ialah menumbuhkan kebijaksanaan pekerti siswa di sekolah. Masalahnya jangan hingga penilaian guru terhadap pendidikan kebijaksanaan pekerti disamakan dengan penilaian yang berlaku menyerupai penilaian mata pelajaran di sekolah.

Mengapa demikian ?

Karena secara pedagogis “ pendidikan kebijaksanaan pekerti “ lain wataknya dari pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah selama ini, menyerupai pelajaran-pelajaran bahasa, matematika, pengetahuan alam, dan sebagainya. Dalam sistem penilaian kita kini ini, kemajuan siswa kita penilaian menurut penguasaan mereka terhadap pengetahuan. Ini berlaku dari penilaian dalam bentuk ulangan biasa hingga ke penilaian dalam bentuk Ujian Nasional.

Dalam pendidikan kebijaksanaan pekerti yang menjadi ukuran bukan pengetahuan ihwal yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, tetapi kepatuhan kepada apa yang oleh masyarakat dianggap benar atau salah tadi. Dalam tingkat kedewasaan yang lebih tinggi, kepatuhan kepada norma-norma ihwal yang benar dan yang salah tadi tidak lagi ditentukan oleh ukuran-ukuran yang ditentukan masyarakat, tetapi oleh ukuran-ukuran yang ada dalam hati nurani diri.

Makara pendidikan kebijaksanaan pekerti intinya ialah bimbingan untuk menyebarkan hati nurani. Pendidikan kebijaksanaan pekerti bukan pelajaran ihwal sifat-sifat insan yang nyaris tepat dipertentangkan dengan insan yang jahat. Pendidikan kebijaksanaan pekerti tidak hanya menyentuh otak, tetapi terutama menyentuh perasaan, menyentuh “hati“. Ketajaman otak memang diharapkan untuk memahami norma-norma ihwal kebenaran dan kebohongan, ihwal kebaikan dan kezaliman, tetapi otak saja tidak cukup. Yang lebih penting daripada otak atau pengetahuan ialah kepekaan terhadap norma-norma atau nilai-nilai.

Baca juga: Peran Guru dalam Penumbuhan Budi Pekerti

Pendidikan kebijaksanaan pekerti yang berhasil ialah pendidikan yang berhasil menciptakan anak merasa salah pada waktu beliau berbuat salah, sekalipun tidak ada orang lain yang menyalahkan perbuatannya tadi. Pada sisi lain, pendidikan kebijaksanaan pekerti yang berhasil akan menciptakan anak merasa terganggu, setiap kali ia menyaksikan pelanggaran norma-norma oleh seseorang, sekalipun pelanggaran tadi tidak merugikan dirinya.

Pertumbuhan hati nurani menyerupai ini tidak sanggup dinilai dengan angka. Pertumbuhan hati nurani ini tidak sanggup diketahui melalui pertanyaan-pertanyaan ihwal apa yang benar dan apa yang salah. Pertumbuhan hati nurani atau abjad hanya sanggup diketahui melalui pengamatan, melalui observasi. Kumpulan dari pengamatan-pengamatan mengenai sikap anak inilah yang akan sanggup menawarkan citra mengenai ada-tidaknya, atau besar-kecilnya pertumbuhan hati nurani pada siswa.

Makara sistematika unik meng-evaluasi kemajuan siswa dalam pendidikan kebijaksanaan pekerti berbeda sama sekali dengan sistematika untuk meng-evaluasi kemajuan siswa dalam mata pelajaran yang mengutamakan pengembangan kemampuan kognitif semata-mata. Pendidikan kebijaksanaan pekerti merupakan mata pelajaran yang mengutamakan training kekuatan konatif, kekuatan membina tekad, dan kepekaan afektif, kepekaan terhadap nilai-nilai.

Saya sependapat dengan Mendikbud, bahwa pertumbuhan kebijaksanaan pekerti atau tabiat siswa harus dinilai. Sungguh sangat berbahaya membesarkan seorang siswa menjadi anak yang sangat cerdas, tetapi dalam dirinya dibiarkan berkembang tabiat seorang kriminal. Ini tidak sanggup dibiarkan. Harus ada keserasian antara perkembangan tabiat dengan perkembangan pengetahuan. Yang saya persoalkan ialah cara menilai keberhasilan siswa dalam pendidikan kebijaksanaan pekerti. Kelulusan anak dalam ujian tabiat atau kebijaksanaan pekerti harus dilakukan dengan cara yang berbeda dengan memilih kelulusan dalam Ujian Nasional.

Pendidikan kebijaksanaan pekerti berusaha membimbing anak untuk memahami, menerima, serta mentaati nilai-nilai etis, yaitu nilai-nilai ihwal yang benar dan yang salah. Disamping itu bawah umur juga harus kita bimbing juga untuk mengenal dan menghayati nilai-nilai estetis, yaitu nilai-nilai ihwal yang indah dan yang buruk, serta nilai-nilai synnoetis, yaitu nilai-nilai mengenai keserasian hubungan antar-pribadi ( inter-subject relationships).

Kepekaan dalam nilai-nilai synnoetis ini akan membentuk dalam diri anak kepekaan sosial. Makara pada kesannya insan yang berbudi, insan yang berwatak atau berkarakter ialah insan yang berani membela kebenaran, bisa mencicipi keindahan, dan bersedia menghargai insan lain, betapa pun bedanya orang lain tadi dengan dirinya sendiri.

Pendidikan kebijaksanaan pekerti ialah pendidikan ihwal nilai-nilai. Dan inilah yang kita abaikan selama ini di sekolah-sekolah kita.

*) Ditulis oleh Anwar Mulyana, M.Pd. Kepala SDN 2 Nagri Kidul Purwakarta

Menanamkan Cinta Lingkungan Hidup Semenjak Dini

4:20:00 AM
Menanamkan Cinta Lingkungan Hidup Sejak Dini Menanamkan Cinta Lingkungan Hidup Sejak Dini
Menanamkan budaya pelestari tersebut kepada bawah umur semenjak dini, baik di lingkungan rumah tangga, masyarakat, dan sekolah.
Kehancuran lingkungan sebagian besar alasannya ulah manusia. Manusia oleh Tuhan Yang Maha Kuasa diberi anugerah lebih daripada makhluk lain, terutama kecerdikan dan pikirannya sangat kuat pada kelestarian alam. Dengan kecerdikan budi dan nyata thinking insan bisa membangun alam lingkungan hidup menjadi habitat kesejahteraan komunitas penghuninya, tetapi jikalau mereka memakai kecerdikan pikiran yang hanya mengejar pemuasan nafsu pribadi maupun kolektif sesaat, dalam sekejap lingkungan alam yang diharapkan menyejahterrakan bersama justru berbalik menjadi ancaman peristiwa yang bisa memusnakan segalanya.

