Showing posts with label Pembelajaran Kreatif. Show all posts
Showing posts with label Pembelajaran Kreatif. Show all posts

Metode Pembelajaran Puzzle Jigsaw

1:36:00 AM
Melalui metode puzzle jigsaw siswa mendapat pengalaman secara eksklusif Metode Pembelajaran Puzzle Jigsaw
Melalui metode puzzle jigsaw siswa mendapat pengalaman secara langsung.
Metode mengajar merupakan salah satu faktor yang menghipnotis prestasi mencar ilmu anak. Penggunaan metode mengajar yang menarik dan menyenangkan akan sangat besar lengan berkuasa pada iklim mencar ilmu di kelas. Salah satu metode yang sanggup dipakai untuk pembelajaran di Sekolah Dasar ialah puzzle jigsaw. Dengan penggunaaan metode ini sanggup meningkatkan minat mencar ilmu siswa sehingga akan berdampak positif pada prestasi mencar ilmu siswa.

Puzzle jigsaw merupakan metode pembelajaran kolaborasi antara permainan puzzel dengan metode kooperatif model jigsaw. Menurut Adenan (1989: 9) dinyatakan bahwa puzzle dan games ialah bahan untuk memotivasi diri secara nyata dan merupakan daya penarik yang kuat. Puzzle dan games untuk memotivasi diri alasannya hal itu mengatakan sebuah tantangan yang sanggup secara umum dilaksanakan dengan berhasil. Sedangkan berdasarkan Hadfield (1990: v), puzzle ialah pertanyaan-pertanyaan atau duduk kasus yang sulit untuk dimengerti atau dijawab.

Tarigan (1986: 234) menyatakan bahwa pada umumnya para siswa menyukai permaianan dan mereka sanggup memahami dan melatih cara penggunaan kata-kata, puzzle, crosswords puzzle, anagram dan palindron. Sedangkan Jigsaw ialah salah satu metode kooperatif yang lebih mengetengahkan kerja sama tim dalam memecahkan masalah.

Jigsaw meruapakan salah satu metode kooperatif dalam PAKEM. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ialah suatu tipe pembelajaran yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bab bahan mencar ilmu dan bisa mengajarkan bahan tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 2001).

Metode puzzle jigsaw ini mengajak siswa untuk menyusun potongan-potongan gambar dan diubahsuaikan dengan mal yang telah disediakan sehingga membentuk sebuah gambar yang benar. Selain menyusun potongan gambar, siswa juga dituntut untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan arahan puzzle yang telah disusun.

Melalui metode puzzle jigsaw siswa mendapat pengalaman secara langsung, mengambarkan konsep secara menyenangkan, menggali kreatifitas, melatih cara berfikir tingkat tinggi, menguatkan hafalan, mencar ilmu bekerja sama dengan sobat dan hasilnya siswa memperoleh kebenaran secara nyata dan ganda.

Dengan metode puzzle jigsaw siswa dituntut aktif berfikir merangkaikan kepingan gambar dan goresan pena sebuah konsep pembelajaran tak beraturan sehingga membentuk konsep yang saling bertautan. Metode ini menekankan bahwa mencar ilmu intinya ialah proses berpikir.

Selain untuk mengkonkretkan konsep yang terdapat dalam pembelajaran, metode puzzle jigsaw diharapkan sanggup membangkitkan motivasi siswa dalam belajar. Dengan kata lain, penggunaan puzzle dalam pembelajaran sanggup memperbesar minat dan perhatian siswa.

Langkah-langkah penerapan metode puzzle jigsaw sebagai berikut:

1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok induk. Setiap anggota kelompok mendapat kartu warna.

2. ‘Siswa yang mendapat kartu yang berwarna sama bergabung menjadi kelompok gres yang disebut kelompok ahli.

3. Setiap kelompok jago mendapat sebuah puzzle dan menyusunnya.

4. Kelompok yang telah berhasil menyusun puzzle , berhak mengambil kartu soal dan menjawab pertanyaan yang ada pada kartu soal tersebut.

5. Siswa kembali ke kelompok induk dan melaporkan apa yang telah didapat dari kelompok ahli.

6. Kelompok jago bertugas menjawab pertanyaan yang dibagikan guru berdasarkan pengetahuan yang telah didapat dari kelompok ahli.

7. Melaporkan hasil kerja kelompok induk di depan kelas.

8. Guru dan siswa tolong-menolong menyimpulkan bahan yang telah dipelajari.

Penerapan metode puzzle jigsaw disamping akan memudahkan anak dalam memahami materi, penggunaan metode ini juga bermanfaat untuk :

a) Mengembangkan kapasitas anak dalam mengamati dan melaksanakan percobaan

b) Membedakan bagian-bagian dari sebuah benda dan meminta bawah umur untuk menyatukannya kembali

c) Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah

d) Mengembangkan koordinasi motorik halus.

Dengan memakai metode yang lebih menarik dan menantang, siswa sanggup termotivasi sebagaimana Ivas K. Davles (1991:215) bila seseorang telah termotivasi maka mereka siap untuk melaksanakan hal-hal yang diharapkan sesuai dengan yang dikehendaki.

4 Cara Gampang Menciptakan Kelas Yang Menyenangkan

7:07:00 PM
 guru sangat berperan untuk membuat berguru di kelas ini selalu segar 4 Cara Praktis Membuat Kelas yang Menyenangkan
Dengan suasana kelas yang menyenangkan, siswa akan menikmati acara belajar.
Sebagai fasilitator di kelas, guru sangat berperan untuk membuat berguru di kelas ini selalu segar, menarik, dan tidak membosankan. Maka dari itu, penyajian bahan dengan cara-cara yang gres dan menyenangkan sanggup menjadi salah satu faktor untuk memilih hasil dari proses berguru mengajar di kelas.

Dengan suasana kelas yang menyenangkan, siswa akan menikmati acara berguru mereka tanpa adanya perasaan tertekan. Selain itu, juga akan membuat siswa nyaman dan cepat menangkap pelajaran. Lalu, bagaimana cara membuat kelas tidak membosankan dan menjadikannya menyenangkan? Inilah langkah-langkah gampang yang bisa guru coba.

Buat suasana ruangan kelas yang berbeda

Kebanyakan posisi duduk di kelas sama, yaitu guru di depan dan dingklik siswa disusun berjajar membentuk persegi. Metode ini dikaji sebagai metode yang tidak efektif, alasannya yakni proses berguru terjadi hanya satu arah. Supaya suasana kelas lebih menyenangkan, cobalah susun ulang ruang kelas yang berbedadari biasanya.

Susunan yang bisa dicoba contohnya menyerupai posisi meja dan dingklik yang melingkar sehingga guru berada di tengah-tengah dan siswa sanggup melihat guru dengan lebih baik. Guru bisa mendatangi siswa turun untuk membantunya menjelaskan dan sebagainya. Hal ini sanggup membantu siswa lebih nyaman dan membuat suasana bahwa mereka memang sedang berguru bersama guru, bukan sekadar diajari atau digurui.

Miliki sifat humoris dan hadirkan permainan

Siswa mana sih yang tidak suka dengan guru yang lucu? Sifat humoris yang dimiliki oleh seorang guru juga sanggup menawarkan imbas kedekatan antara siswa dan guru. Semakin murid merasa erat dengan gurunya, maka apa yang disampaikan oleh guru juga akan lebih gampang diserap oleh mereka.

Untuk meningkatkan semangat mereka, penting untuk menawarkan humor segar di tengah-tengah pengajaran yang sedang diberikan. Guru juga bisa membarikan permainan (ice breaking) yang lucu dan seru. Bermain sambil berguru yakni hal yang sempurna untuk mengisi kejenuhan dan mereflesikan otak yang sudah mulai penuh dengan materi-materi pembelajaran.

Berikan perhatian yang sama pada semua siswa

Terkadang guru akan lebih cenderung memerhatikan murid yang arif dan aktif di kelas. Siswa yang membisu saja di kelas biasanya akan kesulitan untuk mendapat kesempatan untuk menuangkan wangsit ataupun mengaktualisasikan dirinya di kelas. Yang sering terjadi yakni siswa “paling” barulah akan diperhatikan oleh guru.

Sebagai seorang guru, sudah menjadi tugasnya untuk menemukan benih-benih unggul yang ada di dalam diri masing-masing siswa. Percayalah bahwa setiap anak mempunyai talenta dan potensi yang berbeda-beda. Dengan begitu, setiap siswa akan merasa mempunyai kesempatan untuk menunjukan dirinya serta membuat kelas menjadi lebih hidup dan menyenangkan.