Memang alam semesta ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa sudah menjadi kodrat untuk kehidupan insan dan makhluk lain. Dalam Surat Al An’aam ayat 101 yang maknnya “Dia pencipta langit dan bumi…. Dia membuat segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu”. Namun oleh Tuhan Yang Maha Kuas, insan diberi kewajiban untuk memelihara dan menjaga kelesteriannya. Hal ini sangat terperinci diajarkan kepada ummat Islam dalam Surat Al A’raaf ayat 56 yang diterjemahkan: “Dan janganlah kau membuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya…” Selain itu juga diberi kiprah lebih rinci, yaitu menjaga keseimbangan lingkungan hidup, ibarat yang difirmankan-Nya dalam surat Al Hijr ayat 19, ”Dan kami telah menghamparkan bumi dan mengakibatkan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu berdasarkan ukuran.”

Mengapa insan yang berkeawajiban memelihara lingkungan hidup?

Kelestarian lingkungan memang sudah dititahkan oleh Sang Kholiq menjadi kiprah manusia. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah 30 yang berarti: “Sesungguhnya Aku hendak mengakibatkan seorang khalifah di muka bumi”. Urusan lingkungan hidup terperinci menjadi kiprah insan apa lagi pemikiran agama Islam sangat tegas disampaikan dalam Al Qur’an. Maka setiap Muslim/Muslimah diwajibkan memelihara lingkungan hidup, mengingat bahwa Islam yaitu agama rohmatan lil ‘aalamiin.

Sayyed Hossein Nasr, dosen studi Islam di George Washington University, Amerika Serikat. dalam dua bukunya “Man and Nature (1990)” dan “Religion and the Environmental Crisis (1993)”, yang disajikan sebagai berikut:“……Man therefore occupies a particular position in this world. He is at the axis and centreof the cosmic milieu at once the master and custodian of nature. By being taught the names ofall things he gains domination over them, but he is given this power only because he is thevicegerent (khalifah.) of God on earth and the instrument of His Will. Man is given the rightto dominate over nature only by virtue of his theomorphic make-up, not as a rebel againstheaven.” Oleh alasannya itu insan menempati posisi tertentu di dunia ini. Dia yaitu di sumbu dan centreof milieu kosmik sekaligus master dan kustodian alam. Dengan diajarkan nama-nama ofall hal ia mendapat dominasi atas mereka, tapi ia diberikan kekuatan ini hanya alasannya ia khalifah Allah di bumi dan instrumen kehendak-Nya. Manusia diberikan rightto mendominasi atas alam hanya berdasarkan kehendak-Nya theomorphic make-up, bukan sebagai seorang pemberontak againstheaven)

Jelaslah bahwa kiprah manusia, terutama muslim/muslimah di muka bumi ini yaitu sebagai khalifah (pemimpin) dan sebagai wakil Allah dalam memelihara bumi (mengelola lingkungan hidup).Andaikan Islam dilaksanakan dengan konsisten tentunya akan tercipta lingkungan hidup yang baik. Namun tanah air tercinta kita ketika ini semakin parah dieksploitasi sumber daya alamnya oleh orang-orang tidak bertanggung jawab tanpa memperhatikan dampak jelek yang terjadi. Pembakaran dan pembabatan hutan meraja lela, penambangan mineral tanpa perhitungan AMDAL, penggalian pasir, tanah, dan kerikil semakin membabi buta, pembuangan limbah berbahaya tanpa melihat dampaknya, dan lain-lain masih banyak lagi merupakan bukti kebodohan insan juga.

Mengutip disertasi Abdillah (2001), Surat Luqman ayat 20 Allah berfirman, “Tidakkah kau cermati bahwa Allah telah mengakibatkan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupanmu secara optimum. Entah demikian, masih saja ada sebagian insan yang mempertanyakan kekuasaan Allah secara sembrono. Yakni mempertanyakan tanpa alasan ilmiah, landasan etik dan referensi memadai.”Selain itu, Abdillah juga mengutip bahwa insan harus mempunyai ketajaman nalar, sebagai prasyarat untuk bisa memelihara lingkungan hidup.

Siapa saja yang bertanggung jawab atas kelestarian lingkungan hidup?

Upaya pelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang berkaitan dengan pengaturan dan pengelolaan lingkungan hidup, yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 perihal Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang tersebut kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 mengenai Analisis Dampak Lingkungan, PP No. 19 Tahun 1999 mengenai Pengendalian Pencemaran Danau atau Perusakan Laut, dan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 perihal Pengendalian Pencemaran Udara.

Semua upaya melestarikan lingkungan hidup sebagaimana yang telah saya uraikan di atas akan sanggup tercapai, jikalau masyarakat dan pemerintah sungguh-sungguh berusaha membangun dan menanamkan suatu budaya pelestari. Dengan semangat budaya pelestari tersebut senantiasa mempertimbangkan dampak baik dan buruknya dalam melakukan pembangunan dan pergunaan sumber daya alam. Ada pun yang baik yaitu masyarakat dan pemerintah harus bertindak selektif dan mengambil apa yang memang dibutuhkan secara hemaat sesuai kebutuhan. Dengan demikian semua pihak semakin sadar dan dengan sendirinya merasa sebagai cuilan dari alam yang senantiasa dijaga kelestariannya.

Salah satu hal yang perlu dilakukan yaitu menanamkan budaya pelestari tersebut kepada bawah umur semenjak dini, baik di lingkungan rumah tangga, masyarakat, dan sekolah. Misal, selain menyisipkan secara integral dalam kegiatan di rumah, lingkungan dalam informasi/komunikasi, dan pembelajaran tiap mata pelajaran di sekolah perihal duduk masalah lingkungan hidup, juga kebiasaan harian menjaga kebersihan, membuang sampah pada daerah yang tepat, memelihara tanaman, dan lain-lain.

Baca juga: Mencetak Generasi Cinta Lingkungan

Pemberian referensi dan pengarahan terus menerus oleh para pelestari lingkungann biar setiap orang terbangun semangat kesadaran untuk menghargai dan menghormati lingkungan daerah tinggalnya sangat diperlukan. Tidak sebatas itu saja, tetapi perlu juga membiasakan bawah umur untuk terlibat pribadi dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup ibarat partisipasi secara kelompok/individu dalam, menjaga kebersihan, kerja bhakti berkala, menanam dan memelihara flora pada pot di depan kelas, gerakan penanaman sejuta pohon, reboisasi, penanaman taman kota yang diikuti oleh pelajar dan mahasiswa, dan sebagainya sanggup menumbuhkan kesadaran pada jiwa anak dan cowok secara mendalam.