Perbanyak interaksi dengan memancing wangsit siswa

Perhatian penuh bisa didapatkan dari memancing pendapat atau diskusi. Memang tidak semua siswa bisa dengan leluasa mengeluarkan wangsit mereka. Nah, di sinilah peran guru untuk percaya pada kemampuan masing-masing anak dan pacu mereka untuk berani berpendapat, serta menghargai apapun yang mereka ungkapkan.

Cara ini sanggup melatih siswa untuk berguru mendengarkan orang lain, keberanian untuk berbicara dan lebih terbuka pada perbedaan pendapat. Hal ini sangat penting untuk mereka alasannya yakni akan menjadi bekal ketika berinteraksi dengan orang lain, baik itu dengan teman, guru, orang renta atau masyarakat pada umumnya.

Salah Merekrut Guru, Dampaknya Akan Dirasakan Puluhan Tahun

6:46:00 PM
Perbaikan kualitas pendidikan harus dimulai dari kelas.
Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hamid Muhammad mengungkapkan rekrutmen guru harus diperketat. Pilih guru yang berkualitas alasannya ialah sekali salah merekrut, akan dirasakan dampaknya puluhan tahun.

Ia menyampaikan ketika ini jumlah guru tidak seimbang dengan pertumbuhan siswa. Kemudian persoalan kualitas guru yang masih di bawah standar kompetensi. Ditambah lagi dengan kemudahan pendidikan ibarat gedung sekolah dan ruang kelas yang tidak memadai.

"Indonesia darurat kualitas pendidikan terutama daerah-daerah di perdesaan dan 3T (terdepan, terluar, terisolir)," kata Dirjen Hamid yang kutip dari JPNN (29/09/18).

Perbaikan kualitas pendidikan berdasarkan Hamid harus dimulai dari kelas. Banyak sekolah yang melaksanakan pembelajaran satu arah. Mestinya berguru yang berbasis kegiatan. Itu sebabnya rekrutmen guru harus diperketat.

Baca: Inilah Sistem Baru Rekrutmen Guru PNS

Dalam peluncuran aktivitas PINTAR (Pengembangan Inovasi Kualitas Pembelajaran) di Kantor Kemendikbud, Jumat (28/9) itu, Ia percaya aktivitas PINTAR akan membantu pengembangan kualitas para guru, kepala sekolah, juga para calon guru yang akan berdampak pada peningkatan hasil berguru siswa.

Kabupaten/kota yang masuk dalam aktivitas PINTAR dibutuhkan dapat menjadi pola bagi tempat lain dalam membangun praktik-praktik baik pembelajaran, administrasi dan kepemimpinan sekolah, mendukung pemerintah menyebarluaskan praktik-praktik baik. Juga mendukung Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dalam pendidikan calon guru.

Miliki 10 Sifat Ini Semoga Menjadi Guru Idola

1:24:00 AM
Guru yang sanggup menciptakan mereka nyaman dan cepat menangkap pelajaran Miliki 10 Sifat Ini Supaya Menjadi Guru Idola
Guru yang sanggup menciptakan mereka nyaman dan cepat menangkap pelajaran.
Setiap guru mempunyai aksara dan ciri-ciri yang berbeda-beda. Bagi siswa, mereka punya guru idola yang menjadi inspirasi. Guru yang sanggup menciptakan mereka nyaman dan cepat menangkap pelajaran.

Beberapa siswa mengidolakan guru menurut mata pelajaran yang diajarkan. Misalnya saja guru seni dan olahraga, sering disukai alasannya mereka lebih sering banyak mainnya daripada harus berguru bahan yang sulit.

Namun tidak hanya itu, beberapa guru juga sanggup menjadi idola para siswanya alasannya faktor yang lainnya. Berikut ini 10 sifat guru yang menjadi idola siswa ibarat yang lansir dari Tribunnews:

1. Guru yang periang dan ramah

Ciri pertama guru itu sanggup eksklusif menjadi idola kita ialah orangnya periang dan ramah. Guru yang suka menyapa, suka memulai pembicaraan dan menceritakan guyonan. Selain itu, tidak gampang murka juga menjadi salah satu guru yang sanggup jadi idola siswanya.

2. Guru yang gampang bersahabat dengan siswa

Guru yang bersahabat dengan siswa juga merupakan guru idola. Mereka yang hafal dengan nama-nama siswanya dan tidak hanya bertegursapa di kelas saja. Bahkan ia hafal dengan sifat dan kebiasaan siswanya.

3. Guru yang antusias dikala mengajar

Guru yang selalu bersemangat dan antusias dalam mengajar itu menciptakan siswa menjadi ikutan bersemangat di dalam kelas. Bisa dibayangkan, kalau gurunya saja malas-malasan menawarkan materi, siswanya tentu juga malas untuk mendengarkan.

4. Guru yang menghormati dan menghargai

Guru yang hormat dan menghormati itu biasanya mengucapkan kata minta tolong dan terima kasih terima kasih atas tindakan siswa yang diminta. Mereka tidak membentak atau mengeluarkan kata-kata garang pada siswa.

5. Guru yang peduli

Siswa suka dengan guru yang peduli terhadap mereka. Selalu membantu siswa yang membutuhkan bantuan.

6. Guru yang kreatif dan menarik

Menjadi guru yang tidak membosankan dengan cara unik dan menarik menjadi kesukaan para siswa. Guru yang mengajar dengan kreatif dan menarik menjadi idola para siswa.

7. Guru yang melek teknologi

Di kurun digital ini guru juga dituntut untuk selalu update soal teknologi. Guru yang tidak gaptek akan disenangi belum dewasa alasannya mereka sanggup melangsungkan pelajaran dengan lebih cepat dan menarik.

8. Guru yang peka

Menjadi guru itu harus peka terhadap siswanya, tidak cuma dikala ada anak didiknya yang sakit saja. Tapi kalau ada yang belum paham dengan pelajaran dan bahan di kelas, guru juga harus selalu menanyakan pada siswanya.

9. Guru yang menguasai bahan pelajaran

Guru yang handal dan menguasai bahan pelajaran niscaya juga sanggup menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh siswanya. Kalau gurunya saja tidak bisa, bagaimana mau mengajarkan kepada siswanya.

10. Guru yang mempunyai rasa pengertian

Guru harus punya rasa saling pengertian. Misalnya mau mendapatkan alasan siswa yang ingin meninggalkan pelajaran. Tidak eksklusif murka pada siswa dan menyediakan waktu pemanis untuk mendiskusikan bahan yang sulit.

Guru Sd Dituntut Lebih Kreatif Dan Inovatif

8:34:00 AM
Guru SD Dituntut Lebih Kreatif dan Inovatif Guru SD Dituntut Lebih Kreatif dan Inovatif
Guru harus bisa membuat suasana mencar ilmu yang menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis.
Di kurun ke-21 di mana keterampilan komunikasi, bekerja sama, berfikir kritis, dan pemecahan persoalan perlu dikuasai siswa, guru SD (SD) dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam menunjukkan bahan pelajaran di kelas.

Hal ini dikatakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Ferdiansyah, ketika sosialisasi kesiapan guru menyongsong pendidikan kurun ke-21 yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar.

Dalam aktivitas sosialisasi di Kabupaten dan Kota Tasikmalaya Jawa Barat yang diikuti sebanyak 180 guru SD itu, ia menyampaikan bahwa guru yaitu kurikulum yang sebenarnya, di mana peran guru sangat penting dalam pendidikan anak, terutama di jenjang pendidikan dasar.

"Di kurun ke-21 ini guru harus bisa membuat suasana mencar ilmu yang menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis," kata Ferdiansyah yang kutip dari Kompas (15/08/18).

Guru juga diminta juga harus meningkatkan kompetensi dengan aneka macam cara, tidak semata-mata menunggu training dari pemerintah. Bagi guru yang sudah mendapatkan pertolongan profesi guru, jangan segan menyisihkan sebagian pertolongan tersebut untuk meningkatkan kompetensi diri.

Anggota Komisi X  dewan perwakilan rakyat RI itu menegaskan kiprah peningkatan kompetensi guru juga tidak hanya dari APBN, perlu donasi dari organisasi profesi, swasta, dan guru itu sendiri.

Baca: Ini Model Pembelajaran Abad 21, Active Learning

Tujuan aktivitas ini menyiapkan guru pendidikan dasar semoga bisa membekali penerima didiknya dengan keterampilan kurun ke-21. Berbagai bahan perihal keterampilan kurun ke-21, peraturan perihal jam mengajar guru, dan pengembangan profesi guru.