Penanaman budaya pelestari lingkungan yang dilakukan semenjak dini merupakan suatu upaya yang sangat efektif dalam mengatasi duduk masalah kerusakan lingkungan hidup yang terjadi. Tentunya di sini membutuhkan partisipasi dan tanggung jawab orang bau tanah dalam keluarga dan juga dalam seluruh proses pendidikan di dingklik sekolah. Dengan demikian, melalui adaptasi yang dilakukan secara kontinyu tersebut generasi yang akan tiba semakin menyadari akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Selanjutnya, proses penyadaran tersebut juga sanggup dilakukan sebagai kebiasaan yang turut membentuk rasa tanggung jawab masyarakat dalam memanfaatkan lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas dijelaskan bahwa: “Pendidikan lingkungan hidup yaitu suatu proses untuk membangun populasi insan di dunia yang sadar dan peduli terhadap lingkungan total (keseluruhan) dan segala masalah yang berkaitan dengannya, dan masyarakat yang mempunyai pengetahuan, ketrampilan, perilaku dan tingkah laku, motivasi serta janji untuk bekerja sama , baik secara individu maupun secara kolektif , untuk sanggup memecahkan banyak sekali masalah lingkungan ketika ini, dan mencegah timbulnya masalah baru.” (UNESCO, Deklarasi Tbilisi, 1977)

Apa saja yang sanggup diperoleh dari penanaman cinta lingkungan hidup?

Andai semua institusi pendidikan mulai dari TK/PAUD hingga perguruan tinggi tinggi telah menanamkan kesadaran kepada semua warga institusi tersebut maupun masyarakat stake holder yang sering berkunjung ke forum yang bersangkutan, selain membuahkan hasil kesadaran bermasyarakat di masa mendatang, manfaat yang sanggup dipetik pribadi antara lain berupa:
1.Suasana institusi semakin aman dan menyenangkan alasannya selalu bersih, rapi, dan higinis
2.Penghematan air, kelancaran sanitasi dan pemanfaatan limbah air untuk menyiram tanaman
3.Udara selalu segar alasannya poduksi oksigen oleh flora hias maupun flora pelindung berlangsung setiap hari
4.Kesejukan udara semakin baik alasannya dedaunan flora menahan pancaran cahaya matahari secara langsung
5.Ada produksi konsumsi yang bisa dinikmati bersama dari tanaman, baik berupa akar, daun, bunga, atau buah
6.Tanaman hias maupun flora pelindung, atau flora produksi sanggup dijadikan laboratorium biotik
7.Jika memungkinkan hasil flora bisa menjadi materi dasar produssi kuliner atau obat herbal (latihan wira usaha)
8.Membiasakan warga sekolah/kampus untuk memanfaatkan setiap jengkal tanah demi kesejahteraan hidup
9.Menanamkan kesadaran bahwa insan harus menyikapi alam lingkungan dengann arif dan bijaksana, sehingga tidak selalu terjadi ketergantungan pada alam
10.Memberikan imbas nyata kepada masyarakat sekitar
11.Melatih dan membiasakan semua warga institusi selalu rajin bekerja dan berusaha sesuai kesempatan yang ada

Literatur
1.Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 perihal Pengelolaan Lingkungan Hidup.
2.Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 mengenai Analisis Dampak Lingkungan
3.PP No. 19 Tahun 1999 mengenai Pengendalian Pencemaran Danau atau Perusakan Laut
4.Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 perihal Pengendalian Pencemaran Udara.
5.Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
6.https://filippaarjag.blogspot.com//search?q=pelestarian-lingkungan-hidup

*) Ditulis oleh WIDODO SANTOSO, S.Pd.M.Pd. Kepala SDN 4 Mangkujayan Kabupaten Ponorogo

Pengamalan Pancasila Di Zaman Modern

7:40:00 AM
 Pada kala global ini anak yang gres lahir pun sudah berkenalan dengan teknologi Pengamalan Pancasila di Zaman Modern
Saat ini jangankan diamalkan, teks Pancasila saja orang-orang penting tidak hafal, apa lagi orang awam.
Kenyataan ungkapan bahwa “dunia ini sempit” memang sudah terwujud. Pada kala global ini anak yang gres lahir pun sudah berkenalan dengan teknologi. Sekecil apa pun insan (berperadaban modern) kini telah mengenyam dan memenfaatkan teknologi. Tidak ada seorang insan yang bisa membendung meluasnya teknologi modern di zaman ini. Dalam hitungan detik perubahan teknologi sudah meninggalkan kita jikalau kita tidak mengikuti perkembangannya.

Kemajuan zaman yang seolah meringkas jagat raya menjadi genggaman manusia, segala sesuatu bisa dideteksi dengan cepat dan mudah. Seiring dengan pesatnya perkembangan IPTEK, proses pendidikan juga mengalami perubahan signifikan. Cara berguru dan media berguru yang tersebar di media masa bisa diserap melalui jejaring sosial oleh siapa pun secara gratis.

Layanan web jejaring sosial kini menjadi penggalan integral bagi masyarakat modern umumnya dan komunitas pengguna internet khususnya. Ada berbagai layanan web jejaring sosial yang bisa digunakan. Umumnya orang Indonesia hanyalah memakai Twitter, Facebook, MySpace, atau mungkin Google+, walau bekerjsama berbagai jejaring sosial di luar sana yang masing-masing web mempunyai segmen masyarakat masing-masing.

Transformasi teknologi menimbulkan sistem pendidikan berubah. Metodologi pengajaran secara otomatis mengikuti arus perubahan sampai melampaui batas-batas teori. Pedagogik mengarahkan orang-orang modern berguru secara belajar sendiri di semua negara maju. Persyaratan gres yang dibutuhkan dalam mencari solusi, teknologi memainkan tugas yang semakin penting untuk diimplementasikan. Hal ini sudah dimanfaatkan untuk pendekatan pembelajaran gres seperti: kelas onlne, kuliah online, kursus online masif terbuka , mobile learning, dan lain sebagainya. Pemanfaatan jejarang sosial, menyerupai email, instagram, youtube, filkr, twiter, dll. juga menjadi media komunikasi dan media belajar sendiri yang sangat besar jumlah penggunanya.

Pesatnya kemajuan IPTEK pada dekade global kini menimbulkan terjadinya revolusi pendidikan, yaitu suatu akhir dari teknologi yang mengarahkan pada transformasi radikal di sekolah-sekolah dan universitas. Tanpa diseting pun revolusi tersebut otomatis mengubah sistem, alasannya yakni tak ada seorang yang bisa membendung penggunaan dan efek IPTEK. Kenyataan yang terjadi di setiap waktu sudah dipahami bahwa teknologi gres telah mengubah gaya hidup manusia, budaya, dan lingkungan kerja. Saat ini telah banyak individu yang memutuskan untuk mengadopsi perubahan melalui IPTEK tersebut.

Revolusi pendidikan menyerupai itu bisa berlangsung di lingkungan keluarga, lingkungan RT/RW, kafe- kafe, di tempat-tempat umum, di kantor-kantor, dan sebagainya. Hal ini dilakukan oleh setiap orang yang memutuskan untuk mengambil pembelajaran berdasarkan kehendak mereka masing-masing dan tidak terbatas usia maupun status sosial. Teori live long education tertanam secara tak sadar menempel pada diri mereka, dan mereka menemukan sendiri di jejaring sosial internet maupun produk berbasis teknologi lain yang sangat gampang untuk membantu mereka menemukan goal education.

Akibat pesatnya perkembangan internet dengan mobile atau portabel menimbulkan orang bebas mengakses data dengan gampang di dunia maya, otomatis ia akan memperoleh dan menyerap ilmu atau isu pribadi dari tablet iPhone, laptop, atau komputer yang digunakan. Kebebasan memperoleh isu yang risikonya menjadi konsumsi sebagi ilmu tersebut semakin berkembang dan menimbulkan semakin kecanduan. Tentu saja selain hal-hal positif, sesuatu yang negatif dan tabu ikut di upload sesuai ide, kultur, dan abjad mereka, yang secara sadar maupun tidak sdar dibuka dan dinikmati/dikonsumsi oleh para user internet.

Seiring perjalanan waktu dan perkembangan IPTEK, pemanfaatan teknologi tanpa diimbangi penguatan abjad moral positif kepada setiap insan di negeri ini, bukan kebaikan yang diperoleh, justru kehancuran yang akan dipetik. Orang mempunyai kemampuan luar biasa dalam mencipta dan memakai IPTEK yang seharusnya secara normal ideal membawa dampak kesejahteraan hidup, bisa jadi berbalik menjadi senjata makan tuan bagi insan sendiri.

Dengan penguatan abjad yang ditanamkan pada jiwa setiap orang, tentu kemajuan IPTEK membawa kesejahteraan hidup bersama. Agar tidak tersesat dan terseret derasnya arus globalisasi, insan harus berakal memanfaatkan dan menyikapi kemajuan teknologi. Dalam hal ini semua orang selain mempelajari dan memanfaatkan IPTEK, yang tidak kalah penting harus memperkuat IMTAQ dan kebijaksanaan pekerti masing-masing. Mana kala insan mempunyai dan sedang mengikuti keadaan dengan teknologi canggih yang membuai kehidupan untuk berbuat menuruti kemauan, hanya IMTAQ dan kebijaksanaan pekerti sebagai kendali.

Dalam dunia pendidikan yang diarahkan kepada para pelajar, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan meresmikan aktivitas Penumbuhan Budi Pekerti (PBD) di Jakarta, Jumat (24/7). Program tersebut merupakan adaptasi sikap dan sikap positif yang diterapkan terhadap siswa sekolah semenjak masa orientasi penerima didik gres sampai masa kelulusan. Ada enam tahapan alur penerapan aktivitas penumbuhan kebijaksanaan pekerti, yakni tahap pengajaran, pembiasaan, pembinaan untuk bisa konsisten, proses pembiasaan, pembentukan karakter, dan menjadi budaya. (Jakarta, CNN Indonesia).

Penanaman kebijaksanaan pekerti tidak ada guna dan keuntungannya jikalau hanya ditanamkan kepada para pelajar di sekolah. Penanaman kebijaksanaan pekerti seharusnya sudah dibiasakan pada setiap insan penduduk Indonesia dalam segala pola pikir, pola bicara, dan pola tindak, sehingga ada kesinambungan antara generasi bau tanah dan generasi penerus bangsa ini.

Jika pemakai alat canggih di zaman modern ini sudah membekali diri dengan sikap mental yang kuat, tentu tidak ada penipuan dengan telepon seluler, tidak ada pembobolan ATM, tidak ada anggota dewan yang tertangkap kamera wartawan menikmati BF saat sidang, tidak ada korupsi, tidak ada pengguna dan pengedar narkoba, dan lain-lain. Pemakai alat canggih selalu positif thinking sehingga membuahkan kesejahteraan pribadi, keluarga, dan bangsa.

Sebenarnya abjad bangsa Indonesia sudah tersurat secara rinci dan terang walau singkat. Aturan tersebut sangat fleksibel untuk sepanjang masa dan secara aturan diundangkan menjadi dasar negara dan undang-undang dasar negara. Dalam konspirasi nasional tersebut selain ada lima agama yang disahkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, satu-satunya Dasar Negara Republik Indonesia, yakni Pancasila.

Baca juga: Manfaat Pendidikan Pancasila Dalam Membangun Karakter Bangsa

Pancasila sebagai pandangan hidup, pedoman hidup, falsafah hidup, dan pemersatu bangsa, seharusnya diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh semua warga negara, terutama para pejabat negara, tokoh masyarakat, dan pemuka agama, alasannya yakni mereka menjadi barometer kelompok sosial di bawahnya. Nilai-nilai luhur tiap sila Pancasila yang merupakan tabiat dan kepribadian bangsa Indonesia sesuai impian proklamasi 17 Agustus 1945 harus diamalkan secara murni dan konsekuen. Sebagai pola pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari sangat sempurna saat dituangkan dalam 36 butir Pancasila, namun kini sudah banyak dilupakan.

Pertanyaannya sekarang, mengapa semua orang selalu membahas karakter, moral, kebijaksanaan pekerti, dan sejenisnya? Seringnya ada pembahasan para pakar ihwal karakter, moral, kebijaksanaan pekerti, dll. tersebut memang sudah terjadi ketidakimbangan antara harapan dan kenyataan ihwal hal yang dibahas tersebut. Saat ini jangankan diamalkan, teks Pancasila saja orang-orang penting tidak hafal, apa lagi orang awam.

Jawaban yang sempurna bukan kata-kata, melainkan berupa tindakan sadar yang harus dilakukan bangsa Indonesia secara serentak yakni pengamalan Pancasila ditegaskan lagi oleh pemerintah untuk kembali ke jati diri bangsa secara murni dan konsekuen. Ideologi bangsa yang diabaikan sendiri oleh pemiliknya, tidak inpas jikalau kita menuntut kemajuan teknologi bisa membawa bangsa ini menikmati negara yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofur. Kalau kita tidak segera insyaf dan kembali ke impian kemerdekaan yang diperjuangkan para nenek moyang kita, kehancuran sudah siap melanda kita.