Kepala Subdirektorat Peningkatan Kompetensi dan Kualifikasi Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Kemendikbud, Elvira, menyampaikan guru perlu meningkatkan kompetensi secara terus-menerus seiring perkembangan zaman.

Guru Harus Sanggup Honor Dan Kesejahteraan Yang Layak

12:29:00 AM
Guru Harus Dapat Gaji dan Kesejahteraan yang Layak Guru Harus Dapat Gaji dan Kesejahteraan yang Layak
Dengan kiprah yang berat, guru harus menerima honor dan kesejahteraan yang layak.
Guru menjadi komponen penting dalam pendidikan sebagai ujung tombak dalam memajukan pendidikan. Untuk membentuk anak yang cerdas, terampil dan memiliki perilaku konkret perlu dididik dengan baik dan terpola. Dalam hal ini, kuncinya terletak pada guru (pendidik) yang dilakukan dalam proses pembelajaran di sekolah. Begitu berat, namun mulia profesi sebagai guru.

Setiap orang menganggap bahwa pekerjaan guru ialah pekerjaan yang memiliki derajat tinggi baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan sesama manusia. Dianggap memiliki derajat tinggi alasannya gurulah yang mengukir jiwa dan raga anak insan dalam suatu bangsa. Kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh tingkat kualitas pendidikan.

Pendidikan sanggup menjadi berkualitas, sangat bergantung pada kualitas guru itu sendiri. Guru yang berkualitas memiliki perangkat kompetensi yang mendukung untuk suksesnya kiprah utama dalam pembelajaran di sekolah. Guru harus profesional, baik dalam penguasaan bahan maupun kemampuan mendesain pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik bahan yang akan diajarkan.

Tuntutan lain yang harus dipenuhi guru ialah memiliki kepekaan kekerabatan sosial dan memiliki kepribadian yang utuh, dan sanggup dijadikan teladan oleh siswa yang dididik. Ya, itulah kompetensi profesional guru yang total disiapkan oleh setiap orang yang menentukan profesi guru.

Baca: Ini Alasan Kenapa Guru Tetap Kaprikornus Profesi Keren

Tidak hanya itu, sebagai profesi, guru memiliki panggilan jiwa, perilaku dedikasi dan usaha untuk membangun bangsa harus diniatkan secara bundar menjadi abdi negara. Oleh alasannya itu, konsep dasar pemahaman diri sebagai seorang guru profesional sudah betul-betul dilekatkan.

Dengan kiprah yang berat tersebut, konsekuensinya guru harus menerima honor dan kesejahteraan yang layak, baik guru yang berstatus negeri maupun guru swasta. Karena realitasnya, pendidikan di Indonesia tidak hanya sekolah negeri, tetapi sekolah swasta pula. Kesenjangan antara guru negeri dan guru swasta, hingga hari ini menjadi perkara yang butuh penyelesaian.

*) Artikel ini ditulis oleh Maswan, dosen Unisnu Jepara, kandidat doktor Unnes, anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jateng. Telah diterbitkan di laman Suara Merdeka dengan judul Beban Guru dalam Mendidik Bangsa.

Ini 5 Tugas Guru Abad Sekarang Berdasarkan Kemendikbud

8:16:00 AM
 Peran Guru Masa Kini Menurut Kemendikbud Ini 5 Peran Guru Masa Kini Menurut Kemendikbud
Ada lima tugas guru yang harus dikuatkan dalam PPK, adalah sebagai pengajar, katalisator, penjaga gawang, fasilitator, dan penghubung.
Peran guru kini dituntut lebih dari sekadar sumber informasi. Pasalnya, di era digital kini ini para siswa telah mempunyai jalan masuk gosip yang sangat luas. Peran pendidik ibarat yang pernah disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara masih sangat relevan dalam menghadapi era industri 4.0

Bagaimana bagaimana transformasi tugas guru di sekolah sanggup dilakukan? Setidaknya ada 5 tugas guru yang harus dikuatkan dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Seperti yang kutip dari akun resmi instagram Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), inilah tugas guru masa kini:

1. Pengajar
Guru bisa memberikan mata pelajaran semoga dimengerti dan di dipahami oleh siswa.

2. Katalisator
Guru dibutuhkan bisa untuk mengindentifikasi, menggali dan mengoptimalkan potensi anak didik.

3. 'Penjaga gawang'
Guru membantu anak didik untuk bisa menyaring pengaruh-pengaruh negatif yang ada di lingkungan, termasuk di dunia maya.

4. Fasilitator
Guru membantu siswa menjadi subyek dalam proses pembelajaran, menjadi sobat diskusi dan juga bertukar pikiran.

5. Penghubung
Guru bisa menghubungkan anak didik dengan sumber-sumber yang beragam, baik di dalam maupun di luar sekolah.

Dengan tugas ini, dibutuhkan nantinya guru bisa menyiapkan anak didik untuk mempunyai kecakapan periode 21, adalah 4C: Critical Thinking (berpikir kritis dan analitis), Creative and Innovative (kreatif dan inovatif), Communicative (komunikatif), dan Collaborative (kolaboratif).

Ini Harus Dilakukan Guru Biar Berguru Lancar Dan Menyenangkan

6:57:00 PM
Sebagai sosok yang punya tugas besar di kelas, guru berperan penting dalam penentuan kualitas pendidikan.
Peranan para guru dibutuhkan untuk membuat acara berguru mengajar yang berkualitas di sekolah. Guru harus mempunyai motivasi untuk guru membuatkan kreativitas, inovasi, dan meningkatkan profesionalismenya supaya acara berguru mengajar berkualitas. Guru juga harus mempunyai kemampuan yang baik dalam memanfaatkan pengetahuan dan teknologi dalam proses berguru mengajar untuk menghasilkan siswa berkualitas.

Guru mempunyai andil besar di dalam membangun sebuah generasi. Guru juga insan biasa yang tidak terlepas dari kesalahan dan kekurangan. Namun, bukan berarti tidak belajar. Guru perlu membenahi beberapa hal biar tercipta lingkungan berguru yang kondusif. Berikut hal-hal tersebut yang harus dilakukan guru yang kutip dari Ruang Guru (27/03/18) biar proses berguru jadi lancar, serta menyenangkan.

1. Menyiapkan perangkat pembelajaran

Sebelum mengajar, hendaknya guru sudah mempersiapkan segala hal yang diperlukan. Selain materi, materi ajar, media atau alat pembelajaran pun sebaiknya disiapkan. Tidak perlu budget mahal, alat pembelajaran bisa guru hasilkan dari bahan-bahan bekas di lingkungan sekitar. Semakin kreatif guru, kemungkinan siswa akan antusias terhadap pelajaran pun semakin tinggi.

2. Metode berguru yang variatif

Coba variasikan metode pengajaran yang diterapkan di kelas. Salah satu hal yang bisa dilakukan guru, yakni, pertama, membuat metode berguru gres dan seru. Sehingga, bisa memancing siswa untuk lebih aktif. Guru akan menjadi model atau idola yang dikagumi siswa. Karena guru mengajar dengan memakai metode berguru yang menarik sehingga siswa tidak merasa bosan.

3. Membawa siswa ke dunia nyata

Sebaiknya, dalam penyampaian materi guru tidak hanya sebatas menjabarkan teori. Coba bawa siswa untuk melaksanakan observasi pribadi ke lingkungan sekitar. Dengan demikian, pemahaman siswa terhadap sesuatu pun lebih luas alasannya sudah terjun atau mencicipi sendiri. Tidak ada salahnya guru mencoba mempraktikkan metode pengajaran saintifik.

4. Memerhatikan kemampuan awal siswa

Kelompokkan siswa menurut kemampuannya. Sesuaikan posisi daerah duduk biar siswa nyaman satu dengan yang lainnya. Pembagian kelompok ini ditujukan untuk pengembangan potensi siswa. Pasangkan siswa yang aktif dengan yang agak pasif, siswa yang gemar bicara dengan yang agak pendiam, dan sebagainya.

5. Dekat dengan siswa

Guru juga perlu mengetahui lingkungan siswa di luar sekolah. Misalnya, mengadakan kunjungan ke rumah siswa tau berbicara dengan orang tuanya. Selain itu, sesekali ajak siswa bicara, tidak harus melulu seputar sekolah. Jadilah pendengar yang baik biar siswa menaruh kepercayaan serta terbuka sehingga bisa lebih memahami karakteristik siswa dan tahu cara menghadapinya.

6. Selalu membuatkan diri

Jangan cepat merasa puas. Teruslah kembangkan diri dengan banyak membaca buku, jurnal, referensi, tulis karya ilmiah, ikut seminar dan sebagainya. Cara ini sebaiknya dilakukan biar memperluas wawasan Anda sebagai guru. Juga, banyak melaksanakan pengamatan terhadap bencana di sekitar dan mencari solusi untuk melatih kepekaan.

Tips Mengajar Yang Menarik Dan Menyenangkan Bagi Guru

1:41:00 AM
Guru bisa mentransfer ilmu dengan baik, inovatif, kreatif serta terjadinya interaksi dengan siswa
Guru harus meningkatkan, tidak hanya pengetahuan, tetapi juga ilmu mengajar menyenangkan. Perkembangan teknologi semakin pesat, tentunya ini menjadi tantangan tersendiri untuk para guru dalam mengembangkan metode mengajar memakai teknologi

Guru masih menjadi sumber utama dalam proses berguru mengajar di sekolah. Untuk itu, guru harus tertantang meningkatkan kemampuan di bidang teknologi. Bukan sekedar mengikuti beberapa pelatihan, namun guru juga bisa membuat produk pembelajaran yang menarik.

Relawan Membaca 15 Menit membagikan tips mengajar yang menarik bagi guru. Salah satu hal yang bisa dilakukan guru, yakni, pertama, membuat metode berguru gres dan seru. Sehingga, bisa memancing siswa untuk lebih aktif.

Kedua, mendampingi siswa memanfaatkan teknologi positif. Sehingga, alat teknologi yang dimiliki siswa termanfaatkan untuk pendidikan. Ketiga, guru harus berprinsip, tidak ada lagi siswa yang mengeluh bosan berada di dalam kelas. Sehingga, guru terpacu membuat kelas nyaman.

Guru juga bisa mengajar memakai teknologi yang inovatif, kreatif serta interaksi positif. Keempat, meningkatkan kemampuan mengajar membuat guru menjadi lebih fleksibel, paling tidak mengurasi rasa malas dalam menyiapkan materi ajar. Guru bisa mengajar utuh di dalam kelas dan membuatkan gosip di luar kelas dengan teknologi.

Selanjutnya, kelima, guru akan menjadi model atau idola yang dikagumi siswa. Karena guru mengajar dengan memakai metode yang menarik. Begitupun sekolah akan mendapatkan manfaat dengan SDM guru yang dimilikinya.

Baca juga: Pembelajaran Holistik yang Menyenangkan

Dunia pendidikan dihadapkan dengan aneka macam tantangan, seperti, aktivitas literasi, pendidikan karakter. Sehingga, seharusnya guru bisa mentransfer ilmu dengan baik, inovatif, kreatif serta terjadinya interaksi dengan siswa. Salah satu tujuannya, biar siswa tidak merasa bosan berlama-lama di kelas.

"Mereka akan menikmati suasana belajar. Sehingga sanggup direspon postif oleh para orang renta yang mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada guru dan sekolah," Sekjen Relawan Membaca 15 Menit Budi Firmanysah yang kutip dari Republika (20/03/18).

Guru Harus Beri Kesempatan Siswa Jadi Dilema Solver

4:31:00 PM
Guru Harus Beri Kesempatan Siswa Makara Problem Solver Guru Harus Beri Kesempatan Siswa Makara Problem Solver
Anak harus berperan aktif dalam berguru di kelas.
Di dalam proses belajar, Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa, dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk menunjang proses berguru perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap eksplorasi. Dasar wangsit Bruner yakni pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam berguru di kelas.

“Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form, but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun, 1986:103).

Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning Environment, yaitu lingkungan dimana siswa sanggup melaksanakan eksplorasi, penemuan-penemuan gres yang belum dikenal atau pengertian yang ibarat dengan yang sudah diketahui. Lingkungan ibarat ini bertujuan semoga siswa dalam proses berguru sanggup berjalan dengan baik dan lebih kreatif.

Guru harus menunjukkan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver atau seorang scientis. Bahan didik tidak disajikan dalam bentuk akhir, namun siswa dituntut untuk melaksanakan banyak sekali aktivitas menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan materi serta menciptakan kesimpulan-kesimpulan.

Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning, guru berperan sebagai pembimbing dengan menunjukkan kesempatan kepada siswa untuk berguru secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus sanggup membimbing dan mengarahkan aktivitas berguru siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi ibarat ini ingin merubah aktivitas berguru mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented.

Contoh Penerapan Model Discovery Learning

Guru melaksanakan penyampaian materi singkat perihal berdiri ruang sekitar kita, serta bagaimana cara menciptakan jaring-jaring berdiri ruang. Siswa dituntut untuk melaksanakan uji coba menciptakan gambar jaring-jaring berdiri ruang. Dan guru meminta siswa untuk membawa perlengkapan untuk menggambar jaring-jaring tersebut, ibarat kertas gambar, penggaris, dan alat tulis.

Kemudian guru melaksanakan pengumpulan data dengan cara mengamati pribadi ketika siswa mencoba menciptakan jaring-jaring berdiri ruang dan sehabis siswa memahaminya, dilakukan post test berupa kuis yang sebelumnya telah disiapkan oleh guru perihal jaring-jaring berdiri ruang.

Menerapkan Model Pembelajaran 'Memancing' Di Sd

12:54:00 AM
Permainan ini mengakibatkan antusiame yang tinggi Menerapkan Model Pembelajaran 'Memancing' di SD
Permainan ini mengakibatkan antusiame yang tinggi, sebab siswa diajak bermain sekaligus belajar.
Pembelajaran Matematika di SD kebanyakan dilakukan secara konvensional yang monoton, yaitu menawarkan kertas soal. Akibatnya siswa bosan, malas dan pada jadinya mengerjakan kiprah dengan asal-asalan. Salah satu model pembelajaran matematika yang sanggup diterapkan guru ialah dengan permainan memancing. Model pembelajaran ini sangat gampang dilakukan dan mengakibatkan antusiame yang tinggi, sebab siswa diajak bermain sekaligus belajar. Soal matematika yang awalnya membosankan menjadi terasa menyenang.

Permainan memancing soal matematika dibentuk dengan cara sederhana dan bahan-bahan yang gampang didapat. Seperti magnet yang sanggup dibeli toko-toko permainan, kertas kosong yang telah dipotong kecil-kecil menjadi segi empat, segitiga, bundar atau bentuk apapun. Pada kertas tersebut ditulisi soal-soal matematika yang bervariasi modelnya, menyerupai bentuk soal matematika contohnya 2×6:3 dan soal cerita.

Peralatan lain berupa peniti yang dipakai untuk mengkaitkan soal, benang yang ujungnya diikat dengan magnet, dan sapu lidi yang dipakai sebagai kail. Jumlah kail sanggup diubahsuaikan dengan jumlah siswa. Proses pembelajaran matematika dengan permainan memancing soal sangat gampang dilakukan oleh guru dan siswa, menyerupai halnya memancing ikan di bak atau di laut. Berikut langkah-langkahnya menyerupai yang ditulis oleh Sri Yuniati, S.Kom, Guru SD Muhammadiyah Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah.

Pertama, yang perlu dilakukan ialah guru membuat batas bak (bisa memakai tali rapia) lalu letakan soal-soal di tengah dengan cara disebar.

Kedua letakan kail di samping batas kolam.

Ketiga berikan pengarahan wacana peraturan yang harus ditaati pada ketika permainan memancing soal dimulai. Peraturannya ialah sebagai berikut:


  • Siswa tidak boleh masuk ke dalam pembatas kolam, siswa hanya diperbolehkan memancing di luar pembatas kolam.
  • Siswa mengambil kail di tepi kolam.
  • Siswa hanya boleh mengambil satu soal setiap kali memancing, jikalau terpancing lebih dari satu soal maka harus dikembalikan ke bak soal lagi lalu dipancing kembali.
  • Setelah mendapat satu soal, kail diletakan di tepi bak lalu siswa mengerjakan soal yang didapat.
  • Setelah soal selesai dikerjakan, soal tersebut dikembalikan lagi ke bak sebelum mengambil kail untuk memancing.
  • Apabila siswa mendapat soal yang sudah pernah dikerjakan maka dikembalikan lagi ke kolam, lalu memancing lagi untuk soal yang lain.
  • Begitu seterusnya hingga waktu yang telah ditentukan habis.
  • Semakin cepat siswa mengerjakan soal maka semakin sering siswa tersebut memancing soal.


Keempat ialah tahap evaluasi.


  • Guru mengumpulkan kembali siswa dan menanyakan jumlah soal yang sanggup dikerjakan.
  • Guru mengoreksi hasil menghitung siswa lalu diumumkan siapa yang paling banyak mengerjakan soal.
  • Siswa yang paling banyak mengerjakan soal dan benar diberikan hadiah contohnya bintang prestasi.