Jika semua penduduk Indonesia sudah mengamalkan Pancasila dan beribadah berdasarkan agama masing-masing (lima agama yang disahkan Undang-Undang Dasar 1945), kemajuan teknologi niscaya menjadi media dan sarana menuju kemajuan bangsa dan negara. Kembali ke sifat dan karaktr bangsa yang tertuang dalam Pancasila akan lebih baik yang bisa dipetik. Semakin jauh bangsa kita melupakan dan mengabaikan dasar negara yang dibentuk dengan tinta darah para pejuang, tak heran jikalau makin jauh ketenteraman dan kesejahteraan sanggup kita tempuh.

*) Ditulis oleh WIDODO SANTOSO, S.Pd.M.Pd. Kepala SDN 4 Mangkujayan Kabupaten Ponorogo

Benarkah Abjad Susila (Budi Pekerti) Harus Diajarkan?

9:25:00 PM
Karakter atau budi pekerti bukan materi pelajaran, tetapi perbuatan yang harus ditanamkan dari generasi awal ke generasi berikutnya.
Karakter moral atau budi pekerti pengertiaan dari Wikipedia, ensiklopedia internet: Karakter moral atau huruf ialah penilaian kualitas moral yang stabil individu tertentu. Konsep huruf sanggup menyiratkan aneka macam atribut termasuk adanya atau kurangnya kebajikan menyerupai empati, keberanian, ketabahan, kejujuran, dan kesetiaan, atau sikap yang baik atau kebiasaan. Karakter moral terutama mengacu pada himpunan kualitas yang membedakan satu individu dari yang lain - meskipun pada tingkat budaya, set sikap moral untuk yang satu menganut kelompok sosial sanggup dikatakan untuk bersatu dan mendefinisikannya budaya yang berbeda dari orang lain. Psikolog Lawrence Pervin mendefinisikan huruf moral sebagai "disposisi untuk mengekspresikan sikap dalam pola yang konsisten dari fungsi di aneka macam situasi".

Kata "karakter" berasal dari kata Yunani Kuno "Charakter", mengacu pada tanda terkesan pada koin. Kemudian tiba berarti titik di mana satu hal diberitahu terpisah dari orang lain. Ada dua pendekatan dikala berhadapan dengan huruf moral. (1) Etika Normatif melibatkan standar moral yang mengatakan sikap benar dan salah. Ini ialah tes sikap yang sempurna dan menentukan apa yang benar dan salah. (2) Etika terapan melibatkan isu-isu spesifik dan kontroversial bersama dengan pilihan moral, dan cenderung melibatkan situasi di mana orang-orang baik untuk atau terhadap problem ini.

Sebenarnya setiap insan semenjak zaman Nabi Adam sudah punya huruf mulia, yaitu huruf dasar yang paling hakiki yang diturunkan oleh Sang Maha Pencipta, yaitu aturan tingkah laris benar menurut agama samawi. Jika kita dikembalikan pada fatwa tiap agama samawi, niscaya semua agama mengajarkan perihal perbuatan baik dan tawaran untuk melaksanakan, juga perihal akhir perbuatan buruk dan kewajiban untuk meninggalkannya (dalam fatwa agama Islam setiap muslim diwajibkan mempunyai akhlaqul karimah), dampakanya kalau yang baik dilaksanakan dan yang buruk ditinggalkan niscaya membawa ketenteraman dan kesejahteraan hidup insan di dunia dan di akherat secara universal (rahmatan lil ‘aalamiin).

Setiap komunitas/etnik punya impian yang sama, yaitu semua anggota komunitas sanggup melakukan pola kehidupan normatif sesuai dengan huruf kolektif yang dimiliki. Dalam hal ini kewajiban orang cukup umur harus bersikap jujur selain sebagai pelaku karakter, pemberi contoh, penasihat, pemberi worning, pemberi penghargaan dan hukuman secara adil terhadap diri mereka masing-masing dan terhadap orang lain terutama kepada generasi yang lebih muda.

Sebelum menetapkan sesorang mempunyai huruf impian kolektif atau tidak, setiap anggota masyarakat cukup umur harus menengok diri sendiri apakah ia sudah berkarakter mulia atau belum, sehingga di dalam kehidupan bermasyarakat tidak timpang dan tidak saling menyalahkan. Bisa jadi terbentuknya huruf menyimpang yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sanggup meresahkan masyarakat luas dan divonis berkarakter buruk, gotong royong hanyalah imbas dari perbuatan orang cukup umur yang menjadi anutan atau teladan nasional yang sudah menyimpang dari norma.

Karakter atau budi pekerti bukan materi pelajaran, tetapi perbuatan yang harus ditanamkan dari generasi awal ke generasi berikutnya sampai final zaman. Karakter tidak perlu diajarkan dalam bentuk pembelajaran, sebab terbentuknya huruf ialah perbuatan rutin dan latah dilakukan setiap hari. Guru tidak perlu mengajarkan dalam kelas secara teoritik sebab sudah masuk (include) dalam pembelajaran semua mata pelajaran dan kehidupan sosial. Nilai-nilai huruf menurut budaya bangsa Indonesia sepert: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kretif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu. Semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/berkomunikasi, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan dan sosial, serta tanggung jawab sanggup tertanam dalam jiwa siswa kalau hal itu dibiasakan dalam kehidupan sehingga tumbuh menjadi kebiasaan.

Siapa yang harus mempunyai huruf mulia? Semua anggota masyarakat (tua-muda, pejabat-rakyat, berpendidikan-tidak berpendidikan, beragama samawi-beragama ardhi) harus mempunyai huruf moral mulia/akhlaqul karimah. Tindakan salah kaprah yang sampai kini ialah selalu membahas kesalahan pelajar/maha siswa sebab dicap berkarakter buruk sehabis ada info tawuran pelajar, dekandensi moral pemuda, mahasiswa pengguna narkoba dan melayani sex komersial, dll., kemudian mencetuskan ide-ide atau program-program pendidikan karakter. Seharusnya bukan kesalahan para pemuda, pelajar, dan mahasiswa saja yang menjadi trading topic setiap mucul info negatif, kesalahan orang-orang kondang yang seharusnya dihormati yang lebih diutamakan untuk rehabilitasi dan perlindungan penularannya.

Sebenarnya semua insan dikala dilahirkan dalam kedaan fitroh/suci. Datangnya dampak buruk yang dampaknya menjadi huruf bangsa (karena terlatih dan menempel pada jiwa generasi muda) justru dari orang dewasa, sebab kodrat insan dan binatang secara naluri/instink sifat genetika induk mempengaruhi keturunan. Maka gotong royong yang meyimpang lebih dulu ialah generasi tua. Jika nilai-nilai huruf di atas sudah dilakukan dan tertanam dengan benar oleh orang-orang yang lahir dahulu, tentu generasi muda tidak perlu dikhawatirkan dan tidak pelu diadakan pendidikan huruf secara khusus.