Model pembelajaran dengan cara permainan memancing soal menawarkan banyak manfaat. Siswa lebih antusias, terbukti dengan meningkatnya jumlah soal yang sanggup dikerjakan dalam waktu yang lebih singkat dibanding pada ketika pembelajaran konvensional. Selain siswa menjadi lebih ceria dan aktif, model pembelajaran ini juga sanggup membuat persaingan yang sehat antar siswa yang secara tidak pribadi muncul dari permainan tersebut.

Pembelajaran Sub Tema Proyek Bersama Orangtua Ahli

6:58:00 AM
Pembelajaran Sub Tema Proyek Bersama Orangtua Ahli Pembelajaran Sub Tema Proyek Bersama Orangtua Ahli
Siswa dilatih dan diasah secara pribadi menuntaskan beberapa proyek pembelajaran.
Kurikulum 2013 edisi revisi 2017 tidak banyak berbeda dengan kurukulum 2013 sebelumnya. Kurikulum 2013 edisi revisi 2017, muatan matematika dan muatan PJOK terlepas dari muatan tematik holistik. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada kurikulum 3013 edisi revisi 2017 harus terdapat empat macam hal yaitu; PPK, Literasi, 4C, dan HOTS.

Khusus pembelajaran di kelas 5 setiap tema pada buku siswa kurikulum 2013 edisi revisi 2017 terdapat 4 sub tema yang sebelumnya hanya terdiri dari 3 sub tema. Khusus sub tema 4 pembelajaran hanya berbasis proyek, perubahan ini yakni perubahan yang luar biasa. Dalam sub tema 4 siswa dalam seminggu dilatih dan diasah secara pribadi menuntaskan beberapa proyek pembelajaran yang bisa memfasilitasi penerapan pembelajaran PPK, 4C dan sarana pengembangan keterampilan berfikir tingkat tinggi siswa (HOTS).

Pelaksanaan pembelajaran proyek sangat sempurna sebagai sarana penerapan pembelajaran berbasis masyarakat bekerja sama dengan orang renta ahli. Orang renta siswa sangat bermacam-macam dengan keahlian masing- masing, hal tersebut bisa dipakai untuk memfasilitasi pembelajaran siswa dengan sempurna sekaligus untuk melengkapi, mengembangkan kemamuan, keahlian dan keterampilan guru.

Pembuatan proyek boneka jari tangan yakni proyek dimana siswa membuat boneka jari tangan berbentuk binatang dari materi kain flanel yang dijahit dan dimodifikasi dengan baik. Proyek boneka jari tangan ini dalam rangka pembuatan media untuk mengasah keterampilan siswa dalam mengembangkan motorik halus, motorik garang siswa sekaligus sarana penerapan 4C serta PPK pada siswa.

Contoh konkret penerapan 4C, pembuatan boneka jari tangan membutuhkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif dalam rangka menyusun bentuk yang sempurna antara tubuh binatang dan bentuk indera pendengaran yang sempurna semoga hasil boneka jari baik. Pembuatan boneka jari tangan juga memerlukan kemampuan kerja sama yang sangat tinggi yaitu kemampuan kerja sama menentukan warna kombinasi boneka jari dengan sempurna ataupun kerja sama dengan sobat sejawat dalam rangka melengkapi materi dan kemampuan siswa dengan tetap menjaga kebersihan lingkungan kelas dari sisa pembuatan boneka jari tangan.

Proyek boneka jari tangan juga merupakan sarana siswa bisa membuat sebuah karya media pembelajaran untuk mengkonkritkan wujud hewan, alat gerak binatang sehingga bisa sebagai media bercerita untuk memperjelas materi alat gerak binatang untuk dirinya sendiri, sobat sejawat, atau untuk adiknya.

Proses pembuatan proyek boneka jari tangan terdiri atas beberapa tahapan yaitu:

1. Tahapan training guru dan pendamping kelas oleh orang renta ahli. Tim kelas 5 mendatangkan salah satu orang renta yang jago dan terampil membuat boneka dan souvenir untuk memperlihatkan training khusus terhadap guru dan pendamping di jam mengaji dan istirahat sekolah. Kegiatan ini memeberikan bekal kepada guru dan pendamping kelas semoga bisa memberi teladan dan mendampingi siswa dikala proses pembuatan proyek jari tangan di kelas nantinya.

2. Tahapan pelaksanaan proyek, pada tahapan ini tim kelas 5 tetap bekerja sama dengan orang renta jago yaitu beberapa wali murid yang memiliki keahlian menjahit dan membuat sauvenir. Tujuan kerja sama semoga pelaknaan proyek pembuatan boneka jari tangan akan lebih efektif dan evisien, alasannya yakni setiap kelompok akan terdampingi dengan baik oleh guru,pendamping dibantu beberapa wali murid ahli.

3. Tahapan pemajangan hasil dan pemanfaatan hasil siswa. Media pembelajaran berupa boneka jari tangan bisa pribadi dipakai siswa untuk presentasi dongeng atau dongeng menurut bentuk boneka jari tangan yang dihasilkan.

Semoga goresan pena ini bermanfaat dalam pengintegrasian proses pembelajaran antara warga sekolah dengan masyarakat ahli, sekaligus sarana silaturohim dan sarana menyebarkan keahlian dalam proses peningkatan mutu pendidikan.

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Perbedaan Pembelajaran Kolaboratif Dan Konvensional

5:23:00 PM
 kooperatif melatih siswa untuk berkolaborasi dan berafiliasi Perbedaan Pembelajaran Kolaboratif dan Konvensional
Kolaborasi merupakan citra seseorang yang mempunyai soft skill yang matang.
Pada kurikulum 2013 dibutuhkan sanggup diimplementasikan pembelajaran kurun 21. Hal ini untuk menyikapi tuntutan zaman yang semakin kompetitif. Salah satu yang mencerminkan pembelajaran kurun 21 ialah kerja sama (collaboration). Pembelajaran secara berkelompok, kooperatif melatih siswa untuk berkolaborasi dan bekerjasama. Hal ini juga untuk menanamkan kemampuan bersosialisasi dan mengendalikan ego serta emosi. Dengan demikian, melalui kerja sama akan tercipta kebersamaan, rasa memiliki, tanggung jawab, dan kepedulian antaranggota.

Baca juga: 4 Hal yang Mencerminkan Pembelajaran Abad 21

Sukses bukan hanya dimaknai sebagai sukses individu, tetapi juga sukses bersama, alasannya ialah intinya insan disamping sebagai seorang individu, juga makhluk sosial. Saat ini banyak orang yang cerdas secara intelektual, tetapi kurang bisa bekerja dalam tim, kurang bisa mengendalikan emosi, dan mempunyai ego yang tinggi. Hal ini tentunya akan menghambat jalan menuju kesuksesannya, alasannya ialah berdasarkan hasil penelitian Harvard University, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% hard skill dan 80% soft skiil. Kolaborasi merupakan citra seseorang yang mempunyai soft skill yang matang.

Pembelajaran kolaboratif dilandasi oleh pandangan konstruktivistik yang berpegang pada premis bahwa pengetahuan diperoleh sebagai akhir dari proses konstruksi yang berkesinambungan di dalam diri setiap pebelajar. Kaum konstruktivis menekankan berguru bukan dalam hubungannya dengan otoritas eksternal, melainkan konstruksi pengetahuan oleh pebelajar sendiri. Perbedaan yang bersifat fundamental antara metode pembelajaran kolaboratif dan konvensional sanggup ditabulasikan sebagai berikut:

Pembelajaran Kolaboratif
Pembelajaran Konvensional
Siswa berguru secara berkelompok
Siswa berguru secara klasikal
Antarsiswa berkolaborasi (bekerjasama)
Antarsiswa berkompetisi (bersaing)
Keberhasilan individu siswa bergantung pula pada keberhasilan teman, terutama dalam kelompoknyaKeberhasilan individu siswa tidak bergantung pada keberhasilan teman-temannya
Filsafat yang mendasari pengetahuan diperoleh siswa melalui interaksi antara pancaindranya dengan lingkungan kelompoknyaFilsafat yang mendasari pengetahuan diperoleh melalui transfer/ transmisi dari guru kepada siswa

Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para andal maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para andal Student Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu:

1. Learning Together

Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang bermacam-macam kemampuannya. Tiap kelompok berafiliasi untuk menuntaskan kiprah yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya mendapatkan dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.

2. Teams-Games-Tournament (TGT)

Setelah berguru bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.

3. Group Investigation (GI)

Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan problem yang dihadapi. Kelompok memilih apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan lembaga kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.

4. Academic-Constructive Controversy (AC)

Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil berguru masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, kekerabatan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.

5. Jigsaw Proscedure (JP)

Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi kiprah yang berbeda-beda perihal suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota sanggup memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan bahan yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.

6. Student Team Achievement Divisions (STAD)

Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling berguru dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya ialah keberhasilan seorang akan kuat terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan kuat terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil berguru individual maupun kelompok.

7. Complex Instruction (CI)

Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya ialah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya dipakai dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.

8. Team Accelerated Instruction (TAI)

Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan evaluasi tolong-menolong dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jikalau seorang siswa belum sanggup menuntaskan soal tahap pertama dengan benar, dia harus menuntaskan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil berguru individual maupun kelompok.

9. Cooperative Learning Stuctures (CLS)

Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibuat dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila tanggapan tutee benar, dia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.

10. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)

Model pembelajaran ini seakan-akan dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun mulut di dalam kelompoknya.

Perbedaan Pembelajaran Kolaboratif Dan Konvensional

5:23:00 PM
 kooperatif melatih siswa untuk berkolaborasi dan berafiliasi Perbedaan Pembelajaran Kolaboratif dan Konvensional
Kolaborasi merupakan citra seseorang yang mempunyai soft skill yang matang.
Pada kurikulum 2013 dibutuhkan sanggup diimplementasikan pembelajaran kurun 21. Hal ini untuk menyikapi tuntutan zaman yang semakin kompetitif. Salah satu yang mencerminkan pembelajaran kurun 21 ialah kerja sama (collaboration). Pembelajaran secara berkelompok, kooperatif melatih siswa untuk berkolaborasi dan bekerjasama. Hal ini juga untuk menanamkan kemampuan bersosialisasi dan mengendalikan ego serta emosi. Dengan demikian, melalui kerja sama akan tercipta kebersamaan, rasa memiliki, tanggung jawab, dan kepedulian antaranggota.

Baca juga: 4 Hal yang Mencerminkan Pembelajaran Abad 21

Sukses bukan hanya dimaknai sebagai sukses individu, tetapi juga sukses bersama, alasannya ialah intinya insan disamping sebagai seorang individu, juga makhluk sosial. Saat ini banyak orang yang cerdas secara intelektual, tetapi kurang bisa bekerja dalam tim, kurang bisa mengendalikan emosi, dan mempunyai ego yang tinggi. Hal ini tentunya akan menghambat jalan menuju kesuksesannya, alasannya ialah berdasarkan hasil penelitian Harvard University, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% hard skill dan 80% soft skiil. Kolaborasi merupakan citra seseorang yang mempunyai soft skill yang matang.

Pembelajaran kolaboratif dilandasi oleh pandangan konstruktivistik yang berpegang pada premis bahwa pengetahuan diperoleh sebagai akhir dari proses konstruksi yang berkesinambungan di dalam diri setiap pebelajar. Kaum konstruktivis menekankan berguru bukan dalam hubungannya dengan otoritas eksternal, melainkan konstruksi pengetahuan oleh pebelajar sendiri. Perbedaan yang bersifat fundamental antara metode pembelajaran kolaboratif dan konvensional sanggup ditabulasikan sebagai berikut:

Pembelajaran Kolaboratif
Pembelajaran Konvensional
Siswa berguru secara berkelompok
Siswa berguru secara klasikal
Antarsiswa berkolaborasi (bekerjasama)
Antarsiswa berkompetisi (bersaing)
Keberhasilan individu siswa bergantung pula pada keberhasilan teman, terutama dalam kelompoknyaKeberhasilan individu siswa tidak bergantung pada keberhasilan teman-temannya
Filsafat yang mendasari pengetahuan diperoleh siswa melalui interaksi antara pancaindranya dengan lingkungan kelompoknyaFilsafat yang mendasari pengetahuan diperoleh melalui transfer/ transmisi dari guru kepada siswa

Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para andal maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para andal Student Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu:

1. Learning Together

Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang bermacam-macam kemampuannya. Tiap kelompok berafiliasi untuk menuntaskan kiprah yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya mendapatkan dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.

2. Teams-Games-Tournament (TGT)

Setelah berguru bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.

3. Group Investigation (GI)

Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan problem yang dihadapi. Kelompok memilih apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan lembaga kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.

4. Academic-Constructive Controversy (AC)

Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil berguru masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, kekerabatan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.

5. Jigsaw Proscedure (JP)

Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi kiprah yang berbeda-beda perihal suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota sanggup memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan bahan yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.

6. Student Team Achievement Divisions (STAD)

Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling berguru dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya ialah keberhasilan seorang akan kuat terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan kuat terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil berguru individual maupun kelompok.

7. Complex Instruction (CI)

Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya ialah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya dipakai dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.

8. Team Accelerated Instruction (TAI)

Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan evaluasi tolong-menolong dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jikalau seorang siswa belum sanggup menuntaskan soal tahap pertama dengan benar, dia harus menuntaskan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil berguru individual maupun kelompok.

9. Cooperative Learning Stuctures (CLS)

Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibuat dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila tanggapan tutee benar, dia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.

10. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)

Model pembelajaran ini seakan-akan dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun mulut di dalam kelompoknya.

Game Ice Breaking Tepuk Tangan Untuk Anak Sd

3:22:00 AM
Ice breaker terbukti ampuh untuk mencairkan suasana dan mengembalikan konsentrasi para siswa.
 Suasana yang terlihat sepi ataupun kurang menarik sanggup kembali dihidupkan dengan game ice breaking. Sesuai dengan namanya ice breaker yaitu game atau permainan untuk memecahkan kondisi dan keadaan yang cenderung mendingin. Semisal dikala mengajar dan aneka acara lainnya yang melibatkan banyak orang. Sehingga pemberian bahan tetap berjalan dan siswa tetap memperhatikan.

Baca juga: Karakteristik dan Kebutuhan Anak Usia SD

Ice breaker terbukti ampuh untuk mencairkan suasana dan mengembalikan konsentrasi para siswa sehingga anak akan tetap fokus kepada guru. Banyak pola permainan yang sanggup dilakukan, salah satu misalnya ice breaking berupa tepuk tangan ini. Meskipun terlihat sederhana, untuk menciptakan game ice breaker diperlukan daya kreatifitas. Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temui permainan ice breaker.

Tepuk tangan niscaya semua orang pernah melakukannya dan niscaya pernah melihat orang lain tepuk tangan. Nah game ice breaking tepuk tangan ini sanggup dipraktekkan dalam acara kita, terutama untuk belum dewasa niscaya mereka akan sangat menyukainya. Lalu bagaimana cara kerja ice breaker tepuk tangan ini? Seperti yang kutip dari al-maghribicendekia.com, berikut langkah-langkahnya.

1. Untuk yang pertama kita akan mempraktekkan tepuk tangan dengan memakai tunjangan anggota badan. Coba ajak anak untuk bertepuk tangan dikala kita memegang salah satu anggota badan. Sebagai pola adalah

- Apabila kita memegang hidung, maka anak tepuk 1 X tepuk
- Apabila kita memegang mulut, maka anak tepuk 2 X tepuk
- Apabila kita memegang telinga, maka anak tepuk 3 X tepuk
- Apabila tangan kita bersedekap, maka anak tepuk 4 X tepuk

Cara di atas sanggup dikreasikan sedemikian rupa sesuai dengan harapan kita. Teknik tersebut sanggup dibolak-balik.

2. Untuk yang kedua yaitu tepuk dibalas dengan tepukan pula. Untuk yang kedua ini maka kita sanggup memakai cara yaitu

- Apabila kita tepuk 1 kali maka penerima tepuk sebanyak 4 kali
- Apabila kita tepuk 2 kali maka penerima tepuk sebanyak 3 kali
- Apabila kita tepuk 3 kali maka penerima tepuk sebanyak 2 kali
- Apabila kita tepuk 4 kali maka penerima tepuk sebnayak 1 kali

Metode ice breaking tersebut sanggup dibalik sesuai dengan selera kita. Cara ini sanggup dikreasikan dengan bentuk lain dengan hal yang lebih menarik.

Game Ice Breaking Tepuk Tangan Untuk Anak Sd

3:22:00 AM
Ice breaker terbukti ampuh untuk mencairkan suasana dan mengembalikan konsentrasi para siswa.
 Suasana yang terlihat sepi ataupun kurang menarik sanggup kembali dihidupkan dengan game ice breaking. Sesuai dengan namanya ice breaker yaitu game atau permainan untuk memecahkan kondisi dan keadaan yang cenderung mendingin. Semisal dikala mengajar dan aneka acara lainnya yang melibatkan banyak orang. Sehingga pemberian bahan tetap berjalan dan siswa tetap memperhatikan.