Masalah yang terjadi kini ialah sikap masyarakat sudah tidak normatif lagi, dan para pemuda, mahasiswa, serta pelajar banyak yang amoral. Para pejabat banyak yang korupsi, kejahatan semakin menjadi-jadi, sementara keadilan dunia semakin sulit dicari. Kenakalan remaja merajalela, begal motor dan geng motor selalu meneror, dan pemerkosaan semakin brutal. Banyak orang yang lupa pesan Pujanagaaga Mataram, Ronggowarsito: “Anemahi zaman edan, ewuh aya ing pambudi, ora ngedan tan kumanan. Sak beja-bejane wong kang lali isih beja wong kang eling lan waspada.” (“Menemuhi situasi gila, repot untuk memilih, kalau tidak ikut gila tidak menerima bagian. Seuntung-untungnya orang lupa, masih untung orang yang selalu ingat dan waspada”)

Revolusi moral tidak segera dimulai berarti sengaja bunuh diri. Suatu bangsa akan semakin terpuruk mana kala huruf moral penduduknya tak terkontrol dan terkendali. Situasi dan kondisi yang semakin menjadi-jadi akan membentuk huruf moral/budi pekerti membunuh generasi yang berdampak pada kehidupan mendatang.

Tidak ada istilah terlambat untuk kembali ke kodrat. Masyarakat yang ingin bangun merevolusi diri secara bersama dan serentak mengubah watak buruk dan bertobat, jalan keluar dari keterpurukan masih terbuka. Hal ini tinggal bagaimana dan kapan memulai, bukan hanya sekedar bicara pendidikan huruf yang didengungkan santer. Sergera bertindak positif solusi niscaya ada. Menunda sama halnya dengan apatis, membiarkan berarti menununggu kiamat tanpa ikhtiar.

Bagaimana menanamkan jiwa berkarakter moral/berbudi pekerti mulia? Resep untuk mengembalikan bangsa ini ke jati diri sesuai harapan, yang harus dilaksanakan secara serentak dan berkoordinasi antara lain melalui:

1. Konsistensi terhadap sistem semerintahan yang benar oleh semua pihak
2. Ketegasan penegak aturan dalam menegakkan keadilan
3. Keteladanan pegawanegeri negara dan tokoh masyarakat
4. Kesadaran penduduk terhadap implementasi norma agama, norma sosial, dan kelestarian lingkungan
5. Menciptakan kerukunan hidup bermasyarakat secara mikro maupun makro
6. Penanaman akhlaqul karimah dan kaidah kehidupan bermasyarakat semenjak dini
7. Pembiasaan akhlaqul karimah dalam kehidupan rumah, sekolah, dan masyarakat
8. Melestarikan sikap tolong menolong dan gotong royong
9. Membiasakan sopan santun dalam segala bentuk berkomunikasi dan bertingkah laku
10. Menghargai dan melestarikan budaya bangsa
11. Mengutamakan musyawarah dalam mencapai mufakat
12. Saling menghargai dan menghormati sesama warga negara.

*) Ditulis oleh Widodo Santoso, S.Pd.,M.Pd. Kepala SDN 4 Mangkujayan, Kabupaten Ponorogo

Pengalaman Kala Kemudian Besar Lengan Berkuasa Terhadap Minat Mencar Ilmu Siswa

6:01:00 AM
Guru profesional tidak pernah lupa bahwa pengalaman masa kemudian kuat terhadap minat berguru siswa.
Setiap insan secara sadar maupun tidak sadar selalu memandang bahwa pengalaman masa kemudian yang pernah mereka alami sangat berharga bagi dirinya. Pengalaman tersebut menjadi catatan yang sulit dilupakan di dalam memori otaknya, baik yang terkesan menghasilkan/ menggagalkan, menyenangkan/menyedihkan, menentramkan/menyeramkan, dan sebagainya. Semua pengalaman tersebut bisa berdampak positif maupun negatif.

Bagi seorang anak yang mempunyai IQ di atas 100, pengalaman jelek masa kemudian bisa jadi pemacu minat untuk berguru lebih intensif dengan menghindari kesalahan yang pernah dilakukan, tetapi bagi anak yang mempunyai IQ semakin kurang dari 100 kegagalan dianggap sebagai suatu petaka yang menjadikannya stress berat dan selalu terbayang kegagalan yang pernah dialami. Misal, seorang anak yang gres berguru berdiri ternyata ia jatuh dan mengakibatkan anggota badannya terasa sakit sebab membentur dinding, bisa jadi anak tersebut bangun lagi sesudah rasa sakitnya hilang, atau menjadikannya enggan berlatih berdiri lagi sebab apa yang dilakukan dianggap kesalahan yang tidak akan diulang. Maka selaku orang sampaumur yang sedang mengasuh anak menyerupai itu harus berhati-hati dalam menenangkan anak dan berusaha memotivasi mereka biar mau berlatih lagi.

Memasuki usia 2-5 tahun yaitu masa perkembangan ingatan yang luar biasa pesatnya. Pengalaman yang bisa kuat terhadap seorang anak tidak hanya pengalaman pribadi saja, tetapi pengalaman orang lain yang pernah dilihat atau didengar juga menjadi catatan memerinya, sebab mereka telah bisa berkomunikasi secara verbal, non verbal, maupun kontekstual. Hal ini bisa diamati ketika mereka mendengar cerita/larangan orang bau tanah sering mereka memberikan kepada orang lain bahwa cerita/larangan tersebut menjadi sesuatu yang harus dihindari supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, atau mungkin mereka suka menirukan ucapan atau tingkah laris orang atau binatang yang pernah dilihat atau didengarnya. Arno F. Wittig (Psychology of Learning 1981) : Perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam tingkah laris suatu organisme sebagai hasil belajar. Pada usia ini pengasuh anak harus lebih berhati-hati sebab mereka mengalami fese imitasi atau fase menentang pertama yang kadang dianggap badung oleh orang dewasa. Maka segala bimbingan, arahan, nasihat yang diberikan harus benar, jujur, dan memotivasi mereka ke arah kebaikan dan perkembangan mental anak asuhannya.