Baca juga: Karakteristik dan Kebutuhan Anak Usia SD

Ice breaker terbukti ampuh untuk mencairkan suasana dan mengembalikan konsentrasi para siswa sehingga anak akan tetap fokus kepada guru. Banyak pola permainan yang sanggup dilakukan, salah satu misalnya ice breaking berupa tepuk tangan ini. Meskipun terlihat sederhana, untuk menciptakan game ice breaker diperlukan daya kreatifitas. Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temui permainan ice breaker.

Tepuk tangan niscaya semua orang pernah melakukannya dan niscaya pernah melihat orang lain tepuk tangan. Nah game ice breaking tepuk tangan ini sanggup dipraktekkan dalam acara kita, terutama untuk belum dewasa niscaya mereka akan sangat menyukainya. Lalu bagaimana cara kerja ice breaker tepuk tangan ini? Seperti yang kutip dari al-maghribicendekia.com, berikut langkah-langkahnya.

1. Untuk yang pertama kita akan mempraktekkan tepuk tangan dengan memakai tunjangan anggota badan. Coba ajak anak untuk bertepuk tangan dikala kita memegang salah satu anggota badan. Sebagai pola adalah

- Apabila kita memegang hidung, maka anak tepuk 1 X tepuk
- Apabila kita memegang mulut, maka anak tepuk 2 X tepuk
- Apabila kita memegang telinga, maka anak tepuk 3 X tepuk
- Apabila tangan kita bersedekap, maka anak tepuk 4 X tepuk

Cara di atas sanggup dikreasikan sedemikian rupa sesuai dengan harapan kita. Teknik tersebut sanggup dibolak-balik.

2. Untuk yang kedua yaitu tepuk dibalas dengan tepukan pula. Untuk yang kedua ini maka kita sanggup memakai cara yaitu

- Apabila kita tepuk 1 kali maka penerima tepuk sebanyak 4 kali
- Apabila kita tepuk 2 kali maka penerima tepuk sebanyak 3 kali
- Apabila kita tepuk 3 kali maka penerima tepuk sebanyak 2 kali
- Apabila kita tepuk 4 kali maka penerima tepuk sebnayak 1 kali

Metode ice breaking tersebut sanggup dibalik sesuai dengan selera kita. Cara ini sanggup dikreasikan dengan bentuk lain dengan hal yang lebih menarik.

4 Hal Yang Mencerminkan Pembelajaran Masa 21

6:57:00 PM
Guru diperlukan sanggup mengimplementasikan pembelajaran era  4 Hal yang Mencerminkan Pembelajaran Abad 21
Guru perlu membuka ruang kepada siswa untuk menyebarkan kreativitasnya.
Salah satu hal penting yang menjadi aktivitas atau fokus dalam implementasi Kurikulum 2013 (K-13) yaitu pembelajaran era 21. Pada K-13 diperlukan sanggup diimplementasikan pembelajaran era 21. Hal ini untuk menyikapi tuntutan zaman yang semakin kompetitif. Adapun pembelajaran era 21 mencerminkan empat hal.

1. Kemampuan berpikir kritis (critical thinking skill)

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk mewujudkan hal tersebut melalui penerapan pendekatan saintifik (5M), pembelajaran berbasis masalah, penyelesaian masalah, dan pembelajaran berbasis projek. Guru jangan risih atau merasa terganggu dikala ada siswa yang kritis, banyak bertanya, dan sering mengeluarkan pendapat. Hal tersebut sebagai wujud rasa ingin tahunya yang tinggi.

Baca juga: 9 Tipe Guru yang Dibutuhkan Indonesia

Yang perlu dilakukan guru yaitu memperlihatkan kesempatan secara bebas dan bertanggung bertanggung jawab kepada setiap siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Guru mengajak siswa untuk menyimpulkan dan menciptakan refleksi bersama-sama. Pertanyaan-pertanyaan pada level HOTS dan tanggapan terbuka pun sebagai bentuk mengakomodasi kemampuan berpikir kritis siswa.

2. Kreativitas (creativity)

Guru perlu membuka ruang kepada siswa untuk menyebarkan kreativitasnya. Kembangkan budaya apresiasi terhadap sekecil apapun tugas atau prestasi siswa. Hal ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk terus meningkatkan prestasinya. Tentu kita ingat dengan Pak Tino Sidin, yang mengisi program menggambar atau melukis di TVRI sekian tahun silam. Beliau selalu berkata “bagus” terhadap apapun kondisi hasil karya belum dewasa didiknya. Hal tersebut perlu dicontoh oleh guru-guru masa sekarang supaya siswa merasa dihargai.

Peran guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing setiap siswa dalam belajar, alasannya yaitu intinya setiap siswa yaitu unik. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Howard Gardner bahwa insan mempunyai kecerdasan majemuk. Ada delapan jenis kecerdasan majemuk, yaitu; (1) kecerdasan matematika-logika, (2) kecerdasan bahasa, (3) kecerdasan musikal, (4) kecerdasan kinestetis, (5) kecerdasan visual-spasial, (6) kecerdasan intrapersonal, (7) kecerdasan interpersonal, dan (8) kecerdasan naturalis.

3. Ketiga, komunikasi (communication)

Komunikasi tidak lepas dari adanya interaksi antara dua pihak. Komunikasi bisa menjadi sarana untuk semakin merekatkan relasi antar manusia, tetapi sebaliknya bisa menjadi sumber dilema dikala terjadi miskomunikasi atau komunikasi kurang berjalan dengan baik. Penguasaan bahasa menjadi sangat penting dalam berkomunikasi.

Kegiatan pembelajaran merupakan sarana yang sangat strategis untuk melatih dan meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, baik komunikasi antara siswa dengan guru, maupun komunikasi antarsesama siswa. Ketika siswa merespon klarifikasi guru, bertanya, menjawab pertanyaan, atau memberikan pendapat, hal tersebut yaitu merupakan sebuah komunikasi.

4. Kolaborasi (collaboration)

Pembelajaran secara berkelompok, kooperatif melatih siswa untuk berkolaborasi dan bekerjasama. Hal ini juga untuk menanamkan kemampuan bersosialisasi dan mengendalikan ego serta emosi. Dengan demikian, melalui kerja sama akan tercipta kebersamaan, rasa memiliki, tanggung jawab, dan kepedulian antaranggota.

Baca: Bukan Prestasi, Ini yang Membuat Anak Sukses

Saat ini banyak orang yang cerdas secara intelektual, tetapi kurang bisa bekerja dalam tim, kurang bisa mengendalikan emosi, dan mempunyai ego yang tinggi. Hal ini tentunya akan menghambat jalan menuju kesuksesannya, alasannya yaitu berdasarkan hasil penelitian Harvard University, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% hard skill dan 80% soft skiil. Kolaborasi merupakan citra seseorang yang mempunyai soft skill yang matang.

4 Hal Yang Mencerminkan Pembelajaran Masa 21

6:57:00 PM
Guru diperlukan sanggup mengimplementasikan pembelajaran era  4 Hal yang Mencerminkan Pembelajaran Abad 21
Guru perlu membuka ruang kepada siswa untuk menyebarkan kreativitasnya.
Salah satu hal penting yang menjadi aktivitas atau fokus dalam implementasi Kurikulum 2013 (K-13) yaitu pembelajaran era 21. Pada K-13 diperlukan sanggup diimplementasikan pembelajaran era 21. Hal ini untuk menyikapi tuntutan zaman yang semakin kompetitif. Adapun pembelajaran era 21 mencerminkan empat hal.

1. Kemampuan berpikir kritis (critical thinking skill)

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk mewujudkan hal tersebut melalui penerapan pendekatan saintifik (5M), pembelajaran berbasis masalah, penyelesaian masalah, dan pembelajaran berbasis projek. Guru jangan risih atau merasa terganggu dikala ada siswa yang kritis, banyak bertanya, dan sering mengeluarkan pendapat. Hal tersebut sebagai wujud rasa ingin tahunya yang tinggi.

Baca juga: 9 Tipe Guru yang Dibutuhkan Indonesia

Yang perlu dilakukan guru yaitu memperlihatkan kesempatan secara bebas dan bertanggung bertanggung jawab kepada setiap siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Guru mengajak siswa untuk menyimpulkan dan menciptakan refleksi bersama-sama. Pertanyaan-pertanyaan pada level HOTS dan tanggapan terbuka pun sebagai bentuk mengakomodasi kemampuan berpikir kritis siswa.

2. Kreativitas (creativity)

Guru perlu membuka ruang kepada siswa untuk menyebarkan kreativitasnya. Kembangkan budaya apresiasi terhadap sekecil apapun tugas atau prestasi siswa. Hal ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk terus meningkatkan prestasinya. Tentu kita ingat dengan Pak Tino Sidin, yang mengisi program menggambar atau melukis di TVRI sekian tahun silam. Beliau selalu berkata “bagus” terhadap apapun kondisi hasil karya belum dewasa didiknya. Hal tersebut perlu dicontoh oleh guru-guru masa sekarang supaya siswa merasa dihargai.

Peran guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing setiap siswa dalam belajar, alasannya yaitu intinya setiap siswa yaitu unik. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Howard Gardner bahwa insan mempunyai kecerdasan majemuk. Ada delapan jenis kecerdasan majemuk, yaitu; (1) kecerdasan matematika-logika, (2) kecerdasan bahasa, (3) kecerdasan musikal, (4) kecerdasan kinestetis, (5) kecerdasan visual-spasial, (6) kecerdasan intrapersonal, (7) kecerdasan interpersonal, dan (8) kecerdasan naturalis.

3. Ketiga, komunikasi (communication)

Komunikasi tidak lepas dari adanya interaksi antara dua pihak. Komunikasi bisa menjadi sarana untuk semakin merekatkan relasi antar manusia, tetapi sebaliknya bisa menjadi sumber dilema dikala terjadi miskomunikasi atau komunikasi kurang berjalan dengan baik. Penguasaan bahasa menjadi sangat penting dalam berkomunikasi.

Kegiatan pembelajaran merupakan sarana yang sangat strategis untuk melatih dan meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, baik komunikasi antara siswa dengan guru, maupun komunikasi antarsesama siswa. Ketika siswa merespon klarifikasi guru, bertanya, menjawab pertanyaan, atau memberikan pendapat, hal tersebut yaitu merupakan sebuah komunikasi.

4. Kolaborasi (collaboration)

Pembelajaran secara berkelompok, kooperatif melatih siswa untuk berkolaborasi dan bekerjasama. Hal ini juga untuk menanamkan kemampuan bersosialisasi dan mengendalikan ego serta emosi. Dengan demikian, melalui kerja sama akan tercipta kebersamaan, rasa memiliki, tanggung jawab, dan kepedulian antaranggota.

Baca: Bukan Prestasi, Ini yang Membuat Anak Sukses

Saat ini banyak orang yang cerdas secara intelektual, tetapi kurang bisa bekerja dalam tim, kurang bisa mengendalikan emosi, dan mempunyai ego yang tinggi. Hal ini tentunya akan menghambat jalan menuju kesuksesannya, alasannya yaitu berdasarkan hasil penelitian Harvard University, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% hard skill dan 80% soft skiil. Kolaborasi merupakan citra seseorang yang mempunyai soft skill yang matang.

Tipe-Tipe Guru Menyerupai Ini Akan Disukai Siswanya

7:38:00 PM
Sangat penting bagi guru untuk berkomunikasi dengan siswa selama berguru Tipe-Tipe Guru Seperti Ini Akan Disukai Siswanya
Guru yang mempunyai sifat toleran biasanya merupakan favorit setiap siswa.
Siswa menghabiskan hampir lima hingga delapan jam di sekolah di bawah pengawasan guru. Apa yang mereka pelajari selama itu yakni belahan penting dari kehidupannya, sebab merupakan bekal masa depan. Guru memainkan tugas orang bau tanah saat siswa berada di sekolah. Ada beberapa kualitas yang ideal yang dibutuhkan untuk seorang guru yang baik. Berikut tipe-tipe guru yang akan disukai siswanya.

1. Mengajar harus interaktif

Sangat penting bagi guru untuk berkomunikasi dengan siswa selama berguru sehingga mereka sanggup memperhatikan dan dengan demikian tidak melewatkan topik apapun. Kelas harusnya lebih menyerupai diskusi, sehingga setiap orang sanggup berbicara ihwal pandangan mereka dan bisa berguru sesuatu yang baru.

2. Ramah

Meskipun sangat penting bagi seorang guru untuk mempertahankan disiplin. Namun, saat seorang guru ramah dengan siswanya, mereka akan merasa bebas untuk membuatkan dengan guru mereka. Ini sanggup bermanfaat bagi guru untuk membimbing mereka sebagai teman dan dengan demikian sanggup membantu mereka dalam mengambil keputusan yang tepat.

3. Menjadi panduan

Setiap siswa niscaya mempunyai masalahnya masing-masing, mungkin orang tuanya sanggup membantu. Tetapi jikalau duduk kasus tersebut terkait dengan duduk kasus sekolah, maka ia mendongak ke gurunya untuk donasi dan bimbingan. Guru harus bisa memperlihatkan bimbingan kepada siswa-siswanya setiap kali mereka membutuhkannya.

4. Memiliki selera humor

Siswa ingin saat mengajar dibentuk menyenangkan, kelas membosankan menciptakan siswa resah. Hal ini sangat diharapkan bahwa seorang guru harus mempunyai rasa humor yang baik, sehingga ia sanggup menambahkan unsur menyenangkan dalam belajar. Berbicara ihwal pengalaman mereka dan membuatkan kenangan lucu, akan memperlihatkan mereka istirahat dan juga menyegarkan mereka.

5. Toleran

Guru yang mempunyai sifat toleran biasanya merupakan favorit setiap siswa. Seorang guru tidak harus ekstra ketat atau bernafsu terhadap siswa sebab mereka akan kemudian tidak bisa membuka diri. Ekstra kelonggaran juga tidak disukai sebab sanggup menciptakan siswa membangkang. Jadi, guru harus menjaga keseimbangan dan dihentikan terlalu lunak dan terlalu ketat.

Tipe-Tipe Guru Menyerupai Ini Akan Disukai Siswanya

7:38:00 PM
Sangat penting bagi guru untuk berkomunikasi dengan siswa selama berguru Tipe-Tipe Guru Seperti Ini Akan Disukai Siswanya
Guru yang mempunyai sifat toleran biasanya merupakan favorit setiap siswa.
Siswa menghabiskan hampir lima hingga delapan jam di sekolah di bawah pengawasan guru. Apa yang mereka pelajari selama itu yakni belahan penting dari kehidupannya, sebab merupakan bekal masa depan. Guru memainkan tugas orang bau tanah saat siswa berada di sekolah. Ada beberapa kualitas yang ideal yang dibutuhkan untuk seorang guru yang baik. Berikut tipe-tipe guru yang akan disukai siswanya.

1. Mengajar harus interaktif

Sangat penting bagi guru untuk berkomunikasi dengan siswa selama berguru sehingga mereka sanggup memperhatikan dan dengan demikian tidak melewatkan topik apapun. Kelas harusnya lebih menyerupai diskusi, sehingga setiap orang sanggup berbicara ihwal pandangan mereka dan bisa berguru sesuatu yang baru.

2. Ramah

Meskipun sangat penting bagi seorang guru untuk mempertahankan disiplin. Namun, saat seorang guru ramah dengan siswanya, mereka akan merasa bebas untuk membuatkan dengan guru mereka. Ini sanggup bermanfaat bagi guru untuk membimbing mereka sebagai teman dan dengan demikian sanggup membantu mereka dalam mengambil keputusan yang tepat.

3. Menjadi panduan

Setiap siswa niscaya mempunyai masalahnya masing-masing, mungkin orang tuanya sanggup membantu. Tetapi jikalau duduk kasus tersebut terkait dengan duduk kasus sekolah, maka ia mendongak ke gurunya untuk donasi dan bimbingan. Guru harus bisa memperlihatkan bimbingan kepada siswa-siswanya setiap kali mereka membutuhkannya.

4. Memiliki selera humor

Siswa ingin saat mengajar dibentuk menyenangkan, kelas membosankan menciptakan siswa resah. Hal ini sangat diharapkan bahwa seorang guru harus mempunyai rasa humor yang baik, sehingga ia sanggup menambahkan unsur menyenangkan dalam belajar. Berbicara ihwal pengalaman mereka dan membuatkan kenangan lucu, akan memperlihatkan mereka istirahat dan juga menyegarkan mereka.

5. Toleran

Guru yang mempunyai sifat toleran biasanya merupakan favorit setiap siswa. Seorang guru tidak harus ekstra ketat atau bernafsu terhadap siswa sebab mereka akan kemudian tidak bisa membuka diri. Ekstra kelonggaran juga tidak disukai sebab sanggup menciptakan siswa membangkang. Jadi, guru harus menjaga keseimbangan dan dihentikan terlalu lunak dan terlalu ketat.