Saat masuk sekolah dasar pengetahuan siswa sebelumnya sanggup membantu atau menghalangi belajar. Siswa tiba ke sekolah dengan pengetahuan, keyakinan, dan sikap yang diperoleh dari contoh kehidupan lain dalam kehidupan sehari-hari/bermain di TK/PUD. Sebagai siswa mereka membawa pengetahuan tersebut untuk berguru di kelas yang dipola dengan banyak sekali jadwal kegiatan. James Patrick Chaplin ( Dictionary of Psychology 1985 ): Belajar dibatasi dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berguru yaitu perolehan perubahan tingkah laris yang relatif menetap sebagai jawaban latihan dan pengalaman. Rumusan kedua berguru ialah proses memperoleh respons-respons sebagai jawaban adanya latihan khusus. Hal itu menghipnotis bagaimana mereka dalam mendapatkan dan menginterpretasikan apa yang mereka pelajari. Jika pengetahuan siswa sebelumnya telah kuat dan akurat ketika diaktifkan pada ketika yang tepat, mereka menyediakan dasar yang kuat untuk membangun pengetahuan baru, namun ketika pengetahuan tersebut (inert) lamban, tidak cukup untuk melaksanakan tugas, keaktifan tidak tepat, atau tidak akurat, pengalaman tersbut justru mengganggu atau menghambat pembelajaran baru.

Bagaimana siswa mengatur imbas pengetahuan? Bagaimana mereka berguru dan menerapkan apa yang mereka ketahui? Siswa secara alami membuat koneksi antar banyak sekali pecahan pengetahuan. Ketika koneksi yang membentuk struktur pengetahuan yang akurat dan bermakna terorganisir, siswa lebih bisa mengambil dan menerapkan pengetahuan mereka secara efektif dan efisien. Sebaliknya, ketika pengetahuan terhubung dengan cara yang tidak akurat atau acak, siswa sanggup gagal untuk mengambil atau menerapkannya dengan tepat.

Motivasi berguru siswa menentukan, mengarahkan, dan memelihara apa yang mereka lakukan untuk belajar. Sebagai siswa masuk sekolah dan mereka memperoleh otonomi yang lebih besar atas apa, kapan, dan bagaimana mereka berguru dan terus belajar. Motivasi memainkan kiprah penting dalam membimbing arah, intensitas, ketekunan, dan kualitas sikap berguru di mana mereka terlibat. Ketika siswa menemukan nilai positif dalam tujuan pembelajaran atau dalam suatu kegiatan, mereka berharap untuk berhasil mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan dan mencicipi santunan dari lingkungan mereka, maka mereka cenderung merasa sangat termotivasi untuk berguru lebih baik lagi.

Untuk membuatkan penguasaan materi pelajaran, siswa harus memperoleh keterampilan komponen, praktek mengintegrasikan, dan mereka tahu kapan harus menerapkan apa yang telah mereka pelajari. Siswa harus membuatkan diiri, tidak hanya keterampilan komponen dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang kompleks, namun mereka juga harus berlatih menggabungkan dan mengintegrasikan untuk mengem-bangkan kefasihan lebih besar dan (automatically) dengan sendirinya. Pengaruh dari pengalaman tersebut siswa harus berguru kapan dan bagaimana menerapkan keterampilan dan pengetahuan mereka belajar. Menangkap tanda-tanda jiwa tersebut seorang guru sebagai pembimbing belajarharus memahami bahwa hal ini menjadi sangat penting ketika membuatkan kesadaran dari unsur-unsur penguasaan mereka sehingga sanggup membantu para siswa bisa berguru lebih efektif.

Praktek yang sanggup kita arahkan pada pencapaian tujuan sanggup ditambah dengan umpan balik yang ditargetkan meningkatkan kualitas berguru siswa. Belajar dan kinerja terbaik siswa kita pupuk ketika mereka terlibat dalam praktek yang berfokus pada tujuan atau kriteria tertentu, menargetkan tingkat yang sempurna dari tantangan, dan kuantitas yang cukup dan frekuensi untuk memenuhi kriteria kinerja. Kegiatan praktek harus dibarengi dengan umpan balik yang secara eksplisit berkomunikasi ihwal beberapa aspek dari siswa. Kinerja relatif terhadap kriteria sasaran khusus menyediakan info untuk membantu kemajuan siswa dalam memenuhi kriteria tersebut, dan kalau diberikan pada waktu dan frekuensi yang memungkinkan maka akan menjadi sangat bermanfaat untuk meningkatkan proses dan hasil belajar.

Peningkatan ketika siswa berinteraksi dengan iklim sosial, emosional, dan intelektual sangat menghipnotis proses dan hasil berguru mereka. Siswa selain makhluk intelektual mereka juga makhluk sosial dan emosional. Mereka masih membuatkan banyak sekali keterampilan intelektual, sosial, dan emosional, sementara kita tidak bisa mengendalikan proses perkembangan, melainkan hanya bisa membimbing, mengarahkan, dan melatih. Kita sanggup membentuk aspek intelektual, sosial, emosional, dan fisik iklim kelas dengan cara menyesuaikan dengan tahapan perkembangan mereka. Banyak penelitian telah memperlihatkan bahwa iklim yang dibuat/dipola/diprogram mempunyai implikasi bagi siswa yang belajar. Iklim negatif sanggup menghambat pembelajaran dan kinerja, tetapi iklim positif sanggup memperlihatkan energi positif berguru siswa. Tugas guru di sini yaitu membuat iklim yang bisa menghambat energi negatif dan meningkatkan energi positif.

Untuk menjadi pebelajar mandiri, siswa harus berguru untuk memantau dan menyesuaikan pendekatan mereka dalam belajar. Peserta didik sanggup terlibat pribadi dalam banyak sekali proses metakognitif untuk memonitor dan mengontrol. Mereka belajar-menilai kiprah di tangan, mengevaluasi kekuatan dan kelemahan mereka sendiri, merencanakan pendekatan mereka, menerapkan dan memantau banyak sekali strategi, dan merenungkan sejauh mana pendekatan mereka ketika ini sebagai upaya peningkatan kinerja. Mungkin hal ini di lingkungan sekolah kita siswa cenderung untuk tidak terlibat dalam proses ini secara alami sebab hal itu belu dilatih dan dibiasakan. Ketika siswa membuatkan keterampilan untuk terlibat proses ini, secara pribadi mereka mendapatkan kebiasaan intelektual yang tidak hanya meningkatkan kinerja mereka, tetapi juga efektivitas mereka sebagai penerima didik. Ingat bahwa bersama-sama kehidupan ini yaitu kebiasaan (life is habit).


DAFTAR RUJUKAN
•Hidi, S. & Renninger K.A. (2004). Interest, a motivational varmerekable that combines affective and cognitive functioning. In D. Y. Dai & R. J. Sternberg (Eds.), Motivation, emotion, and cognition: Integrative perspectives on intellectual functioning and development (pp. 89-115). Mahwah, NJ: Erlbaum
•Walton, G. M., & Cohen, G. L. (2007). A question of belonging: race, socmerekal fit, and achievement. Journal of Personality and Socmerekal Psychology, 92 (1), 82-96.
•Bahri Djamarah, Syaiful. dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.

*) Ditulis oleh WIDODO SANTOSO, S.Pd.M.Pd. Kepala SDN 4 Mangkujayan Kabupaten Ponorogo, Jl. Jawa 45 Ponorogo

13 Kelemahan Guru Dalam Mengajar & Solusinya

5:27:00 AM
Guru yang berkualitas akan menghasilkan siswa yang berkualitas pula.
Guru sebagai tokoh yang berperan besar di dalam sebuah ruang kelas, mempunyai kiprah penting dalam memilih kualitas pendidikan anak bangsa. Himbauan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan telah menyebutkan bahwa wajah masa depan bangsa ini berada di ruang-ruang kelas. Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa tanggung jawab membentuk masa depan hanya berada di bahu pendidik dan tenaga kependidikan di institusi pendidikan. Tugas kita semualah yang turut berperan membantu para guru di seluruh Indonesia untuk bisa mengemban tugasnya dengan baik dan maksimal.

Seluruh elemen bangsa hendaklah mempunyai perilaku peduli, untuk merasa mempunyai atas problematika pendidikan biar bisa menjadi bab dari ikhtiar untuk mencari solusi terhadap kendala-kendala yang sering ditemui oleh seorang guru dikala ia harus mengajar di depan murid-muridnya. Guru juga hanyalah insan biasa, yang tidak luput dari kelemahan dan kesalahan dikala berada di depan akseptor didiknya. Tiga belas kelemahan maupun kesalahan yang sering ditemui oleh guru dalam pembelajaran di kelas antara lain adalah:

(1) Dalam mengajar guru belum menyiapkan atau menciptakan sendiri perangkat pembelajarannya yang disebut dengan RPP. Sebelum mengajar sebaiknya seorang guru telah mempersiapkan materi ajarnya dan merupakan hasil karyanya sendiri, sehingga ia tahu apa yang akan diberikan kepada siswa.

(2) Seringkali dalam mengajar guru tidak membawa media atau alat pembelajaran di kelas. Solusinya persiapkan media yang bekerjasama dengan materi pembelajaran, biasanya dilakukan pada awal tahun anutan baru. Media sanggup diambil dari bahan-bahan bekas atau yang ada di sekitar lingkungan sekolah, atau rumah siswa.

(3) Guru jarang membawa siswa ke dunia faktual anak-anak. Hanya menjelaskan dan menjabarkan teori. Solusinya sering-seringlah membawa siswa melihat eksklusif objek pembelajaran yang sedang dipelajari biar sanggup mencicipi kejadian-kejadian penting, hal-hal penting dalam kehidupan mereka. Sehingga mereka selalu berguru dari lingkungan sekitar mereka.

(4) Guru jarang memakai metode mengajar yang menyenangkan. Solusinya kuasailah banyak sekali macam metode-metode dalam mengajar ibarat : Contextual Teaching Learning, Quantum Teaching, Inquiry, project based learning dan lain-lain.

(5) Guru Jarang memadukan proses pembelajaran dengan pelajaran lain, apalagi yang memakai kurikulum 2006 (KTSP). Solusinya yaitu gunakan metode pembelajaran yang memakai keterpaduan dan asah kemampuan untuk menghubung-hubungkan pelajaran dengan pelajaran lain. Sehingga keuntungannya sanggup menambah wawasan dan ilmu anak secara optimal.

(6) Dalam mengajar guru jarang menanamkan unsur-unsur nilai, norma, susila kepada para siswa. Solusinya cobalah memakai referensi pembelajaran holistik, yakni menerapkan pembelajaran secara menyeluruh dan terpadu kepada akseptor didik dengan memasukkan unsur-unsur nilai spiritual dan emosional anak sehingga anak tumbuh menjadi insan yang terampil, terdidik dan berkarakter.

(7) Guru kurang memperhatikan kemampuan awal siswa. Solusinya Guru sebaiknya bisa mengelompokkan siswa sesuai dengan kemampuannya, misalnya; posisi kawasan duduk diubahsuaikan sedemikian rupa biar siswa nyaman. Pembagian kelompok kerja bagi siswa, lebih mengarah kepada pengembangan potensi siswa. Siswa yang terampil duduk di sebelah siswa yang pasif. Atau siswa yang suka bercerita diletakkan di sebelah siswa yang pendiam.

(8) Penggunaan sarana dan prasarana yang kurang tepat. Misalnya meja, bangku yang berat diberikan kepada siswa SD. Hal ini mempersulit guru dalam menerapkan metode berguru yang baik. Solusinya guru harus kreatif menyiasati hal ini, membawa siswa keluar ruangan biar siswa tidak jenuh berada di dalam kelas.

(9) Guru tidak tetapkan rules yang terperinci dalam proses pembelajaran. Sehingga suasana kelas menjadi kurang kondusif. Solusinya segera tentukan suatu rules dalam mengajar akan lebih sanggup mengarahkan siswa, sehingga siswa ikut berguru untuk disiplin, kesepakatan dan bertanggung jawab terhadap proses pembejaran di kelas.

(10) Guru tidak melaksanakan evaluasi. Setiap proses selalu harus diberi evaluasi, biar guru sanggup mengetahui sejauh mana siswa bisa menyerap materi, nilai-nilai maupun norma-norma sehingga siswa tidak hanya akil tetapi juga berkarakter. Susun jadwal kapan penilaian akan dilakukan, sehingga proses pencapaian siswa sanggup terukur dengan jelas.

(11) Guru jarang membaca buku dan referensi-referensi lain. Menyusun jadwal rutin berapa buku yang harus dibaca dalam 1 hari, 1 ahad untuk menambah wawasan yaitu solusi yang tepat.

(12) Guru jarang melaksanakan penelitian dan menulis sebuah artikel atau karya tulis lainnya. Solusinya guru harus lebih banyak mengamati, menganalisa dan mengamati kejadian-kejadian di sekitarnya serta rajin mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada & berguru untuk menuangkannya dalam suatu hasil karya tulis.

(13) Guru jarang berkomunikasi dengan siswa secara lebih dekat. Berkunjung ke rumah siswa yang sedang membutuhkan perhatian terutama kepada siswa yang bermasalah di sekolah, barangkali perlu diterapkan sehingga terjalin komunikasi terbuka antara guru dengan siswanya, sehingga guru bisa memahami karakteristik siswa dan siswapun mau terbuka kepada gurunya.

Demikianlah 13 kelemahan yang sering dijumpai oleh para guru, jikalau masih ada dalam diri seorang guru 13 kelemahan tersebut, barangkali bisa diminimalisir, asalkan kita tahu bagaimana mencari solusi dan jalan keluarnya, sehingga guru yang berkualitas akan menghasilkan siswa yang berkualitas pula.

*) Ditulis oleh Delta Nia, S.Pd, M.Pd, Professional teacher. Concern for education quality.